Teori Kepribadian Psikoanalitik Kontemporer Erik H. Erikson

Hallo lagi, readers tambah pinter! Artikel kali ini merupakan artikel lanjutan dari artikel dengan judul Teori Kepribadian Psikoanalitik Klasik : Sigmund Freud. Perbedannya adalah tokoh dari teori kepribadian dan tentu saja terdapat beberapa modifikasi dari teori psikoanalitik yang sudah ada.

Tokoh pada artikel teori kepribadian psikoanalitik adalah Erik Erikson yang sudah terkenal dengan teori perkembangan psikososial, dimana teori tersebut terdiri dari 8 tahapan. Untuk mengetahui lebih detail, yuk kita baca artikelnya!

Biografi Singkat

Erik H. Erikson
Sumer : harvard.edu

Erik Erikson lahir di Jerman pada tanggal 15 Juni tahun 1902, dari orangtua berkebangsaan Denmark – keluarga ibunya adalah Yahudi. Sementara itu, Erikson tidak mengenal ayahnya, karena kedua orangtuanya berpisah sebelum Erikson lahir. Setelah itu, ibunya menikah dengan seorang dokter anak bernama Dr. Homburger, yang mengadopsi sekaligus namanya digunakan oleh Erikson.

Pada tahun 1939, ketika Erikson menjadi seorang warga negara Amerika, ia menambahkan nama tersebut sehingga hingga kini dikenal dengan Erik Homburger Erikson. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Gymnasium, Erikson tidak dapat memutuskan apa yang ingin dilakukannya. Pada saat Erikson berusia 25 tahun, ia diundang untuk mengajar pada suatu sekolah swasta yang terletak di Wina.

Hal ini membuat Erikson tertarik pada pendidikan anak-anak, sehingga ia mengambil sekolah pendidikan guru yang menerapkan metode Montessori. Metode Montessori merupakan metode yang berfokus pada perkembangan insiatif anak melalui permainan serta pekerjaan. Pengalaman ini memberikan pengaruh yang tidak pernah hilang kepada Erikson.

Selain hal tersebut mempengaruhi Erikson, pengaruh lainnya datang dari Anna Freud yang memperkenalkan Erikson pada psikoanalisis melalui pendidikan psikoanalisis. Pada tahun 1933, Erikson tamat dari Institut Psikoanalisis Wina, dan telah menemukan identitas profesinya (Hall & Lindzey, 1993).

Teori Psikososial Tentang Perkembangan

Erik Erikson (1902-1994) adalah seorang psikoanalisis yang lahir di Jerman. Erikson merupakan bagian asli dari lingkaran Freud di Wina, memodifikasi serta memperluas teori Freud dengan menekan pengaruh dari kelompok sosial dalam perkembangan kepribadian. Erikson juga merupakan pelopor dalam menggunakan perspektif rentang kehidupan.

Psikoanalisis Erikson lebih menekankan pengaruh sosial dalam kepribadian. Menurut Erikson, perkembangan manusia meliputi delapan tahap melintasi rentang kehidupan. Setiap tahap melibatkan orisinalitas, Erikson menyebutnya sebagai ‘krisis’ dalam kepribadian.

Setiap tahap meminta keseimbangan dari tendensi positif dan berhubungan dengan yang negatif. Kualitas positif seharusnya dominan, tetapi kualitas negatif juga dibutuhkan untuk perkembangan optimal. Misalnya, pada tahapan basic trust vs mistrust menjelaskan bahwa individu butuh untuk mempercayai individu-individu lain. Namun, individu juga membutuhkan untuk tidak mempercayai individu lain sebagi bentuk perlindungan diri dari bahaya.

Teori Erikson mejadi penting karena menekankan pengaruh sosial dan budaya dari perkembangan manusia secara menyeluruh. Berikut ini adalah delapan tahapan perkembangan psikosial (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014) :

Basic trust vs mistrust (lahir sampai 12-18 bulan)

Basic trust
Sumber : PublicDomainPictures from Pixabay

Pada tahapan pertama, bayi akan mengembangkan perasaan apakah dunia ini baik dan merupakan tempat yang aman, dimana fokus utama dalam tahap ini adalah harapan (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014).

Basic trust atau kepercayaan dasar pada awalnya terbentuk selama tahapan sensorik-oral dan ditunjukan oleh bayi melalui kapasitasnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman, dan membuang kotoran dengan santai.

Adanya aktivitas sehari-hari yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten menjadi dasar perkembangan identitas psikosial. Melalui kontinuitas pengalaman dengan orang-orang dewasa, bayi belajar untuk menggantungkan diri serta percaya kepada mereka. Tetapi, yang paling penting adalah bayi belajar mempercayai dirinya sendiri.

Perbandingan yang tepat antara kepercayaan dasar dan kecurigaan dasar mengakibatkan tumbunya pengharapan. Dasar dari pengharapan adalah hubungan bayi dengan ibu, ketika ibu responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan bayi – maka dipercaya akan memberikan pengalaman yang memuaskan, seperti : ketenangan, makanan, dan kehangatan.

Pada saat yang sama, bayi juga mengembangkan kemampuan untuk membuang pengharapan-pengharapan yang dikecewakan, kemudian menemukan pengharapan untuk masa mendatang. Ketika bayi tersebut tumbuh menjadi dewasa, ia akan menyadari bahwa pengharapan-pengharapan yang pernah diberi prioritas tinggi akan digantikan dengan pengharapan yang tingkatnya lebih tinggi lagi (Hall & Lindzey, 1993).

Autonomy vs shame and doubt (12-18 bulan sampai 3 tahun)

Pada tahapan kedua, anak akan mengembangkan keseimbangan antara kemandirian yang didasari karena keinginannya sendiri dengan kemandirian yang didasari dengan rasa malu serta ragu-ragu. Fokus utama dalam tahapan ini adalah kemauan anak (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014).

Pada tahapan ini, perjuangan anak dalam mempelajari hal-hal baru yang lebih berorientasi pada kegiatan menimbulkan tuntutan ganda. Tuntutan tersebut adalah tuntutan untuk mengendalikan diri sendiri serta tuntutan untuk menerima kendali dari orang lain dalam lingkungan.

Untuk mengendalikan kemauan dari anak, orang-orang dewasa akan memanfaatkan rasa malu yang terdapat pada individu. Namun, mereka akan mendorong anak mereka untuk mengembangkan perasaan otonomi dan akhirnya mandiri. Orang-orang dewasa yang melakukan kendali juga harus benar-benar bersikap membimbing. Anak harus didorong untuk mengalami situasi yang menuntut otonomi dalam melakukan suatu pilihan secara bebas.

Baca juga: Teori Kepribadian Sigmund Freud

Penanaman rasa malu secara berlebihan hanya akan menyebabkan anak tidak memiliki rasa malu atau memaksanya mencoba melarikan diri dari hal-hal dengan berdiam diri, tidak suka berterus terang, dan serba bertindak dengan diam-diam. Perasaan mampu untuk mengendalikan diri sendiri akan menimbulkan rasa kemauan dan bangga yang sifatnya tetap, sementara rasa ketidakmampuan untuk mengendalikan diri sendiri dapat menyebabkan perasaan malu serta ragu-ragu yang sifatnya tetap (Hall & Lindzey, 1993).

Initiative vs guilt (3 tahun sampai 6 tahun)

Initiative
Sumber : Nathan Legakis from Pixabay

Pada tahap ketiga, anak akan mengembangkan inisiatif saat mencoba aktivitas baru tanpa harus dipenuhi oleh rasa bersalah. Fokus utama pada tahap ini adalah tujuan anak ketika melakukan aktivitas baru tersebut (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014).

Tahapan ini akan membuat anak menampilkan diri lebih maju dan lebih seimbang, baik secara fisik maupun kejiwaan. Adanya inisiatif yang bersamaan dengan otonomi memberikan kualitas sifat untuk mengejar, merencakan, serta kebulatan tekad dalam menyelesaikan tugas-tugas serta meraih tujuan-tujuan.

Bahaya dari tahapan ini adalah perasaan bersalah yang dapat menghantui anak karena terlampua bergairah memikirkan tujuan-tujuan, termasuk fantasi-fantasi genital, menggunakan cara-cara agresif serta manipulatif untuk mencapai tujuan-tujuan.

Kegiatan utama anak dalam tahap ini adalah bermain, dan tujuan tumbuh dari kegiatan bermainnya, melakukan eksplorasi, adanya usaha serta kegagalan, dan eksperimentasi dengan alat-alat permainan. Disamping permainan fisik, permainan kejiwaan dengan adanya peranan orangtua serta orang-orang dewasa lain dalam permainan khayalan anak juga sama pentingnya.

Masa bermain ini bercirikan ritualisasi dramatik. Anak secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan bermain, memakai pakaian, meniru kepribadian-kepribadian orang dewasa, dan berpura-pura menjadi apa saja, darimulai seekor anjing hingga seorang astronot.

Adanya hal negatif dari ritualisasi dramatik adalah ritualisme impersonasi sepanjang hidup. Seorang dewasa memainkan peranan-peranan atau melakukan tindakan-tindakan untuk menampilkan suatu gambaran yang tidak mencerminkan kepribadiannya yang sejati (Hall & Lindzey, 1993).

Industry vs inferiority (6 tahun sampai masa pubertas)

Pada tahap keempat, anak harus mempelajari keterampilan dari budaya. Jika anak tidak mempelajari hal tersebut, maka anak akan dipenuhi perasaan tidak kompeten. Fokus utama pada tahap ini adalah keterampilan anak (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014).

Pada tahap keempat dalam proses epigenetik (dalam skema Freud, periode laten) anak harus belajar mengendalikan imajinasinya  yang sangat kaya dan mulai menempuh pendidikan formal. Perhatian pada alat-alat permainan serta kegiatan bermain berangsur-angsur digantikan oleh perhatian pada situasi-situasi produktif, alat-alat serta perkakas-perkakas yang dipakai untuk bekerja.

Bahaya dari tahapan ini adalah anak bisa mengembangkan perasaan rendah diri apabila ia tidak berhasil menguasai tugas-tugas yang dipilihnya atau yang diberikan oleh guru serta orangtuanya. Nilai kompetensi muncul pada tahap ini, dimana nilai-nilai dari tahapan sebelumnya memberikan gambaran kepada anak mengenai tugas-tugas di masa mendatang meskipun belum sangat spesifik.

Rasa kompetensi dicapai dengan menerjurkan diri pada pekerjaan dan penyelesaian tugas-tugas, yang pada akhirnya mengembangkan kecakapan kerja. Asas-asas kompetensi mempersiapkan anak pada suatu perasaan cakap nekerja di masa mendatang, tanpa hal tersebut maka anak akan merasa rendah diri (Hall & Lindzey, 1993).

Identity vs identity confusion (masa pubertas sampai masa dewasa muda)

Pada tahap yang kelima, remaja harus menentukan perasaan akan siapa dirinya. Jika pada tahapan ini remaja tidak berhasil menemukan ‘siapa dirinya’, maka remaja akan mengalami kebingungan mengenai perannya. Fokus utama tahapan kelima adalah kesetiaan (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014).

Selama masa remaja, individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik, namun siap untuk memasuki suatu peranan yang berarti ditengah masyarakat, entah peranan ini bersifat menyesuaikan diri atau bersifat memperbaharui.

Individu mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya sendiri, seperti hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukai, tujuan yang ingin dicapai di masa depan, kekuatan serta hasrat untuk mengendalikan nasibnya sendiri. Ini adalah masa dimana individu membuat rencana-rencana untuk karir.

Karena peralihian yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa di satu pihak, serta karena kepekaan terhadap perubahan sosial dan historis di lain pihak, maka selama tahap pemebentukan identitas seorang remaja, mereka mungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peranan atau kekacauan identitas.

Keadaan ini dapat menyebabkan remaja merasa terisolasi, karena harus membuat keputusan-keputusan penting yang dirasa remaja berada diluar kapasitas mereka. Para remaja mungkin merasa bahwa masyarakat memaksa mereka untuk membuat keputusan-keputusan, sehingga mereka justru  menjadi semakin menentang.

Istilah ‘krisis identitas’ menunjuk pada perlunya mengatasi kegagalan yang bersifat sementara itu agar selanjutnya membentuk suatu identitas yang stabil, atau sebaliknya suatu kekacauan peranan. Perlu diingat bahwa ‘krisis identitas’ berbahaya  untuk tahap-tahap selanjutnya, untuk itu penyelesaian krisis dengan baik pada masa ini menjadi sangat penting (Hall & Lindzey, 1993).

Intimacy vs isolation (masa dewasa muda)

intimacy
Sumber : Karen Warfel from Pixabay

Fokus utama pada tahap keenam adalah cinta. Pada tahapan ini, individu mencari komitmen dengan individu yang lain. Jika individu tidak berhasil dalam menemukan individu lain untuk menjalin komitmen, maka individu akan menderita karena merasa terisolasi  (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014).

Dalam tahap ini, orang-orang pada masa dewasa awal siap serta ingin menyatukan identitas dengan orang-orang lain. Mereka menginginkan hubungan yang intim dan sudah siap untuk memenuhi komitmen, walaupun banyak hal yang harus mereka korbankan.

Baca juga: Yuk Ketahui Pengertian Psikologi

Nilai cinta muncul selama tahap perkembangan keintiman. Begitu juga dengan pengembangan seksualitas yang sesungguhnya dalam hubungan timbal balik dengan individu yang dicintai. Individu dewasa muda membutuhkan individu lain yang dapat mereka percaya untuk menjalin hubungan seksual untuk mengembangkan arti sosial dalam tahap perkembangan.

Bahaya dalam tahapan ini adalah isolasi, yaitu kecenderungan menghindari hubungan karena orang tidak mau melibatkan diri dalam keintiman. Suatu perasaan isolasi yang bersifat sementara memang terjadi karena perlunya membuat pilihan, tetapi juga dapat menimbulkan masalah kepribadian yang berat (Hall & Lindzey, 1993).

Generativity vs stagnation (masa dewasa pertengahan)

Fokus utama pada tahap ketujuh adalah rasa kepedulian. Pada tahapan ini, individu telah menjadi dewasa secara matang. Individu akan berfokus pada membentuk serta membimbing generasi selanjutnya, jika individu tidak mengalami hal tersebut maka individu akan merasa hidupnya mengalami kemunduran (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014).

Ciri pada tahapan ini adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan, seperti keturunan, produk-produk, ide-ide, serta pembentukan dan penetapan pedoman untuk generasi mendatang. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan, maka kepribadian akan mundur, mengalami stagnasi.

Nilai kepedulian berkembang dalam tahap ini. Kepedulian terlihat dalam keinginan memberikan perhatian pada mereka yang membutuhkan serta berbagi dan membagi pengetahuan dan pengalaman dengan mereka. Hal ini tercapai melalui kegiatan membesarkan anak serta mengajari mereka, memberikan contoh, dan mengawasi anak.

Penyimpangan yang dapat terjadi dari ritualisasi pada masa ini adalah ritualisme autoritisme. Autoritisme adalah pencaplokan atau perongrongan kekuasaan yang bertentangan dengan kepedulian (Hall & Lindzey, 1993).

Integrity vs despair (masa dewasa akhir)

Fokus utama pada tahapan kedelapan adalah kebijaksanaan. Tahapan ini adalah tahap dimana individu mencapai penerimaan terhadap hidup mereka sendiri. Individu akan mengizinkan terjadinya kematian atau merasa putus asa karena ketidakmampuannya dalam menghidupkan kembali kehidupan (Papalia, Feldman, dan Martorell, 2014).

Tahap terakhir dalam perkembangan psikososial adalah integritas. Integritas merupakan suatu kondisi dimana individu sudah dapat mengelola keberhasilan serta kegagalan yang mereka alami di dalam kehidupan mereka. Melalui prestasi-prestasi semacam itu, individu dapat menikmati keuntungan-keuntungan dari ketujuh tahap kehidupan yang sudah dialami sebelumnya dan merasa bahwa hidup mereka memiliki makna dalam suatu rancangan yang lebih besar lagi.

Lawan dari integritas adalah keputusasaan tertentu menghadapi perubahan-perubahan sikluas kehidupan individu terhadap kondisi-kondisi sosial dan historis, belum lagi terhadap kefanaan hidup dihadapan kematian. Ini dapat memperburuk perasaan bahwa kehidupan ini tak berarti, bahwa kematian sudah dekat, ketakutan akan kematian, bahkan keinginan untuk mati.

Kebijaksanaan merupakan nilai yang berkembang dari hasil tahapan integritas dan keputusasaan. Kegiatan fisik dan mental dalam kehidupa sehari-hari menjadi lamban pada tahap terakhir dalam kehidupan. Kebijaksanaan yang sederhana menjaga serta memberikan integritas pada pengalaman-pengalaman yang sudah dialami dari tahun-tahun atau tahapan sebelumnya (Hall & Lindzey, 1993).

Teori Konsepsi Baru Tentang Ego

Teori konsep baru ego
Sumber : Gerd Altmann from Pixabay

Freud berpendapat bahwa ego merupakan struktur kepribadian yang memiliki kewajiban dalam memenuhi keinginan-keinginan yang timbul dari struktur kepribadian id. Selain itu, ego juga bertugas untuk menangani keadaan yang sifatnya sosial maupun fisik yang berasal dari lingkungan luar, serta berusaha memenuhi nilai-nilai norma untuk struktur kepribadian superego. Karena dikepung dari ketiga sisi tersebut, maka ego terpaksa melakukan berbagai pertahanan agar tidak kandas.

Konsep ego yang defensif tersebut berasal dari Freud, kemudian dikembangkan oleh Anna Freud pada tahun 1946, dimodifikasi oleh Hartmann serta kawan-kawan dengan memasukkan fungsi adaptif dan fungsi integratif. Sementara itu, Erikson memberikan pendapat bahwa ego memiliki kualitas yang jauh melampaui dari konsep psikoanalitik yang sudah ada sebelumnya.

Kualitas yang dimaksud terdapat dalam delapan tahapan perkembangan psikososial yang sudah dibahas dibagian sebelumnya pada artikel ini. Tipe ego yang digambarkan oleh Erikson dapat disebut ego kreatif, meskipun Erikson tidak menggunakan kata tersebut. Ego kreatif dapat dan memang berhasil menemukan pemecahan-pemecahan kreatif atas masalah-masalah baru yang menimpanya pada setiap tahap kehidupan.

Pada setiap tahap, individu mampu menggunakan kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang tersedia di dunia luar serta melakukannya dengan giat, bahkan dengan perasaan gembira. Apabila menemukan hambatan, maka ego bereaksi dengan usaha baru dan bukan menyerah. Ego tampak kuat dan tabah.

Pada kenyataannya, perkembangan ego dipengaruhi oleh adanya konflik maupun krisis yang harus dihadapi individu dalam tahap perkembangan manusia. Ego dapat menjadi ‘tuan’ dan bukan ‘budak’ dari id, dunia luar, dan superego. Konsepsi Erikson tentang ego sangat universal dan historis. Disamping faktor-faktor genetik, fisiologis, dan anatomis yang ikut menentukan kodrat ego si individu, terdapat juga pengaruh-pengaruh kultural dan historis yang penting (Hall & Lindzey, 1993).

Baca juga: Mengenal Teori Perkembangan

Akhirnya readers tambah pinter sudah sampai pada akhir artikel. Setelah membaca artikel ini, kira-kira apa yang menjadi perbedaan antara teori kepribadian psikoanalitik klasik dengan kontemporer ya? Readers pasti sudah tidak akan bingung menjawab pertanyaan ini setelah membaca artikel. Sampai bertemu di artikel selanjutnya ya, readers!


Sumber:

Hall, C.S., & Lindzey, G. (1993). Psikologi Kepribadian I : Teori-teori Psikodinamik (klinis). Yogyakarta : Kanisius

Papalia, D.E., Feldman, R.D., & Martorell, G. (2014). Perkembangan Manusia. Jakarta : Salemba Humanika

Artikel Terbaru

Priskila

Priskila

Priskila Theadora merupakan sarjana psikologi lulusan Universitas Gunadarma. Memiliki prinsip bahwa setiap orang mempunyai alasannya masing-masing untuk menghasilkan sebuah keputusan atau berperilaku. Hobi menulis yang ditekuninya dari sejak kecil ternyata membuat Priskila semakin komunikatif dalam menulis beberapa hal yang sudah dipelajari pada waktu kuliah dan berlanjut hingga sekarang.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *