Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel

Novel merupakan karya fiksi yang juga digemari oleh beberapa kalangan. Banyak kalangan yang senang dengan berbagai jenis cerita novel. Ada yang mengisahkan tentang romansa, perjuangan, sejarah, dan tema lainnya. Namun sudah tahukah kamu unsur apa saja yang membangun novel sehingga menjadi karya yang utuh?

Novel mengandung cerita atau karangan, sehingga ia biasa disebut karya fiksi. Dalam karya fiksi tersebut tentunya memiliki unsur yang membangun, yang terdiri dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Berikut ini ialah penjelasan lengkap tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik novel beserta contoh penjelasannya. Baca dan simak sampai habis, ya.

Pengertian Novel

Pengertian Novel
Sumber foto: Mabel Amber dari Pixabay

Novel menurut KBBI diartikan sebagai karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.

Novel cukup berbeda dengan jenis prosa fiksi lain seperti cerpen. Karena novel memiliki alur yang lebih panjang dan kompleks. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang Novel Perempuan di Titik Nol karya El Saadawi untuk membedah unsur intrinsik dan ekstrinsik.

Baca juga: Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen

Sinopsis Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi

Novel yang berkisah tentang hidup seorang perempuan muda di Kairo bernama Firdaus. Firdaus merupakan sosok perempuan yang sangat membenci laki-laki. Karena bukan hanya ia sering disakiti tapi juga karena kultur sosial masyarakat selalu mendewakan laki-laki.

Cerita dimulai ketika ia berada di penjara karena ia ditahan telah membunuh orang. Ia bertemu dengan seorang peneliti yang sedang bertugas. Lalu ia pun bercerita kepada peneliti tersebut bahwa ia yang sedari kecil sudah menjadi sasaran pelecehan oleh pamannya, ia juga seringkali dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki kebebasan untuk bersekolah tinggi. Ia juga kerap kali dibedakan dengan kakak-kakaknya yang lelaki, hanya karena ia seorang perempuan.

Seiring dengan berjalannya waktu, orang tuanya meninggal dan Firdaus tinggal bersama pamannya di Kairo untuk melanjutkan pendidikan. Di sekolah menengah, ia berteman dengan Wafeya yang baik hati. Ketika pamannya sudah menikah, Firdaus dimasukan ke asrama. Setelah Firdaus lulus sekolah pun, istri pamannya menikahkan Firdaus dengan Syekh Mohamad karena istri pamannya tak suka melihat Firdaus.

Nasib malang menimpa Firdaus, ia harus hidup dengan duda tua yang memiliki bisul dan perilaku kasar. Seringkali juga ia disiksa jika membuat kesalahan kecil saja. Sampai akhirnya ia kabur dari rumah Syekh Mohamad. Firdaus sampai di sebuah kedai makanan dan berkenalan dengan Bayoumi.

Awalnya Bayoumi sangat baik kepadanya, karena ditawari tempat tinggal dan dibantu mencari pekerjaan. Namun, pada suatu hari Bayoumi dan teman-temannya datang lalu memerkosa dan menyiksa Firdaus. Hingga ketika ada kesempatan, Firdaus pun kabur dari tempat Bayoumi.

Firdaus kabur dan terus berjalan hingga pagi, ia akhirnya bertemu dengan perempuan bernama Sharifa. Setelah bertemu Sharifa dan tinggal bersamanya, Firdaus diubah menjadi sangat cantik lalu ia disuruh menjadi pelacur dan wajib melayani laki-laki. Hingga suatu hari, Firdaus jatuh cinta kepada Fawzi dan mereka berencana untuk menikah. Namun, Sharifa menolaknya dengan keras bahkan ia beradu mulut.

Firdaus pun kembali melarikan diri dari tempat Sharifa dan berusaha melupakan Fawzi. Dengan bermodalkan ijazah sekolah menengah, ia bekerja di kantor. Namun, selama bekerja di kantor pun ia kerap menerima diskriminasi dan dibandingkan dengan laki-laki. Firdaus kembali jatuh cinta dengan Ibrahim. Namun, lambat laun ketahuan bahwa Ibrahim bertunangan dengan anak direktur. Cinta Firdaus pun kembali pupus dan ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.

Firdaus kembali menjadi pelacur namun pelacur dengan biaya yang mahal. Ia tidak rela tubuhnya dibayar dengan murah seperti dahulu. Hingga datang kepadanya seorang germo yang ingin bekerja sama dengan Firdaus namun ia memaksa dan bahkan mengancam Firdaus. Firdaus sering diganggu olehnya dan suatu hari Firdaus hendak dibunuh. Namun, Firdaus bisa membela diri dan malah Firdaus yang berhasil membunuhnya.

Firdaus pergi dari tempat kejadian dan ia bertemu dengan seorang Pangeran. Pangeran tersebut tertarik dengan Firdaus, bahkan ia membayar mahal untuk bisa bersama Firdaus. Firdaus pun mengatakan bahwa ia habis membunuh seseorang karena ia merasa bahwa Pangeran bisa menutup mulut. Pangeran tersebut pun ketakutan dan justru menelpon polisi. Begitulah Firdaus ditangkap dan mendapatkan vonis hukuman mati.

Unsur Intrinsik Novel ‘Perempuan di Titik Nol’

Unsur Instrinsik novel Perempuan di Titik Nol
Sumber foto: Free-Photos dari Pixabay

Tema

Tema adalah makna yang dikandung sebuah cerita. Tema menjadi gagasan pokok dimana sebuah cerita dapat dikisahkan. Untuk melihat tema dalam sebuah cerita perlu memahami isi cerita tersebut dengan baik. Sehingga, kamu bisa menyimpulkan tema apa yang terdapat di cerita tersebut.

Tema pada pada novel Perempuan di Titik Nol ialah tentang perempuan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat yang patriarki. Perempuan tersebut menjadi pemberani dalam menghadapi hidup dan mengatasi permasalahan hidupnya.

Plot

Alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian. Setiap kejadian memang hanya dihubungkan secara sebab akibat saja, jadi peristiwa yang satu disebabkan atau bisa menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Pemplotan juga biasanya diawali dengan pengenalan, permulaan konflik, klimaks, dan penyelesaian. Alur dibagi menjadi tiga jenis, yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

Alur dalam novel ini ialah berjenis alur mundur. Karena cerita diawali ketika Firdaus sudah berada di penjara, lalu kedatangan peneliti yang ingin mewawancarainya. Klimaks pun terjadi ketika Firdaus menceritakan kisahnya yang memilukan di masa lalu dan bahkan sampai menjadi pelacur.

Ia pun membunuh germo dengan keberaniannya dan ia kini menjadi tahanan. Penyelesaian cerita diakhiri dengan keputusan Firdaus yang tidak mau mengajukan grasi atau keringanan hukuman. Ia justru merasa gembira menyambut hukuman gantung, karena menurutnya itulah cara yang paling tepat untuk menjauh dari laki-laki.

Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah orang yang terdapat di dalam cerita tersebut. Sedangkan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Tokoh dibagi menjadi tokoh utama, tokoh pendukung, dan tokoh figuran. Penokohan membicarakan tentang karakter dari tokoh-tokoh yang terdapat di dalam cerita tersebut.

Tokoh utama dari novel ini tentu saja ialah Firdaus. Ia memiliki karakter yang berani, cantik, dan pintar. Hal tersebut dibuktikan bahwa ia berani kabur dari hal yang merugikannya dan ia juga berhasil membuat keputusan besar dalam hidupnya untuk menjauh dari laki-laki. Firdaus juga memiliki pesona sehingga banyak lelaki yang menginginkannya. Selama sekolah pun ia menjadi sosok yang pintar.

Pelataran

Latar atau setting merupakan pengertian dari tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Latar tempat dalam novel Perempuan di Titik Nol ialah di penjara, tepatnya ialah di kota Kairo, Mesir. Desa tempat Firdaus tinggal pada masa kecilnya pun menjadi latar dalam kisah tersebut. Pada novel tersebut, latar waktu tidak disebutkan dengan jelas, penulis hanya memisahkan antara masa lalu Firdaus dan masa kini Firdaus.

Sudut Pandang

Sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan: Siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Pengertian sudut pandang adalah pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan ceritanya.

Sudut pandang dalam novel Perempuan di Titik Nol menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena yang mengisahkan secara langsung dalam novel tersebut ialah tokoh utama dengan menggunakan ‘aku’ sebagai narator.

Amanat

Amanat ialah pesan yang terdapat di dalam novel tersebut. Kamu dapat menemukan amanat yang bisa dilihat dari teks novel atau justru tersembunyi dari teks novelnya. Karena, terkadang juga penulis tidak menyebutkan secara langsung amanat dari novel yang telah dibuat.

Amanat yang dapat diambil dari novel tersebut ialah bahwa perempuan harus berani dalam mengatasi apapun masalah hidup, walaupun berada di dalam masyarakat yang selalu menyudutkan perempuan.

Baca juga: Contoh Teks Negosiasi

Unsur Ekstrinsik Novel ‘Perempuan di Titik Nol’

Unsur Ekstrinsik Novel Perempuan di Titik Nol
Sumber foto: congerdesign dari Pixabay

Latar Belakang Penulis

Latar belakang penulis berisi tentang biografi penulis, bagaimana latar pendidikan dan lingkungannya, serta bagaimana pandangan yang penulis ungkapkan melalui karya-karyanya yang lain. Berikut ini ialah latar belakang penulis dari novel Perempuan di Titik Nol.

Perempuan di Titik Nol merupakan karya dari penulis feminis Nawal El Saadawi. Saadawi ialah perempuan kelahiran 27 Oktober 1931 berkebangsaan Mesir. Selama ia hidup, ia bukan hanya menjadi penulis, tapi juga dokter dan aktivis feminis.

Buku tersebut pertama kali dicetak pada tahun 1975 dalam bahasa Arab dengan judul Emra’a Enda Noktas el Sifr. Saadawi juga mencetak buku-buku lainnya yang berjudul The Hidden Face of Eve dan Memoirs From The Women’s Prison. Buku-buku yang ia tulis semuanya identik dengan permasalahan perempuan dan masyarakat.

Latar Belakang Masyarakat

Latar belakang masyarakat dapat diartikan sebagai bagaimana keadaan masyarakat ketika novel tersebut dibuat. Misalnya, ketika penulis dekat dengan kehidupan sosial yang masyarakatnya modern, akan berpengaruh terhadap karya penulis tersebut. Berikut ini ialah latar belakang masyarakat dari novel Perempuan di Titik Nol.

Novel Perempuan di Titik Nol adalah kisah nyata ketika Nawal El Saadawi pergi ke salah satu penjara di Mesir dan bertemu dengan tahanan tersebut. Didasari kisah nyata, tentunya kamu pun dapat memahami bukan? Bahwa pada saat itu, di Mesir masyarakatnya masih menyudutkan perempuan dan perempuan tidak memiliki kebebasan.  Sehingga, ia pun membuat novel tersebut.

Nilai-nilai Kehidupan

Nilai-nilai kehidupan adalah nilai-nilai yang ada di masyarakat dan terkandung dalam novel tersebut. Misalnya nilai agama, nilai sosial, dan nilai budaya. Berikut ini ialah nilai-nilai yang terkadung dalam novel Perempuan di Titik Nol.

Nilai agama dalam novel Perempuan di Titik Nol dapat kamu lihat dari bagaimana seharusnya agama memerlakukan perempuan. Apapun agamanya, tentunya mengajarkan untuk selalu berbuat lemah lembut kepada perempuan sehingga perempuan memiliki kebebasan dan merasa aman terhadap apa yang ia lakukan.

Sedangkan nilai sosial yang terdapat pada novel Perempuan di Titik Nol adalah bahwa perempuan masih menjadi golongan kedua di sosial masyarakat. Perempuan masih menjadi golongan terbelakang, yang tidak boleh sekolah tinggi dan tidak bisa melakukan hal yang diinginkan.

Nilai budaya dalam novel tersebut ialah berkisah tentang budaya patriarki yang menyudutkan perempuan haruslah dikurangi. Memang bukanlah hal yang mudah untuk melunturkan budaya tersebut. Namun, selama masih kental dengan budaya patriarki, maka perempuan selalu menjadi sosok yang dirugikan.

Baca juga: Contoh Teks Laporan Percobaan

Begitulah unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung dalam novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. Semoga dapat membantumu belajar dan menentukan unsur ekstrinsik dan intrinsik dalam novel lainnya, ya. Selamat mencoba.


Referensi

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Komentar

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *