Dampak Perkembangan kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia

Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia telah banyak mengubah kehidupan masyarakatnya. Banyak peninggalan Bangsa Barat yang masih ada hingga saat ini, misalnya saja pendidikan.

Tahukah kamu bahwa berkembangnya pendidikan di Indonesia ada semenjak Bangsa Barat masuk? Selain pendidikan, masih banyak pengaruh dari kedatangan bangsa barat ke Indonesia dari segi politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Untuk lebih mengetahui mengenai pengaruh bangsa barat di Indonesia. Simak materi Dampak Perkembangan kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia berikut ini ya.

Dampak Kolonialisme dan Imperialisme dalam bidang Politik-Ekonomi

Wilayah Kekuasaan Hindia Belanda
Sumber: Buku Sejarah Indonesia SMA Kelas XI

Bidang Politik-Pemerintahan

Kedatangan Bangsa Barat memberi perubahan dalam sistem politik pemerintahan. Sistem pemerintahan yang awalnya menggunakan sistem kerajaan perlahan diubah seperti sistem barat. Hal tersebut terlihat pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Deandels yang membagi wilayah kekuasaan Belanda di Jawa menjadi 9 prefektur (provinsi) dan 30 Kabupaten. Kepala pemerintahan tiap prefektur disebut dengan prefek. Setiap kabupaten atau regentschap dipimpin oleh Bupati yang diangkat dari kalangan pribumi. Jabatan Bupati sendiri masih ada hingga masa kini.

Dalam pemerintahan Kabupaten, selain Bupati juga dibantu oleh seoarng patih. Setiap wilayah Kabupaten ini dibagi lagi menjadi distrik-distrik, yang dipimpin oleh Wedana. Distrik ini kemudian dibagi kembali menjadi Onderrdistrik yang dikepalai oleh asisten wedana, yang pada masa kini disebut dengan Camat. Dibawahnya kemudian barulah ada desa-desa.

Melanjutkan Deandels, diangkat Gubernur Jenderal Raffles. Pada masa pemerintahannya, Jawa dibagi kembali menjadi 16 Karesidenan, yang masing-masing dikepalai oleh Residen dan dibantu asisten Residen (Kemdikbud, 2017:161). Sistem yang dibawa sejak Deandels ini terus mengalami perkembangan dan perbaikan. Pada masa kolonial Belanda, sistem Raffles ini diperbaiki kembali dengan menyatukan seluruh kekuasaan Belanda pada tahun 1905 yang dikenal dengan Pax Neerlandica.

Baca juga: Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Bidang Ekonomi

Selain melakukan reformasi dalam bidang politik pemerintahan, belanda juga melakukan perubahan dalam sistem ekonomi tradisional. Tanah-tanah yang awalnya milik Raja-raja dialihkan menjadi milik pemerintahan. Hal tersebut tentunya sesuai dengan prinsip Belanda yang memang ingin mengumpulkan kekayaan.

Pemerintah menerapkan sistem pajak dan harga dari penjualan hasil bumi para pertani juga telah ditetapkan oleh pemerintah kolonial. Dengan perpindahan kepemilikan tanah, maka pemerintah bebas melakukan apapun dengan tanah tersebut termasuk menyewakanya pada swasta. Sehingga pemerintah bisa mendapatkan pajak tambahan dari swasta untuk mengisi kas pemerintahan.

Pada tahun 1828, sistem perbankan mulai masuk ke Indonesia. bank pertama yaitu De Javasche Bank. Sehingga sistem ekonomi uang juga semakin berkembang. Pemerintahan Belanda juga membangun pusat-pusat pelabuhan untuk kepentingan perdagangan.

Selain itu, perkebunan juga semakin berkembang sehingga hasil tanamnya juga melimpah. Untuk mempermudah pengangkutan hasil tanam, maka Belanda membuat jalur kereta api. Jalur kereta api juga dibuat untuk mengembangkan sistem transportasi, yang juga menghubungkan ke pelabuhan. Sehingga dengan ditunjang sarana dan prasarana yang mumpuni, ekonomi Belanda di Indonesiapun juga berkembang dengan pesat. Penghasilan yang didapat pemerintahanpun semakin memenuhi kas Belanda.

De Javasche Bank di Batavia
Sumber: KITLV

Namun dari perubahan sistem tersebut, juga dapat diambil manfaatnya bagi bangsa Indonesia. Hasil pengembangan tersebut bahkan masih bisa dilihat dan digunakan hingga masa kini, seperti kereta api, sistem bank, pelabuhan, jalan-jalan besar, dan tentunya penggunaan sistem uang.

Jalur Kereta Api Surabaya-Pasuruan
Sumber: https://heritage.kai.id/page/sejarah-perkeretapian

Dampak Kolonialisme dan Imperialisme dalam bidang Sosial-Budaya

Kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia juga berpengaruh dalam bidang kebudayaan. Beberapa pengaruh tersebut misalnya dalam cara berpakaian, arsitektur, musik, dan lainnya. Namun, dari pengaruh Bangsa Barat tersebut tentunya tidak semuanya diterima langsung oleh masyarakat, namun disesuaikan dengan kultur lokal. Sehingga memunculkan kebudayaan yang baru.

Dalam sosial masyarakat pribumi pada masa penguasan Bangsa Barat ini selalu menjadi golongan yang ada di bawah. Oleh karena itu, pribumi harus tunduk dan patuh pada Bangsa Barat.

Bangsa Barat memandang bahwa orang-orang berkulit putih merupakan golongan tertinggi dalam kasta sosial tersebut. Orang-orang Timur Asing merupakan golongan kedua. Sedangkan pribumi adalah golongan ketiga atau yang paling rendah. Hal tersebut dilakukan untuk menanamkan pemikiran orang-orang pribumi, bahwa meraka tidak lebih baik dari Orang Barat. Sehingga mereka harus tunduk dan patuh, serta tidak boleh melawan pada Bangsa Barat. Pemikiran tersebut sengaja ditanamkan dalam diri masyarakat, sehingga mereka tidak akan berontak. Selain dampak negatif tersebut, Bangsa Barat juga membawa agama kristen masuk ke Indonesia. Sehingga semakin menambah keberagaman agama di Indonesia.

Dalam kebudayaan masyarakat, gaya hidup mereka juga semakin bergeser, khususnya para pribumi kalangan atas. Gaya barat mulai mempengaruhi pola hidup masyarakat, misalnya saja gaya berpakaian. Perubahan gaya berpakaian ini tentunya tidak hanya untuk meningkatkan strata sosial dalam masyarakat saja, namun beberapa dilakukan untuk kepentingan pekerjaan. Para wanita pribumi mulai mengenal penggunaan dress dalam pesta-pesta, pakaian berenda, dan juga pakaian tidur. Sedangkan para pria mulai terbiasa dengan penggunaan jas dalam acara-acara pesta maupun dalam melakukan pekerjaanya.

Dampak Kolonialisme dan Imperialisme dalam bidang Pendidikan

Sejak datangnya Bangsa Barat ke Indonesia, pendidikan semakin berkembang ke arah yang lebih maju. Hal tersebut tidak terlepas dari adanya politik balas budi atau Politik Etis yang dilakukan oleh Bangsa Barat, khususnya Pemerintahan Kolonial Belanda. sistem ini muncul sebagai bentuk dari protes kaum liberal Belanda yang mengecam Pemerintahan Kolonial Belanda yang dinilai menindas rakyat.

Tersebarnya keadaan Rakyat Indonesia yang tertindas itu tidak lepas dari tokoh yang bernama Multatuli yang menerbitkan buku megenai keadaan masyarakat kala itu dengan judul Max Havelaar. Selain itu juga terdapat tulisan mengenai “Utang Kehormatan” oleh Van Deventer yang terbit di majalah Belanda, de Gids (Hoesein, 2010:14). Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa Belanda berhutang kepada Bangsa Indonesia atas semua kekayaan yang mereka peroleh, sehingga perlu dibayarkan kembali untuk kesejahteraan pribumi.

Pemikiran Van Deventer itu kemudian dikenal dengan ethische politiek atau Politik Etis, yang berfokus pada tiga hal yaitu pendidikan, Perpindahan penduduk, dan irigasi. Sehingga pada tahun 1901, Ratu Wilhelmina mengumukan mengenai penyelidikan kesejahteraan di Jawa dan politik itupun disahkan (Ricklefs, 2007:320).

Pendidikan dalam Politik Etisa

Dari politik etis yang diterapkan di Indonesia, yang paling besar pengaruhnya adalah dalam bidang pendidikan. Pada awalnya pendidikan ini diperuntukan untuk menghasilkan tenaga kerja pembantu pemerintahan dan hanya untuk kalangan Belanda serta kalangan priyayi, namun pada akhirnya sekolah-sekolah rakyat semakin berkembang. Sekolah-sekolah tersebut diantaranya ialah Eurepese Lagree School (ELS), STOVIA atau sekolah kedokteran, Hoogeree Burgelijk School (HBS), dan lainnya. Untuk kalangan pribumi kemudian disediakan sekolah Kelas Satu yang diperuntukan kalangan atas. Sedangkan untuk rakyat disediakan sekolah Kelas Dua atau disebut Sekolah Ongko Loro.

Salah Satu ELS di Jawa
Sumber: KITLV

Berkembangnya pendidikan di kalangan pribumi ini juga memicu munculnya rasa kesadaran nasional untuk memerdekakan negara. Muncul golongan terdidik di kalangan pemuda. Kebanyakan golongan aktivis ini bersekolah di STOVIA atau Sekolah Dokter Jawa. Dengan semakin meluasnya pendidikan dan munculnya golongan pemuda terpelajar semakin menyebarkan rasa nasionalisme dikalangan Bangsa Indonesia.

Baca juga: Organisasi Pergerakan Nasional

Pada akhirnya muncul kesadaran nasional yang berpuncak pada diadakannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Hingga munculnya organisasi-organisasi pergerakan nasional. Mulai sejak saat itu, perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak hanya ditempuh melalui jalur fisik, namun melalui perjuangan organisasi dan diplomasi-diplomasi dalam kancah internasional.

Jadi, berdasarkan materi tersebut, diketahui bahwa Dampak Perkembangan kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia tidak hanya hal-hal negatif saja namun juga memiliki dampak positif. Sehingga muncul para golongan terpelajar yang membawa Indonesia untuk bebas dari penjajahan Bangsa Barat.

Baca juga: Kekuasaan VOC di Indonesia

Nah, semoga materi kali ini bisa membantu kamu untuk lebih memahami dan menambah wawasan mengenai dampak kolonialisme dan imperialisme di Indonesia ya. Selamat Belajar!


Daftar Rujukan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK  Kelas XI (Edisi Revisi). 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ricklefs, M., C. 2007. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta

Hoesein, R. 2010. Terobosan Sukarno Dalam Perundingan Linggarjati. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *