Sejarah Perkembangan Film di Indonesia

Film menjadi sarana hiburan yang masih berjaya hingga saat ini. Banyak diantara kita yang menjadikan menonton film sebagai hobi. Hal itu dikarenakan film bukan hanya sebagai hiburan semata tapi juga bisa menjadi sarana untuk menyampaikan ide, gagasan, dan juga sebagai sarana edukasi.

Film dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah lakon atau cerita yang merupakan gambar hidup. Hal itu mirip dengan pengertian film berdasarkan etimologi bahwa kata film berasal dari cinema atau lengkapnya ialah cinematography. Cinema berarti gerak, tho atau phytos berarti cahaya, dan graphy berarti gambar. Sehingga dapat dikatakan bahwa film adalah gambar bergerak  melalui cahaya.

Di dunia, film pertama kali dipertontonkan untuk umum di sebuah bioskop bernama Grand Cafe Boulevard de Capucines, Paris pada tanggal 28 Desember 1895. Maka dari itu film sangat identik dengan bioskop. Namun, dengan berkembangnya zaman dan adanya media lain seperti TV, VCD, dan bahkan saat ini ada aplikasi film, kita dapat menonton film dimana pun dan kapanpun.

Dimulai dari Paris itulah film berkembang ke negara lain, termasuk ke Indonesia. Saat ini, Dengan banyaknya sineas Indonesia, tahukah kamu sejarah perkembangan film di Indonesia? Berikut ini ialah penjelasan tentang sejarah perkembangan film di Indonesia.

Era Penjajahan (1900-1945)

Periode Penjajahan Belanda

Loetoeng Kasaroeng
Sumber: wikimedia.org

Sebelum film lahir, seni pertunjukan tradisional lah yang berjaya di Nusantara. Seperti misalnya ludruk, wayang orang, dan komedi stamboel.

Memasuki tahun 1900-an, tepatnya pada tanggal 5 Desember 1900, film pertama kali diperkenalkan di Batavia (Jakarta). Pada masa itu, film digelar di Tanah Abang dengan sebutan ‘Gambar Idoep’. Film tersebut berkisah tentang perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Hanya saja, pertunjukan pertama ini kurang sukses karena harga karcis yang dianggap terlalu mahal.

Selanjutnya, pengaruh film Amerika pun mulai merebak di Indonesia. Pertama kali film impor Amerika dikenal di Indonesia pada tahun 1905. Film-film impor ini berubah judul dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Melayu.

Karena adanya adegan berkelahi serta tak ada batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam film-film tersebut, pemerintah kolonial memutuskan untuk mengeluarkan peraturan perfilman pada tahun 1916. Peraturan perfilman tersebut beriringan dengan dibentuknya komisi sensor di empat kota yaitu Medan, Batavia, Semarang, dan Surabaya.

Film cerita lokal yang pertama kali diproduksi adalah Loetong Kasaroeng (1926) yang diproduseri dan disutradarai oleh L.Heuveldorp. Film tersebut  diproduksi oleh NV Java Film Company. Loetong Kasaroeng termasuk ke film bisu atau tanpa suara pertama dengan latar belakang legenda Sunda.

Film lokal berikutnya ialah Eulis Atjih (1927) yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Setelah itu, muncul perusahaan-perusahaan film lainnya seperti Halimun Film Bandung, Lily Van Java, dan Central Java Film Coy di Semarang.

Pada tahun 1931, industri film lokal baru bisa membuat film bersuara. Film ini berjudul ‘Atma de Vischer’. Dalam kurun waktu enam tahun (1926-1931) ada 21 film yang telah diproduksi. Pada tahun 1936, salah satu majalah yaitu Filmrueve, mencatat ada 227 bioskop.

Periode Penjajahan Jepang

Bioskop Indonesia zaman penjajahan
Sumber foto: goodnewsfromindonesia.id

Dengan berakhirnya masa kolonial di Indonesia, rumah produksi buatan Belanda dan Cina ditutup secara paksa oleh Jepang. Seperti rumah produksi Java Industri Film dan Tans Film yang peralatan-peralatannya diambil untuk keperluan perfiliman Jepang. Dengan pengaruh film Jepang di Indonesia, membuat artis panggung yang pernah berjaya pun mendadak harus merelakan karirnya. Contohnya ialah  Rd. Mochtar. Ia pernah membintangi film Pareh (1935) , Terang Boelan (1937), dan Gagak Hitam (1939).

Film pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942-1945, pada umumnya ialah film propoganda untuk mendukung Jepang pada masa Perang Dunia II. Jepang membuat produksi film bernama Nippon Eigasha dan Nichei dan membawa ahli dari Jepang didatangkan ke Indonesia untuk membina perfilman. Rumah produksi tersebut memberikan kesempatan kepada orang-orang Indonesia untuk memegang peranan penting sebagai sutradara, juru kamera, editor, dan sebagainya.

Pada tahun 1943, Jepang memulai memproduksi film cerita di Indonesia. Hanya saja masih dalam jumlah yang minim, yaitu sekitar 1-2 film setahun. Pada masa ini durasi film berbeda-beda. Film dengan masa putar panjang berjudul Berdjoang dan Habis Hoedjan. Adapula film yang berdurasi 30 menit, yaitu Mimpikoe, Amat Heiho,  Ke Seberang, Di Menara, Djatoeh, Berkait,  dan Tonari Kumi.

Baca juga: Menenal Teater Tradisional Indonesia

Pada masa ini, tokoh Indonesia yang bergelut dalam bidang perfilman adalah Usmar Ismail, Armijn Pane, R.M. Soetarto, Mohammad Jamin, Chaeroel Saleh. Merekalah yang bergabung dengan Pusat Kebudayaan untuk menjadi bagian dalam perkembangan film pada masa penjajahan Jepang.

Era Orde Lama (1945-1965)

Film darah dan doa
Sumber foto: inibaru.id

Setelah Indonesia merdeka, perfilman Indonesia semakin berkembang. Walaupun pada tahun-tahun awal kemerdekaan perfilman Indonesia sempat meredam karena ekonomi. Tapi, pada tahun 1950, lahirlah Perusahaan Film Nasional (PERFINI) dan Pesatuan  Indonesia (PERSARI) untuk memajukan perfilman Indonesia. Lalu pada tahun 1954 Djamulid Malik dan Usmar Ismail mendirikan Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI).

Seorang industri film, yaitu Djamaludin Malik mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) yang pertama kali pada tanggal 30 Maret-5 April 1955. Film Lewat Jam Malam karya Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik dalam festival ini. Film tersebut juga terpilih untuk mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia II di Singapura.

Film-film penting lainnya pada era ini ialah The Long March (Darah dan Doa) karya Usmar Ismail di tahun 1950, Si Pintjang garapan Katot Surwadi di tahun 1951, dan Turang garapan Bachtiar Siagian di tahun 1957. Soekarno menetapkan 30 Maret 1950 sebagai Hari Film Nasional karena menandai film The Long March Siliwangi sebagai film lokal berciri khas Indonesia pertama. Selain itu, film Tiga Dara (1956) garapan Usmar Ismail juga merupakan film musikal pertama di Indonesia.

Era Orde Baru (1966-1998)

Periode 1960-1970

film apa yang kau tjari palupi
Sumber foto: Indonesiafilmcenter.com

Pada era Soeharto segala film yang berbau komunis dan LEKRA dilenyapkan. Pada era ini segala aktivitas kehidupan dikontrol, begitupun perihal perfilman. Semua organisasi film dan penyiaran dikontrol melalui Departeman Penerangan.

Karena alasan politik di Indonesia, pemerintah pun membuat film anti komunis yang berjudul Pengkhianatan G30S. Selain itu masih ada film dokumenter yang merupakan propoganda Pemerintah tentang keberhasilan Soeharto dalam menangani masalah Badung Lautan Api.

Film yang terkenal pada rentang waktu ini ialah Dibalik Tjahaya Gemerlapan (1966) disutradarai oleh Misbach Yura Biran, Sembilan (1967) disutradarai oleh Wim Umboh, Djakarta-Hongkong-Macou (1968) disutradarai oleh Turino Djunaidi, Apa yang Kau Tjari, Palupi? (1969) yang dituradarai oleh Asrul Sani, dan Si Buta dari Gua Hantu (1970) yang diutradarai oleh Lilik Sudjio.

Penghargaan yang diraih pada rentang tahun ini dimiliki oleh film Apa yang Kau Tjari, Palupi? Film tersebut peraih Film Terbaik di Festival Film Asia pada tahun 1970.

Periode 1970-1980

film ali topan si anak jalanan
Sumber foto: cinemapoetica.com

Pada era ini berhasil melahirkan para sutradara populer dengan ciri khasnya masing-masing. Contohnya ialah Sjuman Djaya, sineas yang berasal dari dunia sastra lalu aktif dalam perfilman dan berhasil menggarap film pertama kali yaitu Keroncong Kemayoran. Film-film populer lainnya ialah Si Doel Anak Modern dan Kerikil Tajam. Ia adalah sutradara yang paling banyak mendapatkan Piala Citra. Semua filmnya memiliki keunggulan pada detail artistik dan penjiwaan pemain.

Baca juga: Penokohan Dalam Drama

Hanya saja, sineas Indonesia harus ekstra berusaha bersaing dengan sineas dari luar negeri. Karena, pemerintah Orde Baru justru menampung film impor sebanyak-banyaknya. terutama pada tahun 1970-an menunjukan tidak kurang dari 700 film impor masuk ke Indonesia. Film-film Hollywood, India, dan Hongkong sangatlah mendominasi bioskop-bioskop. Sehingga terjadilah minimnya pembangunan budaya pada era ini. Terlebih dengan tidak adanya film-film yang mencirikan budaya bangsa sebagai identitas.

Tahun penting yang ada pada dekade ini ialah pada tahun 1977. Pemerintah Indonesia mulai khawatir dengan perfilman yang berbau kekerasan dan seks, maka dari itu mengesahakan pedoman sensor melalui surat keputusan mentri.

Film-film populer pada rentang waktu ini ialah film Bengawan Solo (1971), Beranak dalam Kubur (1972), Ratapan Anak Tiri (1973), Pengorbanan (1974), Laila Majenun (1975), Si Pitung Beraksi Kembali (1976),  Badai Pasti Berlalu (1977), Ali Topan si Anak Jalanan (1977), Jakarta Jakarta (1978), Raja Dangdut (1978), Janur Kuning (1979), dan Pengabdi Setan (1980).

Periode 1980-1990

film tjoet nyak dien
Sumber foto: cinemapoetica.com

Dimulai tahun 1980-an, film lokal kembali berjaya. Khususnya yang bergenre komedi dan horor. Tentunya kamu sudah tidak asing dengan film Warkop dan film-film Suzana. Pada era inilah film-film tersebut berkembang dan menjadi primadona di masyarakat Indonesia. genre film lainnya yang digemari ialah aksi, drama cinta, dan juga sosial.

Namun di tahun 1980-an, TVRI masih rutin menayangkan beberapa film seri impor. Beberapa film tersebut ialah Remingtoon Steel, Chips, dan Muppet Babbies. Pada era juga sudah mengenal distribusi film melalui video. Film yang disukai biasanya ialah film superhero dan silat mandarin. Sehinga, tempat pesewaan video menjadi tren kala itu.

Teknologi lain yang mulai muncul pada era ini ialah piringan video yang lebih murah dari harga tiket bioskop. Kehadirian teknologi ini memberikan dampak signifikan pada turunnya produksi film nasional. Karena lebih murah dan praktis, penonton mulai lebih suka menonton dari rumah. Kehadiran piringan video ini berdampak pula seputar hak cipta dan sensor.

Film populer pada dekade ini ialah Gundala Putra Petir (1981), Chips (1982), Nyi Blorong (1982), Kawin Kontrak (1983), Kembang Kertas (1984), Madu dan Racun (1985), Malam Jumat Kliwon (1986), Naga Bonar (1987), Catatan Si Boy (1987), Tjoet Nyak Dien (1988), Tragedi Bintaro (1989), dan Blok M (1990).

Penghargaan bergengsi yang pernah diraih pada periode ini ialah kemenangan film Kembang Kertas. Film tersebut mendapatkan Piala Citra sebagai film terbaik dan sutradara terbaik.

Periode 1990-1998

film daun di atas bantal
Sumber foto: pinterest.it

Pada pertengahan tahun 1990-an, film-film nasional pun ikut mengalami krisis ekonomi. Terlebih lagi, sineas Indonesia harus bersaing pula dengan maraknya sinetron-sinetron di televisi-televisi swasta. pada era ini, film impor semakin dinikmati melalui Laser Disc, VCD, dan DVD.

Produksi film Indonesia mencapai titik terendah pada tahun 1998-1999 tidak menyembabkan adanya krisis kreativitas. Film Kudesak (1998) menandai munculnya film Indonesia genre terbaru yaitu gabungan empat film pendek garapan Sinema Independen Indonesia. Film tersebut mendapatkan penghargaan di Forum Film Bandung (FFB) dan Festifal Film Asia Pasifik di tahun 1999.

Bukan hanya itu saja, beberapa karya seperti Cinta dalam Sepotong Roti (1991), Daun di Atas Bantal (1998) karya Garin Nugroho mampu memenangi berbagai penghargaan di festival film internasional.

Era Pasca Reformasi

Pada era pasca reformasi pada umumnya film-film Indonesia mulai berbenah kembali. Banyak tema-tema terbaru yang diangkat pada era ini, misalnya tema petualangan anak, kekerasan seksual, satir, dan lain sebagainya. Bioskop-bioskop pada era ini pun semakin banyak dan bergabung dengan mall-mall.

Perkembangan film era pasca reformasi dibagi menjadi dua dekade. Dekade pertama yaitu pada tahun 1999-2010 dan dekade kedua pada tahun 2010-sekarang.

Periode 1999-2009

Pada tahun 1999, cuma dua film yang diproduksi di Indonesia. Yaitu Kisah Veronika yang disutradari oleh Henry Farel L. Tobing dan Menentang Nafsu yang disutradarai oleh Koerniawan Soemirah. Hal ini dikarenakan pereknomian masih belum stabil dan berdampak ke dunia perfilman.

Pada tahun 2000-an lah film Indonesia mulai berjaya kembali. Film-film tersebut adalah Petualangan Sherina garapan Mira Lesmana dan Riri Riza, Puisi Tak Terkaburkan garapan Garin Nugroho. Petualangan Sherina ialah film anak-anak pertama di layar kaca dan berhasil mendapatkan penghargaan di FFB, FFI, dan FFAP. Film anak-anak lainnya pada alaw dekade 2000an ialah Joshua oh Joshua. Sedangkan untuk Puisi Tak Terkaburkan mendapatkan penghargaan di Silver Video Leopard Award, New York dan Festival Film di Singapura pada tahun 2002.

Film populer lainnya pada satu dekade tersebut ialah Pasir Berbisik (2001) garapan Nan Achnas, Ada Apa dengan Cinta? (2002) garapan Rudi Soedjarwo, Arisan! (2003) garapan Nia Dinanta, Mengejar Matahari (2004) karya Rudy Sujarwo, Dealova (2005) garapan Dian W. Sasmita, Heart (2006) yang disutradarai oleh Hanny R. Saputra, Get Married (2007) garapan Hanung Bramantyo, Ayat-ayat Cinta (2008) garapan Hanung Bramantyo, Laskar Pelangi (2008) yang disutradarai oleh Riri Riza, Sang Pemimpi (2009) yang disutradarai oleh Riri Riza, dan Sang Pencerah (2010) garapan Hanung Bramantyo.

Periode 2010-Sekarang

Sesuai dengan perkembangan zaman, tentunya perkembangan film di Indonesia pun semakin melesat. Baik itu dari sisi penyutradaraan, teknik sinemati, artistik, tema, maupun riasan dan busana. Aktor dan artis Indonesia baru pun semakin bermunculan.

Salah satu ciri perkembangan film periode ini adalah film-film adaptasi dan remake tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian sutradara. Contohnya film Pengabdi Setan (2018) yang dibuat ulang oleh Joko Anwar, Warkop DKI Reborn (2016), adapula film Bebas (2019) yang diadaptasi dari film korea Sunny.

Pada periode ini pula banyak film-film komedi yang berasal dari para komika Stand up Comedy. Seperti karya-karya Raditya Dika dan Ernest Prakasa. Film laga atau aksi pun semakin keren, lho. Contohnya ialah The Raid (2011), The Raid (2014), Buffalo Boys (2018), Foxtrot Six (2019), dan Gundala (2019).

Ciri lainnya adalah banyak masyarakat yang sudah meninggalkan VCD atau DVD pada periode ini. Masyarakat mulai beralih menonton melalui aplikasi film yang sedang marak belakangan ini. Walaupun begitu, bioskop tetap jadi tempat utama untuk menonton film Box Office.

Baca juga: Mengenal Teater Modern Indonesia

Pemahaman Akhir

Film merupakan sarana hiburan yang masih berjaya hingga saat ini. Banyak orang yang menjadikan menonton film sebagai hobi karena film tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sarana untuk menyampaikan ide, gagasan, dan sebagai sarana edukasi. Film memiliki kemampuan untuk menggambarkan gambar hidup melalui gerakan dan cahaya.

Perkembangan film di Indonesia dimulai pada era penjajahan Belanda, di mana film pertama kali diperkenalkan pada tahun 1900 di Batavia. Pengaruh film Amerika mulai merebak di Indonesia, dan pada tahun 1916, pemerintah kolonial mengeluarkan peraturan perfilman dan membentuk komisi sensor. Industri film lokal mulai berkembang dengan munculnya film-film seperti Loetong Kasaroeng (1926) dan Eulis Atjih (1927). Pada tahun 1931, film pertama bersuara diproduksi di Indonesia.

Selama periode penjajahan Jepang (1942-1945), film-film yang diproduksi sebagian besar adalah film propaganda yang mendukung Jepang. Setelah Indonesia merdeka, perfilman Indonesia semakin berkembang. Pada era Orde Lama (1945-1965), dibentuk lembaga-lembaga seperti Perusahaan Film Nasional (PERFINI) dan Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI). Festival Film Indonesia (FFI) juga diadakan untuk memajukan perfilman Indonesia.

Era Orde Baru (1966-1998) ditandai dengan kontrol pemerintah terhadap perfilman. Film-film anti-komunis diproduksi, dan film-film impor mendominasi bioskop. Pada era ini, beberapa film populer adalah Dibalik Tjahaya Gemerlapan (1966), Si Doel Anak Modern, dan film-film komedi Warkop.

Pada era pasca reformasi, film-film Indonesia mengalami perubahan dan berbenah. Banyak tema-tema baru yang diangkat, dan bioskop-bioskop semakin banyak. Perkembangan film ini dibagi menjadi dua dekade, yaitu periode 1999-2009 dan periode 2010-sekarang. Pada periode ini, film-film adaptasi dan remake menjadi populer, dan banyak film komedi yang berasal dari komika Stand up Comedy.

Dalam perkembangan film di Indonesia, terjadi pergeseran dalam cara menonton film. Masyarakat mulai beralih dari VCD dan DVD ke aplikasi film yang sedang marak saat ini, meskipun bioskop tetap menjadi tempat utama untuk menonton film Box Office.

Sejarah perkembangan film di Indonesia menunjukkan betapa pentingnya film sebagai bagian dari budaya dan industri kreatif. Film Indonesia telah menghasilkan karya-karya berkualitas dan mendapat pengakuan baik di tingkat nasional maupun internasional. Sebagai penonton, mari terus mendukung dan mengapresiasi film-film Indonesia yang berkualitas.

Begitulah Sejarah Perkembangan Film di Indonesia. Semoga bermanfaat dan tetap mengapresiasi film-film Indonesia.  Dari banyaknya film karya anak bangsa, mana yang paling menjadi favoritmu?


Sumber:

Manurung, Elvy Maria. 2017. Paradoks dan manajemen kreativitas dalam industri film Indonesia. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana

George Mc Turnan Kahin. 1970. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca and London : Cornel University Press. hal. 102 dalam Salim Said. 1982. Profil Dunia Film Indonesia. Jakarta : Grafiti Press

Salim Said. 1982. Profil Dunia Film Indonesia. Jakarta : Grafiti Press.

https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_film_Hindia_Belanda

Artikel Terbaru

Avatar photo

Zia

Bekerja sebagai buruh tulis dalam bidang pendidikan, penulisan kreatif, dan teknologi

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *