Menenal Teater Tradisional Indonesia Serta Contohnya

Pernahkah kamu secara langsung atau tidak langsung menonton lenong? Apakah kamu tahu bahwa lenong merupakan sebuah pertunjukan teater, lebih tepatnya teater tradisional? Bukan hanya lenong saja, lho. Di Indonesia sendiri, banyak sekali teater tradisional yang berkembang sesuai daerahnya masing-masing.

Keberadaan teater tradisional saat ini harus tetap dipertahankan. Semakin berubahnya zaman, kebudayaan tradisional semakin ditinggalkan. Padahal, teater tradisional memiliki makna dan budaya yang manarik. Itulah mengapa, sangat penting bagi kita mengetahui dan mempelajarnya.

Pengertian Teater Tradisional

randaii
Sumber foto: cultures-worlds.blogspot.com

Istilah teater di Indonesia pertama kali dikenalkan oleh sastrawan besar Indonesia, yaitu W.S Rendra. Sebelumnya, hanya dikenal dengan istilah tonil, sandiwara, atau drama.

Tonil (toneel) berasal dari bahasa Belanda yang berarti pentas atau panggung tempat berlangsungnya suatu pertunjukan. Drama berasal dari bahasa Yunani yaitu Draomai yang berarti bertindak, berbuat, dan berlaku. Sedangkan sandiwara berasal dari bahasa Jawa, yakni Sandhi (samar-samar) dan Warah (pengajaran).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teater adalah pementasan drama sebagai suatu seni atau profesi, seni drama, sandiwara, dan drama. Hal tersebut sejalan dengan pengertian teater menurut Budianta, dkk (2002), bahwa teater atau drama adalah genre sastra dimana tampilan fisiknya diperlihatkan secara verbal melalui percakapan atau dialog dari para pemainnya.

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa teater adalah seluruh pertunjukan yang berlangsung di sebuah tempat dan disaksikan penonton melalui gerak dan dialog dari para pemainnya. Jenis teater di Indonesia sendiri ada dua, yaitu teater tradisonal dan teater modern.

Teater tradisional seringkali disebut dengan teater daerah atau teater rakyat. Teater tradisional ialah segala bentuk pertunjukan yang para pemainnya ialah berasal dari tempat itu sendiri sesuai dengan adat istiadat kebudayaan daerah setempat.

Asal Mula Teater Tradisional

ketoprak
Sumber foto: antarafoto.com

Tahukah kamu, teater tradisional mempunyai sejarah yang sangat panjang. Ya, teater tradisional di Indonesia dimulai sebelum Zaman Hindu. Sejarah teater tradisional, tidak  bisa dilepaskan dari perkembangan kehidupan kesenian serta kebudayaan.

Menurut Kasim Achmad (2006), proses terjadinya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan unsur-unsur pembentuk teater tradisional serta kondisi dan sikap budaya masyarakat. Setidaknya ada tiga asal mula, yaitu:

Berasal dari Sastra Lisan

Sastra lisan adalah sastra yang dituturkan dari satu mulut ke mulut yang lain. Maka dari itu, teater tradisional dapat juga disebut dengan teater tutur. Misalnya ialah pertunjukan Kentrung di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau juga kesenian Cepung yang berasal dari Lombok.

Berasal dari Upacara Keagamaan

Teater tradisional juga biasanya berasal dari upacara keagamaan. Rangkaian upacara tersebut ialah berupa tarian pengiring dan paduan suara dari suatu upacara yang bersifat ritual. Dari situlah, seringkali jadi penunjang dan sarana upacara ritual. Sebagai contoh ialah teater tradisional dari Bali dan Kalimantan.

Berasal dari Permainan

Permainan pun menjadi cikal bakal teater tradisional, lho! Dimulai dari permainan yang sering dilakukan antarwarga, kemudian dikembangkan menjadi seni pertunjukan. Contohnya ialah Ketoprak Lesung dari Yogyakarta.

Ketoprak Lesung berasal dari permainan rakyat yang awalnya hanya memukul-mukul lesung saat musim panen tiba. Biasanya dimainkan oleh perempuan di siang hari yang dibarengi dengan nyanyian-nyanyian. Lambat laun bebunyian membuat orang-orang ingin menari. Kemudian, dikembangkan lagi dengan memiliki alur cerita sehingga menjadi pertunjukan teater.

Ciri-ciri Teater Tradisional

teater lenong
Sumber foto: setubabakanbetawi.com

Ciri-ciri teater tradisonal di masing-masing daerah dapat berbeda-beda. Namun, pada umumnya ciri-cirinya ialah sebagai berikut:

Tak ada Naskah

Sangat berbeda dari teater modern, teater tradisional tidak terlalu mementingkan naskah. Hal tersebut dikarenakan pada zaman dahulu alur cerita hanya disampaikan dari mulut ke mulut dan tidak ditulis. Dengan begitu, pemain hanya dijelaskan alur cerita secara umum dan improvisasi saat pertunjukan berlangsung.

Persiapan Dilakukan secara Sederhana

Ciri berikutnya ialah sangatlah sederhana. Baik dari panggung, kostum, properti, tata rias, tata lampu, dan lain hal sebagainya. Karena pada umumnya, tidak mempunyai perencanaan yang terperinci dan manajemen yang jelas.

Teater tradisional biasanya hanya menggunakan kostum adat dan juga musik atau tetabuhan tradisional. Bukan hanya itu saja, teater tradisional menggunakan bahasa daerah.

Menyatu dengan Masyarakat

Ciri penting berikutnya yang membedakan teater modern dan tradisional ialah keterlibatan masyarakat dalam sebuah pementasan teater tersebut.

Teater tradisional sangat fleksibel. Maksudnya ialah pertunjukan dapat diselenggarakan di mana saja dan kapan saja. Bahkan, masyarakat pun bisa ikut terlibat dalam pementasan tersebut. Makanya disebut juga sebagai teater rakyat.

Ceritanya Monoton

Pada umumnya, teater tradisional memiliki cerita yang monoton dan tema yang tidak bervariasi. Teater tradisional sangat dekat dengan cerita-cerita rakyat. Makanya cerita yang dipentaskan ialah legenda, dongeng, epos (cerita kepahlawanan), ataupun hikayat.

Fungsi Teater Tradisional

teater tradisional
Sumber: pojokseni.com

Seperti fungsi teater pada umumnya, memiliki fungsi yang khas, yaitu:

Sebagai Rangkaian Upacara Keagamaan

Teater tradisional bisanya berfungsi untuk memanggil kekuatan gaib untuk rangkaian upacara keagamaan. Bisa juga sebagai pemanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat yang ada di suatu tempat.

Teater tradisional juga berfungsi untuk memperingati kehidupan seseorang. Misalnya kelahiran, kematian, dan mendapatkan jabatan.

Sebagai Hiburan

Untuk teater tradisional, fungsi hiburan pun sangat menonjol. Biasanya, menampilkan teater yang penuh guyon dan bergenre komedi.

Sebagai Sarana Pendidikan

Seperti teater pada umumnya, teater tradisional pun berfungsi sebagai sarana pendidikan. Karena, biasanya menanamkan nilai-nilai karakter yang baik sesuai adat dan istiadat setempat.

Jenis-jenis Teater Tradisional

fungsi teater
Sumber: haluansumatra.com

Berikut ini ialah jenisnya:

Teater Rakyat

Teater tradisional memang identik dengan teater rakyat. Karena sifatnya sama, yaitu sederhana, improvisasi, serta menyatu dengan rakyat dan mengisahkan tentang kehidupan rakyat.

Teater Klasik

Pada teater ini biasanya diselenggarakan di kerajaan-kerajaan dengan menggunakan wayang sebagai medianya. Sifat teater ini sudah mapan dan lebih rapi dibanding teater rakyat yang sederhana. Contohnya ialah wayang golek, wayang kulit, ataupun wayang orang.

Teater Transisi

Teater transisi ialah teater tradisional yang sudah mulai menjamah unsur-unsur teater modern. Seperti misalnya, menggunakan alat musik modern ataupun dekor dan propertinya terbilang lebih gaya kebarat-baratan. Contohnya ialah penampilan srimulat atau sandiwara dardanella.

Contoh Teater Tradisional

teater tradisional
Sumber foto: 1001Indonesia.net

Teater tradisional dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat teater tradisional tersebut berasal. Contoh-contohnya ialah sebagai berikut:

Teater Tradisional Jawa Barat

Secara umum, teater tradisional Jawa Barat digunakan sebagai sarana hiburan rakyat sebagai pelepas lelah. Beberapa yang terdapat di Jawa Barat ialah:

  • Ogel

Ogel adalah lawakan santai tentang kehidupan manusia. Iringan musinya meliputi kendang, terompet, dan angklung.

  • Longser

Longser adalah kelompok teater tradisional yang tumbuh dan berkembang di Conggeang, Sumednag. Isinya bercerita tentang kehidupan manusia yang diringi pecak silat dan lawakan. Pengiring musiknya ialah gamelan.

  • Wayang Golek

Wayang golek memiliki dua jenis, diantaranya wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Pada wayang golek, yang sering dipertunjukan adalah lakon carangan.

Cerita yang diangkat seperti kisah pewayangan pada umumnya. Wayang golek sangat dekat dengan masyarakat sunda. Karena biasanya dapat dilihat dari beberapa kegiatan masyarakat, seperti acara hajatan, khitanan, maupun lain-lain.

Teater Tradisional Banten

Teater tradisional banten rata-rata sangat mirip dengan Jawa Barat. Karena pernah satu provinsi dan memiliki kebudayaan yang serupa. Contohnya ialah ubrug. Hanya saja yang membedakan ialah bahasa yang digunakan ialah campuran sunda, jawa, dan melayu.

Ubrug merupakan cerita rakyat yang disampaikan dengan berupa banyolan sehingga dapat memikat hati penonton untuk menonton hingga tuntas. Contoh ceritanya ialah Dalem Boncel, Jejaka Pecak, dan Si pitung atau Si Jampang.3

Baca juga: Perkembangan Teater Indonesia

Teater Tradisional Jakarta

Seperti yang sudah diketahui bersama, teater tradisional di wilayah Jakarta ialah lenong. Teater ini sering dimainkan oleh orang-orang betawi dengan gaya guyonan yang khas. Bukan hanya itu saja, lenong pun sangat melibatkan penonton dalam setiap pertunjukannya.

Pertunjukan lenong mengandung pesan moral, yaitu: menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Hampir dalam semua lakonnya selalu muncul seorang yang berjiwa ksatria untuk membela rakyat kecil yang tertindas. Lenong ada dua jenis: Lenong Preman dan Lenong Denes.

Teater Tradisional Jawa Tengah

Teater Jawa Tengah dikenal dengan pertunjukan ketoprak, wayang orang, srandul, dan wayang kulit. Umumnya, cerita teater di daerah ini berasal dari kisah Ramayana, Mahabarata, sejarah, dongeng, maupun legenda.

Teater Tradisional Yogyakarta

Teater tradisional yang berasal dari Yogyakarta adalah Langendriyan. Langendriyan ditampilkan dalam bentuk opera yang bermakna sebagai penghibur hati. Biasanya, Langendriyan seringkali dimainkan di lingkungan istana.

Teater Tradisional Jawa Timur

Teater yang sangat terkenal di Jawa Timur ialah ludruk. Peralatan musik yang digunakan dalam pementasan ialah kendang, kemput, cimplung jidor, dan gambang. Cerita yang sering dimainkan berasal dari dongeng, legenda, sejarah, atau tentang para jagoan khas jawa yang sakti.

Yang menarik dari ludruk ialah semua pemain dalam pementasan ialah pria, lho! Hal itu dikarenakan pada zaman dahulu wanita tidak diperkenankan untuk muncul di depan umum.

Teater Tradisonal Bali

Ada beberapa teater tradisional yang berkembang di Bali, yaitu gambuh, topeng prembon, barong, arja, dan kecak.

  • Gambuh

Merupakan teater tradisional yang paling tua, yakni sekitar abad 16. Bahasa yang digunakan pun bahasa Bali Kuno. Lakon yang dimainkan mengambil cerita Panji yang diadopsi ke dalam budaya Bali

  • Topeng Prembon

Merupakan gabungan antara topeng dan arja. Cerita yang dibawakan bersumber pad ababad atau cerita sejarah. Dialog yang diucapkan pemain perpaduan antara bahasa Kawi dan bahasa Bali.

  • Barong

Pertunjukan drama khas Bali yang selalu mengangkat tema tentang kejahatan melawan kebaikan. Ada Leak/Rangda (tokoh yang kejam) dan adapula Barong (tokoh yang baik).

  • Arja

Pertunjukan yang dipentaskan semalaman suntuk dengan latar belakang pura. Para pemainnya adalah penari, makanya pengungkapan ceritanya menggunakan gerak tari dan tembang bali.

  • Kecak

Kecak dapat dipentaskan dimana saja dan kapan saja sesuai pilihan pemainnya. Pada umumnya mementaskan cerita Ramayana.

Teater Tradisional Sumatra

Teater tradisional di daerah-daerah Sumatra pada umumnya memiliki satu kesamaan, yaitu berasal dari suku melayu. Berikut teater tradisional Sumatra sesuai daerahnya.

  • Dalupa dari Aceh

Dalupa berarti ‘samar’, maka dari itu pemainnya menggunakan topeng dan pakaian yang terbuat dari lidi injuk dan lidi enau.Biasanya Dalupa hanya untuk karnaval namun ada juga yang dipertunjukan. Ceritanya mengangkat tentang keagamaan atau mengajak orang berbuat kebaikan.

  • Bakaba dan Randai dari Minangkabau

Bakaba artinya ialah bercerita. Pertunjukan ini merupakan sastra lisan yang isinya penuh dengan pepatah, ibarat, kias, dan ajaran adat.

Sedangkan Randai adalah perpaduan antara basijobang, tonil Belanda, dan pencak silat yang ditampilkan di awal pertunjukan. Tema ceritanya ialah sejarah, adat Minang, dan pelajaran warisan orang tua untuk anak-anak dalam mempersiapkan hidup.

  • Makyong dan Mendu berasal dari Kepulauan Riau

Kesenian ini menggabungkan seni drama, seni tari, seni musik, dan penuturan dongeng. Tokoh-tokoh yang harus ada dalam makyong adalah putri raja muda, ratu, pengeran muda, sang raja, dan pelayan/pelawak. Hal  ini dikarenakan cerita Makyong selalu berpusat tentang kerajaan. Total pemain bisanya 15-20 orang dengan dimainkan selama 3-4 jam.

Sedangkan Mendu ialah pertunjukan teater yang ceritanya diambil dari sahibul hikayat, menggunakan dialog bahasa Melaya dan bahasa Indonesia. Pementasan Mendu memerlukan pohon dulai yang ditanam pada bagian depan panggung sebagai penangkal kekuatan magis yang mencelakai para aktor.

  • Dulmuluk berasal dari Sumatra Selatan

Nama Dulmuluk berasal dari Abdul Muluk, yang merupakan tokoh dari salah satu hikayat. Sebutan lainnya teater ini ialah teater Indra Bengsawan. Biasanya bercerita tentang hikayat Kerajaan Melayu yang dimainkan di panggung bentuk arena di alam terbuka. Banyak dialog yang diucapkan dengan nyanyian ataupun pantun.

Teater Tradisional Sulawesi

  • Didong

Kesenian yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Arti dari Didong sendiri ialah nyanyian sambil bekerja untuk menghibur hati dengan cara berdakwah. Makanya, teater ini digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam melalui syair.

  • Kondobuleng

Teater ini berasal dari Bugis-Makassar. Ceritanya merupakan cerita simbolik kehidupan. Bisanya berisi tentang manusia dan burung bangau. Biasanya dimainkan di tempat terbuka agar ditonton oleh masyarakat.

  • Bacok Purage

Jenis teater ini merupakan teater boneka yang terbuat dari kapas dan direndam dengan kanji. Lalu dibentuk sebagaimana manusia. Cerita yang ditampilkan seputar kehidupan masyarakat.

Teater Tradisional Kalimantan

Pada teater tradisional Kalimantan yang familiar ialah Mamanda yang berasal dari Kalimantan Selatan. Mamanda dilakukan di alam terbuka atau lapangan. Tidak menggunakan panggung, tetapi menggunakan ‘serubung’ (bangsal berukuran 5 x 10 m) sehingga penonton mengelilingi bangsal tersebut.

Cerita yang dimainkan Mamanda tidak jauh seperti Komedi Indera Bangsawan, cerita Abdoel Moeloek, Hikayat Seribu Satu Malam. Biasanya bersifat istana sentris. Mamanda lebih mirip degan lenong. Karena ada keterikatan antara pemain dengan para penonton.

Teater Tradisional Nusa Tenggara Barat

Teater Tradisional NTB yang terkenal ialah Kemidi Rudat. Kesenian ini berbentuk drama yang dilakukan dengan tarian dan nyanyian. Dialog yang dilakukan pun bentuknya syair atau pantun. Kesenian ini sangat identik dengan  ajaran islam.

Cerita yang ditampilkan dalam rudat bersumber dari cerita melayu lama. Tema cerita bisanya merupakan roman kehidupan dengan latar kerajaan Melayu.

Baca juga: Yuk Ketahui Penokohan Drama

Begitulah ulasan tentang teater tradisional yang perlu kamu ketahui. Jangan sampai lupa mempelajarinya ya! Karena di situlah letak kebudayaan dan tradisi yang memperkaya khazanah Indonesia.


Sumber:

Mulyadi, Yadi. Teater Tradisional. 2010. Jakarta: Penerbit Multi Kreasi Sastu Delapan.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *