Psikologi Metakognisi

Hai lagi readers Tambahpinter! Bagaimana nih kabarnya? Mengingat sebagian besar aktivitas, seperti belajar atau bekerja masih dilakukan secara online di rumah, semoga readers tetap produktif ya!

Agar tetap produktif dan juga tidak bosan, kali ini kita akan membahas mengenai metakognisi yang merupakan bagian penting dari psikologi kognitif. Psikologi kognitif sudah dibahas pada artikel sebelumnya ya.

Mendengar kata metakognitif, mungkin beberapa dari readers ada yang asing tetapi beberapa juga mungkin sudah ada yang tahu mengenai pengertian dari metakognitif. Untuk lebih jelasnya lagi, yuk di baca terus ya artikelnya!

Definisi Metakognisi

Sumber: kajianpustaka.com
  • Menurut Flavell (1979) metakognisi adalah pengetahuan atau proses kognitif yang terlibat dalam penilaian, pemantauan, atau pengendalian kognisi.
  • Metakognisi adalah pemahaman dan kendali seseorang terhadap kognisi, kemampuan untuk berpikir dan mengendalikan proses berpikir dan cara meningkatkan pemikiran (Sternberg, 2009).
  • Sementara itu, menurut Solso, Maclin, dan Maclin (2008) metakognisi adalah pemikiran tingkat lanjut yang melibatkan kendali aktif atas proses-proses kognitif.

Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka metakognisi adalah proses kognitif yang melibatkan kemampuan untuk berpikir, menilai, memantau, mengendalikan, serta meningkatkan pemikiran.

Baca juga: Psikologi Kognitif

Komponen Metakognisi

Komponen Metakognisi
Sumber : Gerd Altmann dari Pixabay

Selama jangka waktu kurang lebih 20 tahun, para peneliti telah meneliti metakognisi dan menemukan perbedaan antara kognitif serta metakognisi. Menurut penelitian-penelitian tersebut, kemampuan kognitif adalah hasil dari latihan yang sudah dilakukan individu. Sementara itu, metakognitif adalah pemahaman mengenai prosedur atau cara latihan tersebut.

Umumnya, komponen metakognisi dibedakan menjadi dua, yaitu: ilmu pengetahuan kognisi dan regulasi kognisi (Rinaldi, 2017).

Ilmu Pengetahuan Kognisi

Pengetahuan individu mengenai kemampuan kognitif yang dimiliki maupun pengetahuan kognitif secara umum, dibagi menjadi tiga jenis kesadaran:

  • Deklaratif

Pengetahuan yang digunakan untuk mengetahui sesuatu, seperti ‘apa yang sedang terjadi dilingkungan sekitar?’ atau ‘apa yang menyebabkan seseorang mudah lupa?’ dan juga lainnya.

Dalam pendidikan, pengetahuan deklaratif merupakan pengetahuan yang dapat mengetahui faktor lingkungan atau cara belajar seperti apa yang dapat mempengaruhi individu.

  • Prosedural

Pengetahuan mengenai proses terjadinya sesuatu. Dalam pengetahuan prosedural, kata tanya yang tepat untuk digunakan adalah bagaimana. Misalnya, ‘bagaimana cara kerja otak dalam mengingat sesuatu?’.

Biasanya pengetahuan prosedural akan mempresentasikan segala sesuatu secara praktis dan juga heuristik. Ketika seseorang memiliki pengetahuan prosedural yang tinggi, maka mereka cenderung melakukan pekerjaan dengan menggunakan strategi yang efektif (terjadi secara otomatis). Hal tersebut dapat dilihat dari cara seseorang memotong-motong serta mengkategorikan informasi yang sudah didapatkan.

  • Kondisional

Sementara itu, pengetahuan kondisional adalah pengetahuan kombinasi antara pengetahuan deklaratif dan prosedural, berkaitan dengan efektivitas penggunaan pengetahuan melalui pertanyaan ‘kapan’ dan ‘mengapa’ pengetahuan tersebut harus digunakan.

Pengetahuan kondisional akan digunakan oleh individu untuk mengalokasikan sumber-sumber pengetahuan menjadi lebih selektif dan efektif untuk digunakan. Selain itu, pengetahuan kondisional juga akan membantu individu dalam meningkatkan maupun mengubah pengetahuan tersebut.

Misalnya, seorang pelajar menggunakan pengetahuan akuntansinya ketika sedang menghitung keuntungan sebuah supermarket dalam sebulan.

2. Regulasi Kognitif

Regulasi kognitif adalah serangkaian aktivitas yang akan membantu individu dalam mengendalikan proses pembelajaran yang terjadi.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, regulasi metakognitif dapat meningkatkan cara penggunaan sumber data, strategi yang sudah ada, serta kesadaran dalam memahami atau mempelajari sesuatu.

Pelajar yang menunjukkan kemampuan regulasi metakognitif dapat menggunakan kemampuan tersebut untuk melakukan tindakan yang harus dilakukan walaupun melalui serangkaian instruksi didalam kelas.

Kemampuan regulasi kognitif dibagi lagi menjadi tiga kemampuan inti, yaitu: perencanaan, pemantauan (monitoring), dan evaluasi.

  • Perencanaan

Merupakan serangkaian alokasi sumber data dan pendekatan strategis yang mempengaruhi tindakan. Misalnya, ketika individu ingin menulis suatu cerpen, maka individu membutuhkan perencanaan sebelum menulis cerpen.

Kemampuan perencanaan akan meningkat ketika individu menginjak usia 10 hingga 14 tahun. Sementara itu, pada orang dewasa akan ditemukan kecenderungan untuk menggunakan pengalamannya dalam merancang suatu rencana.

  • Monitoring atau pemantauan

Adalah kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu sebelum pada akhirnya mengambil tindakan.

Berdasarkan penelitian, kemampuan monitoring mengalami peningkatan yang cenderung lambat pada masa kanak-kanak maupun dewasa. Namun, kemampuan monitoring akan meningkat seiring dengan dilakukannya latihan atau proses belajar.

  • Evaluasi

Adalah penilaian mengenai hasil dan tingkat efisiensi dari kemampuan belajar individu.

Penelitian mengatakan bahwa aspek evaluasi berkaitan erat dengan kemampuan perencanaan dan juga kemampuan metakognisi. Misalnya pada saat melakukan revisi tulisan, seorang penulis ahli lebih dapat memperbaiki permasalahan yang ada ditulisannya dengan baik dari sudut pandang pembaca dibandingkan dengan penulis amatir.

Indikator Metakognisi

Indikator metakognisi
Sumber : Anemone123 dari Pixabay

Menurut Lauren (dalam Misu, 2017) indikator digunakan untuk menelusuri tingkatan dari metakognitif seseorang yang dijabarkan dalam empat poin, yaitu :

Tacit use adalah penggunaan pikiran tanpa adanya kesadaran

Dalam indikator perencanaan, tacit use digunakan ketika individu sulit untuk menjelaskan apa yang diketahui dengan jelas. Sementara itu dalam indikator monitoring, tacit use digunakan saat individu tidak menyadari pembelajaran yang sudah dilakukan ataupun adanya kesalahan konsep pada hasil yang didapatkan.

Terakhir, pada indikator penilaian tacit use akan digunakan saat individu bingung dalam melakukan evaluasi, mendapatkan hasil yang kurang jelas atau kurang dipahami dari apa yang telah dipelajari.

Aware use adalah penggunaan pemikiran dengan menggunakan kesadaran

Dalam aware use, indikator perencanaan berfungsi ketika individu mengalami kesulitan mengenai konsep maupun cara yang akan digunakan untuk menjelaskan, umumnya individu hanya dapat menjelaskan sebagian dari apa yang ditulis.

Untuk indikator monitoring, aware use berfungsi saat individu menyadari bahwa terdapat konsep atau pemahaman yang salah, tetapi individu tidak dapat memperbaiki hal tersebut, sehingga pekerjaannya tidak dapat dilanjutkan.

Indikator evaluasi digunakan saat individu melakukan evaluasi dari apa yang sudah dipelajari, tetapi merasa tidak yakin terhadap hasil evaluasi yang diperoleh.

Strategic use adalah penggunaan pemikiran yang sifatnya strategi.

Jika dalam indikator perencanaan, individu menggunakan strategic use saat individu dapat menjelaskan dengan jelas mengenai konsep yang akan digunakan maupun hal-hal yang ditulisnya saat mempelajari sesuatu.

Selanjutnya pada indikator monitoring atau pemantauan, individu menggunakan strategic use saat individu menyadari terdapat kesalahan pada konsep yang telah dipelajari dan dapat memberikan alasan yang mendasari pemikiran tersebut.

Terakhir, untuk indikator penilaian, strategic use digunakan saat individu tidak melakukan evaluasi terhadap hasil belajarnya atau mengalami kebingungan terhadap hasil belajarnya.

Reflective use adalah penggunaan pemikiran yang bersifat reflektif

Pada indikator perencanaan, reflective use digunakan ketika individu dapat mengidentifikasi dengan jelas poin-poin atau yang menjadi masalah inti pada hal-hal yang dipelajarinya dan juga mampu menyelesaikan masalah tersebut.

Sedangkan pada indikator pemantauan atau monitoring, individu menggunakan ini saat menggunakan strategi yang sama untuk masalah yang berbeda dan menyadari bahwa strategi tersebut perlu untuk diperbaiki karena kurang tepat.

Selanjutnya, pada indikator evaluasi atau penilaian adanya reflective use digunakan ketika individu yakin terhadap setiap hasil yang didapatkan.

Baca juga: Psikologi Sosial

Sistem Metakognisi

Sistem Metakognisi
Sumber : Mojca J dari Pixabay

Dalam sistem metakognisi terdapat dua jenis monitoring, yaitu monitoring yang bersifat prospektif (terjadi sebelum dan selama proses akuisisi informasi) dan monitoring yang bersifat retrospektif (terjadi setelah akuisisi informasi).

Menurut Solso, Maclin, dan Maclin (2008) dua jenis monitoring tersebut terbagi lagi ke dalam empat contoh, yaitu :

Ease of learning (Pemudahan pembelajaran)

Termaksud ke dalam contoh dari monitoring prospektif yang cocok untuk pembelajaran terhadap informasi baru, sekaligus proses menentukan aspek informasi yang dianggap paling mudah untuk dipelajari.

Cara yang digunakan para peneliti untuk mempelajari ease of learning adalah dengan meminta para siswa berpartisipasi dalam suatu studi penghafalan. Dalam studi tersebut, para partisipan diminta menunjukkan item-item dalam daftar yang tampaknya lebih mudah dipelajari.

Selanjutnya, para partisipan mendapatkan sejumlah waktu spesifik untuk mempelajari daftar tersebut dalam tahap akuisisi informasi. Setelah periode waktu tertentu (saat informasi dipertahankan dalam memori), para partisipan mendapatkan tugas mengingat atau tugas rekognisi.

Para peneliti kemudian membandingkan ease of learning dengan kinerja memori yang sesungguhnya untuk menentukan seberapa baik pertimbangan kinerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ease of learning mempunyai keakuratan dalam memprediksi hasil belajar.

Judgments of learning (Pertimbangan hasil pembelajaran)

Terjadi selama dan setelah tahap akuisisi memori yang berarti termaksud dalam monitoring prospektif. Para partisipan dalam studi judgments of learning terkadang diminta mempelajari sebauh daftar berisi item-item dan kemudian diminta memperkirakan item-item yang menurut mereka telah dipelajari dengan baik.

Dalam metode lain, para partisipan diminta untuk memberikan judgements of learning setelah suatu periode retensi, persis sesaat sebelum pelaksanaan tes memori. Serupa dengan ease of learning¸ judgements of learning dibandingkan dengan suatu tes memori (yang diberikan belakangan) untuk menentukan keakuratan pertimbangan para partisipan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa judgements of learning menjadi semakin akurat setelah para partisipan melakukan sejumlah uji coba.

Feeling of knowing (Perasaan Mengetahui)

Feeling of knowing dapat bersifat prospektif maupun retrospektif. Umumnya diukur sebagai indikasi seberapa baiknya seorang partisipan berpikir bahwa dirinya sanggup mengenali pilihan jawaban yang tepat dalam tugas berganda yang akan diberikan.

Studi yang mempelajari feeling of knowing biasanya menggunakan tugas recall-judgement-recognition yang didalamnya para partisipan diuji dengan pertanyaan-pertanyaan terkait informasi-informasi umum.

Jika partisipan tidak mampu mengingat jawabannya, partisipan diminta untuk memberikan pertimbangan berupa evaluasi tentang kemungkinan partisipan yang bersangkutan mampu mengenali jawaban ketika jawaban diberikan dalam bentuk pilihan ganda.

Ketika dibandingkan dengan kinerja rekognisi, feeling of knowing secara umum cukup akurat, namun jauh dari prediktor yang sempurna bagi rekognisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa orang-orang mampu memberikan self-report yang akurat mengenai metakognitif mereka

Confidence judgement (Keyakinan terhadap pertimbangan diri)

Confidence judgement bersifat retrospektif karena pertimbangan tersebut dibuat sesudah pengambilan suatu item dari memori. Tergantung jenis informasi yang diingat, confident judgement berhubungan dengan keakuratan pengingatan.

Meski demikian, dalam sejumlah bidang seperti pengidentifikasian pelaku kejahatan oleh saksi mata, hubungan tersebut rendah dan tidak selalu merupakan prediktor yang akurat terhadap kinerja pengidentifikasian.

Hal ini sebagian disebabkan karena orang-orang pada umumnya jarang diminta menjadi saksi mata, sekalipun diminta menjadi saksi mata, pada umumnya informasi-informasi yang diminta hanya sepotong saja. Hal tersebut menimbulkan kesulitan dalam pengevaluasian perbedaan-perbedaan individual dalam jenis respons ini.

Monitoring Metacognitive

Setelah mengetahui contoh dari sistem metakognisi yang mencakup dua jenis monitoring, maka sebenarnya apa sih definisi atau pengertian dari metacognitive monitoring?

Monitoring metakognitif adalah kondisi metakognitif yang terjadi secara alamiah, yaitu keadaan saat seseorang mengalami kesulitan mengambil suatu item dari memori, namun pada saat yang bersamaan orang tersebut menyadari bahwa memori tersebut sangat dekat dalam jangkauan.

Hal ini lazimnya disebut dengan tip of tongue (diujung lidah). Dalam kondisi TOT, seseorang seringkali mampu mengingat potongan-potongan informasi terkait item yang dicari. Dalam kondisi TOT, para peneliti menemukan bahwa jenis-jenis informasi parsial yang sedang diingat berhubungan dengan karakteristik item yang sedang dicari.

Baca juga: Tahap Perkembangan Manusia

Wah, tidak terasa readers sudah sampai pada akhir pembahasan artikel! Bagaimana readers? Jadi sudah dapat menyimpulkan pengertian dari metakognisi kan? Menurut readers, apa hal paling menarik dari metakognisi?


Sumber:

Solso, R. L., Maclin, S. O., & Maclin, M. K. (2008). Psikologi kognitif (edisi ke 8). Jakarta : Penerbit Erlangga

Sternberg, R. (2009). Cognitive psychology (5th edition). United States : Wadsworth Cengage Learning

Kuhn, D. (2000). Theory of mind, metacognition and reasoning : A life-span perspective. UK : Psychology Press.

Flavell, J.H. (1979). Metacognition and metacognitive monitoring: a new area of cognitive-developmental inquiry. American Psychologist, 34, 906-911.

Rinaldi. (2017). Kesadaran metakognitif. Jurnal RAP UNP, 8 (1), 79-87.

Misu, L. (2017). Studi tentang kesadaran berpikir metakognisi mahasiswa semester i jurusan pendidikan matematika fkip uho. Phenomenon, 07(2), 119-128.

Artikel Terbaru

Priskila

Priskila

Priskila Theadora merupakan sarjana psikologi lulusan Universitas Gunadarma. Memiliki prinsip bahwa setiap orang mempunyai alasannya masing-masing untuk menghasilkan sebuah keputusan atau berperilaku. Hobi menulis yang ditekuninya dari sejak kecil ternyata membuat Priskila semakin komunikatif dalam menulis beberapa hal yang sudah dipelajari pada waktu kuliah dan berlanjut hingga sekarang.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *