Yuk Mengenal Teori Kritis dari Para Ahli

Teori kritis dikembangkan oleh aliran pemikiran Frankfurt (Mazhab Frankfurt) di bawah naungan Institute for Social Research di Universitas Frankfrut, Jerman pada tahun 1930an (Ritzer, 2007). Di bawah kepemimpinan Max Horkheimer, teori kritis dikembangkan melalui pemikiran-pemikiran Karl Marx yang diintegrasikan dengan psikoanalisis Sigmund Freud (Indoprogress, 5/5/2013).

Teori kritis menaruh perhatian pada instrumen dominasi mental yang menjadi faktor penentu kesuksesan kapitalisme (Jones, 2009). Namun, berbeda dari Karl Marx yang berfokus pada faktor infrastruktur (sumber daya produksi), pemikir aliran kritis berfokus pada faktor suprastruktur seperti nilai-nilai moral, agama, politik dan budaya.

Dalam konteks komunikasi, teori kritis digunakan untuk mengungkap peran dan kekuatan komunikasi dalam memengaruhi nilai-nilai moral, politik, agama, dan budaya yang bertujuan unuk melanggengkan kekuasaan (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017).

Selain itu, menurut Littlejohn, Foss & Oetzel (2017), komunikasi menjadi salah satu aspek penting dalam teori kritis karena (1) komunikasi dilakukan dengan bahasa, bahasa diyakini sebagai salah satu alat untuk mengkonstruksi realitas dalam dunia nyata, (2) interaksi sosial yang terjadi melalui komunikasi dapat melanggengkan hegemoni dan dominasi penguasa, (3) komunikasi menggunakan bahasa berguna pula untuk pembebasan dan emansipasi dari ketertindasan.

Untuk memahami teori kritis lebih jauh, kamu bisa mengenal beberapa tokoh yang mempengaruhi teori kritis dan mengembangkannya seperti Karl Marx, Sigmund Freud, Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan Jurgen Habermas.

Karl Marx

karl marx
sumber: asset.kompas.com

Karl Marx lahir pada tahun 1818 di Trier, Jerman Barat dan meinggal di London pada 1883. Marx meraih gelar doktor dari Universita Jena. Ia merupakan seorang filsuf, jurnalis, kritikus sosial, dan juga ekonom walaupun ia sering dianggap sebagai seorang sosiolog (Calhound, Gerteis, Moody, dkk, 2007).

Marx merupakan pencetus aliran marxisme. Marxisme merupakan suatu aliran teori yang didasari pada keyakinan bahwa potensi pencapaian individu dalam aktivitas eknomi dan kesempatan untuk bebas dalam masyarakat modern hanya dapat dicapai jika kapitalisme dihapuskan (Jones, 2009).

Jika diartikan secara sederhana, dalam pandangan ini, hanya orang-orang borjuis yang memiliki modal kapital (pemilik kekayaan) saja yang bisa menikmati pencapaian dalam masyarakat modern. Kelompok proletar (pekerja) tanpa modal kapital yang cukup tidak dapat mencapai hal tersebut karena mereka umumnya bekerja untuk memperkaya pemilik modal kapital.

Menurut Marx, dalam kapitalisme, kelompok borjuis memiliki aset produktif (semisal tanah, tambak, dsb), dan mempekerjakan kelompok proletar dengan upah yang rendah (Jones, 2009). Di masa sekarang, kepemilikan aset produktif biasanya berubah dalam bentuk saham atau investasi modal simpanan (Jones, 2009).

Untuk menyukseskan kapitalisme, dalam artian mencapai keuntungan maksimal, Marx berpendapat bahwa para kelompok borjuis (pemilik modal) melakukan kontrol terhadap infrastruktur (sumber daya produksi).

Meskipun begitu, ia juga berpendapat bahwa kelompok borjuis juga mengontrol faktor suprastruktur (nilai-nilai moral, agama, politik dan budaya). Nah, para penggagas Mazhab Frankfurt nantinya mengembangkan teori kritis berdasarkan pandangan Marx mengenai faktor suprastruktur.

Intinya, Marx menitikberatkan perjuangan kelas antara kelompok borjuis dengan kelompok proletar sebagai fokus utama untuk menghancurkan kapitalisme. Karya-karya penting Marx yang hingga saat ini masih menjadi acuan ialah (Jones, 2009):

  • The Poverty of Philosophy (1847)
  • The Communist Manifesto (1848)
  • The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852)
  • Grundisse (Outline of a Critique of Political Economy) (1857)
  • Preface to a Contribution to the Critique of Political Economy (1857)
  • Theories of Surplus Value (1862-1863)
  • Capital, Vol. 1-3 (1863-1867)
  • Critique of the Gotha Programme (1875)

Baca juga: Mengenal Jurnalisme Online

Sigmund Freud

sigmund freud
Sumber: cdn.idntimes.com

Sigmund Freud lahir dari keluarga Yahudi pada tahun 1856 di Freiburg (sekarang Příbor, Republik Ceko). Freud meraih gelar dokternya dari Universitas Wina pada tahun 1881 di usia 25 tahun (Lechte, 2001). Pada tahun 1885, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Paris, di bawah pengawasan Jean Martin Charcot di Salpetriere (Lechte, 2001).

Freud berfokus pada bidang psikologi, hingga pada 1895 ia mulai menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Studies in Hysteria, serta buku keduanya yakni the Interpretation of Dreams pada tahun 1900.

Freud mengembangkan teori psikoanalisis melalui analisisnya terhadap gejala-gejala yang di masa itu dianggap sebagai hal yang baru, seperti mimpi dan igauan (Lechte, 2001). Selain itu, Freud juga berfokus pada analisa mengenai histeria, seksualitas dan juga perkembangan diri.

Teori Psikoanalisis yang dikembangkan oleh Freud menitikberatkan pada “ketidaksadaran” individu yang berperan besar pada diri seseorang. Semisal, dalam the Interpretation of Dreams, Freud berpendapat bahwa seksualitas manusia itu bukan hanya dorongan hewani semata, melainkan suatu hal yang wajar namun tidak disadari kewajarannya. Proses tidak meyadari kewajaran seksualitas terjadi karena adanya “pengalihan” kehidupan sosial dan kultural (Lechte, 2001).

Istilah “pengalihan” juga didefinisikan pula oleh Freud dalam bahasan mengenai mimpi. Pengalihan merupakan salah satu cara kerja mimpi menyamarkan pesan tak sadar dari mimpi (Lechte, 2011). Pengalihan mengarah pada hilangnya gagasan utama mimpi karena beberapa unsur dalam isi/muatan mimpi dikesampingkan (Lechte, 2001).

“Ketidaksadaran” individu mengenai “pengalihan” merupakan dasar yang digunakan para pencetus teori kritis dalam membedah gagasan marxisme serta kritiknya terhadap masyarakat modern di masa itu. Nah, untuk mulai memahami teori kritis dalam kajian ilmu komunikasi, kamu perlu membaca pandangan beberapa tokoh teori kritis seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan Jurgen Habermas.

Baca juga: Yuk Ketahui Efek Media

Max Horkheimer

max horkheimer
sumber: deutschlandfunk.de

Max Horkheimer merupakan pentolan generasi pertama dari Mazhab Frankfurt yang lahir pada 1895 dan meninggal pada 1973 di Jerman Barat (Bohman, 1999). Horkeimer besar dalam keluarga keturunan Yahudi. Setelah berhenti meneruskan perusahaan tenun ayahnya, ia belajar filsafat dan mendapatkan gelar doktor dengan disertasi mengenai Immanuel Kant.

Sebagai direktur dari Institute for Social Research, Horkheimer memfokuskan institusi ini pada perkembangan kapitalisme di Eropa yang menimbulkan krisis sosial (Tjahjadi, 2007). Krisis sosial tersebut mencakup pada konflik ideologi individualisme kelompok bourjuis yang melakukan pemusatan kekuasaan dan kontrol dalam wujud perusahaan besar, militer, maupun pemerintah.

Mengapa bisa dikatakan pertentangan? Sebab, di satu sisi individualisme yang dianut kelompok borjuis (contoh: perusahaan besar) menjanjikan adanya “kebebasan” bagi tiap orang, namun di sisi lain “mekanisme pasar bebas” yang dijalankan oleh kelompok borjuis menciptakan suatu dominasi atas individu (contoh: pekerja).

Menurut Hokheimer, perlu ada suatu “pendekatan sosial” yang bisa menjadi jalan keluar krisis tersebut. Caranya ialah melalui pengembangan teori kritis. Bagi Horkheimer, teori kritis hendak mengungkap topeng distorsi sosial yang demikian (Roderick, 1986).

Istilah ‘critical’ dalam teori kritis (critical theory) pertama kali digunakan dan didefinisikan oleh Max Horkheimer dalam esainya yang berjudul ‘Traditional and Critical Theory’ (Indoprogress, 5/5/2013). Definisi ‘critical theory’ oleh Horkheimer dibangun dengan cara membandingkannya dengan konsep ‘traditional theory’.

Menurutnya, traditional theory tidak dapat menggambarkan kenyataan sosial yang sesungguhnya karena pada umumnya hanya memaksakan kalkulasi matematis untuk mengungkapkan fakta kehidupan manusia (Indoprogress, 5/5/2013). Padahal, suatu fenomena sosial terjadi karena berbagai faktor, seperti faktor historis dan faktor budaya.

Latar belakang historis dan budaya bukanlah hal yang tidak dapat diukur secara matematis. Oleh sebab itu, Hokheimer berkeyakinan bahwa keberhasilan temuan baru yang cukup faktual untuk mengembangkan pengetahuan hanya dapat digambarkan dengan memahami proses sosial secara mendalam mulai dari sejarah hingga budaya masyarakat.

Teori kritis lekat dengan “pengungkapan dominasi” sebagai wujud emansipasi dan perubahan sosial. Hokheimer menjadikan teori kritis sebagai kritik terhadap pendekatan tradisional dalam ilmu sosial yang positivistik (baca: matematis), yang hasil risetnya cenderung digunakan untuk melayani kebutuhan kelompok borjuis di masa itu (Indoprogress, 5/5/2013).

Selain mencetuskan istilah teori kritis, bersama dengan kawan sejawatnya, Theodor Adorno, Horkheimer juga menciptakan konsep ‘industri budaya.’ Konsep ini merupakan wujud kritik terhadap nasib kemanusiaan dalam kapitalisme (Indoprogress, 5/5/2013).

Menurut Horkheimer dan Adorno, dalam bukunya Dialectic of Enlightment, industri budaya hanya menuntun manusia pada dominasi dan penindasan. Produk-produk dalam industri budaya dianggap sebagai produk komersil. Selain itu, produk budaya juga dianggap sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan kelompok borjuis (pengusaha, pemerintah, dsb).

Tujuan tersebut dapat berupa keuntungan kapital (contoh: iklan di televisi) ataupun pelanggengan kekuasaan (contoh: pemerintah otoriter menggunakan dan mengatur media massa sebagai corong propaganda).

Dalam industri budaya, manusia ditempatkan sebagai konsumen dan pekerja. Pekerja adalah mereka yang memproduksi produk-produk budaya (contoh: tayangan televisi, musik, karya sastra, dsb), sedangkan konsumen ialah audiens. Jika dikaitkan dengan industri budaya, audiens diperlakukan sebagai objek yang “tidak sadar” bahwa mereka dipengaruhi oleh kelompok penguasa melalui produk budaya.

Untuk mempelajari mengenai industri budaya lebih lanjut, kamu perlu mendalami gagasan dan pemikirin kritis dari Theodor Adorno. Adorno menempatkan fokus kritiknya pada perkembangan budaya di masyarakat.

Baca juga: Komunikasi Antarpribadi, Perkembangan, dan Kekuasaan

Theodor Adorno

theodor adorno
Sumber: thefamouspeople.com

Theodor Adorno lahir pada tahun 1903 dengan nama lengkap Theodor Wiesengrund Adorno, namun ia menghilangkan nama tengahnya karena menganggap nama tersebut agak berbau Yahudi (Lechte, 2001). Ia menempuh pendidikan di Universitas Frankfurt, tempat ia belajar filsafat, sosiologi dan musik. Pada tahun 1924 ia meraih doktor filsafat.

Adorno sempat pindah ke Wina, Austria untuk belajar komposisi di bawah bimbingan Alban Berg pada tahun 1925. Ia mulai kembali ke Frankfurt pada tahun 1926 dan mulai fokus pada studi mengenai Kant dan Freud.

Setelah Horkheimer menjabat sebagai direktur, Adorno bergabung pada Institute for Social Research. Adorno merupakan salah satu tokoh teori kritis yang fokus pada perkembangan budaya di masyarakat, terutama musik, dan mempopulerkan konsep mengenai industri budaya massa.

Bersama dengan Horkheimer, Adorno melakukan analisis mengenai “industri budaya.” Industri budaya merupakan istilah yang mereka populerkan sebagai bentuk kritik terhadap produk budaya massa seperti film, tayangan televisi ataupun musik yang diproduksi secara masif untuk kepentingan pasar industri semata, bukan untuk melestarikan kultur ataupun mengembangkan kreativitas.

Adorno memang ingin memelihara kemurnian seni. Dalam bukunya yakni Aestethic Theory, ia berpendapat bahwa seni seharusnya tidak menjadi komoditas yang diberi harga (Adorno, 1997). Seperti harga sebuah album musik, harga tiket pertunjukan seni, dsb. Pelaku seni pada akhirnya hanya terjebak dalam standar-standar pasar dan tidak dapat mengembangkan hasil seni sesuai kreativitasnya.

Pencipta industri budaya (misal: perusahaan media) menciptakan kontrol dan dominasi terhadap masyarakat sebagai audiens (Indoprogress, 5/5/2013). Masyarakat sebagai audiens hanya dianggap sebagai objek untuk memperoleh keuntungan baik sebagai konsumen maupun pekerja (Adorno & Horkheimer, 2002).

Intinya, ketika dikaitkan dengan kajian media, Adorno memiliki pandangan kritis mengenai industri budaya massa yang berfokus pada akumulasi kapital untuk mencapai keuntungan.

Herbert Marcuse

Herbert Marcuse
Sumber: formaci.or.id

Herbert Marcuse lahir pada 19 Juli 1898 di Berlin di tengah-tengah keluarga Yahudi yang telah berasimilasi dengan kebudayaan Jerman (Saeng, 2012). Ia meninggal pada 1979.

Marcus belajar di Universitas Humbold dan melanjutkan studinya ke Universitas Freiburg untuk menekuni sastra Jerman baru, filsafat dan ekonomi politik. Ia pernah menjadi asisten Heidegger sebelum bergabung dengan Horkheimer di Institute for Social Research.

Marcuse mengembangkan teori kritis dengan fokusnya terhadap masyarakat modern. Dalam opusnya Eros and Civilization, Marcuse berpendapat bahwa peradaban modern telah membuat manusia kehilangan hasrat paripurnanya (lsfcogito.org, 23/12/2016).

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang memicu adanya sebuah industrialisasi yang menciptakan kapitalisme dan mengubah pola sosial masyarakat. Pada akhirnya, hasrat manusia ditundukan dan dimanipulasi demi keuntungan kapital.

Lebih lanjut lagi, Marcuse melanjutkan kritiknya melalui gagasan mengenai masyarakat satu dimensi yakni seputar krisis kapitalisme di tengah-tengah dominasi teknologi dan masyarakat industri (lsfcogito.org, 23/12/2016).

Dalam bukunya One Dimensional Man, Marcuse masih mengkritisi masyarakat industri modern di tengah-tengah dominasi teknologi. Dalam kekuasan kapitalis, teknologi menjelma sebagai sebuah alat dominasi (Marcuse, 1994).

Ambil contoh sederhana dari sistem bekerja saat ini yang ‘katanya’ fleksibel. Adanya kemajuan teknologi seperti internet, laptop, instant messaging, email, dan lain sebagainya, membuat kita dapat berkoordinasi dengan mudah. Kita bisa bekerja dari mana saja dengan waktu yang fleksibel.

Namun, saking mudahnya berkoordinasi, terkadang jam kerja kita dapat melebihi jam kerja seharusnya (misal: 8 jam/hari). Jam kerja tidak terhitung karena segala hal bisa dikerjakan kapan saja dan di mana saja. Nah, itulah kira-kira wujud kritik Mercuse jika disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Berbicara mengenai media, Marcuse juga berpendapat bahwa media massa berperan dalam menciptakan masyarakat satu dimensi (one dimensional man). Media massa melakukan kontrol psikologis dengan menggiring opini masyarakat luas seiring berkembangnya teknologi (Marcuse, 1994). Produk-produk seni yang ditampilkan dalam media bukanlah media untuk mengekspresikan realita.

Serupa dengan pendapat Adorno, Mercuse berpendapat bahwa produk seni yang ditayangkan media massa sangatlah pragmatis dan bermuara pada pendapatan kapital. Pada akhirnya, hal ini  berujung pada kekuatan teknologi dalam menciptakan dimensi kehidupan yang penuh ilusi, walaupun pada kenyataannya hanya berupa penindasan.

Baca juga: Mengenal Teori Komunikasi Massa

Jurgen Habermas

jurgen habermas
Sumber: krakoweuroculture.files.wordpress.com

Jurgen Habermas merupakan seorang filsuf dan tokoh teori kritis yang lahir di Dusseldorf, Jerman pada tanggal 18 Juni 1927. Ia merupakan keturunan kelas menengah yang sedikit tradisional (Suseno, 2004).

Di antara para tokoh teori kritis, Habermas menjadi salah satu figur yang paling memperhatikan isu-isu komunikasi. Bagi Habermas, para kapitalis tidak hanya menjalankan penindasan karena memiliki kekuatan ekonomi dan teknologi, melainkan juga karena faktor kecakapan komunikasi dalam berbagai bentuk.

Untuk berjuang melawan penindasan, kita juga perlu melakukan komunikasi. Menurut Habermas, komunikasi memiliki peran sentral dalam sebuah emansipasi, sebab bahasa dalam komunikasi menjembatani tujuan dari emansipasi itu sendiri (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017).

Agar komunikasi yang dilakukan berhasil, seseorang perlu mencapai standar validitas, atau secara sederhana perlu dipercayai oleh lawan bicaranya. Dalam bukunya The Theory of Communicative Action, Habermas menyebutkan tiga kriteria tersebut yakni kebenaran (truth), ketepatan (appropriateness) dan ketulusan (sincerity) (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017).

Komunikasi yang dilakukan memuat argumentasi. Baik itu perbincangan atau diskursus maupun kritik. Diskursus terjadi jika pernyataan seseorang, sebagai emansipator, sedang dipertanyakan (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017). Emansipator perlu membuktikan validitas pesan dan gagasan yang dibawa.

Jika yang dipertanyakan ialah sebuah kebenaran, maka perlu direspon dengan diskursus teoritis yang menjelaskan keadaan nyata (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017). Misalnya, menjelaskan beban kerja secara rinci dan waktu pengerjaannya jika dipertanyakan kebenaran bahwa kamu merasa kelebihan beban.

Jika yang dipertanyakan ketepatan, maka perlu direspon dengan diskursus praktis (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017). Misalnya, kamu membutuhkan bantuan perangkat lunak untuk menunjang pekerjaanmu. Maka, kamu perlu menjabarkan secara praktis bagaimana hal tersebut menjadi kewajiban perusahaan untuk menyediakannya.

Baca juga: Mengenal Teori Komunikasi Kelompok

Pemahaman Akhir

Teori Kritis dikembangkan oleh aliran pemikiran Frankfurt di bawah naungan Institute for Social Research di Universitas Frankfurt, Jerman pada tahun 1930-an. Dipimpin oleh Max Horkheimer, teori ini mengintegrasikan pemikiran Karl Marx dengan psikoanalisis Sigmund Freud. Teori Kritis memperhatikan instrumen dominasi mental sebagai faktor penentu kesuksesan kapitalisme, dengan fokus pada faktor suprastruktur seperti nilai-nilai moral, agama, politik, dan budaya.

Dalam konteks komunikasi, Teori Kritis digunakan untuk memahami peran dan kekuatan komunikasi dalam memengaruhi nilai-nilai moral, politik, agama, dan budaya untuk melanggengkan kekuasaan.

Komunikasi menjadi penting dalam Teori Kritis karena bahasa digunakan sebagai alat untuk mengkonstruksi realitas, interaksi sosial melalui komunikasi dapat melanggengkan hegemoni dan dominasi, serta komunikasi juga dapat digunakan untuk pembebasan dan emansipasi dari ketertindasan.

Beberapa tokoh yang mempengaruhi dan mengembangkan Teori Kritis antara lain Karl Marx, Sigmund Freud, Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan Jurgen Habermas. Marx mengedepankan perjuangan kelas antara kelompok borjuis dan proletar sebagai fokus utama untuk menghancurkan kapitalisme. Freud mengembangkan teori psikoanalisis yang menitikberatkan pada ketidaksadaran individu.

Horkheimer memperkenalkan istilah “teori kritis” dan fokus pada pengungkapan dominasi sebagai wujud emansipasi dan perubahan sosial. Adorno mempelajari perkembangan budaya dalam masyarakat dan menyoroti industri budaya sebagai sumber dominasi dan penindasan.

Teori Kritis memberikan pemahaman yang mendalam tentang hubungan antara komunikasi, kekuasaan, dan dominasi dalam konteks sosial dan budaya. Dengan melihat komunikasi sebagai alat konstruksi realitas, Teori Kritis mengajak untuk menganalisis kritis peran komunikasi dalam melanggengkan atau membebaskan individu dari ketertindasan.

Nah, dalam proses komunikasi ini, Habermas juga menekankan jika proses komunikasi dapat dikatakan emansipatif apabila setiap orang memiliki kebebasan bersuara, akses yang sama untuk menyuarakan pendapat, dan juga diberlakukan setara dengan yang lainnya (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017).


Referensi:

Adorno, T. W. & Horkheimer, M. 2002. Dialectic of Enlightenment (Philosophical Fragment). California: Stanford University Press.

Adorno, Theodor W. 1997. Aesthetic Theory. London: the Athlone Press.

Bohman, James. 1999. “Horkheimer, Max” dalam The Cambridge Dictionary of Philosophy. London: Cambridge University Press.

Calhound, Craig, Gerteis, Joseph, Moody, James, dkk (Ed.). 2007. Classical Sociological Theory. Great Britain: Blackwell Publishing.

Heitink, Gerben. Practical Theology: History, Theory, Action Domains. Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company

Lechte, John. 2001. 50 Filsuf Kontemporer. Yogyakarta: Kanisius.

Indoprogress.org. 2013. Rangkaian Kritik Terhadap Tiga Pendekatan Kritis Kajian Budaya (Bag. 3 Habis). Diakses dari https://indoprogress.com/2013/05/rangkaian-kritik-terhadap-tiga-pendekatan-kritis-kajian-budaya-bag-3-habis/ pada 28/06/2020.

Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial: Dari Fungsionalisme hingga Post-modernisme. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Littlejohn, Foss & Oetze. 2017. Theories of Human Communication 11th Edition. Long Grove: Waveland Press Inc.

Marcuse, Herbert. 1994. One Dimensional Man 2nd Edition. Boston: Beacon Press.

Ritzer, George. 2007. The Blackwell Encyclopedia of Sociology. Massachusetts: Blackwell Publishing.

Roderick, Rick. 1986. Habermas and the Foundations of Critical Theory. New York: St. Martin’s Press.

Saeng, Valentinus. 2012. Herbert Marcuse, Perang Semesta Melawan Kapitalisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Suseno, Franz Magnis. “75 Tahun Jürgen Habermas” dalam Basis. 4. (4). 11-12.

Tjahyadi, Sindung. 2007 “Teori Sosial dalam Perspektif Teori Kritis Max Horkheimer” dalam  Jurnal Filsafat. 17. (1). 1-14.

Artikel Terbaru

Avatar photo

Anggita Indari

Anggita merupakan lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Jenderal Soedirman. Selain bekerja penuh-waktu sebagai praktisi digital marketing dan analis media, sehari-hari ia juga menikmati kajian media dan budaya.

Komentar

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *