Mengapa Orang Memiliki Persepsi Yang Berbeda?

Sesuai dengan judul di atas, pernahkan readers tambahpinter memikirkan alasan perbedaan persepsi antara individu yang satu dengan individu lainnya, walaupun objek yang dipersepsi adalah objek yang sama?

Beberapa readers mungkin akan menjawab bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya saja, mengenai sudut pandang readers ketika melakukan persepsi terhadap objek tersebut hingga pengalaman yang readers miliki.

Tetapi, apa sebenarnya persepsi itu? Kemudian, faktor-faktor apa saja yang memengaruhinya? Adakah teori-teori dalam proses persepsi yang dapat membuktikan bahwa perbedaan persepsi merupakan hal yang wajar?

Daripada readers semakin penasaran, yuk disimak artikel kali ini yang membahas tuntas mengenai persepsi!

Definisi Persepsi

Definisi Persepsi
Sumber : Gerd Altmann dari Pixabay

Longman Dictionary of Contemporary English menjabarkan istilah persepsi menjadi tiga poin utama, yaitu : (1) cara individu berpikir mengenai sesuatu atau ide tentang sesuatu hal, (2) cara individu melihat sesuatu dengan indera penglihatan, penciuman, maupun panca indera yang lainnya, dan (3) kemampuan alami individu untuk memahami atau memperhatikan sesuatu dengan cepat.

Dalam ilmu filsafat, psikologi, serta kognitif sains, persepsi adalah proses untuk mencapai kesadaran atau pemahaman informasi sensorik. Kata ‘persepsi’ berasal dari bahasa Latin ‘perceptio’ dan ‘percipio’ yang artinya, menerima, mengumpulkan, bertindak dan memahami dengan menggunakan pikiran atau panca indera (Qiong, 2017).

Selanjutnya, Walgito (2003) mendefinisikan persepsi sebagai pengorganisasian dan penginterpretasian stimulus yang diindera sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan merupakan respons yang terintegrasi dalam diri individu.

Sementara itu, Plotnik (2010) mendefinisikan persepsi dengan lebih detail, yaitu pengalaman yang didapatkan individu setelah otak mengumpulkan dan menggabungkan ribuan sensasi yang tidak bermakna menjadi suatu pola atau gambar yang bermakna.

Plotnik juga menjelaskan bahwa persepsi jarang sama persis dengan stimulus yang asli. Sebaliknya, persepsi biasanya berubah menjadi bias, diwarnai, atau terdistorsi oleh serangkaian pengalaman unik individu. Dengan demikian, persepsi merupakan interpretasi pribadi individu mengenai dunia nyata.

Berdasarkan beberapa persepsi diatas, maka readers dapat menarik kesimpulan bahwa persepsi adalah cara individu mengartikan suatu stimulus dengan menggunakan panca indra, dimana panca indra nantinya akan mengirimkan ribuan sensasi ke otak sehingga otak akan membentuk suatu pola atau gambar yang bermakna.

Baca juga: Psikologi Keluarga

Faktor-faktor Yang Memengaruhi Persepsi

Setelah mengetahui tentang definisi dari persepsi, di bawah ini readers juga akan mempelajari mengenai faktor-faktor apa saja yang memiliki pengaruh terhadap proses persepsi seperti yang sudah disinggung beberapa kali di atas (Basuki, 2008) :

Objek Yang Dipersepsi

Adanya suatu objek yang dipersepsi akan menimbulkan suatu stimulus atau rangsangan untuk panca indra. Walaupun sebagian besar stimulus datang dari luar individu, tetapi ada juga stimulus yang datang dari dalam individu.

Panca Indra, Syaraf, dan Terminal Syaraf

Panca indra atau reseptor memiliki fungsi untuk menerima stimulus. Setelah menerima stimulus, nantinya akan dilanjutkan ke syaraf sensoris yang berperan untuk melanjutkan ke terminal syaraf atau syaraf pusat, yaitu otak.

Perhatian / Attention

Proses persepsi tidak hanya mengandalkan dua faktor di atas saja, tetapi juga mengandalkan faktor perhatian sebagai proses utama dalam mempersiapkan terjadinya suatu persepsi. Perhatian dapat diartikan sebagai pemusatan seluruh aktivitas individu pada suatu objek maupun sekumpulan objek.

Aspek-Aspek Persepsi

Dalam menginterpretasi suatu objek, ternyata terdapat 2 aspek yang berperan dalam hal ini, yaitu (Walgito, 2003) :

Aspek Kognisi

Jika membaca kata ‘kognisi’ maka readers dapat memahami bahwa aspek ini berkaitan erat dengan ingatan, perhatian, kesadaran, kemampuan individu dalam menyelesaikan suatu masalah, adanya konsep-konsep penting, kemampuan menggunakan bahasa, kemampuan melakukan proses asosiasi (menghubungkan satu hal dengan hal lainnya), hingga proses berpikir dalam mengartikan suatu stimulus.

Aspek Afeksi

Aspek afeksi merupakan aspek yang juga tidak kalah penting dalam proses persepsi. Aspek afeksi berkaitan erat dengan emosi maupun perasaan individu setelah individu selesai mengartikan suatu stimulus yang ada. Dari pemahaman mengenai suatu stimulus yang sudah dilakukan dalam proses kognisi, maka individu dapat merasakan perasaan yang senang maupun sedih.

Baca juga: Yuk Ketahui Dasar-Dasar Intervensi Psikologi

Dimensi dalam Proses Persepsi

Ketika seseorang melakukan persepsi, terdapat dua dimensi dasar yang saling bekerjasama dalam menentukan proses persepsi, yaitu dimensi fisik dan psikologis (Qiong, 2017).

Dimensi Fisik

Setiap individu memiliki panca indra, seperti mata, telinga, hidung, dll yang mendukung individu untuk merasakan lingkungan. Organ-organ sensorik tersebut nantinya akan menerima rangsangan yang dikirim melalui sistem saraf ke otak.

Dalam melakukan persepsi, dimensi fisik berkaitan erat dengan konversi stimulus menjadi bentuk yang dapat dikenali dan berfungsi dalam mendapatkan informasi atau pengetahuan mengenai dunia luar. Hal tersebut tidak hanya mencakup karakteristik dari stimulus, sifat dan fungsi panca indra manusia, tetapi juga mengenai transmisi rangsangan sistem saraf ke otak.

Adanya dimensi fisik ini tidak mengenal perbedaan budaya, perbedaan warna kulit, maupun perbedaan bahasa yang individu gunakan. Selama individu memiliki organ-organ panca indra, seperti mata, telinga, hidung, dll, maka individu akan dapat merasakan lingkungan sekitarnya.

Dimensi Psikologis

Dimensi psikologis terkait erat dengan nilai-nilai kepercayaan, sikap, kebutuhan, serta minat yang dimiliki oleh individu. Hal-hal ini memiliki pengaruh yang besar terhadap cara individu memandang dunia luar. Dalam tahapan ini, individu akan memberikan interpretasi terhadap suatu stimulus tertentu, dan dengan melakukan hal tersebut individu memiliki sentuhan pribadi yang unik untuk dunia luar.

Misalnya, mengenai budaya hidup bersama antara orang tua dan anak di Amerika dan Cina yang memiliki penafsiran berbeda. Jika di Cina, hal tersebut adalah hal yang wajar jika anak hidup bersama dengan orang tua mereka. Anak-anak di Cina sejak dari kecil sudah diberitahu bahwa mereka memiliki kewajiban untuk merawat orang tua mereka dan mendengarkan nasihat dari orang tua yang dianggap sebagai aset dan berkat.

Berbeda dengan Cina, anak-anak dan orang tua di Amerika lebih menyukai hidup mandiri karena privasi mereka adalah prioritas utama. Perbedaan semacam ini disebabkan oleh perbedaan nilai budaya atau sikap terhadap kehidupan.

Konsekuensinya adalah nilai-nilai, sikap, atau motif individu (dimensi psikologis) dan bukan dimensi fisik (organ panca indra) yang akan menentukan stimulus apa yang menarik perhatian dan serta memiliki makna.

Proses Terjadinya Persepsi

Proses Terjadinya Persepsi
Sumber : GraphicMama-team dari Pixabay

Besar kemungkinannya jika readers tidak pernah mengalami rasa sensasi yang murni, karena otak akan secara otomatis mengubah sensasi tersebut menjadi persepsi. Hal tersebut terlepas dari apa yang readers pikirkan.

Karena persepsi tidak persis mencerminkan suatu peristiwa, orang, situasi, dan objek di lingkungan tersebut. Sebaliknya, persepsi merupakan interpretasi yang dapat diubah oleh individu atau bias oleh pengalaman pribadi, ingatan, emosi, dan motivasi (Plotnik dan Kouyoumdjian, 2010).

Di bawah ini adalah penjelasan mengenai proses terjadinya persepsi yang dibagi menjadi 5 tahapan :

Stimulus

Individu biasanya hanya mengalami persepsi tanpa menyadari banyaknya langkah-langkah yang terjadi sebelumnya. Langkah pertama dimulai dari beberapa stimulus yang merupakan perubahan di lingkungan, seperti gelombang cahaya, gelombang suara, tekanan mekanis, atau bahan kimia.

Stimulus nantinya akan mengaktifkan reseptor indera di mata, telinga, kulit, hidung, atau mulut. Misalnya, dalam kasus ini seorang anak bernama Gabrielle mendapatkan rangsangan berupa gelombang cahaya yang merefleksikan tubuh seekor anjing.

Transduksi

Langkah kedua, ketika gelombang cahaya memasuki mata dan difokuskan pada retina yang berisi fotoreseptor, maka gelombang cahaya akan diserap oleh fotoreseptor.

Fotoreseptor ini bertugas untuk mengubah energi fisik menjadi sinyal listrik, proses tersebut disebut dengan transduksi. Sinyal-sinyal listrik akan diubah menjadi impuls yang berjalan ke otak. Perlu diingat, jika organ-organ indra tidak menghasilkan sensasi tetapi hanya mengubah energi menjadi sinyal-sinyal listrik.

Area Utama di Otak

Saat organ-organ indra menerima stimulus, maka stimulus tersebut akan pergi ke berbagai area utama di otak. Misalnya, stimulus dari telinga akan menuju ke lobus temporal, atau stimulus sentuhan dari organ kulit akan pergi ke lobus parietal, atau stimulus cahaya dari organ mata akan pergi ke area lobus oksipital.

Area Asosiasi di Otak

Setiap impuls yang sudah dikirimkan ke area utama di otak berbeda-beda, di mana nantinya impuls tersebut diubah menjadi sensasi yang merupakan potongan informasi tidak berarti, seperti : bentuk, warna, serta tekstur.

Kemudian, impuls sensasi akan dikirimkan ke area asosiasi yang sesuai di otak. Area asosiasi tersebut akan mengubah potongan-potongan informasi yang tidak berarti menjadi gambar yang bermakna. Proses tersebut disebut dengan persepsi.

Persepsi yang dipersonalisasi

Masing-masing individu memiliki serangkaian pengalaman, emosi, dan ingatan pribadi yang unik, dimana hal tersebut secara otomatis ditambahkan ke persepsi kita oleh area otak lainnya. Akibatnya, persepsi kita bukan lagi cerminan dari stimulus yang ada tetapi merupakan interpretasi yang sudah berubah, bias, atau bahkan terdistorsi dari dunia nyata (Goldstein dalam Plotnik dan Kouyoumdjian, 2010).

Misalnya, area utama visual pada otak individu secara otomatis mengumpulkan ribuan sensasi menjadi pola yang bermakna, dalam hal ini adalah seekor anjing. Namun, sekarang individu tidak melihat hanya seekor anjing putih dan coklat biasa, karena area otak lain menambahkan pengalaman emosionalnya digigit oleh anjing.

Dengan demikian, individu menganggap anjing sebagai makhluk yang jahat. Untuk alasan yang sama, dua orang dapat melihat anjing yang sama – tetapi memiliki persepsi yang sangat berbeda, seperti anjing yang imut, anjing yang besar, anjing yang jahat, anjing yang bau, atau anjing yang ramah.

Untuk itu dapat dikatakan bahwa persepsi merupakan interpretasi yang dipersonalisasi dan bukan salinan sebenarnya dari objek, hewan, orang, dan disituasi di dunia nyata.

Baca juga: Psikologi Pendidikan

Konstansi dalam persepsi

Persepsi terhadap sesuatu, tidak hanya ditentukan oleh stimulus tetapi juga dipengaruhi oleh keadaan individu ketika melakukan persepsi. Situasi ini disebut sebagai struktur kognisi. Untuk itu, persepsi dapat dikatakan sebagai kegiatan yang terpadu. Dan ternyata, persepsi terhadap sesuatu memiliki beberapa konstansi, yaitu (Basuki, 2008) :

Konstansi bentuk (shape constancy)

Konstansi bentuk
Sumber : Clker-Free-Vector-Images dari Pixabay

Kecenderungan individu untuk mempersepsi sesuatu secara sama (konstan) tanpa memperhatikan adanya kemungkinan variasi. Misalnya, uang logam atau piring cenderung dilihat memiliki bentuk yang bulat. Padahal kalau dilihat dari samping, uang logam atau piring memiliki bentuk yang pipih dan tidak bulat.

Konstansi warna (color constancy)

Konstansi warna
Sumber : OpenClipart-Vectors dari Pixabay

Kecenderungan individu untuk mempersepsi sesuatu dengan warna yang sama, meskipun dilihat dalam cahaya penerangan yang berbeda-beda. Misalnya, susu dipersepsikan sebagai warna putih, walaupun dilihat dengan cahaya yang remang-remang atau cahaya berwarna merah.

Konstansi ukuran (size constancy)

Konstansi ukuran
Sumber : isao84 dari Pixabay

Kecenderungan individu dalam melihat sesuatu dengan ukuran yang sama, walaupun ada banyak cara atau sudut pandang ketika individu melihat objek. Misalnya, gajah dewasa dipersepsikan berukuran besar, walaupun jika dilihat dari jarak jauh gajah tersebut terlihat kecil.

Berdasarkan konstansi bentuk, warna, dan ukuran dapat disimpulkan bahwa persepsi tidak hanya ditentukan oleh stimulus, tetapi juga dipengaruhi oleh individu yang melakukan persepsi, termasuk pengalaman individu tersebut.

Hukum Persepsi

Otak secara otomatis akan melakukan pengorganisasian ribuan stimulus visual, termasuk warna, tekstur, bayangan, tembok, kaca, baja, daun, cabang pohon, sesuai dengan satu  atau lebih hukum persepsi.

Aturan pengorganisasian tersebut diidentifikasi oleh teori Gestalt, di mana teori tersebut secara spesifik menjelaskan bagaimana otak mengombinasikan dan mengorganisasi potongan atau elemen-elemen menjadi bentuk yang bermakna.

Hukum-hukum persepsi menurut teori Gestalt terbagi menjadi 6 hukum, yaitu (Plotnik dan Kouyoumdjian, 2010) :

Hukum Figure-Ground

Figure ground
Sumber : Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) dari Introduction to psychology 9th edition

Salah satu aturan paling mendasar dalam mengatur persepsi adalah memilih objek dari latar belakangnya. Ketika kamu melihat gambar yang ada di atas, maka kamu akan secara otomatis melihat objek berwarna putih yang menonjol dengan latar belakang merah.

Hukum figure-ground mengatakan bahwa dalam mengatur stimulus, individu akan cenderung untuk membedakan antara figure (gambar) dan ground (latar belakang). Individu akan melihat gambar sebagai bagian yang lebih menonjol dan latar belakang sebagai bagian yang kurang menonjol atau kurang detail.

Hukum Kesamaan (Similarity)

Similiarity
Sumber : Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) dari Introduction to psychology 9th edition

Gambar di atas merupakan gambar yang diisi dengan titik-titik berwarna biru terang dan biru gelap, dengan melihat semua titik-titik berwarna tersebut kamu dapat melihat angka 2 berwarna biru gelap.

Aturan dari hukum kesamaan menyatakan bahwa dalam mengatur rangsangan, individu akan cenderung mengelompokkan elemen-elemen yang tampak serupa. Hukum kesamaan juga menyebabkan kita menyatukan titik-titik biru gelap dan biru terang dan mencegah kita melihat gambar sebagai bagian yang terpisah-pisah.

Hukum Penutupan (Closure)

Closure
Sumber : Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) dari Introduction to psychology 9th edition

Gambar di atas menunjukkan adanya garis-garis yang tidak lengkap, walau demikian kamu masih dapat melihat gambar tersebut sebagai kucing atau anjing. Aturan dasar dari hukum penutupan menjelaskan bahwa dalam mengatur rangsangan, kita cenderung mengisi bagian yang hilang dari suatu gambar dan melihat gambar tersebut secara lengkap.

Hukum Kedekatan (Proximity)

Hukum Kedekatan (Proximity)
Sumber : Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) dari Introduction to psychology 9th edition

Perhatikan gambar di atas, meskipun terdapat delapan lingkaran di setiap garis horizontal, individu akan melihat setiap garis tersebut dibentuk oleh sekelompok lingkaran. Hukum kedekatan menjelaskan bahwa dalam merespons rangsangan, maka individu akan cenderung mengelompokkan elemen-elemen yang berdekatan satu sama lain.

Dengan begitu, individu melihatnya beberapa garis yang terdiri dari beberapa lingkaran yang saling berdekatan satu sama lain, bukan sebagai lingkaran pertama, lingkaran kedua, lingkaran ketiga, dst.

Hukum Kesederhanaan (Simplicity)

Simplicity
Sumber : Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) dari Introduction to psychology 9th edition

Hukum kesederhaan merupakan hukum yang paling utama bagi kaum Gestalt. Hukum ini menjelaskan bahwa dalam memberikan respon terhadap suatu  rangsangan ialah diatur dengan cara yang sangat sederhana.

Ada empat gambar di atas, yaitu gambar A, B, C, dan D. Lihatlah gambar A dan kemudian putuskan apakah gambar tersebut terdiri dari potongan-potongan yang ditunjukkan pada gambar B, C, atau D?

Hampir rata-rata orang akan melihat bahwa gambar A terdiri dari potongan-potongan pada gambar B, yaitu dengan bentuk oval serta kotak yang tumpah tindih.

Contoh lainnya, hampir tidak ada yang melihat gambar A terbentuk dari potongan rumit yang ditunjukkan pada gambar C atau gambar D. Berdasarkan hal tersebut, maka hukum ini menjelaskan bahwa individu cenderung menerima gambar yang kompleks yang kemudian akan dibagi menjadi beberapa gambar yang lebih sederhana.

Hukum Kontinuitas (Continuity)

Continuity
Sumber : Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) dari Introduction to psychology 9th edition

Hukum yang terakhir adalah hukum kontinuitas. Sesuai dengan namanya, hukum ini berkaitan erat dengan adanya kesinambungan dalam suatu objek. Hukum ini menjelaskan bahwa antara satu stimulus dengan stimulus yang lainnya saling berkaitan atau dilihat sebagai hal yang berkesinambungan.

Misalnya, lihatlah gambar di atas tersebut terdapat garis dari A ke B atau dari C ke D. Hukum kontinuitas memprediksi bahwa individu tidak melihat garis yang dimulai pada A dan kemudian berubah secara tiba-tiba ke garis C atau garis D. Namun, individu akan melihat garis AB dan garis CD walaupun kedua garis tersebut saling memotong satu sama lain.

Baca juga: Yuk Mengenal Teori Perkembangan Manusia

Ilusi: Kesalahan Dalam Persepsi

Pernahkah readers mendengar mengenai ilusi? Ilusi akrab diartikan dengan suatu kesalahan yang kita persepsikan, baik melalui indra penglihatan, pendengaran, maupun panca indra lainnya.

Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) menjelaskan bahwa ilusi adalah pengalaman perseptual di mana individu menganggap gambar sebagai sesuatu yang terdistorsi, sehingga pada kenyataannya sesuatu tersebut tidak ada.

Ilusi diciptakan dengan prinsip manipulasi perseptual, sehingga otak tidak dapat lagi menginterpretasikan suatu bentuk dari ruang, ukuran, dan kedalaman suatu objek dengan benar.

Berikut ini adalah 4 jenis ilusi menurut Plotnik dan Kouyoumdjian (2010), yaitu :

Ilusi Bulan / Moon Ilusion

Ilusion Moon
Sumber : Pixaline from Pixabay

Ilusi bulan merupakan ilusi yang banyak menarik minat orang-orang selama berabad-abad, karena hal ini dianggap mengesankan. Ketika bulan berada dekat dengan cakrawala, maka kita dapat melihat bulan dengan bentuk yang sangat besar. Namun, ketika bulan tersebut menjauh dari cakrawala atau berada tinggi di langit, maka kita melihat bulan tersebut memiliki ukuran 50% lebih kecil, walaupun kedua mata kita mempersepsi bulan yang bentuk dan ukurannya sama.

Ilusi Dalam Ruangan Ames (Ames Room)

Ames room
Sumber : Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) dari Introduction to psychology 9th edition

Ruang Ames dinamai sesuai dengan nama perancangnya, dimana ruangan ini menunjukkan bahwa persepsi kita mengenai ukuran dapat terdistorsi dengan mengubah kedalaman suatu ruangan.

Dalam ruangan tersebut terdapat seorang anak laki-laki yang terlihat lebih besar daripada seorang wanita, hal tersebut karena ruangan Ames memiliki sudut yang aneh. Sudut kiri pada ruangan dua kali lebih besar dibandingkan dengan sudut kanan ruangan. Ini berarti, pada ukuran yang sebenarnya – wanita tersebut lebih besar dibandingkan anak laki-laki.

Ilusi Ponzo / Ponzo Illusion

Ilusi ponzo
Sumber : Malachi M dari Pixabay

Pada gambar di atas, terdapat rel kereta api yang semakin jauh, maka semakin pendek bentuk relnya. Namun, jika kamu mengukur rel kereta tersebut maka kamu akan mengetahui bahwa rel kereta tersebut memiliki ukuran yang sama percis.

Dari ilusi ponzo, kamu dapat belajar bahwa jika terdapat dua objek yang berukuran sama tetapi salah satu objek berada pada posisi yang lebih jauh daripada objek yang lainnya, maka objek yang posisinya lebih jauh akan terlihat lebih pendek, dan sebaliknya.

Ilusi Müller-Lyer / Müller-Lyer Illusion

Muller Lyer
Sumber : Plotnik dan Kouyoumdjian (2010) dari Introduction to psychology 9th edition

Dalam ilusi müller-lyer, readers akan melihat terdapat dua tanda panah yang ukurannya berbeda, walau sebenarnya ukuran kedua tanda panah tersebut sama. Ilusi ini mengandalkan ukuran dalam suatu sudut ruangan.

Jika suatu sudut dalam ruangan memanjang keluar, maka akan terlihat lebih pendek dan hal sebaliknya berlaku. Hal ini juga readers lihat pada kedua tanda panah di atas, di mana panah dengan sudut keluar lebih terlihat pendek dibandingkan panah dengan sudut yang masuk ke dalam.

Baca juga: Teori Kepribadian Erik H. Erikson

Setelah membaca artikel mengenai persepsi, jadi bagaimana readers, apakah readers sudah dapat menyimpulkan apa itu  persepsi dan mengapa persepsi seseorang dengan orang lainnya dapat berbeda?


Sumber:

Basuki, H. (2008). Psikologi umum. Jakarta : Universitas Gunadarma

Walgito, B. (2003). Psikologi umum. Yogyakarta: Andi Offsets

Qiong, OU. (2017). A Brief Introduction to Perception. Studies in Literature and Language Journal. Vol. 15, No. 4, 2017, pp. 18-28 Copyright © Canadian Academy of Oriental and Occidental Culture

Plotnik, R., & Kouyoumdjian, H. (2010). Introduction to psychology 9th edition. Canada: Wadsworth Publishing

Artikel Terbaru

Priskila

Priskila

Priskila Theadora merupakan sarjana psikologi lulusan Universitas Gunadarma. Memiliki prinsip bahwa setiap orang mempunyai alasannya masing-masing untuk menghasilkan sebuah keputusan atau berperilaku. Hobi menulis yang ditekuninya dari sejak kecil ternyata membuat Priskila semakin komunikatif dalam menulis beberapa hal yang sudah dipelajari pada waktu kuliah dan berlanjut hingga sekarang.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *