Psikologi Kognitif: Pengertian, Teori dan Aliran

Hallo, readers Tambah Pinter! Untuk artikel kali ini kita akan membahas mengenai psikologi kognitif ya! Wah, jika sudah membaca kata ‘kognitif’ mungkin ada beberapa readers yang menebak-nebak jika artikel ini akan membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses berpikir atau proses menuangkan pengetahuan selagi ujian.

Nah, tebakan readers tidak ada yang salah tetapi, sebenarnya apasih psikologi kognitif itu dan bagaimana sejarahnya serta apa aja sih ruang lingkupnya dan teori-teorinya? Yuk, kita simak artikelnya!

Definisi Psikologi Kognitif

Definisi psikologi kognitif
Sumber: Gerd Altmann dari Pixabay
  • Psikologi kognitif adalah ilmu yang membahas mengenai persepsi terhadap informasi, pemahaman terhadap informasi, alur pikiran, serta formulasi dan produksi jawaban seseorang (Solso, Maclin, dan Maclin, 2008).
  • Menurut Brown (2006) psikologi kognitif adalah ilmu yang berkaitan dengan persepsi, memori, perhatian, bahasa, dan pemikiran atau pengambilan keputusan.
  • Lebih spesifik, Sternberg (2009) menjelaskan bahwa psikologi kognitif adalah studi tentang bagaimana seseorang memandang, belajar, mengingat, dan berpikir mengenai informasi.
  • Secara umum, psikologi kognitif adalah ilmu yang mempelajari persepsi, proses berpikir, ingatan, perhatian, bahasa, proses belajar, dan pengambilan keputusan.

Baca juga: 7 Macam Teori Pembelajaran Serta Pembahasannya

Sejarah Psikologi Kognitif

Diawali dari rasa penasaran terhadap asal pengetahuan dan bagaimana pengetahuan ditampilkan dalam pikiran menjadi pondasi awal kemunculan psikologi kognitif. Terdapat dua perspektif tentang bagaimana pengetahuan ditampilkan dalam pikiran, yaitu: perspektif empiris dan perspektif nativis.

Perspektif empiris memandang pengetahuan diperoleh dari pengalaman sepanjang hidup, sedangkan perspektif nativis menjelaskan bahwa pengetahuan sudah tersimpan dalam otak manusia sejak lahir. Namun kedua perspektif tersebut tidak dapat dibuktikan secara mutlak, sehingga terus terjadi perdebatan tanpa adanya pihak yang menang.

Memasuki abad ke-19, para psikolog bermunculan dari bidang studi filsafat. Para psikolog tersebut membentuk suatu disiplin ilmu baru yang berdasarkan pada hipotesis (dapat diuji) dan pada data-data empiris, walaupun ilmu baru tersebut bersumber dari filsafat.

Pertengahan abad ke-19, teori-teori representasi pengetahuan terdikotomi menjadi struktur dan proses. Wundt di Jerman dan Tichener (muridnya Wundt) menekankan struktur dari representasi mental melalui penelitian mereka terkait introspeksi, sedangkan Brentano di Austria menekankan tindakan dari representasi mental yang dianggap tidak penting dalam psikologi.

Pada saat yang bersamaan, William James mengevaluasi aliran psikologi baru yang berkembang di Jerman dan dibawa ke Amerika oleh murid-muridnya Wundt. James juga mendirikan laboratorium psikologi pertama di Universitas Harvard, menulis karya ilmiah psikologi yang berjudul principles of psychology pada tahun 1890, dan mengembangkan teori model pikiran yang ilmiah.

James menganggap psikologi sebagai ilmu yang mempelajari pengalaman manusia terhadap objek eksternal. Hal tersebut menghubungkan James dengan psikologi kognitif modern, yaitu pandangan mengenai memori yang membahas tentang struktur dan proses.

Pada awal abad ke-20, lahirnya behaviorisme membawa psikologi kepada konsep yang radikal. Para behavioris memandang psikologi manusia dan binatang semata-mata hanya psikologi stimulus-respons atau dengan kata lain, mereka mengurangi pengaruh pengalaman.

Tahun 1932, beberapa tahun sebelum revolusi kognitif dalam psikologi terdapat peristiwa penting yang menjadi masalah untuk para behavoris. Diawali dengan eksperimen yang dilakukan oleh Tolman terhadap tikus yang ditempatkan dalam suatu labirin.

Dalam hal ini, tikus tersebut dapat menemukan berbagai jalan alternatif untuk mengambil makanan, yang disebut dengan peta kognitif: suatu gambaran mengenai lingkungan untuk menemukan sasaran.

Dilanjutkan dengan tulisan berjudul Remembering oleh Sir Frederick Bartlett dari Universitas Cambridge sebagai tanda penolakan terhadap pandangan populer pada masa itu bahwa memori dan kelupaan dapat dipelajari melalui suku-suku kata tak bermakna, sebagaimana diajarkan oleh Ebbinghaus pada abad sebelumnya.

Eksperimen Tolman dengan binatang dan eskperimen Barlett dengan manusia menunjukan bahwa informasi dari panca indera disimpan sebagai representasi abstrak. Ide ini bertentangan dengan pandangan behavioris yang berpusat dengan perilaku yang dapat diamati pada hewan dan manusia.

Tahun 1950-an, studi terhadap proses kognitif kembali diminati. Pada tahun ini terbentuk generasi baru ilmu psikologi dan jurnal-jurnal baru ketika para psikolog menyelidiki proses kognitif secara mendalam.

Pada tahun 1960-an kemunculan ilmu psikologi kognitif diwakili oleh Ulrich Neisser yang pertama kali menulis buku teks psikologi kognitif. Tulisan tersebut menyatukan beragam topik, seperti cara memperoleh pengetahuan, menyimpan pengetahuan, mengubah pengetahuan, menggunakan pengetahuan, hingga bagaimana pengetahuan direpresentasikan ke dalam pikiran (Solso, Maclin, dan Maclin, 2008).

Teori Psikologi Kognitif

Teori-Teori Perseptual

Dalam mempelajari persepsi, para psikologi mengembangkan dua teori utama mengenai cara manusia dalam memahami dunia. Teori tersebut adalah teori persepsi konstruktif dan teori persepsi langsung.

Singkatnya, teori persepsi konstruktif menjelaskan bahwa manusia melakukan konstruksi persepsi secara aktif dengan memilih stimulus atau rangsangan dan menggabungkan sensasi tersebut dengan memori. Dalam teori persepsi konstruktif persepsi adalah efek kombinasi dari informasi yang diterima sistem sensorik dan pengetahuan yang dipelajari tentang dunia yang didapatkan dari pengalaman.

Misalnya, ketika kamu melihat seseorang mendatangi kamu dari kejauhan, kamu mengenali orang tersebut karena ciri-ciri fisik seperti hidung, mata, rambut, dan sebagainya yang ditangkap oleh mata dan karena kamu memiliki pengetahuan bahwa orang tersebut memang berada pada waktu tersebut dan ditempat tersebut. Kamu bahkan tetap dapat mengenali orang tersebut meskipun orang tersebut menggunakan kacamata atau mengubah gaya rambutnya.

Sementara itu, teori persepsi langsung menjelaskan bahwa persepsi terbentuk dari perolehan informasi secara langsung dari lingkungan. Teori ini menyatakan bahwa informasi dalam stimulus merupakan elemen penting dalam persepsi dan bahwa pembelajaran serta kognisi tidaklah penting dalam persepsi, karena lingkungan telah memiliki cukup informasi yang dapat digunakan untuk melakukan interpretasi.

Kedua teori tersebut menjelaskan persepsi dengan baik, namun memiliki tahap-tahap proses yang berbeda. Untuk teori persepsi langsung pemahaman mengenai persepsi didasarkan karena dua alasan, yaitu pentingnya stimuli sensorik, pemrosesan stimuli berlangsung secara sederhana dan langsung, dan bahwa kognisi serta persepsi adalah fenomena yang alamiah dan ekologis.

Persepsi langsung membantu kita memahami beberapa persepsi awal terhadap kesan-kesan sensorik, sementara teori persepsi konstruktif berguna dalam pemahaman kita tentang bagaimana kesan-kesan sensorik dipahami oleh otak (Solso, Maclin, dan Maclin, 2008).

Teori Perhatian Selektif dan Terbagi

Sumber: quarkandlepton.wordpress.com

Paradigma Dasar Perhatian Selektif

Pada tahun 1953, seorang peneliti bernama Colin Cherry melakukan eksperimen naturalistik yang bernama pembayangan atau shadowing. Eksperimen tersebut dilakukan pada pesta koktail di Thailand.

Dalam shadowing, individu akan mendengarkan dua pesan berbeda dan mengatakan pesan tersebut setelah mendengar pesan, dengan kata lain individu harus mengikuti satu pesan dan mengabaikan pesan yang lain.

Cherry menggunakan presentasi binaural untuk beberapa peserta, yaitu menyajikan dua pesan yang berbeda atau terkadang hanya satu pesan ke dua telinga secara bersamaan. Sementara itu, peserta yang lain menggunakan presentasi dikotik, dimana terdapat dua pesan yang berbeda untuk disampaikan ke telinga masing-masing.

Pada kelompok presentasi binaural, peserta merasa sangat tidak mungkin untuk melacak hanya satu pesan selama presentasi binaural berlangsung. Untuk itu, proses shadowing pada presentasi binaural kurang efektif.

Hasilnya jauh lebih efektif untuk melakukan shadowing dalam kelompok dikotik. Dalam tugas tersebut, peserta kelompok dikotik dapat lebih membayangkan pesan dengan cukup akurat. Dalam prosesnya, peserta dikotik juga dapat melihat perubahan fisik dan sensorik dalam pesan, misalnya ketika nada pesan berubah atau suara pesan berubah dari pembicara pria ke wanita.

Namun, mereka tidak melihat adanya perubahan semantik (makna) dalam pesan. Mereka gagal menyadari ketika pesan dialihkan ke bahasa Inggris atau Jerman, atau ketika pesan tersebut diputar mundur.

Selanjutnya, sekitar sepertiga orang dalam situasi ini akan mengalihkan perhatian mereka ketika mendengar nama mereka dipanggil. Hal ini berarti saat mendengar nama dipanggil maka menandakan terdapat kecenderungan keterbatasan pada memori kerja.

Terdapat tiga faktor yang akan membantu seseorang dalam melakukan perhatian selektif. Pertama adalah karakteristik sensorik yang khas dari ucapan target. Misalnya, karakteristik tersebut adalah nada tinggi dengan nada rendah, tempo, dan ritme. Kedua adalah intensitas suara (kenyaringan) dan yang ketiga adalah sumber lokasi suara.

Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Alat Ukur Psikologi

Teori Perhatian Selektif

Dalam proses perhatian selektif, terdapat teori yang menyatakan bahwa perhatian selektif didapatkan dengan menggunakan filter / penyaringan dan teori yang menyatakan bahwa perhatian selektif tidak menggunakan filter / penyaringan.

  • Model Broadbent

Teori Broadbent adalah teori pertama mengenai perhatian. Teori ini biasa disebut dengan model penyaringan. Adanya suatu penyaringan informasi yang dicapai setelah melalui tingkat sensorik tertentu. Setelah itu, informasi tersebut akan diproses ke dalam sistem persepsi dengan demikian terdapat makna pada setiap sensasi yang dirasakan individu.

Sebagai contoh, terdapat perbedaan nada atau kenyaringan yang didengar oleh individu. Untuk mencapai sistem atensi / sistem perhatian, terdapat tingkat sensorik yang harus dicapai terlebih dahulu supaya dapat diproses ke sistem persepsi. Namun, untuk nada-nada lain yang sampai hanya di tingkat sensorik, maka tidak pernah melewati filter perhatian untuk mencapai tingkat persepsi.

Teori Broadbent juga didukung oleh eksperimen yang dilakukan oleh Colin Cherry bahwa informasi sensorik dapat ditangkap oleh telinga tanpa harus diawasi. Misalnya, seseorang dapat membedakan suara yang didengar tersebut suara wanita atau pria.

Namun, informasi tersebut tetap membutuhkan proses persepsi yang lebih tinggi dan didengarkan dengan baik oleh telinga. Misalnya, kata-kata dalam Bahasa Jerman dengan kata-kata dalam bahasa Inggris atau kata-kata yang dimainkan dengan pengulangan mundur, bukan maju (Sternberg, 2009).

  • Model Selektif Murray

Tidak lama setelah teori Broadbent, terdapat bukti yang mulai menunjukkan bahwa teori tersebut salah. Pertama, terdapat penemuan yang menunjukkan bahwa ketika peserta mengabaikan sebagian besar aspek tingkat tinggi lainnya (misalnya: semantik, yaitu proses pemaknaan) dari pesan yang didengar tanpa disimak dengan baik, maka peserta masih dapat mendengar nama mereka.

Berdasarkan teori Murray, pesan yang kuat dan sangat menonjol dapat menembus sistem penyaringan perhatian selektif, tetapi pesan yang lain mungkin tidak. Untuk memodifikasi metafora Broadbent, dapat dikatakan bahwa menurut Murray, filter perhatian selektif akan memblokir sebagian besar informasi ditingkat sensorik. Tetapi, beberapa pesan yang sangat menonjol atau secara pribadi penting akan tetap dapat masuk ke sistem filter perhatian selektif (Sternberg, 2009).

  • Model Atenuasi Treisman

Saat seorang peserta membayangi (shadowing) pesan yang koheren pada satu telinga dan mengabaikan pesan di telinga lainnya menjadi sesuatu yang menarik.

Jika telinga yang digunakan untuk menyimak pesan tiba-tiba dialihkan ke telinga yang tidak digunakan untuk menyimak, maka peserta akan mengambil beberapa kata pertama dari pesan lama di telinga yang tidak digunakan untuk menyimak. Penemuan ini menunjukkan bahwa konteks secara singkat akan mengarahkan peserta untuk membayangi pesan yang harus diabaikan.

Selain itu, jika terdapat pesan yang tidak sengaja didengar identik dengan pesan yang dengan sengaja disimak, maka semua peserta akan memperhatikan pesan tersebut. Peserta bahkan menyadari jika pesan tersebut memiliki sedikit perbedaan dalam waktu penyampaian.

Peserta biasanya mengenali dua pesan yang sama ketika pesan shadowing mencapai 4,5 detik lebih cepat dibandingkan pesan yang tidak sengaja didengar. Selain itu, peserta juga akan mengenali jika pesan tertinggal 1,5 detik dari pesan yang tidak sengaja didengar.

Treisman juga mengamati peserta bilingual. Beberapa dari mereka memperhatikan identitas pesan jika pesan tanpa pengawasan adalah versi terjemahan dari pesan yang didengarkan dengan pengawasan.

Modifikasi Muray terhadap mekanisme penyaringan Broadbent jelas tidak cukup untuk menjelaskan teori Treisman. Penemuannya menunjukkan kepada Treisman bahwa setidaknya beberapa informasi tentang sinyal tanpa pengawasan sedang dianalisis.

Treisman juga menafsirkan temuan Murray sebagai indikasi bahwa beberapa pemrosesan informasi tingkat tinggi yang sampai ke telinga yang tidak dijaga pasti sedang berlangsung. Jika tidak, peserta tidak akan mengenali suara yang dikenal untuk menyadari bahwa suara itu menonjol. Artinya, informasi yang masuk tidak dapat disaring pada tingkat sensasi. Jika ya, kita tidak akan pernah melihat pesan tersebut untuk mengenali arti pentingnya.

Berdasarkan temuan tersebut, Treisman mengajukan teori perhatian selektif. Ini melibatkan jenis mekanisme penyaringan yang berbeda. Ingatlah bahwa dalam teori Broadbent, filter bertindak untuk memblokir rangsangan selain rangsangan yang menjadi target.

Dalam teori Treisman, bagaimanapun, mekanisme tersebut hanya untuk melemahkan kekuatan rangsangan, jika rangsangan tersebut bukan rangsangan target. Untuk rangsangan yang sangat kuat, efek atenuasi tidak cukup besar untuk mencegah rangsangan dalam menembus mekanisme pelemahan sinyal.

Menurut Treisman, perhatian selektif melibatkan tiga tahap. Pada tahap pertama, secara intensif menganalisis sifat fisik suatu stimulus. Contohnya adalah kenyaringan (intensitas suara) dan nada (terkait dengan “frekuensi” gelombang suara).

Proses pra-perhatian ini dilakukan secara paralel (bersamaan) untuk semua rangsangan sensorik yang masuk. Untuk rangsangan yang menjadi target, maka sinyalnya akan diteruskan ke tahap berikutnya. Untuk rangsangan yang tidak menunjukkan sifat-sifat target, maka rangsangannya akan menjadi lemah.

Pada tahap kedua, menganalisis pola dari stimulus, seperti ucapan atau musik. Untuk rangsangan yang menunjukkan pola target, maka sinyal akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Sebaliknya, rangsangan yang tidak menunjukkan pola target akan menjadi lemah.

Pada tahap ketiga, memusatkan perhatian pada rangsangan yang berhasil mencapai tahap penyaringan akan dievaluasi secara berurutan untuk mendapatkan arti yang tepat untuk stimulus atau rangsangan yang dipilih (Sternberg, 2009).

Perhatian Terbagi

Dalam deteksi sinyal dan perhatian selektif, sistem perhatian harus mengoordinasikan pencarian untuk keberadaan banyak fitur secara bersamaan. Ini adalah tugas yang relatif sederhana, jika tidak mudah. Namun, kadang-kadang, sistem perhatian harus melakukan dua atau lebih tugas terpisah pada waktu yang bersamaan.

Pekerjaan awal di bidang ini dilakukan oleh Ulric Neisser dan Robert Becklen (1975). Mereka meminta peserta melihat rekaman video yang di dalamnya ditampilkan dari satu aktivitas ditumpangkan pada tampilan aktivitas lain.

Kegiatan pertama adalah permainan bola basket tiga orang; kedua, dua orang memainkan permainan menampar tangan. Awalnya, tugasnya hanya mengawasi satu aktivitas dan mengabaikan aktivitas lainnya. Peserta menekan tombol setiap kali peristiwa penting terjadi dalam aktivitas yang dihadiri. Pada dasarnya, tugas pertama ini hanya membutuhkan perhatian selektif.

Namun, kedua peneliti kemudian meminta peserta untuk menghadiri kedua kegiatan tersebut secara bersamaan. Mereka harus memberi sinyal peristiwa penting di masing-masing dari dua kegiatan.

Bahkan ketika peneliti mempresentasikan dua aktivitas secara dichoptical (yaitu tidak dalam satu bidang visual, melainkan dengan satu aktivitas yang diamati oleh satu mata dan aktivitas lainnya diamati oleh mata yang lain), peserta mengalami kesulitan besar untuk melakukan kedua tugas tersebut secara bersamaan.

Neisser dan Becklen berhipotesis bahwa peningkatan kinerja pada akhirnya akan terjadi sebagai hasil dari latihan. Mereka juga berhipotesis bahwa pelaksanaan beberapa tugas didasarkan pada keterampilan yang dihasilkan dari latihan. Mereka percaya itu tidak didasarkan pada mekanisme kognitif khusus (Sternberg, 2009).

Baca juga: Psikologi Perkembangan: Manusia dan Tahapan Perkembangan

Ruang Lingkup Psikologi Kognitif

Sumber: Kompasiana.com

Menurut Solso, Maclin, dan Maclin (2008) ruang lingkup psikologi kognitif mencakup neurosains kognitif, sensasi, persepsi, pengenalan pola, atensi, kesadaran, memori, representasi pengetahuan, pencitraan, bahasa, perkembangan kognitif, berpikir dan formasi konsep, serta kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan.

Berikut ini adalah penjelasan dari ruang lingkup psikologi kognitif, antara lain:

  1. Neurosains kognitif: Berfokus pada fungsi-fungsi otak yang mendasari pembentukan pengalaman kognitif.
  2. Sensasi: Pendeteksian suatu rangsangan, studi yang umumnya membahas struktur mekanisme-mekanisme sensorik dan stimuli yang mempengaruhi mekanisme-mekanisme tersebut.
  3. Persepsi: Cabang psikologi yang membahas interpretasi stimuli sensorik.
  4. Pengenalan pola: Sebuah interaksi rumit yang melibatkan sensasi, persepsi, memori, dan pencarian kognitif dengan tujuan mengenal pola tersebut.
  5. Atensi: Pemusatan upaya mental dalam memilih peristiwa-peristiwa sensorik atau peristiwa-peristiwa mental yang juga merupakan bagian dari kesiagaan.
  6. Kesadaran: Kesiagaan seseorang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya (seperti pemandangan dan suara-suara dari lingkungan sekitarnya) serta peristiwa-peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan, dan sensasi-sensasi fisik.
  7. Memori: Tempat penyimpanan informasi untuk jangka pendek (short term memory) atau untuk jangka panjang (long term memory) hingga tempat mengubah, mengkombinasikan, dan memperbarui informasi baru dan lama (working memory).
  8. Representasi pengetahuan: Sejauh mana pengetahuan disimpan dengan memadai dan dapat diambil dari memori.
  9. Pencitraan / Pembayangan: Representasi mental seseorang terhadap peristiwa atau benda yang tidak ada dihadapannya.
  10. Bahasa: Suatu sistem komunikasi yang mengirimkan pikiran-pikiran dengan perantaraan suara atau simbol (kata-kata tertulis atau isyarat-isyarat fisik).
  11. Perkembangan kognitif: Awalnya, psikologi kognitif adalah ilmu mengenai cara mendapatkan pengetahuan hingga cara kerja pengetahuan di dalam pikiran. Namun, sekarang psikologi kognitif mencakup seluruh proses psikologis dari sensasi ke persepsi, pengenalan pola, atensi, kesadaran, belajar, memori, formasi konsep, berpikir, imajinasi, bahasa, kecerdasan, emosi, dan perubahan mengenai hal-hal tersebut di sepanjang kehidupan.
  1. Berpikir dan formasi konsep: Berpikir adalah proses pembentukan representasi mental baru dengan cara transformasi antara informasi yang mencakup pertimbangan, pengabstrakan, penalaran, penggambaran, pemecah masalah logis, pembentukan konsep, kreativitas, serta kecerdasan. Sementara itu, formasi / pembentukan konsep berhubungan dengan pengasahan sifat-sifat yang sesuai dengan kelas objek atau ide.
  1. Kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan: Untuk memiliki kemampuan seperti intelegensi / kecerdasan manusia, kecerdasan buatan (artificial intellegence) membutuhkan lima kemampuan, yaitu: kemampuan untuk mengklasifikasikan pola, memodifikasi perilaku secara adaptif, berpikir secara deduktif, berpikir secara induktif (generalisasi), dan kemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan model konseptual.

Aliran Psikologi Kognitif dalam Pembelajaran

Terdapat beberapa aliran kognitif-konstruktivis yang dapat digunakan dalam pembelajaran, yaitu (Ekawati, 2019):

  1. Teori Perkembangan Mental dari Piaget

Melalui proses perkembangan mental, Piaget menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan yang tidak dapat diloncati atau dilewati. Tahapan-tahapan tersebut adalah: sensori, pre-operasional, konkret operasional, dan formal operational. Keempat tahap ini secara detail sudah pernah dibahas dalam artikel psikologi perkembangan ya, readers!

  1. Teori Pemahaman Konsep Belajar dari Bruner

Dalam teori pemahaman konsep belajar, Bruner menggunakan istilah discovery learning yang artinya adalah pengorganisasian dari hal-hal yang sudah dipelajari.

Menurut Bruner, belajar adalah cara-cara bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif. Cara belajar dapat dikatakan baik, jika individu dapat memahami arti, konsep, hingga hubungan antar hal-hal yang dipelajari, dan mendapatkan kesimpulan.

Dalam prosesnya, mata pelajaran yang akan dipelajari oleh individu akan diberikan sesuai dengan tingkat perkembangan individu. Individu pada awalnya akan diberikan metode yang bermakna untuk memahami mata pelajaran dan akan semakin meningkat ke metode yang abstrak.

  1. Teori Bermakna dari Ausubel

Ausubel berpendapat bahwa belajar merupakan asimilasi yang bermakna untuk peserta didik. Materi yang sudah dipelajari akan diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki dalam bentuk struktur kognitif. Nantinya, pengetahuan tersebut akan diorganisasikan ke dalam ingatan individu dalam suatu hirarki, mengurutkan materi pelajaran dari materi yang umum ke materi yang khusus. Dengan cara ini, maka proses belajar akan lebih bermakna bagi individu.

  1. Teori Medan dari Kurt Lewin

Lewin berpendapat bahwa perilaku seseorang berkaitan erat dengan lingkungan tempat perilaku tersebut ditampilkan. Lingkungan memegang peranan penting yang akan mempengaruhi perilaku individu. Misalnya, seorang anak dapat berperilaku agresif karena anak tersebut berada di lingkungan yang agresif.

Jika dikaitkan dengan proses belajar, maka teori medan menjelaskan jika motivasi belajar seseorang akan cenderung meningkat jika berada dengan lingkungan yang mendukung untuk belajar.

  1. Teori Konstruktivisme Sosial dari Lev Vigotsky

Sebelumnya, teori ini juga sudah pernah dibahas dalam artikel psikologi perkembangan ya, readers! Namun untuk lebih jelasnya kita akan membahasnya lagi.

Belajar adalah bentuk interaksi yang dilakukan oleh individu dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Untuk itu, proses belajar pada teori ini tidak hanya ditentukan oleh lingkungan sosial saja, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan fisik.

Melalui interaksi sosial, individu memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya dengan maksimal. Proses belajar dari Vygotsky ini bersifat kooperatif dan dapat dengan mudah diterapkan.

Baca juga: Psikologi Sosial: Manusia dan Lingkungan Sosial

Bagaimana readers? Setelah membaca artikel ini apakah readers sudah mendapatkan kesimpulan dengan lengkap apa itu psikologi kognitif? Semoga artikel ini dapat melengkapi pengetahuan readers Tambah Pinter ya!


Sumber :

Solso, R. L., Maclin, S. O., & Maclin, M. K. (2008). Psikologi kognitif (edisi ke 8). Jakarta : Penerbit Erlangga

Sternberg, R. (2009). Cognitive psychology (5th edition). United States : Wadsworth Cengage Learning

Brown, C. (2007). Cognitive psychology. London : Sage Publications

 

Artikel Terbaru

Priskila

Priskila

Priskila Theadora merupakan sarjana psikologi lulusan Universitas Gunadarma. Memiliki prinsip bahwa setiap orang mempunyai alasannya masing-masing untuk menghasilkan sebuah keputusan atau berperilaku. Hobi menulis yang ditekuninya dari sejak kecil ternyata membuat Priskila semakin komunikatif dalam menulis beberapa hal yang sudah dipelajari pada waktu kuliah dan berlanjut hingga sekarang.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *