15 Peninggalan Kerajaan Demak Serta Penjelasannya

Indonesia terkenal dengan banyaknya kerajaan yang pernah berdiri pada masanya. Bisakah kamu menyebutkan kerajaan apa saja yang pernah ada di Indonesia?

Masuknya sistem kerajaan ini dibawa dengan datangnya kepercayaan lain, seperti Hindu-Buddha dan kemudian Islam. Dengan masuknya Islam, maka pengaruh Hindu-Buddha menjadi semakin lemah dan kerajaan Islam semakin berkembang. Salah satu Kerajaan Islam yang terkenal ialah Kerajaan Demak. Hal itu dikarenakan masih adanya peninggalan kerajaan yang masih bisa ada hingga sekarang. Dengan ditemukannya peninggalan Kerajaan Demak, bisa diketahui bahwa kerajaan tersebut merupakan salah satu kerajaan Islam yang besar pada masanya.

Nah, untuk mengetahui apa saja peninggalan Kerajaan Demak, yuk simak materi berikut ini ya!

Peninggalan Kerajaan Demak

Sebelum membahas mengenai peninggalan Kerajaan Demak, akan lebih baik kalau mengetahui terlebih dahulu sekilas tentang Kerajaan Demak. Apakah kamu masih ingat sejarah Kerajaan Demak?

Kerajaan Demak diperkirakan berdiri pada tahun 1500, yang menandai masuknya Islam ke Jawa. Munculnya kerajaan Demak ini juga didukung dengan melemahnya Kerajaan Majapahit akibat pemberontakan dan perang perebutan tahta dalam keluarga kerajaan (Poesponegoro & Notosusanto, 1984).

Baca juga: Kerajaan Islam di Jawa Serta Penjelasannya

Sebagai raja pertama yaitu Raden Fatah dengan gelarnya Sultan Alam Akbar Al-Fatah (Kemdikbud, 2017:203). Raden Fatah ini merupakan salah satu santri didikan para wali yang dipersiapkan menjadi pemimpin Kerajaan Islam. Hal tersebut merupakan salah satu strategi politik yang digunakan untuk memperluas dan mempertahankan ajaran para wali.

Kerajaan Demak mencapai kejayaannya dalam waktu yang cukup singkat, bahkan daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur mengakui kedaulatannya. Hal itu juga tidak lepas dari jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, sehingga perdagangan beralih ke pelabuhan-pelabuhan Kerajaan Demak.

Setelah Raden Fatah wafat, maka tahta dipegang oleh Pati Unus yang terkenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor kemudian Pangeran Trenggono. Hingga kemudian saat Pangeran Trenggono wafat mulai muncul perpecahan dengan terjadinya perebutan kekuasaan. Kekuasaan selanjutnya akhirnya dipegang oleh Arya Penangsang, yang dikenal kejam. Hal itu menyebabkan terjadinya perlawanan dari banyak pihak. Hingga akhirnya Arya Penangsang berhasil dikalahkan oleh Jaka Tingkir dan memindahkan keraton Demak ke Pajang pada tahun 1568 (Soekmono, 1973:54).

Setelah berakhirnya kekuasan Demak, maka yang tersisa adalah bukti–bukti peninggalannya yang masih ada hingga saat ini, antara lain:

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak
Sumber: pariwisata.demakkab.go.id

peninggalan Kerajaan Demak yang masih dapat kamu temui salah satunya adalah masjid Agung Demak. Masjid ini merupakan masjid tertua yang ada di Jawa dan didirikan oleh Wali Songo. Menurut Babad Demak diketahui bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1477 M. Pada abad ke 15, masjid Demak disebutkan pernah menjadi pusat pembelajaran dan syiar para ulama. Terletak di pusat Kota Demak yang menghadap alun-alun, masjid ini menjadi salah satu daya tarik Kota Demak hingga saat ini sebagai tempat ibadah dan ziarah.

Arsitektur bangunan ini sangat kental dengan budaya Jawa. Sebagian besar ornamen yang ada menggunakan bahan dasar kayu dengan ukiran. Serambi masjid ini dibuat terbuka dan ditopang oleh 128 soko, yang 4 diantaranya ialah soko guru sebagai penyangga utama. Disebutkan bahwa salah satu dari 4 soko guru atau tiang utama berasal dari serpihan kayu yang kemudian disebut dengan saka tatal.

Atap masjid berbentuk limas dengan 8 tiang penopang yang disebut dengan saka majapahit. Dalam masjid juga terdapat beberapa makam raja dari kesultanan Demak. Selain itu juga terdapat Museum Masjid yang berisi sejarah mengenai Masjid Agung Demak.

Soko Majapahit

Merupakan tiang penyangga dengan jumlah 8 buah yang terletak di serambi masjid. Diketahui merupakan hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi yang diberikan pada Raden Fatah ketika masih menjadi Adipati di Glagawangi Bintoro Demak pada tahun 1475.

Situs Kolam Wudhu

Kolam Wudhu Masjid Agung Demak
Sumber: dindikbud.demakkab.go.id

Kolam wudhu ini letaknya ada didepan masjid dengan luas sekitar 75 meter, dengan kedalaman 3 meter. Namun pada saat ini sudah tidak difungsikan lagi. Situs ini dibangun bersamaan dengan dibangunnya masjid Agung Demak.

Makam

Makam Masjid Agung Demak
Sumber: dindikbud.demakkab.go.id

Makan yang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Demak ini tak terpisahkan dari Wali Songo dan peninggalan kesultanan Bintoro. Di makam ini disemayamkan jasad para leluhur Islam sejak abad ke 15 di Demak, seperti Raden Fatah, Raden Patiunus, Sultan Trenggono, Pangeran Sekar Sedo Ing Lepen, dan tokoh-tokoh lainnya.

Pawestren

Merupakan bangunan khusus untuk sholat jama’ah wanita. Bangunan ini ditopang oleh 8 tiang penyangga yang 4 diantaranya memiliki ukiran hias Majapahit. Pembangunannya menggunakan kayu jati dengan bentuk atap limas dan genteng dari kayu/sirap.

Surya Majapahit

Merupakan gambar hiasan bersegi delapan, yang dianggap sebagai lambang Kerajaan Majapahit ini ditemukan ada dalam masjid Agung Demak. Hal itu mungkin terjadi karena adanya darah keturunan Majapahit dari Raden Fatah. Surya Majapahit di masjid ini diperkirakan dibuat pada tahun 1479 M.

Maksurah

Merupakan artefak dengan ukiran tulisan arab yang memiliki nilai estetika, dan mendominasi dalam ruangan masjid. Dalam prasasti tersebut disebutkan angka 1278 H atau 1866 M. Diketahui pada masa itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.

Pintu Bledeg

Pintu Bledeg Masji Agung Demak
Sumber: dindikbud.demakkab.go.id

Merupakan pintu yang dibuat oleh Ki Ageng Selo pada zaman wali, yang dipercaya memiliki kemampuan untuk menangkap petir. Sehingga pintu ini dipercaya dapat menangkal petir dan diberi nama “Pintu Bledeg”. Peninggalan ini adalah Condro Sengkolo yang bunyinya Nogo Mulat Saliro Wani bermakna tahun 1466 M. Diperkirakan sebagai tanda peletakan batu pertama dari pembangunan masjid.

Mihrab

Merupakan tempat pengimaman dengan hiasan gambar bulus yang diartikan sebagai candra sengkala yang berbunyi “Sariro Kiblating Gusti” bermakna tahun 1479 M.

Dampar Kencana

Dampar Kencana mAsjid Agung Demak
Sumber: pariwisata.demakkab.go.id

Merupakan benda arkeologi peninggalan Majapahit pada bada ke 15 sebagai hadiah untuk Raden Fatah dari Prabu Brawijaya V. Dampar Kencana ini terletak di mihrab sebelah kanan yang digunakan untuk khotbah.

Soko Tatal/Soko Guru

Soko Guru Masjid Agung Demak
Sumber: dindikbud.demakkab.go.id

Merupakan 4 tiang penyangga utama yang bersusun tiga, dengan tinggi masing-masing 1630cm. Masing-masing tiang didirikan oleh Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, dan Sunan Kalijaga. Pada tiang buatan Sunan Kalijaga disebut sebagai soko tatal.

Piring Campa

Merupakan peninggalan yang dibawa oleh putri Campa dengan jumlah 65 buah. Sebagian besar piring tersebut dipasang pada dinding masjid dan sebagian dipasang di tempat imam.

Bedhug dan Kentongan

Pada masanya kedua alat ini digunakan untuk memanggil masyarakat sekitar untuk datang melaksanakan sholat di Masjid Agung Demak. Kentongan ini memiliki bentuk mirip tapal kuda dengan filosofi jika kentongan dipukul maka masyarakat sekitar diperkenankan segera datang secepat naik kuda.

Menara Masjid

Menara Masjid Agung Demak
Sumber: dindikbud.demakkab.go.id

Dibangun menggunakan kontruksi baja sebagai pengaruh modernisasi era abad ke 20. Diprakarsasi oleh para ulama’ seperti K.H. Abdoerrahman, Moh Taslim, H. Aboebakar, R. Donoewijoto, H. Moechsin pada 2 Agustus 1932. Tinggi menara ini sekitar 22 meter, yang difungsikan sebagai sarana mengumandangkan adzan.

Baca juga: 11 Peninggalan Kerajaan Majapahit

Museum

Difungsikan untuk menyimpan berbagai peninggalan arkeologi sejarah islam di Demak, seperti guci hadiah Putri Campa zaman Dinasti Ming pada abad XIV, Kentongan dan Bedhug wali abad XV, dan prasasti lainnya.

Baca juga: 9 Peninggalan Kerajaan Kutai

Pemahaman Akhir

Indonesia memiliki banyak kerajaan yang pernah berdiri pada masa lalu. Beberapa di antaranya adalah Kerajaan Demak, yang menjadi salah satu kerajaan Islam terkenal di pulau Jawa. Kerajaan Demak didirikan pada tahun 1500 dan mencapai kejayaannya dalam waktu singkat, menggantikan kekuasaan Kerajaan Majapahit yang melemah.

Peninggalan Kerajaan Demak yang masih ada hingga saat ini memberikan bukti tentang kebesaran dan keberadaan kerajaan tersebut. Beberapa peninggalan tersebut termasuk Masjid Agung Demak, yang merupakan masjid tertua di Jawa dan menjadi pusat pembelajaran dan syiar para ulama pada masanya. Masjid ini menampilkan arsitektur yang kental dengan budaya Jawa dan memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Selain itu, terdapat juga peninggalan bersejarah lainnya seperti Soko Majapahit, Situs Kolam Wudhu, berbagai makam para raja dan ulama, dan banyak artefak bersejarah lainnya. Peninggalan-peninggalan ini menggambarkan warisan berharga dari Kerajaan Demak dan nilai-nilai sejarah serta budaya Islam di Indonesia.

Mengenal peninggalan Kerajaan Demak dan sejarahnya dapat membantu kita memahami perjalanan waktu Indonesia serta keberagaman budaya dan agama yang ada di tanah air. Sebagai guru sejarah, mengajarkan tentang kerajaan-kerajaan dan peninggalannya adalah upaya untuk mempertahankan dan mengenalkan warisan budaya dan sejarah Indonesia kepada generasi muda. Dengan memahami sejarah, generasi muda dapat menghargai identitas bangsa dan melestarikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Nah, itulah beberapa penjelasan singkat mengenai sejarah Kerajaan Demak dan peninggalan Kerajaan Demak, . Semoga materi kali ini bisa membantu kamu dan memberikan wawasan baru ya. Tetap semangat belajar dan jangan lupa membaca!


Daftar Rujukan:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Sejarah Indonesia: SMA/MA/SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Poesponegoro, M., D., & Notosusanto, N. 1984. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka

Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kanisius.

Artikel Terbaru

Avatar photo

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *