9 Peninggalan Kerajaan Kutai

Indonesia terkenal dengan banyaknya pulau-pulau yang tersebar dari sabang sampai merauke. Pulau-pulau tersebut memiliki keragaman budaya yang berbeda-beda. Namun, tahukah kamu bahwa Indonesia tak hanya terkenal karena hal itu saja? Indonesia juga terkenal akan sejarah kerajaan-kerajaan besarnya. Kerajaan-kerajaan tersebut bahkan dikenal hinggal luar Nusantara. Salah satunya ialah Kerajaan Kutai.

Kerajaan Kutai juga dikenal sebagai kerajaan tertua. Namun dari manakah sumber adanya Kerajaan Kutai tersebut? Adanya kerajaan ini dibutikan dengan temuan-temuan benda peninggalannya. Penasaran apa saja peninggalan kerajaannya? Yuk, simak penjelasanya.

Awal Munculnya Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai disebut sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Hal tersebut diketahui dengan ditemukannya 7 buah prasasti, dituliskan di atas tugu yang bernama Yupa. Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa sansekerta dengan huruf pallawa. Berdasarkan ilmu yang mempelajari tulisan kuno, diperkirakan prasasti tersebut sudah ada sejak awal abad ke- 5 Masehi (Suwondo dkk, 2002:2). Kerajaan  ini didirikan oleh seorang bernama Kudungga, yang menjadi raja pertama.

Nama Kutai itu sendiri diambil dari nama tempat ditemukanya prasasti. Nama tersebut diberikan karena para ahli tidak mendapat banyak sumber mengenai nama kerajaan tersebut. Kerajaan ini didirikan oleh seorang bernama Kudungga, namun yang tertulis sebagai raja pertama ialah Aswawarman. Kudungga sendiri adalah pembesar dari Kerajaan Champa yang datang ke Nusantara.

Raja Kudungga ini memiliki putra yang bernama Aswawarman, yang kemudian memiliki 3 anak. Putra Aswawarman yang terkenal dikenal sebagai Mulawarman. Di tangan Mulawarmanlah kerajaan menjadi termasyur. Oleh karena itulah, kerajaan ini sering disebut sebagai Kerajaan Mulawarman ( Adham, 1981:12)

Baca juga: 11 Peninggalan Kerajaan Majapahit Serta Penjelasannya

Keruntuhan Kerajaan Kutai

Keruntuhan Kerajaan ini diawali dari Tewasnya Maharaja Dharma Setia dalam peperangan oleh Raja Kutai Kertanegara. Kerajaan Kutai Kertanegara dipimpin oleh Aji Pangeran Anum Panji Mendapa yang merupakan raja ke-13. Di tangan Raja Aji tersebut, Maharaja Dharma Setia tewas.

Kutai Kertanegara ini sendiri merupakan kerajaan yang menjadi cikal bakal dari kesultanan Kutai Kartanegara. Kerajaan ini kemudian berubah menjadi kerajaan islam.

Peninggalan Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai yang kalah oleh Kerajaan Kutai Kertanegara tak lekas hilang begitu saja dari Nusantara. Bukti peninggalan yang membuktikan bahwa kerajaan itu pernah ada telah ditemukan. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikutnya ya.

Prasasti 7 buah Yupa

Prasasti Yupa
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Bukti peninggalan Kerajaan Kutai ini berupa 7 buah Yupa. Ketujuh buah Yupa tersebut ditulis dengan huruf pallawa dengan bahasa sansekerta. 7 buah Yupa  ini dikeluarkan pada masa Raja Mulawarman. Warisan budaya ini merupakan bukti tertulis tertua dalam sejarah kebudayaan Indonesia (Mardika, 2019:60). Dalam ilmu pengetahuan, prasasti ini adalah bukti pencapaian di bidang tata ruang, seni padah, dan sistem upacara. Peninggalan ini merupakan bukti bahwa para pendahulu telah mampu untuk menyerap budaya luar dan menciptakan akulturasi budaya.

7 prasasti peninggalan Kerajaan Kutai ini dipahat pada sebuah tiang batu andesit. Penemuan peninggalan kerajaan ini diawali dengan penemuan empat prasasti pada 1879 di Bukit Beubus. Tiga prasasti lainnya menyusul ditemukan pada 1940 di situs yang sama.

Tali Juwita

Tali Juwita
Sumber: budaya-indonesia.org

Peninggalan Kerajaan Kutai ini memiliki bentuk 3 utas tali yang dibuat dari bahan emas, perak, dan perunggu. Tali ini memiliki hiasan 3 buah bandul dengan bentuk gelang, 2 buah dengan permata kucing dan barjat putih. Tali Juwita ini memiliki asal kata Upavita merupakan kalung yang diberikan kepada raja. Peninggalan ini merupakan bagian dari perlengkapan saat upacara penobatan.

Pedang Sultan Kutai

Pedang Sultan Kutai
Sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Peninggalan ini merupakan pedang kebesaran Sultan Kartanegara. Pedang yang bersarung dan bertali selempang ini memiliki bilang pedang yang lurus, runcing, simetris, dan berpinggul di bagian tengahnya. Jika dilihat dari bentuknya, pedang ini termasuk jenis pedang babat yang berfungsi untuk menebas tubuh lawan. Pedang ini berhiaskan emas dan permata.

Pada bagian gagang pedang terdapat ukiran harimau yang bergelayut di pohon. Motif ini biasanya dipakai oleh kaum bangsawan yang berkedudukan tinggi.

Keramik Tiongkok Kuno

Keramik Tiongkok Kuno
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Keramik ini berasal dari Cina sekitar abad ke-18 masa Dinasti Ching. Memiliki bentuk bundar polos tanpa ornamen. Peninggalan Kerajaan  ini ditemukan telah tertimbun di sekitar danau Lipan. Ditemukannya benda ini, membuat para ahli berpendapat bahwa pada masa itu Kutai telah menjalin hubungan dengan Cina.

Hubungan yang dijalin dengan Cina diperkirakan yaitu dalam bidang perekonomian. Hal itu didukung dengan letak Kutai yang terletak di aliran sungai Mahakam, menjadi tempat singgah perahu dari luar kerajaan. Sehingga dimanfaatkan dalam menjalin hubungan dalam perekonomian.

Baca juga: Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Dasar Negara

Ketopong Sultan Kutai

Ketopong Sultan Kutai
Sumber: kesultanan.kutaikartanegara.com

Ketopong atau sering juga disebut dengan mahkota ini dibuat dengan emas yang berhiaskan permata. Bentuknya brunjungan dengan bagian muka memiliki bentuk meru bertingkat, yang dihiasi dengan motif spiral dan sulur. Pada bagian belakang berupa garuda mungkur dengan hiasan motif bunga, kijang, dan burung. Pada saat ini mahkota yang asli ditempatkan di museum nasional di Jakarta.

Kalung Uncal

Kalung Uncal
Sumber: kesultanan.kutaikartanegara.com

Kalung peninggalan Kerajaan Kutai ini diduga berasal dar India. Dalam bahasa India, kalung ini disebut “Unchele“. Diketahui bahwa di dunia hanya ada dua kalung uncal ini, yang merupakan kalung sepasang yaitu untuk pria dan wanita. Saat ini, hanya ada satu kalung Uncal di India dan satunya lagi ada di Indonesia. Pada tahun 1954 seorang Duta dari India datang ke Museum Tenggarong untuk melihat kalung ini. Berdasarkan pendapatnya, kalung ini sama denga kalung yang ada di India.

Penggunaan dari kalung ini hanya boleh dipakai untuk raja saja. Pemakaiannya pun hanya boleh dilakukan ketika penobatan dan pernikahan saja. Dikatakan bahwa untuk mengeluarkanya dari tempat pusaka, juga diperlukan ritual tertentu. Oleh karena itu, kalung uncal ini sangatlah berharga.

Keris Bukit Kang

Keris Bukit Kang
Sumber: budaya-indonesia.org

Keris peninggalan Kerajaan Kutai ini diceritakan sebagai benda yang digunakan oleh permaisuri raja yang pertama. Dikisahkan bahwa permaisuri ini ditemukan dalam sebuah gong yang hanyut, yang di dalamnya juga ada telur dan keris, yang dinamai keris bukit kang.

Kalung Ciwa

Benda ini merupakan bukti peninggalan Kerjaan Kutai yang ditemukan oleh masyarakat sekitar tahun 1890 ketika pemerintahan Sultan Aji Muhamad Sulaiman. Kalung ini ditemukan berada di sekitar Danau Lipan. Terbuat dari emas, kalung ini menjadi benda berharga kerajaan. Sejak ditemukannya, bukti peninggalan kerajaan ini diserahkan ke kerajaan dan digunakan sebagai aksesoris dalam upacara penobatan.

Kura-kura Emas

Kura-kura emas adalah bukti peninggalan Kerajaan Kutai yang cukup unik. Memiliki bentuk seperti kura-kura dan terbuat dari emas. Benda ini ditemukan di wilayah sekitaran hulu Sungah Mahakam. Dikatakan bahwa peninggalan ini digunakan seorang pangeran dari Cina untuk melamar putri dari Kutai sebagai bukti keseriusannya. Saat ini, peninggalan ini masih disimpan dengan baik di Museum Mulawarman. Ukuran benda ini juga tak terlalu besar, yaitu sekitar setengah kepalan tangan manusia saja.

Nah, itu tadi adalah penjelasan sekilas mengenai Kerajaan Kutai. Mulai dari awal kemunculan hingga keruntuhanya, dan tak lupa yaitu pembahasan mengenai benda peninggalan Kerajaan Kutai. Bagaimana, apakah sudah mulai paham sekarang?

Baca juga: Perjalanan Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Semoga materi kali ini bisa membantu kamu untuk lebih mengetahui mengenai Kerajaan Kutai ya. Selamat belajar.


Sumber:

Adham, D. 1981. Salsahilah Kutai. Jakarta: Depdikbud

Mardika, I., M. 2019. Warisan Budaya Sebagai Ikon Pariwisata dalam Rangka Kalimanta Timur Menjadi Ibu Kota Negara. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2-2), 57-62. Dari Https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/ganaya/article/view/372

Suwondo, B., dkk. 2002. Sejarah daerah Kalimantan Timur. Jakarta: Depdikbud

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *