Psikologi Pendidikan: Pengertian, Teori, Ruang Lingkup

Psikologi pendidikan adalah salah satu ruang lingkup dari ilmu psikologi dan salah satu konsentrasi dari profesi psikolog. Ruang lingkup ilmu psikologi lainnya adalah psikologi klinis, psikologi sosial, psikologi perkembangan, serta psikologi industri dan organisasi. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai definisi, pengertian, teori, peran, dan manfaatnya, yuk simak uraian dan penjelasannya di bawah ini.

Definisi Secara Umum

Sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang proses otak, pikiran, dan perilaku manusia. Berdasarkan pengertian tersebut, kita dapat menyimpulkan sebuah definisi baru. Psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang pikiran dan perilaku dari pihak-pihak yang terlibat dalam lingkungan pendidikan. Di antaranya adalah siswa, guru, sekolah, dan tempat pembelajaran yang berkaitan.

Pengertian Menurut Ahli

Pengertian Menurut Ahli
Sumber: Birgit Böllinger dari Pixabay

Anita Woolfolk

Woolfolk (2016) mengatakan bahwa secara sederhana, psikologi pendidikan adalah pengaplikasian ilmu psikologi pada aktivitas-aktivitas di ruang kelas. Termasuk dengan mengaplikasikan metode-metode psikologi untuk belajar siswa dan menghidupkan suasana di sekolah. Apabila diruntut ke masa lampau, psikologi pendidikan dan teaching memang memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya sejak dahulu kala.

Reynolds & Miller

Reynolds & Miller (dalam Slavin, 2006) mengatakan bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu mengenai peserta didik (siswa) dan proses belajar mengajar. Khusus bagi siswa yang ingin menjadi guru, psikologi pendidikan memiliki makna lebih di mata mereka. Yaitu akumulasi pengetahuan, kebijaksanaan, dan teori tentang bagaimana seorang guru (pengajar) perlu memecahkan masalah pendidikan dengan kemampuan intelektual mereka.

Psikologi pendidikan bukanlah ilmu yang mengajarkan tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang guru. Melainkan, memberikan prinsip-prinsip yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan dengan baik serta mendiskusikan pengalaman dan proses berpikir seorang guru. Sementara itu, psikolog pendidikan dapat melakukan penelitian mengenai metode, prinsip-prinsip, dan proses pembelajaran terbaik yang dapat diterapkan siswa-siswa di sekolah.

Neil J. Salkind

Salkind (2008) mengatakan bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu yang spesial karena mengaplikasikan berbagai disiplin ilmu dalam ruang lingkup pendidikan. Secara umum, terdapat banyak sekali topik-topik menarik yang dapat dipelajari melalui bidang ilmu ini. Yaitu proses belajar dan perkembangan manusia, motivasi, statistika dan pengukuran, hingga kurikulum dan proses belajar mengajar di sekolah.

Lebih spesifik lagi, psikologi pendidikan juga mempelajari topik pembahasan seputar agresi, pencapaian prestasi siswa, model pembelajaran, serta metode kuantitatif. Termasuk juga intervensi, kelas inklusi, perbedaan kultur dan budaya siswa di sekolah. Psikologi pendidikan adalah bidang ilmu yang sangat menarik karena berbeda dengan ilmu sosial lainnya. Tidak hanya membahas proses belajar mengajar di sekolah, namun juga proses belajar mengajar di bangku kuliah atau universitas.

Dale H. Schunk

Schunk (2012) mengatakan bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu yang sering dianggap bertentangan dengan teori belajar. Padahal, teori belajar dan psikologi pendidikan saling melengkapi satu sama lainnya. Kedua teori ini memiliki kesamaan yaitu fokus pada kemampuan individu dalam menangkap ilmu pengetahuan. Selain itu, fokus pada bakat, strategi, dan perilaku belajar di sekolah dan sistem pendidikan.

Baca juga: Dasar-dasar Intervensi Psikologi

Teori dan Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan

Teori dan Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
Sumber: Sasin Tipchai dari Pixabay

Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif adalah hal yang sangat penting dalam dunia psikologi pendidikan. Mengapa demikian? Karena dalam kehidupan sehari-hari, manusia diserbu oleh berbagai macam informasi. Banyaknya informasi tersebut membuat sebagian akan dilupakan dan sebagian lainnya akan terserap ke dalam otak. Nah, proses lupa dan mengingat ini dinamakan information processing theory, yang membahas proses menyimpan dan mengeluarkan informasi pada saat diperlukan.

Menurut Piaget (dalam Slavin, 2006) terdapat beberapa tahap perkembangan kognisi pada anak. Pertama adalah tahap sensorimotor, yaitu bagi anak-anak yang baru lahir hingga berusia 2 tahun. Kedua adalah tahap pre-operasi, yaitu bagi anak-anak berusia 2 hingga 7 tahun. Ketiga adalah tahap operasi konkret, yaitu bagi anak-anak berusia 7 hingga 11 tahun. Keempat adalah tahap operasi formal, yaitu bagi anak-anak berusia 11 tahun hingga dewasa.

Perkembangan Bahasa

Menurut Slavin (2006), tokoh psikologi terkenal yang membahas mengenai perkembangan bahasa adalah B. F. Skinner dan Noam Chomsky. Menggunakan aliran behavioristik, Skinner menjelaskan perkembangan bahasa melalui operant conditioning (diperoleh dari hasil pengaruh lingkungan). Dijelaskan lebih lanjut bahwa anak mempelajari kata-kata, frasa, dan kalimat melalui proses reinforcement atau penguatan.

Di satu sisi, Noam Chomsky menjelaskan perkembangan bahasa melalui aliran nativisme. Cukup bertolak belakang dengan aliran behavioristik, Noam Chomsky berpendapat bahwa keahlian berbahasa tidak diperoleh dari lingkungan. Melainkan, manusia terlahir dengan kemampuan bawaan untuk mempelajari bahasa (teori language acquisition device). Selain itu, diperkuat dengan universal grammar yaitu sebuah mekanisme yang memberikan prinsip-prinsip tata bahasa yang serupa pada semua bahasa.

Tahap perkembangan bahasa pada anak ada tiga, yaitu bahasa oral, membaca, dan menulis. Bahasa oral pada anak usia 1 tahun dapat dilihat ketika mereka mampu mengucapkan satu kata (misalnya: papa, mama, susu). Lalu, pada usia 2 tahun, anak sudah mampu menggabungkan dua kata dan membentuk sebuah kalimat (misalnya: mau susu, lihat ikan). Membaca adalah kemampuan yang sangat penting, menjadi dasar untuk mempelajari hal lain. Terakhir adalah menulis, yaitu kemampuan mengeja berdasarkan pemahaman hubungan kata dan kalimat.

Perkembangan Moral

Tokoh psikologi yang membahas mengenai perkembangan moral adalah Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg (Slavin, 2006). Piaget menuturkan bahwa kemampuan kognitif berkembang terlebih dahulu dan selanjutnya akan membentuk kemampuan penalaran anak terhadap situasi sosial (Santrock, 2011). Kohlberg juga berpendapat bahwa anak yang baru lahir tidak membawa aspek moral (Slavin, 2006). Namun, aspek moral adalah sesuatu yang dapat berkembang dan dikembangkan.

Menurut Piaget, anak-anak yang berusia kurang dari 6 tahun akan bermain dengan aturan mereka sendiri. Hal ini disebabkan karena anak yang masih sangat muda belum mampu berinteraksi secara kooperatif dan memahami aturan moral. Sementara itu, anak yang berusia lebih dari 6 tahun sudah mengetahui adanya aturan moral meskipun belum konsisten menaati aturan tersebut. Beberapa anak yang seharusnya bermain dengan aturan yang sama, terkadang bermain dengan aturan yang berbeda.

Perkembangan Sosio-Emosional

Menurut Erickson (dalam Slavin, 2006) perkembangan sosio-emosional menghubungkan prinsip dari psikologis dan perkembangan sosial seseorang. Menurutnya, manusia melewati delapan tahapan kehidupan. Selama manusia tumbuh dan berkembang, mereka akan menghadapi rangkaian krisis psikososial yang nantinya akan membentuk kepribadian. Krisis-krisis tersebut berfokus pada aspek kepribadian dan hubungan interpersonal.

Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam tahap perkembangan sosio-emosional ini. Faktor pertama yaitu adanya kontak dengan orang dewasa yang menunjukkan bahwa mereka mengharap perhatian dari orang lain. Selanjutnya atau faktor kedua, yaitu orang tua memberi pujian kepada anak ketika mereka melakukan perbuatan yang baik. Terakhir atau faktor ketiga, yaitu teknik disiplin yang ditanamkan kepada anak sejak dini. Ketiga faktor tersebut dapat membentuk perkembangan sosio-emosional yang baik pada anak.

Peran Penelitian pada Psikologi Pendidikan

Peran Penelitian pada Psikologi Pendidikan
Sumber: Konstantin Kolosov dari Pixabay

Tujuan Penelitian di Psikologi Pendidikan

Menurut Slavin (2006), tujuan utama dari penelitian di bidang psikologi pendidikan adalah untuk memecahkan masalah pendidikan menggunakan metode yang objektif dan terstruktur. Hasil dari riset dan penelitian ini dapat berupa teori, prinsip, dan aturan-aturan tertentu. Prinsip menjelaskan hubungan di antara beberapa faktor yang diteliti. Teori adalah kumpulan prinsip dan aturan yang menjelaskan aspek belajar, perilaku, dan lain-lain yang berkaitan. Riset dan penelitian di bidang psikologi pendidikan terhitung sedikit, oleh karena itu sekecil apa pun sebuah penelitian akan sangat berarti dan bermakna.

Mengajar Adalah Proses Pengambilan Keputusan

Salah satu tujuan penelitian di bidang psikologi pendidikan adalah untuk mengetes sejumlah teori yang melibatkan guru di lingkup pendidikan. Seperti yang kita ketahui, guru akan mengambil banyak sekali keputusan setiap hari saat menghadapi murid-muridnya. Dari waktu ke waktu, akan selalu ada masalah pendidikan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Oleh karena itu, dibutuhkan banyak penelitian di bidang psikologi pendidikan untuk menciptakan teori dan prinsip baru dalam mengambil keputusan.

Metode Penelitian Terpopuler

Layaknya ilmu pengetahuan ilmiah, penelitian mengenai psikologi pendidikan akan terus berlangsung dari waktu ke waktu. Seringkali penelitian meneliti tentang sekolah, guru, siswa, atau bahkan program-program pendidikan, hingga treatment pada kasus-kasus pendidikan tertentu. Sebenarnya, tidak ada metode penelitian terbaik yang dapat digunakan. Dengan kata lain, banyak sekali metode yang dapat digunakan dan semua metode akan berfungsi baik pada situasi-situasi tertentu.

Salah satu metode yang seringkali digunakan adalah eksperimen, termasuk di dalamnya eksperimen laboratorium, eksperimen lapangan, dan eksperimen single-case. Metode lainnya yang tidak kalah populer adalah studi korelasi (studi hubungan) di antara beberapa faktor yang akan diteliti. Selain itu ada metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggali informasi secara detail pada sebuah kasus. Serta penelitian aksi, yang melibatkan guru secara langsung di lingkungan kelas dan sekolah.

Baca juga: Teori Kepribadian Psikoanalitik Kontemporer

Manfaat Psikologi Pendidikan

Manfaat Psikologi Pendidikan
Sumber: Rudy and Peter Skitterians dari Pixabay

Layaknya cabang ilmu yang lainnya, psikologi pendidikan juga memberikan banyak manfaat khususnya bagi mahasiswa yang mempelajarinya. Pertama, mahasiswa dapat memahami pentingnya prinsip-prinsip psikologi dalam praktik pendidikan dan pembelajaran. Kedua, psikologi pendidikan dapat menjadi sarana pengembangan diri mahasiswa untuk menjadi calon profesional maupun peneliti bidang pendidikan.

Ketiga, mahasiswa dapat memahami teori dasar pendidikan mengenai perkembangan kognitif, bahasa, moral, dan sosio-emosional siswa di berbagai jenjang pendidikan. Keempat, mahasiswa dapat memahami teori-teori belajar seperti teori behavioural, kognitif, humanistik, dan lain sebagainya. Kelima, mahasiswa dapat memahami bagaimana cara memperlakukan peserta didik sesuai dengan perbedaan usia, jenis kelamin, kemampuan kognitif, dan karakteristik lainnya.

Keenam, mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan bagaimana strategi mengelola kelas yang efektif dalam proses belajar mengajar. Manfaat terakhir adalah mahasiswa dapat menilai dan menelaah kesesuaian perlakuan pendidikan serta memotivasi siswa agar semangat untuk belajar. Yup, selain materinya yang menarik, ternyata psikologi pendidikan juga membawa banyak sekali manfaat bagi mahasiswa yang mempelajarinya.

Perbedaan Teacher Centered dan Learned Centered

Perbedaan Teacher Centered dan Learned Centered
Sumber: Steve Riot dari Pixabay

Hal menarik pada ruang lingkup psikologi pendidikan adalah mengenai teacher centered dan learned centered. Kedua hal ini seringkali diperdebatkan antara baik dan buruknya. Padahal, menurut Woolfolk (2016), teacher centered adalah hal dan perspektif yang baik. Teacher centered menitikberatkan guru sebagai pusat fokus dalam proses belajar mengajar di kelas. Menurut perspektif ini, guru menggunakan banyak strategi dan inovasi baru dalam proses belajar mengajar.

Tentunya, hal ini didukung oleh fakta bahwa guru memiliki pengalaman dasar tentang bagaimana cara mengatur kelas dengan baik. Selain itu, guru juga mampu dan memiliki kemampuan untuk membuat perubahan akan situasi kelas yang monoton. Mereka juga mampu mengetahui perkembangan muridnya dengan baik. Mengenali dan menerima perbedaan budaya, gender, dan geografis murid-muridnya. Lalu, bagaimana dengan learned centered atau sering dikenal sebagai student centered?

Piaget (dalam Woolfolk, 2016) menuturkan bahwa siswa belajar dengan performa terbaiknya ketika mereka aktif dalam mencari solusi atas permasalahannya sendiri. Learned atau student centered menitikberatkan siswa sebagai pusat fokus dalam proses belajar mengajar di kelas. Menurut Piaget, proses belajar mengajar yang membuat siswa menjadi pasif di kelas adalah hal yang tidak tepat. Siswa harus mau dan mampu untuk mengeksplor, merefleksikan, dan mendiskusikan materi pembelajarannya sendiri-sendiri.

Hal tersebut lebih baik dilakukan oleh siswa dibandingkan hanya dengan mendengarkan penjelasan dari apa yang dikatakan oleh guru di kelas. Oleh karena itu, untuk menyiasati hal tersebut, saat ini sudah banyak metode-metode pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa. Misalnya debat, diskusi kelompok, tanya jawab, dan hal lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. Dengan demikian, siswa dapat mengeksplor dan merefleksikan materi pelajaran secara mandiri.

Baca juga: Yuk Mengenal Teori Perkembangan Manusia

Yes, itulah penjelasan lengkap mengenai pengertian, peran, manfaat, teori, dan ruang lingkup dari psikologi pendidikan. Ternyata, psikologi pendidikan memiliki banyak sekali hal yang menarik untuk dipelajari, ya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untukmu. Terima kasih telah membaca artikel ini sampai selesai, selamat belajar.


Sumber:

Salkind, N. J. (2008). Encyclopedia of Educational Psychology. California: SAGE Publications.

Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development 13th Edition. New York: McGraw Hill.

Schunk, D. H. (2012). Learning Theories an Educational Perspective 6th Edition. Boston: Pearson Education.

Slavin, R. E. (2006). Educational Psychology 8th Edition. Boston: Pearson Education.

Woolfolk, A. (2016). Educational Psychology 13th Edition. Boston: Pearson Education.

Artikel Terbaru

Salma

Salma

Lulusan Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada.Mengerjakan skripsi dengan metode kuantitatif.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *