Contoh Teks Hikayat: Unsur dan Jenisnya

Apa yang terlintas di benak kamu ketika mendengar atau sesudah membaca hikayat? Kamu pasti tak asing dengan hikayat karena mempelajarinya melalui mata pelajaran bahasa Indonesia kelas X.

Pada umumnya, hikayat serupa karangan prosa lainnya yang berbentuk kisah atau peristiwa. Hanya saja terdapat ciri-ciri seperti istana sentris, kemustahilan, keanehan, kekuatan, dan mukjizat yang terkandung dalam ceritanya. Jika kamu membaca hikayat secara utuh, maka akan menemukan berbagai hal menarik dan unik dari hikayat itu. Untuk selengkapnya, simak artikel ini sampai habis, ya.

Pengertian Teks Hikayat

Pengertian Teks Hikayat
Sumber foto: Michal Jarmoluk dari Pixabay

Hikayat dalam KBBI berarti karya sastra lama melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, gistoris, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta.

Menurut Sugiarto, hikayat merupakan berasal dari bahasa Arab yang artinya ialah cerita atau kisah. Kata ini sering digunakan dalam bahasa Melayu. Maka dari itu, hikayat sering dikatakan sebagai prosa sastra lama dalam bahasa Melayu.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hikayat adalah sebuah prosa sastra lama dalam bahasa Melayu yang berisi cerita, undang-undang ataupun silsilah kerajaan yang sifatnya rekaan namun tetap memiliki nilai-nilai yang terkandung dalam kisahnya.

Baca juga: Contoh Teks Negosiasi

Unsur-Unsur Hikayat

Hikayat yang merupakan bagian dari prosa, maka dari itu unsur-unsur hikayat pun serupa dengan unsur-unsur prosa fiksi. Unsur-unsurnya ialah sebagai berikut.

Tema

Tema adalah gagasan cerita atau kisah yang terdapat dalam hikayat tersebut. Salah satu unsur hikayat ini berkaitan dengan bagaimana pengarang membawa ide cerita dan menceritakan rekaannya. Biasanya, hikayat selalu berisi tentang tema keagamaan, kebaikan dan keburukan, dan lain sebagainya.

Plot

Plot atau alur ialah hal terpenting dalam sebuah hikayat. Karena, hikayat berisi alur peristiwa yang dapat menarik pembaca. Plot merupakan pengembangan cerita yang berisi hubungan sebab akibat. Urutan dalam plot ialah sebagai berikut.

  1. Pengenalan
  2. Konflik
  3. Puncak Konflik
  4. Penyelesaian

Tokoh

Tokoh merupakan seseorang yang memiliki karakter dalam sebuah cerita atau kisah. Secara kemunculan, tokoh dibedakan menjadi tokoh utama yang menjadi sentral dalam cerita dan ada pula tokoh tambahan yang membantu tokoh utama dalam mengembangkan cerita.

Sudut Pandang

Sudut pandang ialah posisi pengarang dalam menceritakan kisah tersebut. Ada dua jenis sudut pandang, yang pertama adalah sudut pandang orang pertama dan yang kedua yaitu sudut pandang orang ketiga

Latar

Latar merupakan tempat dan waktu di mana peristiwa tersebut berada dalam cerita. Secara umum, penggambaran latar bisa berupa iamjiner maupun faktual.

Amanat

Amanat adalah ajaran moral yang terkandung dalam hikayat tersebut. Tak semua amanat yang terdapat dalam hikayat ditulis secara tersurat, lho. Karena, ada pula amanat yang disampaikan secara tersirat . Maka dari itu, kamu perlu membacanya sampai tuntas.

Jenis-Jenis Hikayat

Jenis-jenis hikayat
Sumber foto: Free-Photos dari Pixabay

Berdasarkan Historis atau Asalnya

Hikayat dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya ialah asal wilayah dan sejarahnya. Hal tersebut diantaranya adalah:

  1. Unsur Hindu. Berdasarkan historisnya, terdapat hikayat yang berasal dari ajaran-ajaran agama Hindu India yang dulunya berada di Nusantara. Contohnya ialah hikayat Ramayana dan Mahabaratha.
  2. Unsur Hindu-Islam. Jenis hikayat ini berasal dari ajaran hindu yang sudah berbaur dengan ajaran Islam. Karena adanya akulturasi, maka hikayat ini mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam kedua agama tersebut. Contoh hikayatnya ialah Hikayat Si Miskin dan Hikayat Inderaputera.
  3. Unsur Islam. Jenis hikayat ini berasal dari Arab-Persia yang berunsur agama Islam. Pada umumnya, jenis hikayat ini berkembang di daerah dan berbahasa Melayu. Contoh hikayatnya ialah Hikayat 1001 Malam, Hikayat Kamar Al Zama, dan lain-lain.

Berdasarkan Isinya

Jenis hikayat berdasarkan isinya meliputi:

  1. Rekaan, adalah jenis hikayat yang seluruhnya berisi rekaan pengarang. Contohnya adalah Hikayat Malim Dewa.
  2. Sejarah, adalah jenis hikayat yang terdapat unsur historis peristiwa atau asal usul suatu kejadian. Contohnya adalah Hikayat Hang Tuah, Hikayat Pattani.
  3. Biografi, adalah jenis hikayat yang mengisahkan kehidupan seorang tokoh terkenal dan terkemuka. Contohnya adalah Hikayat Abdullah.

Baca juga: Contoh Paragraf Perbandingan

Contoh Hikayat

Hikayat Si Miskin

Hikayat Si Miskin
Sumber foto: Omar Yousfie dari Pixabay

Hiduplah sepasang suami istri yang sangat miskin tinggal di Kerajaan Antah Berantah. Mereka seringkali dihina oleh penduduk desa. Lalu suatu hari Sang istri menginginkan buah mempelam kepada raja. Awalnya si suami enggan, tapi melihat istrinya, ia memberanikan diri menghadap raja. Tak disangka, Sang Maharaja Indra Dewa bermurah hati dan memberikan buah mempelam tersebut dan buah lainnya.

Selang waktu berjalan, istrinya pun melahirkan anak laki-laki diberi nama Marakermah. Lalu ketika Si Miskin sedang menggali tanah, ia menemukan mahkota emas. Dengan kehendak Mahakuasa, terciptalah sebuah kerajaan lengkap dengan rakyat, pegawai, dan sebagainya di tempat itu. Si Miskin pun menjadi raja dengan nama Maharaja Indra Angkasa dan permaisurinya yaitu istrinya bernama Ratna Dewi. Begitulah kerajaan Puspa Sari berdiri. Mereka pun dikaruniai satu anak lagi bernama Nila Kesuma.

Kerajaan tersebut menjadi kerajaan yang makmur dan sentosa. Namun, Maharaja Indra Dewa menjadi iri hati. Ia mengumpulkan seluruh ahli nujum untuk sepakat memberi tahu keberuntungan dua anak Maharaja Indra Angkasa, yaitu Marakermah dan Nila Kesuma.

Lalu, seluruh ahli nujum pun mengatakan bahwa kedua anak raja tersebut tidak membawa keberuntungan. Maharaja Indra Dewa pun ingin membunuh kedua anaknya, namun dilarang oleh permaisuri. Ia menangis tersedu-sedu agar anaknya tak dibunuh. Alhasil, kedua anaknya diasingkan dan diusir dari kerajaan demi kerajaan mereka tetap utuh dan makmur.

Maharaja Indra Angkasa tidak sadar bahwa telah ditipu oleh ahli nujum yang bersepakat dengan Maharaja Indra Dewa. Kedua anaknya telah diusir dan mengembara. Lalu, Kerajaan Puspa Sari pun habis terbakar dan semuanya telah musnah. Maharaja Indra Angkasa pun menjadi miskin kembali dan menyesali perbuatannya.

Sumber: Kesusastraan Melayu Klasik dengan penyesuaian

Hikayat Putri Kemuning

Di sebuah kerajaan, terdapat seorang raja yang memiliki 10 orang putri. 9 putri tersebut memiliki pribadi yang nakal dan manja. Sementara satu putri lagi bernama Putri Kemuning memiliki pribadi yang baik hati dan rajin. Sang Raja sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ia jarang mengurus anak-anaknya dan hanya diasuh oleh inang pengasuh.

Suatu hari, Sang Raja akan berpergian dan menanyakan kepada anak-anaknya tentang oleh-oleh apa yang mereka inginkan. Ke sembilan putri tersebut mengajukan barang-barang mahal dan perhiasan. Sedangkan Putri kemuning menjawab “Aku hanya ingin Ayah kembali dengan sehat dan selamat”. Sang Raja pun tersentuh.

Selama raja pergi, ke sembilan putri tersebut semakin liar, nakal, dan hanya bermain-main. Sementara Putri kemuning membersihkan taman, karena taman tersebut ialah rempatt istimewa bagi ayahnya. Ketika ia sedang menyapu datanglah seseorang kakaknya “Lihatlah, sepertinya ada pelayan baru!” Lalu, kakak-kakaknya pun mengacak-acak taman yang sudah dibersihkannya.

“Kalian ini sangat keterlaluan! Seharusnya Ayah tak usah membawakan oleh-oleh untuk kalian!” Putri Kemuning pun cukup marah.

Ketika Sang Raja kembali ke istana, kesembilan putrinya sedang bermain di danau dan hanya disambut oleh Putri Kemuning. Sang raja pun memberikan kalung berlian hijau. Mengetahui kalung tersebut, Putri Hijau marah dan hendak merampasnya karena iri. Putri yang lain pun membantu Putri Hijau, lalu memukul Putri Kemuning. Tak disangka Putri Kemuning pun sampai meninggal.

Mereka pun mengubur Putri Kemuning di suatu tempat. Sang Raja sangat bersedih hati. Ia memerintahkan agar putri-putrinya bersekolah ke negeri yang jauh. Suatu hari, terdapat pohon yang tumbuh subur sampai berbunga di atas makam Putri Kemuning. Sehingga, orang-orang menyebut bunga tersebut, bunga kemuning.

Sumber: Kesusastraan Melayu Klasik dengan penyesuaian

Hikayat Bayan Budiman

Hikayat Bayan Budiman
Sumber foto: GLady dari Pixabay

Sebermula hiduplah Khojam Maimun, seorang anak lelaki dari saudagar yang bernama Khojan Mubarok. Khojan Maimun anak yang pandai dan ia menimba ilmu kepada banyak guru. hingga ia dinikahkan dengan anak saudagar kaya juga bernama Bibi Zainab. Hatta beberapa lama, ia memebeli seekor burung tiung betina dan disimpannya hampir pada sangkaran burung bayan.

Suatu hari Khojan Maimun tertarik kepada perniagaan di laut, lalu ia berpesan kepada istrinya sebelum pergi ‘Jika ada hal yang harus dilakukan, mufakatlah dengan kedua unggas itu’

Hatta beberapa lama ditinggal suaminya, Bibi Zainab yang cantik ditaksir oleh amal Raja Ajam. Mereka pun merencanakan untuk berkencan melalui seorang perempuan yang tua. Maka pada suatu malam, Ia berpamitan kepada burung tiung. Namun, burung tiung mengingatkannya bahwa hal tersebut merupakan larangan dari Allah, karena menemui lelaki lain. Bibi Zainab pun marah dan disentakannya burung tiung tersebut dari sangkar dan mati.

Bibi Zainab pun menghampiri burung bayan dan menyampaikan maksudnya untuk menemui anak raja. Tak disangka, burung bayan menyetujuinya.

“Aduhai Siti yang paras rupawan, pergilah dengan segera untuk mendapatkan anak raja itu. Namun, sebelumnya, apakah Nyonya ingin mendengar seekor burung yang dicabut bulunya oleh tuannya sendiri?”

Maka berkeinginanlah Bibi Zainab mendengar cerita tersebut. Setiap malam ia hanya mendengarkan cerita-cerita dari burung bayan tersebut, bahkan sampai lupa dengan keinginannya untuk menemui anak raja tersebut. Begitulah seterusnya sampai Khoja Maimun, suaminya, pulang dari rantauan.

Burung bayan yang bijak itu berhasil menyelamatkan rumah tangga tuannya. Ia tidak melarang Bibi Zainab menemui anak raja, tetapi membiarkan secara halus untuk tetap berada di rumah dengan mendengarkan cerita-cerita yang ia utarakan semalaman.

Sumber: Kesusastraan Melayu Klasik dengan penyesuaian

Hikayat Indra Bengsawan

Tinggalah seorang raja bernama Indra Bungsu dari Negeri Kbat Syahrial. Nmaun, ia memiliki seorang putra. Setelah usaha dan meminta petunjuk, hamillah Tuan Putri Siti Kendi dan melahirkan dua orang putra yang bernama Syeh Peri dan Indera Bengsawan. Mereka menjadi anak yang penurut dan baik. Sampai suatu ketika Sang raja menguji mereka siapa yang pantas menggantikannya.

Kemudian, ia menyuruh kedua putranya untuk mencari buluh perindu. Awalnya mereka kompak dan pergi bersama, namun dalam perjalanan mereka terpisah karena hujan dan badai yang sangat besar.

Lalu suatu tempat, Syeh peri menolong Putri Ratna Sari dan dayang-dayangnya yang ditawan oleh Garuda. Putri pun jatuh cinta dan akhirnya menikalah mereka. Di tempat lain, Indera Bengsawam sampai ke Negeri Antah Berantah yang dikuasai Buraksa.

Raja Kabir yaitu Raja Antah berantah, membuat sayembara siapa uang dapat mengalahkan Buraksa akan dijadikan menantunya. Lalu ikutlah Indera Bengsawan dalam sayembara itu. Sampai tiba-tiba Syeh Peri datang membantu saudaranya untuk mengalahkan Buraksa. Akhirnya, Indera Bengsawan pun menikah dengan Putri Kemala Sari setelah mengalahkan Buraksa.

Sumber: Kesusastraan Melayu Klasik dengan penyesuaian

Hikayat Antu Anyek

Konon pada zaman dahulu, di daerah pesisir Sumatera Selatan, hiduplah seorang gadis sederhana bernama Juani. Juani merupakan gadis kampung yang amat elok rupawan. Wajar banyak bujang yang ingin mendekati dan meminangnya. Walaupun begitu, Juani belum mau menentukan pilihannya.

Hingga suatu waktu, ia terpaksa menerima lamaran dari Bujang Juandan dikarenakan keluarga terlilit hutang. Keluarga Bujang Juandan memiliki kekayaan yang berlimpah. Namun, Bujang Juanda memiliki penyakit kulit di sekujur tubuhnya. Bahkan ia diberi julukan sebagai ‘Bujang Kurap’.

Mendengar berita tersebut, Juani pun bersedih hati. Ia ingin menolak, namun apa daya ia tak kuasa karena kasihan kepada keluarganya. Hingga pada hari pernikahan tiba, hati Juani semakin gelisah. Ketika orang-orang sedang menunggu arak-arakan, Juani pun kabur sambil menangis melalui pintu belakang dan berlari menuju sungai.

Hingga akhirnya, karena tak mau menikahi bujang tersebut, Juani pun mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Kematiannya tersebut menjadikannya sebagai arwah penunggu sungai dan menjadi antu anyek atau hantu air yang sering mencari korban anak-anak.

Hikayat Jaya Lengkara

Sebermula ada seorang raja yang bernama Saeful Muluk namanya dan Ajam Saukat nama kerajaannya. Raja ini sudah berkawin dengan Putri Sukanda Rum, namun belum memiliki keturunan. Hingga ia menikahi Putri Bayang-bayang dan mendapatkan anak kembar yaitu Makdam dan Makdim.

Hatta beberapa lama Putri Sukanda Rum pun hamil dam melahirkan seorang putra, diberi nama Jaya Lengkara. Suatu massa, Raja menyuruh kedua anaknya yang lain untuk pergi ke Kadi agar meramalkan keberuntungan Jaya Lengkara. Kadi tersebut menjawab bahwa Jaya Lengkara akan membawa keberkahan dan kejayaan. Hanya saja, mereka tidak berkata jujur kepada ayahandanya. Justru mereka berkata sebaliknya. Alhasil, Jaya Lengkara dan ibunya pun diasingkan ke luar istana.

Naga guna menyelamatkan Jaya Lengkara. Mereka bersama-sama akan pergi ke negara Peringgi. Ia menewaskan seorang ajar-ajar dan memaksanya masuk Islam. ia pun menyelamatkan Makdam dan Mikdim di penjara. Ratna Kasina dan juga Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdam. Bunga Kumkuma putih juga sudah diperolehnya.

Mangkubumi Mesir mencoba mengambil bunga itu darinya. Tteapi berhasil dicegah dan Mangkubumi Mesir meminta maaf kepadanya. Bila mendengar Jaya Lengkara mengetahui alasan ingin mengambil bunga itu, Ia pun pergi ke Mesir dan memohon Putri Ratna Dewi untuk dikawinkan dengan Makdam. Mereka pun pergi bersama-sama dengan Putri Kasina juga untuk menyebuhkan raja yang sakit, yang tak lain ialah ayahnya.

Selang berapa lama, Jaya Lengkara kembali ke hutan untuk mencari ibundanya. Lalu Ratna Kasina menyusulnya karena tidak kuat diganggu oleh Makdam dan Makdim yang sudah ada di Ajam Saukat. Karena berahi mereka dengan Putri Kasina, mereka pun mencoba membunuh Jaya Lengkara. Untung saja Naga Guna menyelamatkan Jaya Lengkara dan Putri Kasina dan membawanya kembali ke Negeri Madinah.

Wajah gembira terpaut pada wajah Raja Madinah. Lalu, Jaya Lengkara pun dikawinkan dengan Ratna Kasina dan raja Madinah pun menikahi ibundanya Jaya Lengkara. Hatta berapa lama, Jaya Lengkara menjadi raja di negeri tersebut. Negeri tersebut pun menjadi makmur dan banyak negeri lain memberikan upeti.

Hikayat Si Kakek dan Ular

Hikayat si Kakek dan Ular
Sumber foto: Chiplanay dari pixabay

Tersebutlah ada seorang kakek yang alim dan beriman kepada Allah. Kepribadiannya ramah dan Ia pun digandrungi oleh banyak orang dan dikenal senang membantu. Suatu hari saat ia sedang berada di depan rumahnya, tiba-tiba datang seekor ular yang meminta pertolongan kepadanya.

“Wahai Kakek, Kakek begitu terkenal sebagai orang yang senang menolong. Tolonglah selamatkan saya dari seseorang yang hendak membunuh saya. Tentunya, Kakek baik sekali jika membuka mulut lebar-lebar dan mengizinkan saya bersembunyi di dalamnya. Demi Allah , mohon kabulkanlah permintaan saya ini”

Sang Kakek pun mengizinkan, asalkan ular tersebut bersumpah atas nama Allah kembali agar tidak culas. Sejurus kemudian, datanglah seorang lelaki membawa tombak, lalu Sang Kakek menjawab tidak mengetahui di mana ular tersebut. Setelah lelaki itu pergi, kakek pun berbicara kepada ular.

“Kini kau aman, sekarang cepatlah keluar dari tubuhku”

Ular itu hanya menonjolkan kepalanya sedikit, lalu berujar “Kau kira kau sudah bisa membedakan mana orang jahat dan orang baik, mana yang berbahaya untukmu dan mana yang berguna. Buktinya kau membiarkan saja musuhmu masuk ke dalam mulutmu. Sekarang kuberi kau dua pilihan, mau kumakan hati kau atau jantung kau? Keduanya sama-sama akan membunuhmu.”

Kakek itu pun terpaku dan tetap tenang walaupun sudah dikhianati oleh ular tersebut. Ia meminta tolong kepada Allah agar menolongnya. Ia pun mengungkapkan untuk pergi dari rumahnya jika si ular ingin memakan tubuhnya dan pergi ke sebuah pohon. Ular pun mengizinkannya.

Setelah sampai ke pohon yang dituju, si Kakek pun menyuruh Ular melakukan keinginannya. Tiba-tiba datanglah suara entah dari mana

“Wahai Kakek yang pemurah dan baik hati, ketulusan hatimu telah dimanfaatkan oleh musuhmu dan memasuki mulutmu. Cobalah engkau memandangi pohon itu dan ambil daunnya lalu makanlah beberapa lembar. Niscaya Allah semoga membantumu.”

Kakek itu pun mengikuti arahan dari suara tersebut. Sehingga ketika Kakek tersebut membuka mulutnya dan keluarlah bangkai ular tersebut. Bebas dan selamatlah nyawa Kakek tersebut. Ia pun sujud syukur karena Allah telah menolongnya.

Hikayat Kerbau dan Sapi yang Bertukar Kulit

Suatu masa, pada zaman dahulu hiduplah seekor kerbau yang warna kulitnya putih dan seekor sapi yang berwarna hitam. Mereka adalah sahabat karib yang akrab. Lalu, datanglah seekor banteng yang berkulit hitam ke padang rumput tempat mereka tinggal. Banteng tersebut langsung menjadi primadona sapi betina. Kerbau sangat iri kepadanya, ia pun berkata,

“Apa sih hebatnya banteng. Aku juga gagah dan memiliki tanduk yang besar dan runcing. Hanya berbeda warna kulit saja, kalau kulitku hitam pasti aku akan lebih gagah” Ia pun mendapatkan ide untuk mengubah warna kulitnya. Ia pun mengunjungi sapi yang sedang berendam di sungai.

Hanya saja, si Sapi pun enggan menukarkan kulitnya karena ia bersyukur atas nikmat yang sudah Tuhan berikan. Namun Kerbau terus merayu dan membujuknya. Alhasil, Sapi pun mengizinkan mereka untuk bertukar warna kulit. Dengan memberi syarat bahwa Kerbau harus bersukur setelah menukar warna kulit.

Kerbau pun gembira dan menyetujui hal tersebut. Akhirnya mereka pun bertukar kulit. Tetapi kulit Sapi tersebut terlalu kecil untuk tubuh kKerbau yang besar. Begitupun dengan kulit Kerbau yang terlalu besar untuk tubuh Sapi yang kecil. Kerbau pun mengajakny untuk bertukar kulit kembali. Namun, Sapi enggan melakukannya. Sang Kerbau pun menyesal. Seharusnya ia mensyukuri nikmati yang sudah Tuhan berikan kepadanya.

Hikayat Malim Deman

Hiduplah seorang malim Deman yang merupakan putra raja dari Bandan Muar. Setelah besar ia bermimpi untuk mendatangi rumah Nenek Kabayan agar bisa mendapatkan Putri Bungsu dari kayangan. Dengan bantuan Nenek Kbayan itulah ia berhasil mengambil selendang Putri Bungsu sehingga tidak bisa kembali ke kayangan. Nenek Kayangan pula lah yang menikahkan mereka.

Hatta berapa lama, Malim Deman dinobatkan menjadi raja dan mengadakan syukuran besar-besaran. Lalu setelah itu, ia asyik hanya menyambung ayam saja. Dalam keadaan seperti itu, Putri Bungsu pun melahirkan seorang anak yang diberi nama Malim Dewana.

Ketika Malim Dewana sudah agak besar, Malim Deman tidak menginginkan kembali ke istana. Lalu Putri Bungsu pun menemukan selendangnya. Hatinya sangat masygul. Ia pun memutuskan untuk terbang kembali ke kayangan dan mengajak anaknya Malim Dewana.

Sepeninggal Putri Bungsu, Malim Deman barulah sadar. Ia tidak nyambung, tidak makan dan hanya menangis. Ia pun mendatangi Nenek Kabayan kembali untuk meminta pertolongan agar bisa meminjamkan burung borak yang bisa mengantarkannya ke kayangan. Raja jin pun meminjamkan burung borak tersebut asal dengan syarat Malim Deman harus menikahi anaknya Putri Terus Mata. Ia pun menyetujuinya.

Sesampainya di kayangan, ia melihat Puti Bungsu hendak dipersunting oleh Mambang Molek. Malim Deman pun tak terima, ia bertarung dengan Mambang Molek dan berhasil membunuhnya. Akhirnya Malim Dewa pun mengajak anak dan istrinya untuk kembali ke dunia semula. Lalu perkawinannya dengan Putri Terus Mata menjadi ditiadakan.

Sejak kejadian itu, Malim Dewa kembali menjadi raja yang bijaksana dan gagah berani. Ia sangat mencintai istri dan anaknya.

Hikayat Kalila dan Damina

Kalila dan Damina
Sumber foto: Comfreak dari Pixabay

Hiduplah seekor lembu bernama Sjatrabah yang mengikuti tuannya untuk berniaga. Ketika di hutan, Sjatrabah terperosok ke dalam lumpur. Tuannya berusaha menyelamatkannya namun tak bisa dan malah meninggalkannya dengan seorang hamba. Hamba itu pun berusaha menolongnya, namun, ia pun tak kuasa dan malah meninggalkannya pula. Dengan sekuat tenaga Sjatrabah mencoba bertahan, dan akhirnya ia bisa keluar.

Sjatrabah pun kebingungan karena mencari tuannya. Ia hanya bisa menetap di hutan dan mencoba berbaur dengan yang lainnya. Ketika ia memakan rerumputan di sana, suaranya terdengar oleh Raja Singa. Raja Singa pun menajdi khawatir ketika mendengar suara tersebut, karena di hutan itu juga banyak hewan buas. Diantaranya adalah Kalila dan Damina yakni dua serigala yang bijak, pandai dan bertugas mencari makan untuk Raja Singa. namun kini hubungannya sedang tidak berjalan baik dengan Raja. Karena Raja jarang menengok rakyatnya.

Mendengar hal tersebut Damina berusaha menghadap raja dan menjelaskan perihal masalah tersebut, Damina memberi sebuah solusi. Setelah beberapa lama, datanglah Damina bersama Sjatrabah, Sjatrabah pun menceritakan apa saja yang terjadi, ia pun diperbolehkan Raja Singa untuk tinggal menjadi rakyat. Raja Singa sudah mulai percaya terhadap Sjatrabah, karena ia mulia, baik dan ikhlas dalam berkawan.

Hanya saja, keakraban Sang Raja dan Sjatrabah tidak disenangi Damina karena posisi Damina seperti diambil alih. Ia pun memfitnah Sjatrabah kepada Sang Raja. Sehingga Raja pun memerintahkan untuk membunuh Sjatrabah walaupun enggan dan berat hati.

Hatta berapa lama, kejahatan Damina pun terbongkar oleh Ibu Raja Singa. Ia mengatakan bahwa Sjatrabah difitnah oleh Damina. Mendengar hal tersebut Raja naik pitam dan menyuruh ajudannya untuk memenjarakan Damina. Kalila, sahabatnya pun sangat bersedih dan merindu sampai ia mati. Akhirnya, Damina pun mendapatkan hukuman mati. Ia menerimanya dengan lapang, karena ia sudah tak tahan lagi, terlebih ketika sahabatnya pun sudah mati.

Baca juga: Contoh Teks Debat

Begitulah penjelasan tentang teks hikayat yang bisa kamu pelajari. Dengan mempelajari hikayat, tentunya kamu pun memahami prosa sastra lama dan bisa membedakan hikayat dengan jenis prosa lainnya. Kamu pun akan bisa mengungkapkan kembali hikayat secara lisan ataupun tulisan. Selamat belajar dan jangan berhenti mencoba!


Referensi:

Rohmayanti, Maya dan Shinta Linniasari. 2016. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas X. Depok: CV Arya Duta.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *