5 Cerpen yang Mengandung Unsur Budaya

Pernah nggak dapet tugas menulis cerpen yang mengandung unsur budaya? Seperti yang udah kita tahu bersama, unsur budaya sangat beragam. Bisa itu tentang kesenian, upacara adat, pakaian dan bahasa daerah, bahkan rumah adat.

Nah, pas banget nih bagi kamu yang lagi cari cerpen yang mengandung unsur budaya. Karena di artikel ini ada 5 cerpen dengan kisah menarik dan singkat. Selamat membaca~

Budaya Di Ujung Laut Selatan

Budaya di ujung laut selatan
Sumber: Nick Wehrli dari Pexels

Pulang ke desa di pesisir selatan Jawa Tengah ini mengubah pandanganku kepada semesta. Sebagai budak korporat yang hanya fokus dengan kerja, kerja, dan kerja, aku menemukan nilai yang tidak kutemukan selama di kota. 

Baca juga: Cerpen Pendidikan

Setelah mengajukan cuti selama tujuh hari, aku kembali ke kampung halamanku. Untungnya masih ada keluarga besar yang tinggal di sana, sementara Ayah dan Ibuku tetap di kota. Kedatanganku pun disambut oleh Pakde yang sudah menungguku ketika aku mengatakan akan berlibur di sana.

“Apa kabar Wikan?” tanyanya sambil menjabat tanganku

“Baik, Pakde,” 

“Yuk sambil jalan, motornya di parkiran,” ajak Pakde mengarahkanku untuk menaiki motor menuju rumah. 

Dari terminal menuju rumah cukup lama menghabiskan waktu 40 menit. Sepanjang perjalanan, Pakde banyak bercerita tentang kehidupan di kampung nelayan itu. Dimulai dari bagaimana kesehariannya sampai ada upacara khusus untuk yang diadakan di tempat tersebut. 

“Besok bakal ada Larung Sesaji, Wikan. Ikut ya”

Aku langsung mengangguk setuju. 

Keesokan harinya, deretan hasil bumi berderet rapi di tempat pelelangan ikan dan akan dibawa ke darmaga. Ada nasi tumpeng, kepala sapi, buah-buahan, serta berbagai macam sayuran. Sebelumnya diadakan pengajian dan doa terlebih dahulu agar upacara menjadi lebih khidmat. 

Pakde pun menjelaskan bahwa Larung Saji ini sudah menjadi budaya dan tradisi yang turun temurun. Karena setiap orang harus mengungkapkan rasa syukur dari apa yang sudah Tuhan berikan. Acara ini juga sebagai memohon pertolongan untuk selalu diselamatkan dari marabahaya. 

Aku membantu penduduk setempat untuk mengarungkan sasaji ke laut. Pengalaman yang luar biasa, karena selama ini aku hanya tau bekerja tanpa mengenali budaya. 

Acara itu makin meriah ketika ada penampilan wayang golek dan lomba dayung. Aku yang bukan anak pantai, hanya melihat dari kejauhan tapi entah mengapa terasa hangat dan seru. Kurasa, memang benar larung saji ini sudah mengubah pandanganku kepada semesta. 

Goyang, Geol, Gitek

Goyang, Geol, Gitek
Sumber: Masbebet christianto dari Pixabay

Seperti namanya, Tari harus selalu menari. Sejak umur lima tahun, ia sudah dilatih oleh ibunya yang juga memiliki sanggar tari tradisional sunda atau jaipong. Dentingan suara musik, pakaian keemasan, dan aksesoris sudah melekat ketika ia menari di acara pernikahan atau syukuran. 

Kini usianya tiga belas tahun. Di saat sibuk-sibuknya dengan tugas di SMP, ia mulai jenuh untuk berlatih tari jaipongan. Dalam seminggu, ia berlatih dua hari di Sabtu dan Minggu. Ia mulai merasa capek karena waktu liburnya dipakai untuk berlatih dibandingkan beristirahat. Ia pun mulai ogah-ogahan mengikuti latihan dan ditegur oleh Ibu.

“Ayo Tari ikut Ibu ke sanggar. Yang lain udah menunggu,” ajak Ibunya

“Tari nggak latihan dulu deh, Bu. Mau istirahat aja,”

“Loh, dari pagi tadi juga kamu istirahat. Main HP terus. Nanti kan kamu mau lomba, ayo latihan!” Ibu juga menegur Tari lantaran ia dipilih untuk mewakilkan sekolah di ajar perlombaan tari tradisional sunda se-kota madya.

“Nggak dulu deh, Bu. Mau ngerjain PR juga,” Tari terus mencari-car alasan.

“Alasan aja kamu!” Ibu pun berlalu pergi sambil mendengus kesal.

Setelah melihat ibunya pergi meninggalkan kamar, Tari melanjutkan scroll media sosialnya. Selang waktu berjalan ia menemukan postingan Instagram yang menyatakan tari jaipong berasal dari Bandung. Padahal, ia tahu pasti bahwa tari jaipong berasal dari Karawang hasil kreativitas Abah Suwanda di tahun 1970-an. Ibunya yang asli Karawang itu pun belajar kesenian sunda dari anak cucu Abah Suwanda. 

Tari tak terima postingan tersebut, ia pun membubuhkan komentar dan menjelaskan asal muasal tarian jaipong. Tak menunggu waktu lama, akun info instagram itu pun membalas komentar Tari.

“Makasi infonya, Kak. Tapi emang kamu udah melestarikan juga budaya dan kesenian sunda?”

Membaca komentar itu, Tari tertegun. Selama ini ia berlatih jaipong nggak menggunakan hati. Ia hanya berlatih karena disuruh Ibu. Tari pun menyadari, bahwa melestarikan budaya daerah adalah wajib bagi setiap orang. 

Segera ia bergegas pergi ke sanggar dan berlatih jaipong kembali. Ibunya pun tersenyum puas karena Tari berubah pikiran. Dengan lantunan musik khas sunda, Tari melakukan goyang, geol, dan gitek sebagai ciri dari jaipongan. 

Melewati Langit Jepang

Resya menyadari bahwa kuliah di Fakultas Ilmu Budaya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ia  tak suka menulis jurnal, menganalisis peristiwa, dan mengembangkan pola pikir seperti budayawan sehingga ia menjadi kewalahan. 

Baca juga: Cerpen Pelajar

Terlebih lagi ia memasuki program studi Sastra dan Budaya Jepang. Ia harus belajar bahasa baru yang menurutnya di masa depan ia tak membutuhkan bahasa tersebut. Akhirnya, ia bertekad untuk menghabiskan dua semester saja berada di prodi tersebut dan akan pindah di semester berikutnya. 

“Gue mau pindah prodi pokoknya! Mumpung masih semester dua” ujar Resya kepada Fira selaku teman selama mahasiswa barunya.

“Nggak betah ya? Tapi bulan depan kita ada study tour ke Jepang, loh Res” 

“Demi apa? Nggak apa-apa deh, aku ikut bagian itu, kan sekalian jalan-jalan”

“Yeuu dasar, tapi liat noh tugasnya,” Fira memperlihatkan laptopnya “Tulislah sebuah cerpen yang mengandung unsur budaya Jepang selama study exchange”” Fira melanjutkan kalimat dengan membacakan tugasnya

“Ya Tuhan!!!” geram Resya.

Satu bulan berlalu dan tibalah di hari keberangkatan. Resya benar-benar berniat cuma liburan. Ia membawa koper yang isinya baju dibandingkan buku-buku. Ia hanya mempersiapkan note kecil dan satu pulpen. Fira yang melihat kelakuan Resya pun geleng-geleng kepala. 

30 orang mahasiswa dan 2 orang dosen tiba pukul 4 di Bandara Tokyo Haneda lalu melanjutkan perjalanan domestik ke Nagasaki.

Di hari pertama sampai Nagasaki malam hari. Rombongan pun langsung tertidur sehingga siap melaksanakan tour ke Museum Bom Atom Nagasaki. Resya sekamar dengan Fira dan empat mahasiswa putri lainnya menggunakan kasur  lipat. Awalnya Resya tidak terbiasa, tapi karena di Jepang sering menggunakan kasur lipat, akhirnya Resya pun tertidur.

Pagi-pagi sekali pihak tour yang merupakan asli orang Jepang, sudah membangunkan rombongan. Resya juga langsung dibangunkan oleh Fira yang sudah mandi dan hampir siap. Segera Resya pun mempersiapkan diri karena takut tertinggal. Resya melihat proses tour ini sangan displin dan anti ngaret. Suatu hal yang jarang ditemui di Indonesia.

Rasa takjub Resya pun bertambah ketika melihat isi museum yang sangat memukau tapi entah mengapa sangat menyakitkan. Mungkin karena tempat tersebut menggambarkan perjuangan Jepang yang dibom pada tahun 1945 oleh Amerika.

“Konichiwa minna-san. Inilah baju prajurit kami yang jadi saksi bisu pengeboman Hiroshima-Nagasaki. Setiap tahunnya, kami selalu memperingati hal tersebut. Namun, peristiwa menyakitkan itu tak membuat Jepang patah semangat. Kami terus berinovasi, sehingga bisa pulih.” ujar tour guide yang bisa bahasa Indonesia.

Baru tour satu hari saja, Resya merasa bisa melihat budaya Jepang yang sangat patut dicontoh. Misalnya seperti sangat menghargai waktu dan terus berinovasi. Ia menyadari bahwa budaya tersebut dimiliki oleh setiap warganya, sehingga tak heran Jepang bisa menjadi salah satu negara maju. 

Akhirnya setelah tiga hari di Jepang, mereka pun kembali ke Indonesia. Di pesawat, Resya pun mengikrarkan sesuatu.

“Fir, gue nggak jadi pindah prodi dan gue udah tau mau nulis cerpen yang mengandung unsur budaya Jepang seperti apa!” tegas Resya.

“Yeayy syukur kalo gitu. Lu harus dibawa ke Jepang dulu ya biar sadar!” ejek Fira 

Mereka pun tertawa cekikan di dalam pesawat, membuat orang lain memperhatikan dua sahabat tersebut. 

Aksara yang Hampir Padam

Aksara yang hampir padam
Sumber: Kemendikbud.go.id

Tak ada yang membuatku lebih bersemangat selain mendapatkan kabar untuk pergi ke Nusa Tenggara Timur! Setelah berjibaku di kantor selama beberapa bulan, akhirnya akan ada penelitian tentang kebahasaan kembali. Yap! Alasanku menjadi ahli linguistik adalah karena ingin terus mempelajari keanekaragaman bahasa yang ada di Indonesia.

Kali ini, kepergianku dengan tim adalah untuk meneliti aksara Lota di Kabupaten Ende, NTT. Kota tersebut adalah kota kecil di Pulau Flores yang sangat kaya akan budaya dan wisata. Terlebih lagi suasana pemandangan alamnya yang sangat khas, pegunungan dan lautan seperti menyatu menjadi keindahan kota tersebut. 

Sesampainya aku di sana, kepala tim penelitian yaitu Pak Muhtar, memperkenalkan kami dengan Pak Achmad selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Ende. 

“Selamat datang  di kabupaten Ende, teman-teman Badan Bahasa Pusat. Semoga penelitiannya lancar, kalau ada perlu apa-apa silakan hubungi saya atau Bu Marwah sebagai fasilitator kalian di sini” ujar Pak Achmad dengan dialek Ende yang sangat kental.

Bahasa Ende merupakan bahasa terbuka yang di ujung kata selalu ada huruf vokal . Misalnya kata ‘lontar’ di bahasa Indonesia, berubah menjadi ‘lota’. Itulah mengapa pada mulanya suku Ende menulis aksara lota di daun lontar. Karena mereka tidak menggunakan konsonan ‘n’ dan ‘r’. Lontar pun berubah menjadi lota. Aku cukup kesulitan juga mempelajari bahasa tersebut.

Setelah sambutan dari Pak Achmad, kami pun diarahkan untuk bersiap-siap dan langsung pergi ke tempat penelitian, yaitu suku Ende. Aku berfokus untuk meneliti pelestarian aksara Lota, salah satu tempatnya ialah di sekolah dasar.

Betapa kaget, ketika kelas empat SD banyak murid yang belum bisa menulis aksara Lota. Padahal bahasa Ende menggunakan aksara tersebut dan anak-anak hanya menggunakan dialek tanpa mengetahui aksaranya. Kebanyakan warga juga sudah menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur bahasa Ende. 

“Aduh Kakak Mitha, saya tidak tau cara menulis aksara Lota”

“Memangnya nggak diajarin di sekolah?”

“Diajarin Kakak, tapi lupa-lupa ingat” 

Setelah wawancara ke murid SD dan SMP, sedikit para orangtua yang mengajarkan aksara Lota ke anak-anaknya. Hal itu cukup memperhatikan, padahal pengajaran orang tua di rumah bisa membuat anak-anak ikut melestarikan aksara lota. 

Dinas kebudayaan Kabupaten Ende sebenarnya sudah berupaya mempertahankan aksara tersebut dengan dijadikan pelajaran di sekolah. Namun, yang kulihat ternyata belum efektif. Setelah anak-anak lulus dari SD dan SMP, ternyata aksara tersebut tidak terpakai sehari-hari. Akhirnya, anak-anak pun cepat melupakannya. 

Hampir dua minggu aku di Ende dan akhirnya aku menemukan sebuah kesimpulan. Aku susun hasil penelitian tersebut untuk akhirnya dipaparkan kepada Kepala Kebudayaan Kabupaten Ende. Hingga hari itu tiba, aku pun sangat antusias. 

“Selamat pagi semua. Izinkan saya Mitha Andini memaparkan hasil penelitian. Aksara dan bahasa merupakan bagian dari budaya yang harus dilestarikan, Aksara Lota adalah salah satunya.” Aku menarik napas sekejap lalu melanjutkan kembali.

“Sejauh ini, sudah ada upaya pelestarian aksara tersebut, tapi belum cukup efektif. Poin pertama, perlu adanya gebrakan dari seluruh lapisan masyarakat. Bukan cuma di sekolah, tapi juga di rumah. Yang kedua. Harus ada penggunaan Aksara Lota dalam berbagai situasi. Entah itu berbentuk lomba atau sayembara. Dengan begitu anak-anak semangat belajar dan menggunakan aksara Lota secara berkelanjutan. Sekian terima kasih.”

Tak disangka, penjelasan penelitianku dimeriahkan dengan tepuk tangan. Pak Achmad setuju dan akan mempertimbangkan ideku untuk diterapkan. Aku tidak pernah merasa puas selain bisa membantu pelestarian budaya Indonesia. 

Kupiah Meukuetob

Mimpi Avia cukup sederhana, ia ingin menggunakan baju adat Aceh di hari pernikahannya nanti. Sejak SMA ia sudah memutuskan akan menggunakannya ketika menikah kelak. Hal tersebut dikarenakan, ia pernah mengikuti kegiatan fashion show di sekolahnya dan ia sangat takjub dengan baju adat tersebut. Kini usianya menginjak 25 tahun dan masih mendambak-dambakan baju adat tersebut. 

Baca juga: Cerpen Tentang Sekolah

Sialnya Avia adalah gadis keturunan sunda dan belum memiliki pacar yang serius. Sempat ia diejek oleh Rani, temannya, karena ia memimpikan bisa menikah dengan orang Aceh.

“Bukan apa-apa nih, Avia. Tapi, temen kantor kamu nggak ada orang Aceh, temen-temen kita juga nggak ada orang Aceh, dan kamu sekarang tinggal di Bandung. Gimana bisa nikah sama orang Aceh buat pake baju pengantinnya coba?” Rani berusaha menyadarkan Via.

“Tenang aja, nggak ada yang nggak mungkin. Liat aja nanti” ujar Avia menenangkan diri.

Selang waktu berjalan, Avia berkenalan dengan seorang lelaki di coffee shop. Seperti di FTV, mereka bertabrakan secara tidak sengaja lalu saling mengenal satu sama lain. Lelaki itu bernama Firman dengan hidung mancung dan alis yang cukup tebal. Sungguh kriteria Avia. 

Beberapa bulan mereka berteman, dan Avia baru tahu bahwa Firman adalah keturunan Aceh yang sedang bekerja di Bandung. Ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Firman ketika mereka makan malam bersama.

“Kamu orang Aceh? Bukannya namamu Firman Aliansyah?”

“Iya, tapi nama depanku sebenernya Teuku Firman Aliansyah”

“Oh okee.. Kamu berhutang cerita kepadaku, gimana rasanya jadi keturunan Aceh? Ceritain dong budaya dan tradisinya di sana” 

Firman pun menceritakan segala hal tentang Aceh. Budaya islam yang ketat antara lelaki dan perempuan, kesenian yang unik seperti tarian jaroe aceh, dan berbagai macam lainnya. Avia mendengarkan dengan antusias, karena ia memang selalu ingin belajar budaya Aceh tersebut. 

Tiba-tiba, ketika mereka sedang asyik berbincang. Suara musik romantis melantun, suasana cafe mendadak dipenuhi oleh cinta. Firman tersenyum melihat Avia yang ada di depannya. Lantas ia mengeluarkan sesuatu di kantongnya, lalu menyodorkan sebuah cincin kepada Avia.

“Avia, aku nggak bakal mengulang, jadi dengarkan baik-baik. Kurasa pertemuan kita memang ditakdirkan. Aku sudah nggak perlu cari orang lain lagi, yang aku mau cuma bareng-bareng sama kamu. Mau nggak menjalani hidup bareng aku?” 

Banyak para pengunjung yang merasa ikut terharu menyaksikan lamaran tersebut. Avia pun sempat tak berkutik beberapa detik mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Hingga akhirnya, ia pun mengangguk penuh haru. 

Hari itu pun tiba, akhirnya Avia mengenakan baju pengantin adat Aceh. Baju kurung berwarna kuning keemasan yang dipadukan dengan songket. Pakaian menambah kemewahan dengan ditambah aksesoris taloe ike pieng (ikat pinggang), simplah (kalung khas Aceh), serta riasan kepala yang menggantung bunga melati. 

Avia pun takjub ketika melihat Firman menggunakan baju pengantin pria. Ketampanan Firman naik seribu kali lipat ketika menggunakan baju dan celana hitam yang dipadukan dengan songket bermotif saluran daun. Tak ketinggalan dengan kupiah meukuetob yang membuat Firman tambah gagah. 

Hari itu adalah hari terspesial di hidup Avia. Kini, ia bisa belajar budaya Aceh bersama suaminya. 

Itulah 5 cerpen yang mengandung unsur budaya, mana yang jadi favoritmu? Semoga dari cerpen-cerpen di atas bisa menambah wawasanmu tentang budaya dan ikut melestarikannya, ya.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Bekerja sebagai buruh tulis dalam bidang pendidikan, penulisan kreatif, dan teknologi

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *