Mengenal Apa Itu Kerangka Konseptual

Apa itu kerangka konseptual? Bagaimana cara membuatnya? Seperti apa contohnya?

Pada pembahasan kali ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang apa itu kerangka konseptual. Ketika kalian mendengar kata kerangka konseptual atau mendapat tugas dari sekolah untuk membuat sebuah kerangka konseptual, barangkali kalian bertanya-tanya apa itu kerangka konseptual, apa perbedaannya dengan kerangka teori, kerangka berpikir dan kerangka karangan atau outline? Dalam tulisan ini, kita akan membahas tuntas definisi, penjelasan, perbedaan dengan istilah-istilah lain yang sering kita dengar bersama dengan kerangka konseptual, langkah-langkah dalam membuatnya, beserta contohnya.

Definisi Kerangka Konseptual Menurut Berbagai Ahli  

Mengenal Apa Itu Kerangka Konseptual
Sumber: storyset from Freepik

Dalam setiap pembahasan, penting sekali untuk memahami terlebih dahulu ihwal definisi. Sebab, ini akan membuat konsep-konsep dalam pikiran kita menjadi lebih sistematis dan terstruktur sehingga lebih mudah untuk memahami dan mengingat sesuatu. Berikut ini kita sajikan berbagai pengertian kerangka konseptual menurut para ahli, untuk kemudian dapat kita tarik benang merah dari semua definisi yang ada, agar kita mendapatkan definisi yang paling sederhana tetapi komprehensif.

Singarimbun, 1990 mengatakan bahwa konsep merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu sehingga dapat digunakan untuk menggambarkan berbagai fenomena yang serupa. Singarimbun juga menjelaskan bahwa konsep memiliki dua jenis, yaitu konsep konkrit dan konsep abstrak. Konsep konkrit berupa hal-hal yang dapat terlihat oleh mata dan dapat diukur menggunakan alat ukur fisik. Misalnya, konsep kursi, berat, panjang, dan lain-lain. Sedangkan konsep abstrak misalnya sikap, persepsi, motivasi, manajemen dan lain-lain.

Miles & Huberman, 1994 berpendapat bahwa kerangka konseptual adalah suatu kerangka yang dapat berupa naratif atau grafis yang dapat menunjukkan variabel kunci atau menggambarkan konstruksi dari dugaan atau asumsi hubungan yang ada di antara mereka untuk dipelajari.

Camp, 2001 menyatakan bahwa kerangka konseptual adalah sebuah struktur yang menurut peneliti dapat memberi gambaran atau penjelasan tentang perkembangan alami dari fenomena yang akan diteliti atau dipelajari.

Sugiyono, 2017 menyebutkan bahwa menurutnya kerangka konseptual adalah suatu hubungan yang akan menghubungkan secara teoritis antara berbagai variabel penelitian, di antaranya yaitu variabel terikat atau dependen dengan variabel bebas atau independen yang akan diukur atau diamati melalui proses penelitian yang akan dilaksanakan.

Nursalam, 2017 menyebutkan mengenai kerangka konsep penelitian yang merupakan hasil abstraksi dari suatu realitas yang dapat dikomunikasikan dan membentuk teori untuk menjelaskan hubungan antara variabel yang diteliti.

Kusumayati, 2009, menyatakan bahwa kerangka konsep ialah hubungan antara konsep-konsep yang dibangun berdasarkan hasil-hasil studi empiris terdahulu sebagai pedoman untuk melakukan penelitian.

Notoatmodjo, 2010 menyampaikan bahwa kerangka konseptual adalah abstraksi atau ringkasan yang terbentuk berdasarkan generalisasi dari hal-hal yang khusus. Sehingga, konsep hanya dapat diukur atau diamati melalui konstruksi yang dikenal dengan sebutan variabel. Selanjutnya dalam bukunya yang lain yang terbit pada 2014, Notoatmodjo memberikan definisi yang lebih sederhana mengenai kerangka konseptual, yaitu suatu visualisasi atau uraian mengenai keterkaitan atau hubungan antara konsep-konsep atau juga variabel-variabel yang hendak diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan.  

Imenda, 2014, menyebutkan tentang istilah kerangka kerja konseptual yang merupakan sebuah sintesis dari variabel dan komponen yang saling berkaitan, yang membantu dalam menyelesaikan masalah yang ada di dunia nyata. Penjelasan ini merupakan sebuah lensa terakhir untuk melihat resolusi deduktif dari masalah yang sedang diidentifikasi.

Dalam berbagai literatur, sebetulnya pembahasan mengenai kerangka konseptual merupakan pembahasan yang lekat sekali dengan proses penelitian. Menyusun kerangka konseptual merupakan salah satu bagian paling dasar dalam proses penelitian. Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, kita dapat mengumpulkan dan merangkai definisi komprehensif dari kerangka konseptual. Bahwa kerangka konseptual adalah sebuah visualisasi atau gambaran atau juga berupa representasi tertulis dari hubungan antara variabel yang diteliti dalam penelitian. Atau dalam bahasa lain, kerangka konseptual merupakan susunan konstruksi logika berpikir yang diatur dalam rangka menjelaskan variabel penelitian yang akan diteliti. Umumnya, dalam sebuah penelitian, kerangka konseptual dikembangkan berdasarkan kajian teori yang sesuai dengan topik penelitian.

Perbedaan Kerangka Konseptual dengan Berbagai Istilah Sejenis  

Ada berbagai istilah yang kerap kali disebut bersamaan atau berdekatan maknanya dengan kerangka konseptual, sehingga kita sering bingung membedakan mereka semua. Apakah semua istilah itu memiliki arti yang sama atau berbeda, kita sering bertanya-tanya dan belum begitu paham jawabannya. Berikut ini beberapa istilah yang kerap kali disebutkan seputar kerangka konseptual.

Kerangka Teori

Untuk memahami kerangka konseptual dari sudut pandang diskursus penelitian ilmiah, kita memang perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan konsep, teori, konsep teoritis, dan kerangka teori.

Neumann (2019) menjelaskan bahwa konsep merupakan unit paling mendasar dari teori. Sedangkan konsep teoretis merupakan ide yang dapat diungkapkan sebagai simbol atau dalam kata-kata tertentu. Dalam ilmu matematis, konsep seringkali diungapkan dalam simbol. Sedangkan dalam ilmu sosial, konsep diungkapkan dalam kata-kata. Konsep ada di mana-mana dan kita menggunakannya setiap waktu dalam kehidupan. Misalnya, konsep tinggi yang merupakan konsep sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita mengatakan kata tinggi atau menuliskannya dengan simbol h. Kombinasi huruf dalam kata atau bunyinya menyimbolkan gagasan tertentu  dalam benak kita. Kata dalam Bahasa Indonesia tinggi, dalam Bahasa Inggris high, dalam Bahasa Perancis hauteur, dan dalam Bahasa Spanyol altura, semuanya menyimbolkan gagasan yang sama.

Jika konsep merupakan unit paling sederhana dari teori, maka, teori adalah susunan dari konsep-konsep, merupakan serangkaian dalil umum yang terkait secara logika dan menetapkan hubungan antara dua atau lebih variabel. Penekanan dari teori berada pada generalisasi atau dalil umum. Sedangkan, kerangka teori dimaksudkan untuk memberikan batasan-batasan tentang teori-teori yang digunakan sebagai landasan dari penelitian yang hendak dilakukan. Melalui kajian teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan, peneliti akan mendapatkan gambaran konsep, sehingga dapat memunculkan kerangka konseptual yang lengkap dan jelas tentang hubungan antara variabel-variabel penelitian.

Kerangka Karangan atau Outline

Outline disebut juga dengan kerangka karangan atau garis besar yang hendak kita tulis dalam berbagai jenis tulisan. Sehingga, outline lebih merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang hendak digarap. Outline juga merupakan rangkaian gagasan atau ide-ide yang tersusun secara logis dan sistematis, terstruktur dan teratur.

Jika kerangka konseptual memuat konsep-konsep yang sama dan berkaitan, dan disusun setelah menyusun tinjauan pustaka dalam penelitian, maka kerangka karangan atau outline hanya merupakan kerangka dasar atau garis-garis besar tanpa melibatkan isi konseptual secara lebih dalam.

Kerangka Berpikir atau Alur Pikir

Kerangka konseptual lebih dekat maknanya dengan kerangka berpikir. Dalam menyusun rencana penelitian, peneliti terlebih dahulu menyusun kerangka teoritis tentang variabel yang diteliti yang termaktub dalam kajian atau tinjauan pustaka. Setelah mengemukakan teori-teori yang akan digunakan, kemungkinan ada beberapa konsep yang sama dalam teori tersebut. Untuk itu, kita  perlu menjelaskan arti dari konsep yang akan kita gunakan. Sebab dalam mengartikan suatu konsep, setiap orang mungkin memiliki pengertian yang berbeda dengan orang lain. Sebagaimana konsep yang merupakan suatu kesatuan pengertian tentang sesuatu hal atas persoalan yang perlu dirumuskan, maka sebagai sebuah kerangka berpikir, kerangka konseptual adalah suatu hubungan antara variabel-variabel dan konsep-konsep yang akan diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan.

Dari Mana Kerangka Konseptual Diperoleh?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, secara sederhana kerangka konseptual adalah hubungan antara satu konsep terhadap konsep lainnya dari masalah yang ingin diteliti dalam suatu penelitian. Kerangka konseptual penelitian fungsinya adalah untuk menghubungkan atau memberi penjelasan secara lugas dan gamblang tentang suatu topik yang akan dibahas. Kerangka ini didapatkan dari teori atau konsep ilmu yang digunakan sebagai landasan penelitian, yang termaktub dalam bab tinjauan pustaka. Singkatnya, kerangka ini didapatkan dari ringkasan tinjauan pustaka yang dihubungkan dengan garis-garis penghubung sesuai dengan variabel yang diteliti.

Tinjauan pustaka berisi semua pengetahuan, baik konsep, teori, proposisi, prinsip maupun hukum, yang nantinya dapat membantu dalam penyusunan kerangka konseptual dan definisi operasional penelitian. Temuan penelitian terdahulu akan sangat membantu peneliti dalam membuat kerangka konseptual. Kerangka konseptual diharapkan akan memberi gambaran dan mengarahkan asumsi atau dugaan mengenai variabel-variabel yang akan diteliti. Dengan kerangka konseptual juga, peneliti dapat memiliki petunjuk ketika merumuskan masalah penelitian. Selain itu, juga untuk menentukan pertanyaan-pertanyaan mana yang harus dijawab oleh penelitian, serta prosedur empiris apa yang akan digunakan sebagai instrumen untuk mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.

Baca juga : Contoh Tinjauan Pustaka Beserta Penjelasannya

Alur pikir kerangka konseptual diperoleh melalui hasil sintesis dari proses berpikir deduktif (penerapan teori) dan induktif (empiris, fakta yang ada), kemudian diolah dengan kemampuan inovatif dan kreatif, serta diakhiri dengan ide atau konsep baru yang disebut dengan kerangka konseptual. Seperti yang tertera pada bagan di bawah ini,

Bagan Proses Konseptualisasi
Bagan Proses Konseptualisasi

Konseptualisasi merupakan suatu proses mental di mana seorang peneliti menyusun konsep yang dilandaskan pada pengalaman, berpikir deduktif dan induktif. Kemudian, hasil dari proses konseptualisasi ini disebut sebagai konsep.

Misalnya, konsep sehat. Sehat adalah suatu konsep yang mendefinisikan dan mengungkap observasi tentang gejala-gejala yang mencerminkan keragaman kondisi kesehatan seseorang. Untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang, atau seseorang itu disebut sehat atau tidak, maka digunakan pengukuran konsep sehat, melalui konstruksi tertentu atau variabel-variabel tertentu. Seperti misalnya, denyut nadi, tekanan darah, tingkat hemoglobin dalam darah, kadar gula, kadar kolesterol dan sebagainya. Nah, denyut nadi, tekanan darah dan sebagainya ini merupakan variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur atau mengobservasi tingkat kesehatan seseorang.

Pemilihan kerangka konseptual yang tepat pada sebagian besar penelitian ditentukan berdasarkan beberapa landasan sebagai berikut,

  • Landasan pertama berpikir deduktif. Yang terdiri atas analisis konsep, teori, prinsip dan premis yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu, peneliti harus membuat analisis secara kritis dan hati-hati, juga menelaah seluruh kepustakaan yang berhubungan dengan subjek penelitian secara teliti, sebelum memformulasikan hipotesis yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian terkait.
  • Landasan kedua berpikir induktif. Yang terdiri atas analisis penelusuran dari temuan hasil penelitian orang lain yang terdahulu, yang terkait dengan masalah dan tujuan penelitian.
  • Landasan ketiga ialah merumuskan permasalahan, serta penetapan tujuan penelitian yang didasari atas sintesis dari analisis landasan pertama atau kedua, dengan cara berpikir inovatif-kreatif, sintesis pengalaman, teori, fakta tujuan penelitian serta teori berpikir kreatif, yang kemudian disusun menjadi kerangka konseptual penelitian.

Terdapat semacam asas dalam membuat kerangka konseptual atau kerangka pikir. Yang pertama, untuk pendidikan sarjana, hanya perlu atau cukup satu konsep saja, yang telah ada untuk menjadi acuan. Variabel yang membentuk kerangka konseptual disesuaikan dengan tujuan penelitian atau variabel yang relevan dengan permasalahan yang ada. Kesimpulannya adalah, mencoba untuk mencocokkan antara konsep atau teori dengan realita permasalahan yang ada di lapangan.

Sedangkan, untuk pendidikan magister, selain berdasarkan kerangka konseptual yang ada—yang dalam hal ini bisa lebih dari satu, juga diminta untuk menemukan gagasan atau ide yang baru. Paling tidak, terdapat modifikasi variabel yang disesuaikan dengan realita yang ada di lapangan. Tujuan akhir untuk penelitian program magister lebih utama dalam bentuk ide baru atau teknologi penyelesaian masalah.

Terakhir, untuk program doktoral, teori atau konsep yang ada harus dimodifikasi. Artinya, seseorang yang sedang menempuh pendidikan doktor dituntut untuk memiliki ide dan gagasan inovatif dalam mengembangkan konsep. Dalam hal ini, ide inovatif yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi di mana penelitian tersebut diselenggarakan, sehingga menghasilkan suatu pengetahuan baru.

Tujuan Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual dibuat dengan maksud untuk menjelaskan makna-makna dari kata-kata yang terdapat dalam kajian teori yang masih bersifat abstrak pengertiannya, atau yang dapat menimbulkan pengertian-pengertian lain. Oleh karenanya, kerangka konseptual dalam suatu penelitian hendaknya jelas. Sebab ketidakjelasan konsep dalam suatu penelitian akan menyebabkan persepsi atau pengertian yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh peneliti.

Konsep penelitian merupakan suatu kesatuan penelitian mengenai persoalan atau suatu hal yang perlu dirumuskan. Dalam merumuskannya, kita perlu menjelaskan sesuai dengan maksud kita sebagai peneliti dalam menggunakannya. Dan dalam hal penggunaan konsep ini perlu konsistensi. Artinya, jika dalam satu bagian dikatakan A, maka di bagian lainnya dalam seluruh penelitian yang dilakukan, konsep tersebut tetap harus dikatakan A sebagaimana pengertian konsep tersebut.

Baca juga : Mengenal Apa Itu Metode Penelitian Sosial 

Dalam penelitian yang sederhana, biasanya tidak perlukan kerangka konseptual. Tetapi sebagai gantinya digunakan definisi operasional atau penjelasan istilah, untuk menerangkan variabel-variabel penelitian yang diteliti. Definisi atau konsep sebenarnya berfungsi untuk menyederhanakan baik pengertian, ide-ide, maupun gejala atau fenomena sosial yang digunakan agar orang lain yang membacanya dapat segera memahami maksud yang sesuai dengan yang dipahami oleh peneliti dalam menggunakan konsep tersebut. Dengan kejelasan pernyataan konsep atau definisi istilah tersebut akan memperlancar komunikasi antara peneliti dengan pembaca yang ingin mengetahui isi penelitiannya.

Cara Membuat Kerangka Konseptual  

Cara Membuat Kerangka Konseptual
Sumber: storyset from Freepik

Bagaimana cara membuat kerangka konseptual untuk penelitian kita? Berikut ini kita rangkum beberapa langkah-langkah sederhana untuk membuat kerangka konseptual penelitian.

Tentukan Tema dan Topik Penelitian yang Hendak Dikaji  

Dalam setiap penelitian, tema dan topik adalah kerangka paling dasar yang harus ditentukan terlebih dahulu. Kita bisa menentukannya berdasarkan minat atau spesialisasi yang sesuai dengan bidang atau keilmuan kita. Dalam setiap bidang keilmuan atau program studi dan jurusan di kampus, terdapat banyak sekali cabang tema dan topik kajian yang bisa kita pilih berdasarkan minat atau ketertarikan untuk mendalaminya. Cara paling mudah untuk menentukan tema dan topik penelitian adalah dengan meneropong tema dan topik mana yang paling kita kuasai dan membuat kita tertarik untuk mengetahui dan menelitinya lebih dalam.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Tahapan Prosedur Penelitian 

Menyusun Kajian Pustaka Sebagai Landasan Penelitian 

Kajian pustaka penting untuk menjadi dasar atau landasan penelitian. Kajian penelitian terdahulu bisa menjadi perbandingan dengan penelitian yang akan dilakukan. Menentukan teori yang akan digunakan untuk menyusun hipotesis dan menguji data penelitian yang akan didapatkan juga harus cermat dilakukan. Begitu pula, penggunaan teori yang sesuai dengan fenomena atau gejala yang hendak diteliti juga sangat penting untuk menyusun kerangka konseptual penelitian secara utuh. Tetap gunakan sumber ilmiah yang kredibel, seperti buku yang diterbitkan tidak lebih dari 10 tahun ke belakang, jurnal ilmiah, tesis, disertasi, artikel ilmiah dan berbagai sumber sekunder lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pastikan Kebaruan atau Novelty Penelitian

Salah satu fungsi melakukan kajian atau tinjauan pustaka adalah untuk mengetahui adakah sesuatu yang baru atau disebut juga dengan istilah novelty atau kebaruan dari penelitian yang kita lakukan. Jika penelitian yang kita lakukan telah dilakukan terlebih dahulu oleh orang lain, maka penelitian kita menjadi tidak bermanfaat.

Petakan Konsep-Konsep atau Variabel-Variabel Penelitian dan Definisikan Hubungan Di antaranya

Dalam penelitian yang hendak kita lakukan, tentu kita harus tahu konsep-konsep atau variabel-variabel apa yang hendak kita teliti. Konsep-konsep yang ada perlu kita petakan dan susun sedemikian rupa, serta melihat konsistensi penggunaannya. Begitu pula pada variabel-variabel penelitian yang telah kita ketahui, perlu kita petakan dan definisikan hubungan-hubungan diantaranya. Ini penting untuk menyusun logika berpikir yang akan kita gunakan untuk mencoba menjelaskan masalah atau komponen dari masalah yang akan kita teliti. Tentu, semuanya berdasarkan pada tinjauan pustaka yang terlebih dahulu telah kita lakukan.

Mengembangkan Pernyataan Hubungan

Setelah melakukan seleksi dan memetakan konsep-konsep atau variabel-variabel yang ada dalam penelitian, selanjutnya kita perlu mengembangkan pernyataan hubungan di antara berbagai konsep yang saling terkait, dipengaruhi atau mempengaruhi. Menarasikan pernyataan hubungan antar konsep atau variabel akan memudahkan kita dalam menyusun kerangka konseptual penelitian.

Periksa dan Perbaiki Kembali Rumusan Masalah atau Hipotesis yang Digunakan

Baik penelitian kuantitatif yang memerlukan perumusan hipotesis, maupun penelitian kualitatif yang menggunakan rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, kita perlu memeriksa apakah semua sudah sesuai alur logika berpikir penelitian dan berdasarkan tinjauan pustaka yang telah kita lakukan atau belum.

Mengembangkan Konsep dalam Gambar atau dalam Bentuk yang Mudah Dipahami

Kita bisa membuat kerangka konseptual dengan berbagai bentuk, bisa menggunakan bentuk bagan, peta konsep, diagram alir, atau peta pemikiran atau mind map. Pilihlah bentuk yang paling memudahkan dalam memahami kerangka konseptual penelitian kita. Tambahkan juga alur penelitian dan tampilkan variabel atau konsep-konsep yang saling terkait satu sama lain, serta tunjukkan hubungan-hubungan yang mempengaruhi berbagai komponen penelitian kita.

Poin-poin yang harus kita perhatikan dalam mengembangkan konsep yang telah kita susun menjadi gambar atau kerangka konseptual, di antaranya meliputi hal-hal berikut:

  • Sesuaikan dengan pernyataan masalah
  • Berikan penjelasan bagaimana hubungan masalah dengan variabel-variabel lain, yang diduga sebagai penyebab timbulnya masalah. Arah kerangka konseptual harus disesuaikan dengan variabel yang akan diteliti dengan mengembangkan gambar melalui penggunaan simbol-simbol tertentu, seperti garis sambung atau terputus dan tanda panah untuk menunjukkan bagian yang terpengaruh. Contohnya,
Simbol-Simbol
Simbol-simbol yang dapat digunakan untuk memperjelas maksud peneliti
  • Mengidentifikasi dan menganalisis teori yang digunakan

Jika bingung untuk memulai menyusunnya, kita juga bisa memanfaatkan berbagai website yang menyediakan fitur untuk membuat kerangka konseptual secara online. Terdapat berbagai template yang disediakan di sana, kita bisa memilih salah satu yang paling menarik dan sesuai dengan alur pikir penelitian kita.

Tambahkan Narasi untuk Memperjelas Kerangka Konseptual Penelitian

Meskipun tidak akan ditampilkan dalam dokumen penelitian kita, sebagai back up plan, memiliki kerangka konseptual yang dilengkapi dengan narasi untuk menjelaskan maksud dari setiap bagan atau alurnya akan memudahkan kita ketika menemukan data atau fakta baru yang mempengaruhi variabel, konsep, atau komponen-komponen dalam penelitian kita. Oleh karenanya, tidak ada salahnya kita membuat kerangka konseptual dalam versi yang disertai dengan narasi untuk memperjelas secara mendalam setiap bagan atau alur di dalamnya.

Perbaiki Kerangka Konseptual yang Telah Dibuat Jika Terdapat Perubahan Data Penelitian

Ketika kita telah melakukan penelitian, kita mungkin menemukan data baru yang berbeda dari asumsi atau teori yang telah kita susun sedemikian rupa. Tentu hal ini akan berpengaruh pada hipotesis, bisa jadi data penelitian yang baru membuktikan hipotesis penelitian kita keliru. Begitu pula pada penelitian kualitatif. Setelah terjun ke lapangan dan melakukan observasi atau wawancara dengan informan, bisa saja kita menemukan data-data yang mempengaruhi konsep yang telah disusun sedemikian rupa. Sehingga kita perlu memperbaiki kerangka konseptual yang telah kita susun sedari awal sesuai dengan data yang ada.

Contoh Kerangka Konseptual   

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini kita sajikan beberapa contoh kerangka konseptual penelitian sebagai berikut.

Contoh Kerangka Konseptual Penelitian Kualitatif

Judul Penelitian : “Hubungan antara Iklim Kerja, Disiplin Kerja dan Etos Kerja terhadap Produktivitas Kerja Para Perawat Pelaksana di Rumah Sakit A, Kabupaten B, Provinsi C”

Contoh Kerangka Konseptual Penelitian Kualitatif
Bagan contoh kerangka konseptual penelitian kualitatif

Dari bagan contoh kerangka konseptual di atas, kita dapat melihat bahwa faktor iklim kerja, disiplin kerja dan etos kerja berpengaruh secara langsung terhadap produktivitas kerja di rumah sakit. Iklim kerja yang harmonis dan kondusif memberi dampak positif pada disiplin dan etos kerja para perawat. Dengan iklim kerja yang baik, para perawat menjadi lebih kreatif dan inovatif, sehingga mendorong mereka dapat bekerja secara optimal. Begitu pula dengan dimensi psikologis yang mempengaruhi bagaimana para perawat bekerja. Para perawat yang merasa senang dan bahagia dengan apa yang mereka kerjakan akan memberikan dampak positif terhadap kinerjanya, sebab hal itu akan menjadi pemantik motivasi tersendiri untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka.

Selanjutnya, dengan etos kerja yang baik akan mendorong para pekerja untuk melakukan pekerjaannya sesuai dengan etika yang dijunjung agar tujuan yang hendak dicapai dapat terwujud sesuai dengan harapan organisasi. Dengan etos kerja yang baik pula, akan tercipta iklim atau suasana kerja yang kondusif yang akan mendukung meningkatnya produktivitas pekerja. Begitu pun dengan disiplin yang baik akan mendorong tercapainya target penyelesaian pekerjaan, yang kemudian juga berpengaruh pada produktivitas kerja dalam organisasi.

Contoh Kerangka Konseptual Kuantitatif

Judul Penelitian : “Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Waktu Pemulihan Kesadaran Post Operasi Fraktur yang Menggunakan Anestesi General”

Contoh Kerangka Konseptual Penelitian Kuantitatif
Bagan contoh kerangka konseptual penelitian kuantitatif

Dari bagan kerangka konseptual yang menggunakan metode penelitian kuantitatif di atas, dapat kita lihat hubungan-hubungan antara variabel penelitian dengan jelas. Dalam bagan di atas juga menggunakan simbol atau tanda yang lebih variatif. Tidak hanya penghubung antarvariabel yang berupa tanda panah, tetapi juga menggunakan garis putus-putus. Sehingga, terlihat variabel mana yang akan diteliti, dan mana yang hanya menjadi faktor atau penyebab timbulnya satu variabel. Bagian yang akan diteliti ditandai dengan kotak yang terbentuk dari garis bersambung dengan utuh, sedangkan bagian yang hanya menjadi komponen penjelas di dalam penelitian ditandai dengan kotak bergaris putus-putus.

Bagan di atas ingin menjelaskan bahwa kebiasaan merokok yang memberi pengaruh pada kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, juga akan mempengaruhi pemulihan pasca operasi fraktur. Faktor yang menyebabkan ini adalah karena beberapa kandungan rokok yang dominan, seperti nikotin, tar, dan karbonmonoksida diduga juga akan mempengaruhi cepat-lambatnya pemulihan kesadaran seseorang pasca operasi. Tetapi, faktor itu tidak menjadi fokus utama dalam penelitian. Sedangkan, metode untuk mengukur kesadaran yang diteliti adalah GCS (Glasgow Coma Scale) yang terdiri atas 3 komponen pemeriksaan, yaitu kemampuan untuk membuka mata, kemampuan motorik, dan kemampuan verbal.

Nah baiklah, sampai di sini dulu perkenalan kita dengan Kerangka Konseptual Penelitian ya. Semoga tulisan ini dapat membantu kamu untuk mempelajari kerangka konseptual dan bagaimana membuatnya untuk penelitianmu. Sampai jumpa di pembahasan lainnya!

Referensi

  • Amirin, Tatang M. 1990. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers
  • Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
  • Best, J.W. 1982. Metodologi Penelitian dan Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
  • Hadi, S. 1990. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset
  • Kerlinger, F.N. 1970. Foundation Behavioral Research. New York: New York University
  • Kusumayati. 2009. Materi Ajar Metodologi Penelitian: Kerangka Teori, Kerangka Konsep dan Hipotesis. Depok: Universitas Indonesia
  • Mardalis. 1995. Metode Penelitian, Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara
  • Margono. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
  • Miles, M.B., & Huberman, A. M. 1994. An Expanded Sourcebook: Qualitative Data Analysis. London: Sage Publications
  • Nasir, M. 1990. Metode Penelitian. Jakarta: PT Ghalia Indonesia
  • Neumann, W.L. 2019. Metodologi Penelitian Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: PT Indeks
  • Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
  • Nursalam. 2017. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Edisi 4). Jakarta: Salemba Medika
  • Poerwadarminta, W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka
  • Samsuri, T. 2003. Makalah. Kajian Teori, Kerangka Konsep dan Hipotesis dalam Penelitian. Sumatera Barat: Balai Pengembangan Kelompok Belajar
  • Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu
  • Siswoyo, D. dkk. 1995. Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
  • Sugiyono. 1994. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta
  • Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
  • Surakhmad, W. 1990. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito
  • Tuckman, B.W. 1999. Conducting Education Research. New York: Harcourt Broce Jovonowich Inc.

Artikel Terbaru

Tiars

Tiars

Seorang content writer yang suka menulis topik wisata, pendidikan dan kesetaraan sekaligus mahasiswi Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Universitas Jember. Jurusan Ilmu Kesos ini berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Ilmu Kesejahteraan Sosial merupakan ilmu terapan dimana mahasiswa akan belajar bagaimana meningkatkan keberfungsian sosial seseorang dan kesejahteraan masyarakat secara luas. Email: tiar.s998@gmail.com

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *