Struktur Batin dan Struktur Lahir Puisi

Siapa yang tak menyukai kata-kata yang indah seperti puisi? Puisi dapat menggambarkan isi hati dan jiwa seseorang, lho. Apakah kamu pun senang membaca atau membuat puisi?

Saat membaca atau menulis puisi, tentunya kamu pun harus mengetahui struktur apa saja yang membangun puisi tersebut. Puisi dibangun oleh struktur lahir dan batin. Pada artikel ini akan dijelaskan secara lengkap apa saja struktur lahir dan struktur batin beserta analisis penjelasannya. Baca sampai habis, ya!

Pengertian Puisi

Pengertian Puisi
Sumber foto: Thought Catalog dari Pixabay

Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra. Menurut ahli sastra yaitu Herman J Waluyo, puisi adalah salah satu bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa. Kekuatan bahasa tersebutlah yang menjadi struktur fisik dan struktur batin puisi.

Secara umum, unsur-unsur puisi meliputi tema, nada, rasa, amanat, diksi, imaji, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dikelompokan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin puisi yang meliputi tema, nada, rasa, dan amanat. Sedangkan struktur fisik puisi berupa diksi, imaji, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima.

Baca juga: Contoh Kalimat Tanya

Contoh Puisi

MERAYAKAN KANGEN

Karya: Helvy Tiana Rosa

Menemukanmu (lagi)

Tersemat di dada puisi

 

Pada jarak ribuan kilometer darimu

kukenali aroma pagi

yang senantiasa menumbuhkan niscaya

Lalu apakah arti jarak

bila kau tak pernah pergi

dari hati dan benak?

 

Yang kupandang dan kusentuh

menjelma kau yang tersenyum

di ruang-ruang mimpi

dan kenangan

 

Maka pada akhirnya

aku terpaksa kembali pada puisi

sebagai perayaan kangen berkali-kali

dalam hening paling bening

tentangmu

(Cipayung, 1991)

Struktur Batin dalam Puisi ‘Merayakan Kangen’

Struktur batin dalam puisi merayakan kangen
Sumber foto: Ulrike Mai dari Pixabay

Menurut Waluyo, struktur batin merupakan bentuk dari pikiran atau perasaan yang diungkapkan oleh penyair. Struktur ini ialah wacana teks puisi secara utuh yang mengandung arti atau makna yang hanya dapat dilihat atau dirasakan melalui penghayatan.

Tema

Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Gagasan pokok ini menjadi dasar yang dikembangkan penyair dalam membuat puisi. Ada beberapa tema yang biasanya digunakan dalam puisi, misalnya teman ketuhanan, tema kemanusiaan, tema cinta, tema patriotisme, tema kedaulatan rakyat, atau tema keadilan sosial.

Puisi Merayakan Kangen mengangkat tema tentang rindu. Puisi tersebut mengisahkan tentang seseorang yang merindukan kekasih atau orang yang dirindukan karena terbentang jarak.

Rasa

Rasa merupakan ekspresi penyair dalam puisi. Menurut Tarigan (1984:11), bahwa rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisi.

Rasa dalam puisi Merayakan Kangen ialah mengungkapkan perasaan kasih dan rindu yang teramat sangat.

Nada dan Suasana

Struktur ini berkaitan dengan sikap tertentu yang diinginkan penyair. Nada yang ditampilkan penyair akan menciptakan suasana sebagaimana yang diharapkan oleh penyair. Menurut Tarigan (1984:17), Nada ialah sikap sang penyair terhadap pembacanya atau dengan kata lain sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya.

Nada pada puisi Merayakan Kangen sangat mudah dibaca sehingga menimbulkan nada dan suasana yang membuat pembaca seolah terbawa perasaan. Penyair menuliskan puisi tersebut dengan nada yang sendu, seolah penyair ingin membuat pembaca merasakan kerinduan pula.

Amanat

Amanat ialah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan yang terdapat dalam puisi. Struktur amanat puisi dapat dipahami setelah pembaca memahami tema, rasa, dan nada. Puisi selalu mengandung amanat atau pesan, meskipun penyair tidak secara khusus mencantumkan amanat dalam puisinya.

Amanat dalam puisi Merayakan Kangen ialah bahwa hargai pertemuan dan perjumpaan. Karena, apabila sudah jauh, maka kerinduan akan selalu melanda.

Struktur Lahir (Fisik) dalam Puisi ‘Merayakan Kangen’

Struktur Lahir (Fisik) dalam Puisi 'Merayakan Kangen'
Sumber foto: andreas160578dari Pixabay

Struktur lahir atau fisik bisa dibilang sebagai struktur kebahasaan yang membangun puisi. Jika struktur batin berfokus kepada pengarang, maka struktur lahir/batin berfokus kepada teks yang membangun puisi tersebut.

Diksi (Pemilihan Kata)

Pemilihan kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia. Pemilihan kata harus mempertimbangkan makna, komposisi bunyi dalam rima, kedudukan kata di tengah konteks dengan kata lain, serta kedudukan kata dalam keseluruhan puisi yang diciptakan.

Diksi dalam puisi Merayakan Kangen cukup beragam. Puisi yang bertemakan rindu tersebut menggunakan pemilihan kata seperti ‘kenangan’, ‘jarak’ yang identik dengan kerinduan. Jadi, dapat dikatakan bahwa pemilihan kata dalam puisi tersebut sejalan dengan tema yang diangkat.

Baca juga: Contoh Cerita Nonfiksi

Pengimajian

Pengimajian berkaitan dengan mengungkapkan pengalaman sensorik (penglihatan, pendengaran, dan perasaan) dalam puisi melalui diksi dan kata konkret. Maka dari itu, pengimajian dibedakan menjadi tiga, yaitu imaji auditif, imaji visual, dan imaji cita rasa.

Pengimajian dalam puisi Merayakan Kangen menggunakan berbagai macam pengimajian, misalnya ialah imaji visual atau penglihatan. Penyair seolah menemukan lagi sosok yang dirindukan dan membuat pembaca membayangkan hal tersebut. Hal itu terlihat dari kutipan, ‘menemukanmu (lagi) tersemat di dada puisi’

Bukan hanya itu saja, terdapat pula kutipan ‘yang kupandang dan kusentuh menjelma kau yang tersenyum’, sehingga pembaca dapat membayangkan untuk melihat sosok yang bisa dipandang dan disentuh.

Kata Konkret

Kata konkret menjadi syarat terjadinya pengimajian. Jika si penyair mampu mengkonkretkan kata-kata, maka puisi akan membawa pembaca seolah olah mendengar, melihat dan bahkan merasakan.

Kata konkret dalam puisi Merayakan Kangen ialah kata-kata seperti jarak, pergi, hati, benak, dan kangen. Kata-kata tersebut bermakna sebenarnya yang membuat puisi tersebut mudah dipahami oleh pembaca dan memiliki makna yang menyentuh.

Bahasa Figuratif

Bahasa figuratif berarti penyair menggunakan bahasa yang berususun-susun atau berfigura. Maksudnya ialah bahasa figuratif berkaitan dengan kiasan dan perlambangan dalam puisi. Bahasa figuratif dapat membuat puisi menjadi lebih indah dan mengandung banyak makna.

Bahasa figuratif dalam Merayakan Kangen sangat jelas terlihat pada kutipan ‘menemukanmu (lagi) tersemat di dada puisi’. Kutipan tersebut menggunakan kiasan ‘tersemat di dada puisi’, secara logika, puisi tidak memiliki tubuh atau pun dada. Namun, hal tersebut berarti bahwa sosok yang penyair rindukan selalu berada di dalam puisi-puisi yang ia tulis untuk bernostalgia dengan kenangan.

Versifikasi

Versifikasi berkaitan dengan rima, ritma, dan metrum. Rima adalah pengulangan bunyi untuk membentuk musikalisasi. Ritma berhubungan dengan bunyi, pengulangan bunyi, pengulangan frasa, dan pengulangan kalimat. Sedangkan metrum merupakan ukuran irama yang ditentukan oleh jumlah dan panjang tekanan suku kata. Hanya saja, metrum dalam puisi sulit untuk ditentukan.

Bentuk versifikasi rima dan ritma sangat jelas pada puisi Merayakan Kangen. Hal tersebut terlihat dari pemilihan kata antara ‘jarak’ dan ‘benak’ serta kata ‘pergi’ dan ‘hati’ yang ujungnya memiliki rima yang sama. Contohnya ialah terlihat pada kutipan berikut.

‘Lalu apakah arti jarak

Bila kau tak pernah pergi

dari hati dan benak?’

Tata Wajah (Tipografi)

Tipografi dalam puisi juga merupakan suatu hal yang penting. Hal tersebut karena tipografi dapat membedakan antara puisi dengan prosa dan drama. Tipografi juga menjadi menunjukkan eksistensi puisi.

Tipografi dalam puisi Merayakan Kangen tidak selalu sama dalam setiap baitnya. Pada bait pertama hanya terdiri dari dua baris, bait kedua terdiri dari enam baris, bait ketiga terdiri dari empat baris, dan bait ke empat terdiri dari lima baris.

Penyair juga membuat setiap kalimat tidak selalu utuh dalam satu baris. Misalnya kalimat ‘aku terpaksa kembali pada puisi sebagai perayaan kangen berkali-kali dalam hening paling bening tentangmu’ yang dibuat menjadi empat baris secara terpisah. Hal tersebut menandakan bahwa puisi memiliki kebebasan dalam tipografi.

Baca juga: Contoh Resensi Film Serta Penjelasannya

Begitulah penjelasan puisi yang berisi, pengertian, unsur, struktur, dan contoh analisis yang bisa membuatmu belajar dan memahami puisi lebih dalam. Semoga bermanfaat, ya.


Referensi:

Herman J. Waluyo. 2002. Apresiasi Puisi: Panduan untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *