Kerajaan Islam di Jawa Serta Penjelasannya

Perkembangan islam di Indonesia berkembang begitu pesat. Tidak hanya tersebar di satu daerah saja, namun penyebaran islam juga menyeluruh di wilayah Indonesia. Salah satu derah yang penyebaran islamnya begitu pesat yaitu di wilayah Jawa. Dengan menyebarnya islam di Jawa, maka juga mengubah kehidupan masyarakat bahkan pemerintahan kerajaannya. Untuk mengetahui mengenai Kerajaan Islam di Jawa, simak materi berikut ini ya.

Kedatangan Islam di Jawa

Batu Bersurat dari Leran
Sumber: Buku Pengantar Sejarah kebudayaan Indonesia 3

Bukti kedatangan islam di Jawa ditemukan sebuah batu bersurat dengan bahasa dan huruf Arab, di wilayah Leran dekat dengan Gresik. Batu bersurat berisi mengenai meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah Binti Maimun pada sekitar tahun 1082 M (Soekmono, 1973:42). Sebelum datangnya islam, di Jawa sebagian besar masyarakatnya menganut agama Hindu-Buddha.

Diterimanya islam di Jawa juga tidak terlepas dari runtuhnya kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Runtuhnya kerajaan terakhir, yaitu Kerajaan Majapahit maka agama Hindu-Buddha yang merupakan agama resmi kerajaan juga mengalami kemunduran. Oleh karena itu, islam yang datang ke Jawa mendapat sambutan yang cukup baik tanpa melalui jalan peperangan. Selain itu, penyebaran islam di Jawa juga terbantu dengan datangnya para wali yang menyebarkan islam di Jawa. Menyebarnya islam di Jawa, pada akhirnya juga menimbulkan munculnya Kerajaan Islam di Jawa.

Selain ditemukannya batu bersurat di Leran, juga ditemukan makam-makam dengan aliran islam di wilayah Jawa Timur disekitar Trowulan dan Troloyo. Batu nian yang ditemukan tersebut memuat kutipan dari Al-Quran, serta hiasan yang rumit. Berdasarkan hal tersebut serta lokasi penemuannya yang dekat dengan situs Majapahit, maka Damais menyimpulkan bahwa kuburean tersebut kemungkinan merupakan kuburan para bangsawan Jawa, bahkan juga dimungkinkan para anggota keluarga kerajaan (Ricklefs, 2008:6)

Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Indonesia: Pengaruh dan Peninggalan

Penyebaran Islam di Jawa

Penyebaran islam di Jawa dilakukan oleh para wali, yang dalam Jawa dikenal dengan Wali Songo. Dalam pemahaman Jawa, wali merupakan sebutan bagi orang yang dianggap keramat. Wali dianggap oleh orang Jawa, sebagai orang yang dekat dengan Allah, serta diyakini memiliki tenaga ghaib. Para wali dianggap memiliki kekuatan batin yang lebih, dan berilmu tinggi. Sedangkan kata “Songo” dalam bahasa Jawa memiliki arti sembilan (Widjisaksono, 1995:17-18).

Para wali songo tersebut diketahui memiliki nama, sebagai berikut:

  1. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
  2. Raden Qosim (Sunan Drajat)
  3. Maulana Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel
  4. Raden Said (Sunan Kalijogo)
  5. Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
  6. Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri)
  7. Raden Umar Said (Sunan Muria)
  8. Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus)
  9. Sayyid Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Jalur Penyebaran Islam

Jalur Perdagangan

Penyebaran islam melalui jalur perdagangan ini dilakukan oleh para pedagang yang berasal dari luar Jawa atau bakan luar negeri melalui jalur pelayaran. Di Jawa, pelabuhan yang banyak disinggahi pedagang adalah Pelabuhan Gresik dan Tuban. Hal tersebut dikarenakan letaknya yang strategis.

Perdagangan yang dilakukan melalui pelayaran biasanya menggantungkan pada arah angin. Oleh karena itu, biasanya pedagang sambil menunggu angin akan singgah di pelabuhan. Di tempat itu, mereka akan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, sehingga secara tidak langsung mereka juga melakukan dakwah pada masyarakat sekitar.

Jalur Perkawinan

Melalui jalur perkawinan ini akan tercipta keluarga islam yang baru. Perkawinan ini biasanya dilakukan oleh para pedagang yang sedang singgah. Para pedagang tersebut biasanya akan menikahi para wanita dari pribumi bahkan wanita bangsawan, namun dengan syarat bahwa wanita tersebut harus memeluk agama islam terlebih dahulu.

Beberapa contoh penyebaran islam melalui jalur perkawinan seperti pernikahan Syekh Maulanan Ishaq dengan putri bangsawan Blambangan yaitu Dewa Sekardadu. Sunan Gunung Jati di Cirebon yang memperistri Kawungaten. Serta ada pula Raden Sayyid Rahmat yang memperistri Nyai Ageng Manila yang merupakan keturunan Majapahit di Tuban.

Jalur Kebudayaan atau Kesenian

Untuk menyebarkan islam di Jawa, dimana masyarakatnya sebagian besar telah beragama Hindu-Buddha serta memiliki tradisi nenek moyangnya sendiri. Maka dimasukan unsur-unsur islam dalam budaya masyarakat jawa, agar mudah diterima. Misalnya saja pembangunan masjid yang diakulturasikan dengan budaya lokal, sehingga masyarakat bisa tertarik dengan islam.

Selain itu, juga dilakukan melalui kesenian seperti gamelan, wayang, karya sastra, dan lainnya. Seni gamelan juga pernah digunakan oleh Sunan Bonang dan Sunan Drajat dalam melakukan dakwahnya. Bahkan hingga saat ini, salah satu tembang yang diciptakan Sunan Bonang masih ada hingga masa kini, yaitu tembang Tombo Ati.

Jalur Pendidikan

Melalui jalur ini, didirikan pondok pesantren. Melalui pesantren, selain untuk menyebarkan agama juga dapat membentuk para guru-guru agama islam baru. Dengan sarana pendidikan ini, islam bisa semakin berkembang.

Baca juga: 10 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Islam di Jawa

Masuknya islam ke Jawa, tidak hanya mengubah sistem kepercayaan yang dianut masyarakatnya namun juga berpengaruh dalam sistem pemerintahannya. Selain karena runtuhnya kerajaan Hindu terakhir, maka muncul kerajaan-kerajaan islam baru di Jawa.

Kerajaan Demak

Pendirian kerajaan ini diperkirakan sekitar tahun 1500 M, oleh seorang bupati Majapahit yang bernama Raden Patah dan memeluk agama islam. Dengan bantuan wilayah lain di Jawa Timur yang telah memeluk islam, seperti Jepara, Gresik, dan Tuban, maka Raden Patah berhasil mendirikan kerajaan islam dengan Demak sebagai pusatnya (Soekmono, 1973:52).

Raja pertama dari kerajaan ini adalah Raden Patah dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Kerajaan Demak tumbuh sebagai kerajaan maritim karena letaknya di jalur yang strategis yaitu antara Malaka dan Maluku. Selain itu, kerajaan demak juga memiliki lahan pertanian yang luas. Oleh karena itulah kerajaan Demak disebut juga kerajaan agraris-maritim (Kemdikbud, 2017:203). Sebagai Kerajaan islam di Jawa, maka Demak juga menjadi pusat penyebaran islam di Jawa.

Peta pengaruh Demak
Sumber: Sejarah Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X

Kerajaan Pajang

Setelah runtuhnya Kerajaan Demak, maka muncul kerajaan baru yaitu Pajang. Raja pertama dari kerajaan ini ialah Sultan Adiwijoyo yang oleh masyarakat lokal lebih dikenal dengan Joko Tingkir. Kedudukan tersebut disahkan oleh Sunan Giri serta dukungan para adipati dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kerajaan Mataram

Raja pertama dari Kerajaan Mataram ialah Sutowijoyo dengan gelar Panembahan Senapati Sayyidin, dengan Ibu Kota nya yaitu di Kota Gede. Pada masa pemerintahan Sutowijoyo ini, dia bercita-cita untuk mempersatukan Jawa di bawah kekuasanya. Oleh karena itu, kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan islam di Jawa yang cukup terkenal. Ia juga melakukan perayaan Grebeg yang telah ada sebelum islam masuk, namun dilakukan bersamaan dengan hari raya idul fitri serta amulid Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1582, raja pertama Kerajan Mataram meninggal dan digantikan oleh Pangeran Benowo.

Tradisi Grebeg
Sumber: www.kratonjogja.id

Puncak kejayaan Kerajaan Mataram terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin luasnya wilayah Mataram hingga ke Surabaya, Lasem, Tuban, dan Pasuruan. Keberhasilan lainnya ialah berhasil diusirnya VOC. Pada bidang kesenian, Sultan Agung juga memadukan budaya Islam dan Hindu-Budha. Sebagai contoh ialah diadakannya perayaan sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu, juga dilakukan Upacara Grebeg yang diadakan tiga kali dalam satu tahun.

Tradisi Sekaten
Sumber: www.infobudaya.net

Kerajaan Banten

Pada awalnya, Banten merupakan suatu kawasan yang dikenal dengan nama Banten Girang. Dengan datangnya Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah dari Demak adalah untuk mengembangkan agama islam di Banten. Namun tidak lama, beliau kembali ke Cirebon. Setelah itu, Banten diserahkan pada putranya yaitu Hasanuddin dan menjadi sultan pertama di Kerajan tersebut.

Namun, dari sumber yang lainnya memberitakan bahwa Hasanuddin menikahi putri Raja Demak dan dinobatkan sebagai penguasa Banten. Dibawah kekuasaan Hasanuddin, islam semakin berkembang. Banten juga menjadi pusat perdagangan.

Baca juga: 13 Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Pemahaman Akhir

Perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa, telah berlangsung dengan pesat. Islam berhasil menyebar secara menyeluruh di wilayah Jawa, mengubah kehidupan masyarakat dan sistem pemerintahan kerajaannya. Kedatangan Islam di Jawa tercatat melalui berbagai bukti, seperti batu bersurat dengan bahasa Arab dan huruf Arab di wilayah Leran dekat Gresik, serta adanya makam-makam dengan aliran Islam di Jawa Timur.

Penyebaran Islam di Jawa dilakukan oleh para wali, yang dikenal sebagai Wali Songo, seperti Sunan Gresik, Sunan Kalijogo, Sunan Bonang, dan lainnya. Penyebaran Islam melalui jalur perdagangan, perkawinan, kebudayaan, dan pendidikan telah membentuk pondasi kuat bagi perkembangan Islam di Jawa.

Selain itu, dengan runtuhnya Kerajaan Hindu terakhir di Jawa, yaitu Kerajaan Majapahit, agama Hindu-Buddha mengalami kemunduran, sehingga Islam mendapat sambutan baik dari masyarakat Jawa. Seiring dengan penyebaran Islam di Jawa, muncul Kerajaan Islam di Jawa, seperti Kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram.

Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa dan tumbuh sebagai kerajaan maritim dengan wilayah perdagangan yang strategis. Kerajaan Pajang dan Mataram juga memiliki peranan penting dalam sejarah Islam di Jawa, terutama pada masa pemerintahan Sultan Agung yang mencapai puncak kejayaan.

Kerajaan Banten merupakan contoh lain dari kerajaan Islam di Jawa yang berhasil berkembang dan menjadi pusat perdagangan. Penyebaran Islam di Jawa juga terjadi melalui jalur kesenian dan pendidikan, seperti pembentukan pondok pesantren.

Dengan penyebaran Islam yang luas dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Islam telah menjadi agama mayoritas di Indonesia dan memberikan kontribusi besar dalam membentuk identitas dan budaya masyarakat Indonesia. Perkembangan Islam di Jawa telah membentuk peradaban dan sejarah Indonesia yang kaya dan beragam.

Demikian materi mengenai Kerajaan Islam di Jawa. Semoga dengan artikel ini kamu bisa semakin memahami mengenai penyebaran islam di Jawa dan kerajaannya ya. Jangan lupa untuk terus membaca dan selamat belajar!


Daftar Rujukan

Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kanisius

Widjisasksono. 1995. Mengislamkan Tanah Jawa. Bandung: Mizan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi). 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ricklefts, M., C. 2008. Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta

Artikel Terbaru

Avatar photo

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *