Studi Pustaka: Pengertian, Metode, dan Contoh

Dalam menulis karya ilmiah ada suatu proses yang tak boleh dilewati terlebih dahulu, yaitu studi pustaka atau studi kepustakaan. Namun, bukan hanya dalam menulis karya ilmiah saja, tak jarang para penulis fiksi pun menggunakan studi pustaka untuk memperkuat narasi cerita dalam novel-novelnya.

Dalam kegiatan ilmiah, pentingnya studi Pustaka dalam proses menulis yaitu bisa menjadi referensi dan landasan teori dalam penelitian yang sedang dilakukan. Tanpa adanya studi Pustaka, maka penelitian ilmiah tersebut tidak memiliki dasar penelitian.

Dalam penulisan fiksi, studi Pustaka dilakukan ketika penulis ingin mengetahui dan mencari informasi tentang suatu hal di dalam novelnya untuk memperkaya cerita. Misal, Dee Lestari pernah melakukan studi pustaka tentang parfum ketika ia menulis novel Aroma Karsa.

Lalu apa sih pengertian studi pustaka? Apa saja metode studi pustaka dan bagaimana contoh studi pustaka? Temukan jawabannya dalam artikel ini. Selamat membaca!

Pengertian Studi Pustaka

pengertian studi pustaka
Sumber: Maria Sias dari Pixabay

Seperti sudah yang dibilang di atas, studi pustaka sangat penting dilakukan dalam kegiatan menulis. Baik itu tulisan karya ilmiah / nonfiksi dan juga fiksi. Perbedaannya adalah dalam karya ilmiah studi pustaka berguna menjadi landasan teori dalam objek penelitian. Sementara dalam karya fiksi, studi pustaka bisa menjadi bahan referensi untuk topik cerita yang diangkat.

Dalam pengertiannya, studi pustaka adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan informasi melalui berbagai macam sumber mengenai topik cerita atau masalah yang menjadi objek penelitian.

Untuk menambah wawasanmu, berikut ini adalah pengertian studi pustaka menurut para ahli.

Baca juga: Contoh Resensi Buku

Studi pustaka menurut Sarwono

Sarwono menjelaskan bahwa studi pustaka adalah kegiatan seseorang mempelajari berbagai macam buku referensi dan juga hasil penelitian terdahulu yang sejenis dan berguna untuk menjadi landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti.

Studi pustaka menurut Sugiyono

Menurut Sugiyono seorang ahli di bidang penilitian menjelaskan, studi pustaka atau studi kepustakaan adalah suatu kajian teoritis, referensi dan literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan budaya, nilai, dan juga norma yang berkembang di situasi sosial yang sedang diteliti.

Studi pustaka menurut  Nasir

Pendapat terakhir ialah menurut Nasir. Nasir menerangkan bahwa studi pustaka adalah sebuah Teknik mengumpulkan data dengan melakukan penelaahan melalui buku, literatur, serta berbagai macam catatan berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan.

Nasir juga menjelaskan studi pustaka dinilai sebagai tindakan yang mengumpulkan data yang dilakukan penulis. Data-data yang sudah dikumpulkan nantinya akan dipakai penulis untuk ditambahkan di dalam tulisannya. Dengan begitu apa yang ditulis adalah data yang valid dan bisa dibuktikan kebenarannya.

Jadi, berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas, kita bisa manarik kesimpulan. Studi pustaka adalah suatu kegiatan atau proses mengumpulkan data berupa tulisan baik itu melalui buku, jurnal, artikel, dll. Data tersebut nantinya menjadi sumber rujukan atau landasan teori untuk penyusunan karya tulis.

Metode Studi Pustaka

Metode studi pustaka
Sumber: Pexels dari Pixabai

Pastinya kamu ingin melakukan studi pustaka yang efisien agar tulisan yang kamu hasilkan bisa optimal. Maka dari itu, kamu perlu mengenal metode studi pustaka. Metode studi pustaka berisi cara atau langkah-langkah dalam melakukan studi pustaka. Berikut adalah penjelasannya.

  1. Mengetahui jenis pustaka yang dibutuhkan

Dalam melakukan studi pustaka, cara pertama yang bisa kamu lakukan ialah mengetahui jenis pustaka apa yang sedang dibutuhkan. Apakah berbentuk buku, jurnal, artikel dari internet, atau bahkan kombinasi dari semuanya.

Contohnya adalah ketika kamu memilih studi pustaka dari buku, maka kamu bisa mencari dan mimilih buku-buku yang sesuai dengan topik masalah. Pastikanlah buku yang kamu pilih pas dengan kebutuhan yang kamu cari.

Baca juga: Mengenal Kerangka Konseptual

Makanya, tak heran proses pertama ini bisa memakan waktu yang cukup lama. Setelah tahu jenis pustaka apa yang dibutuhkan, kamu bisa melakukan cara berikutnya.

  1. Membaca jenis pustaka yang sudah ditentukan

Apalah jadinya jika pustaka yang kamu pilih tak kamu baca dan hanya tergeletak di meja. Pasti karya tulis yang sedang kamu susun tidak akan berjalan baik.

Maka dari itu, setelah mengetahui jenis pustaka yang dipilih, cara kedua adalah membaca jenis pustaka tersebut. Cara ini sangat penting bagi proses metode studi pustaka dikarenakan penulis ataupun peneliti membutuhkan informasi di dalam buku, jurnal, artikel ataupun yang lainnya.

Dalam tahap ini kamu juga akan membutuhkan waktu yang cukup banyak. Karena kamu harus membaca satu persatu jenis pustaka tersebut. Apalagi jika bahan referensinya banyak.

  1. Melakukan pengkajian

Tahap selanjutnya adalah melakukan pengkajian dari bahan bacaaan yang sudah dibaca. Maksudnya adalah ketika kamu sudah selesai membaca maka kamu akan mengetahui informasi di dalam bacaan tersebut.

Kamu sudah bisa menemukan informasi apa saja yang penting dan sesuai kebutuhan. Maka dari itu, kamu bisa melakukan pencatatan dan sesuaikanlah dengan topik atau masalah yang dibahas. Sehingga hasilnya adalah seperti rangkuman dan memudahkan kamu melakukan tahap berikutnya.

  1. Menyajikan hasil studi pustaka

Setelah mencari, membaca, dan mengkaji dan merangkum, maka tahap terakhir adalah menyajikan hasil studi pustaka dalam bentuk tulisan. Menyajikan hasil studi pustaka bisa macam-macam.

Contohnya kamu bisa menyajikannya dalam bentuk kutipan lalu dicantumkan kredit atau sitasi. Bisa juga kamu melakukan parafrase atas semua data yang sudah kamu peroleh.

Contoh Studi Pustaka

Contoh studi pustaka
Sumber: PourquoiPas dari Pixabay

Contoh studi pustaka bisa bermacam-macam bentuknya, sesuai dengan jenis studi pustaka apa yang dipilih. Apakah itu untuk studi pustaka karya ilmiah atau fiksi. Namun, di artikel ini akan secara khusus memberikan contoh studi pustaka dalam karya tulis ilmiah. Berikut adalah contoh-contohnya.

Topik: Feminisme dalam Sastra

Feminisme lahir awal abad ke 20, yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya yang berjudul A Room of One’s Own (1929). Secara etimologis feminis berasal dari kata femme (woman), berarti perempuan yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. Tujuan feminis adalah keseimbangan, interelasi gender. Dalam pengertian yang lebih luas, feminis adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya.

Perkembangan teori feminisme didukung oleh Adam Jones yang mengangkat tiga hal penting tentang perempuan (Wardhani, 2013), yaitu : (1)fokus pada perempuan sebagai pelaku sejarah dan politik . Jones mengakui bahwa perempuan memainkan banyak peranan dalam bidang sejarah dan politik. (2) Semua feminis berbagi “landasan epistemologis di ranah pengalaman perempuan” . Jones mengakui bahw pengalaman-pengalaman perempuan tersebut secara epistemology adalah sama, dan kisah mereka kemudian dijadikan suatu karya ilmiah. (3) Perempuan dan feminin merupakan historis kurang mampu, kurang terwakili, dan kurang diakui kelompok sosial dan sudut pandang . Jones juga mengakui bahwa perempuan sebagai kaum yang terpinggirkan menjadi kurang terwakili dan kurang diakui dalam kelompok sosial.

Dalam kaitannya dengan kajian budaya, permasalahan perempuan lebih banyak berkaitan dengan kesetaraan gender. Masalah-masalah mengenai wanita pada umumnya dikaitkan dengan emansipasi, gerakan kaum perempuan untuk menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki, baik dalam bidang politik dan ekonomi, maupun gerakan sosial budaya pada umumnya. Dalam sastra emansipasi sudah dipermasalahkan sejak tahun 1920-an, ditandai dengan hadirnya novel-novel Balai Pustaka, dengan mengemukakan masalah-masalah kawin paksa, yang kemudian dilanjutkan pada periode 1930-an yang diawali dengan Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Aliajahbana.

Contoh-contoh dominasi laki-laki, baik dalam bentuk tokoh-tokoh utama karya fiksi yang terkandung dalam karya sastra maupun tokoh faktual sebagai pengarang dapat dilihat baik dalam sastra lama maupun sastra modern.

Kesadaran berubah sejak tahun 1970-an, sejak lahirnya novel-novel populer, yang diikuti dengan hadirnya sejumlah pengarang dan tokoh perempuan. Sebagai pengarang wanita memang agak jarang. Sepanjang perjalanan sejarah sastra Indonesia terdapat beberapa pengarang perempuan, antara lain: Sariamin, Hamidah, Suwarsih Djojopuspito, Nh. Dini, Oka Rusmini, Ayu Utami, Dee Lestari, dan lain-lain. Sampai saat ini topik tentang feminisme dalam sastra terus berkembang seiring dengan lahirnya penulis-penulis beraliran feminis.

Topik: Hegemoni ala Gramsci

Hegemoni merupakan bidang ilmu dalam Sosiologi yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci (1891-1937). Pemikirannya berkembang ketika ia dipenjara dan akhirnya menulis sebuah buku yang berjudul ‘Selection From The Prissons Notebook’.

Hegemoni menurut KBBI yaitu pengaruh kepemimpinan, dominasi, kekuasaan, dan sebagian suatu negara atas negara lain (atau negara bagian). Sedangkan  Teori  Hegemoni Gramsci meneliti bentuk-bentuk politis, kultural, dan ideologis tertentu, yang lewatnya, dalam suatu masyarakat yang ada, suatu kelas fundamental dapat membangun kepemimpinannya sebagai sesuatu yang berbeda dari bentuk-bentuk hegemoni yang bersifat memaksa. (Faruk, 2003 :63)

Baca juga: Cara Merumuskan Hipotesis

Gramsci pun menjabarkan ada tiga bidang pembagian hegemoni yaitu konsep ekonomi, negara (political society) dan masyarakat sipil (civil society).   Menurut Nugroho, Ekonomi bagi Gramsci adalah istilah untuk menunjukkan mode of production yang paling dominan dalam sebuah masyarakat. Cara produksi tersebut terdiri dari teknik produksi dan hubungan sosial produksi yang ditumbuhkan atas munculnya perbedaan kelas-kelas sosial dalam arti kepemilikan produksi. Sementara negara merupakan tempat hadirnya praktek-praktek kekerasan (polisi dan aparat kekerasan lainnya) dan tempat terjadinya pendirian birokrasi negara.

Gramsci mengindentikkan birokrasi negara sebagai pelayanan sipil, kesejahteraan dan institusi pendidikan. Sedangkan konsep masyarakat sipil (civil society) merupakan organisasi di luar negara dalam sebuah formasi sosial di luar bagian sistem produksi material dan ekonomi, yang didukung dan dilaksanakan oleh orang atau komponen di luar batasan di atas. (Noto Susanto Nugroho, Maret 16, 2015).

Dari pemaparan teori hegemoni yang diusung Gramsci telah banyak penelitian humaniora yang membahas tentang kekuasaan. Tak jarang teori ini sering digunakan dalam penelitian sosiologi, politik, dan juga sastra.

Studi pustaka menjadi acuan dalam menulis apapun, lebih khusus dalam menulis karya ilmiah seperti skripsi, artikel, ataupun jurnal. Maka dari itu, mengenali dan memahami contoh studi pustaka bisa membantumu dalam menulis studi pustaka. Selamat mencoba!

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Suka apapun tentang dunia tulis menulis dan buku. Menamatkan kuliah di Sastra Indonesia UNJ dan kini menjadi content writer.

Komentar

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *