Mengenal Teater Modern Indonesia Serta Contohnya

Teater atau drama masih menjadi salah satu sarana hiburan untuk masyarakat Indonesia. Walaupun dengan banyaknya media hiburan massa yang berkembang saat ini, teater tetap eksis di gedung-gedung kesenian.

Berbicara tentang teater, tentunya tidak bisa terlepas dari dua jenis teater, yaitu teater tradisional dan teater modern. Teater tradisional dapat dikatakan sebagai teater daerah atau teater rakyat karena disesuaikan dengan adat istiadat tempat tersebut. Sedangkan teater modern ialah pertunjukan  teater yang mengadaptasi unsur-unsur kebaratan.

Pengertian Teater Modern

teater modern
Sumber foto: Indonesiakaya.com

Secara epistemologis, teater berasal dari bahasa Yunani, ‘theatreon‘ (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya adalah tempat atau gedung pertunjukan. Sehingga, pengertian teater secara luas adalah segala hal yang dipertunjukan di depan orang banyak.

Teater modern dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk pertunjukan yang dipengaruhi oleh teater barat. Baik dalam bentuk penampilannya maupun manajemennya. Sangat berbeda dari teater tradisional, teater modern tidak terpaku terhadap adat istiadat setempat.

Ciri-ciri Teater Modern Indonesia

teater modern
Sumber: Djarumfoundation.org

Ciri-ciri teatern modern Indonesia mengarah ke teater yang berasal dari barat, diantaranya sebagai berikut:

Panggung Tertata

Teater modern berbeda dengan teater tradisional yang menggunakan panggung sederhana. Karena teater modern justru biasanya dilaksanakan  di panggung yang lebih tertata dan lebih rapi. Perlengkapan artisitik dan propertinya juga lebih rinci.

Gedung Tertutup

Jika kamu melihat teater tradisional ditampilkan di tempat terbuka, maka teater modern biasanya berada di gedung pertunjukan yang tertutup. Hal ini dikarenakan mengikuti kebiasaan teater-teater barat yang menggunakan gedung sebagai tempat pertunjukan.

Terdapat Alur Cerita

Teater modern memiliki alur cerita yang jelas. Karena harus sesuai dengan naskah dan arahan sutradara. Hal ini sangat berbeda dengan teater tradisional yang hanya mengandalkan improvisasi dan tidak ada naskah.

Penonton

Pada teater modern, antara pemain dan penonton tidak terlalu banyak interaksi pada saat pementasan berlangsung.  Berbeda dengan teater tradisional yang biasanya banyak interaksi antara pemain dan penonton.

Selain itu, penonton yang melihat pertunjukan teater modern lebih banyak dibandingkan dengan yang menonton teater tradisional. Hal ini dikarenakan karena tempat lebih memadai.

Unsur-Unsur Teater Modern

teater modern
Sumber: Djarumfoundation.org

Unsur adalah hal-hal yang membangun atau bagian-bagian dari sebuah teater. Unsur-unsur teater modern ialah sebagai berikut.

Naskah/Skenario

Bagian yang ada pada teater modern ialah adanya naskah. Skenario ditulis pada naskah yang sudah memiliki alur yang jelas. Baik itu nama aktor, latar, dialog, dan adegan. Dengan begitu, para aktor tinggal mempraktikan sesuai dengan naskah.

Tokoh dan Penokohan

Tokoh pada teater modern lebih beragam sesuai dengan tema yang dimainkan oleh pementasan teater tersebut. Distribusi tokohnya pun lebih jelas. Misalnya ada tokoh utama, tokoh pembantu, dan tokoh tambahan. Penokohan atau watak yang diperankan oleh masing-masing tokoh pun sangat beragam.

Sutradara

Bagian dari teater modern selanjutnya ialah sutradara. Sutradara ialah seorang yang memiliki kewenangan untuk mengatur pementasan. Dengan begitu, pementasan menjadi lebih terarah dan rapi. Kesuksesan teater bisa dibilang dengan kesuksesan sutradara, lho.

Properti

Jika teater tradisional sangat sederhana dan tidak memerhatikan properti, maka teater modern sangat memerhatikan properti. Hal ini dikarenakan properti yang sesuai dan ‘niat’ bisa menambah kualitas pementasan.

Penataan

Hal yang harus ada pada teater modern ialah penataan. Penataan  yang ada pada teater modern ialah sebagai berikut:

  • Tata Rias adalah adalah penataan riasan kepada pemain. Tata rias teater tidak seperti riasan biasa, lho. Seorang penata rias harus bisa mengubah pemain menjadi sangat mirip dengan karakter yang diperankan.
  • Tata Busana adalah penataan  kostum untuk menunjang pemain dalam memerankan karakternya. Jika busana yang digunakan tidak sesuai, maka itu cukup berpengaruh terhadap kualitas pementasan tersebut.
  • Tata Suara adalah penataan suara yang biasanya berfungsi untuk mendukung suasana saat pementasan berlangsung. Alat musik yang digunakan juga sudah modern, seperti gitar listrik, keyboard, dll.
  • Tata Lampu adalah pencahayaan panggung sehingga mendukung suasana pementasan.

Contoh Teater Modern Indonesia

bengkel teater rendra
Sumberfoto: medcom.id

Bengkel Teater Rendra

Tidak dapat dipungkiri bahwa W.S Rendra telah membawa nuansa baru terhadap dunia teater di Indonesia. Sastrawan tersebut pernah mempelajari seni pertunjukan drama dan tari di Amerika. Maka dari itu, ia mendirikan Bengkel Teater Rendra pada tahun 1967 di Yogyakarta.

Bengkel Teater sering menampilkan tema permasalahan sosial dan politik. Dengan begitu komunitas teater ini semakin dikenal oleh masyarakat. Namun, pada tahun 1977 Pemerintah Orde Baru mempersulit kegiatan Bengkel Teater.

Baca juga: Sejarah Perkembangan Drama Dunia

Walau pun sempat padam, Bengkel Teater Rendra kembali hadir  pada tahun 1980 di Depok. Bengkel Teater Rendra berkiblat pada Brecht melalui Panembahan Reso. Dengan suksesnya Bengkel Teater Rendra saat itu, Penambahan Reso pernah dipentaskan di Eropa dan Istora Senayan. Gaya teater Rendra mengarah ke realis dan juga dramatik.

Hanya saja memasuki tahun 90an, Bengkel Teater Rendra sempat padam kembali karena permasalahan politik dan ekonomi. Saat ini, Komplek Bengkel Teater Rendra masih bisa dikunjungi di daerah Cipayung, Depok.

Pengurus hariannya ialah  Ken Zuraida, istri Rendra. Para anggota teater tetap berlatih, meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Rendra. Maka dari itu, Bengkel Teater Rendra mementaskan kembali drama Penambahan Reso  pada tahun 2019 di Jakarta.

Teater Kecil

teater kecil
Sumber foto: ekspresionline.com

Teater kecil ialah kelompok teater yang dipimpin oleh Arifin C. Noer pada tahun 1968. Gaya atau aliran teater ini ialah eksperimental. Karenanya teater ini sangat minim kata dan hanya mengandalkan gerak dan ekspresi. Karena menurut Arifin C. Noer sendiri, teater adalah sarana propoganda ideologi tanpa kata namun tetap ada.

Teater Kecil seringkali menampilkan pementasan yang bertemakan sosial, permasalahan, penderitaan, dan harapan masyarakat. Teater ini juga menambahkan unsur tradisi cirebonan, wayang, lenong, stambul dan kesenian rakyat lainnya. Hal ini bertujuan agar teater modern tetap ada dalam kultur masyarakat.

Melalui Teater Kecil, nama Arifin C. Noer dapat dikenal masyarakat secara luas. Karena ia melahirkan karya-karya yang sangat berkualitas. Seperti naskah Kapai-kapai, Sumur Tanpa Dasar, Tengul, Orkes Madun (Madekur dan Tarkeni), SandekUmang-umang, dan Dalam Bayangan Tuhan. Sampai saat ini naskah-naskah tersebut masih dipentaskan oleh kelompok teater lainnya.

Teater Mandiri

teater mandiri
Sumber foto: indonesiakaya.com

Teater Mandiri dibangun oleh sastrawan Indonesia yaitu Putu Wijaya pada tahun 1971. Sastrawan yang pernah meraih penghargaan kesenian dari Presiden Jokowi ini membawa gaya teater tersendiri dibandingkan teater yang sudah ada. Karena dalam pementasannya ia selalu menambahkan konsep Bali yaitu  desa-kala-patra (ruang-waktu-keadaan).

Naskah-naskah yang ditulis Putu Wijaya untuk pementasan Teater Mandiri memiliki kekhasan. Yaitu judulnya hanya memiliki satu suku kata  seperti Wah, Lho, Dor, dan sebagainya. Baginya, itulah sebuah keunikan yang dapat membedakan teaternya dengan teater lain.

Biasanya, tokoh-tokoh dalam naskah tersebut tidak bernama. Teater Mandiri penuh kejutan dengan berbagai alur cerita yang tidak masuk akal, humornya mengarah ke anekdot, gerak aktor yang akrobatik, dan sebagainya. Adegan-adegan yang dipentaskan penuh warna dan gerak, dengan musik yang dinamis sekaligus datar.

Teater Koma

teater koma
Sumber foto: Djarumfoundation.org

Teater Koma didirikan oleh Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno pada tanggal 1 Maret 1977 di Jakarta.  Teater Koma mengaku terinsipirasi dari Teater Kecil milik Arifin C. Noer. Maka dari itu, naskah-naskah yang dipentaskan pun bertema permasalahan-permasalahan masyarakat, sosial, dan budaya.

Walaupun terinspirasi dari Teater Kecil, Teater Koma sendiri tidak menentukan satu gaya dalam pementasannya. Karena dari itu teater ini masih terus mencari wujud agar menjadi melalui teater-teater terdahulu. Mayoritas pementasan Teater Koma selalu menambahkan unsur lenong, wayang, ketoprak, dan teater rakyat lainnya.

Ciri lainnya yang menonjol pada Teater Koma adalah menggunakan pola dramaturgi klasik yang dipadukan dengan tari dan nyanyi. Sampai saat ini, Teater Koma masih eksis di teater tanah air. Pementasan yang fenomenal dari teater Koma adalah Opera Sabun, Sampah-sampah Kota, dan Mahabaratha.

Selain teater yang telah disebutkan di atas, masih ada komunitas teater lainnya yang masih berkembang di Indonesia. Semuanya memiliki ciri khas tertentu. Tetapi, dapat dikatakan bahwa kiblat teater modern Indonesia bermula pada Bengkel Teater Rendra.

Baca juga: Menenal Teater Tradisional Indonesia

Begitulah ulasan tentang teater modern Indonesia. Dengan mempelajari tentang teater atau menonton pertunjukan teater, kamu sudah mengapresiasi karya seniman-seniman di indonesia.


Sumber:

Sumardjo, Jackob. Lintasan Sastra Indonesia Modern 1. 1982. Jakarta: Citra Aditya Bakti.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *