10 Cerpen Lucu yang Akan Menghiburmu

Cerpen lucu merupakan salah satu jenis cerita yang bisa dinikmati sehari-hari. Kamu juga bisa membacanya untuk mengubah suasana hati atau bahkan bisa membantumu untuk tertawa berdasarkan alur cerita yang ada di dalamnya. Apalagi, jika kamu senang dunia humor.

Penasaran seperti apa cerpen lucu yang bisa membuatmu tertawa? Ini dia 10 cerpen lucu yang bisa kamu baca atau bisa kamu jadikan contoh dalam membuat cerpen. Selamat membaca!

Keramat

Cerpen lucu-Keramat
Sumber foto: Dedit Yasa dari Pixabay

Dua piring sate padang telah sampai, baru saja diantar oleh tukang ojek yang dipesan melalui aplikasi online. Baru gajian, jadi sedikit pemalas dengan memesan pesan antar.

Uap panas mengepul ketika bungkus kertas cokelat dibuka, terlihat menggiurkan ketika aroma bumbu sate padang menguar di seluruh ruangan kamar kost.

“Nikmat sekali.”

“Iya, sate padang emang paling mantep, kayaknya tambah lengkap kalau kita sambil nonton, deh.” Tawar Bagas yang diikuti anggukan oleh Chandra.

Video mulai diputar, melalui aplikasi streaming kami menonton sebuah video yang membahas tentang pengalaman-pengalaman horor mengerikan.

Dengan santai kami mendengar setiap cerita yang disampaikan pada video tersebut, kami saling diam dan hanya meninggalkan bunyi decapan. Sebetulnya tidak ada bagian cerita yang cukup menyeramkan sehingga membuat bulu kuduk kami meremang. Namun, ketika sampai di cerita ke empat tentang hantu wanita yang datang setiap malam, tiba-tiba suara ketukan pintu mulai terdengar.

Kami berhenti menyuap dan saling melemparkan pandang. Berhenti sesaat, sampai suara tersebut terdengar semakin nyaring.

‘Ketukan itu akan terdengar semakin menagih, meminta seseorang untuk membukanya. Dengan tubuh yang gemetar, ia mendekat pada gagang pintu yang mulai bergerak dengan sendirinya. Begitu perlahan, sampai suara gesekan besi yang dibuka bisa terdengar. Lalu, saat ia mengintip pada lubang pintu,’

DOR!! Kami terlonjak ketika suara ketukan yang begitu besar terdengar ketika di ujung klimaks cerita tersebut, pintu telah dibuka dengan paksa.

“Mas saya gedor-gedor gak ada yang bukain, ini sate padangnya ketinggalan satu bungkus, ternyata dapet bonus,” ucap sang tukang ojek sambil menyodorkan kantung kresek.

“Astaga, aku kira yang di video keluar, udah nahan napas aku.”

“Iya Chan, gila apa ya,” ucap Bagas sambil mengelap peluhnya.

“Aku kira kamu cuman takut miskin, taunya sama hantu juga masih gelagapan.”

Baca juga: 10 Cerpen Remaja Dengan Berbagai Pesan

Tertinggal

Ada sepasang suami istri yang sudah lima belas tahun menikah. Tetapi, baru dikaruniai anak ketika menginjak lima tahun pernikahan. Saat ini, anak perempuannya sudah sepuluh tahun dan menjadi anak kesayangan mereka.

Suatu hari, sang istri pergi berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan di kota bersama anak perempuannya. Anak tersebut sudah dipercantik sedemikian rupa oleh mamanya seperti boneka susan. Sang anak pun sangat bersemangat ia menggenggam tangan mama nya dengan erat ketika berkeliling di pusat perbelanjaan.

Di saat asik berkeliling, telepon sang istri berdering. Namun ia tak menyadarinya karena sibuk memilih baju yang cocok untuk anaknya. Pindah ke satu toko, lalu ke toko lainnya. Seolah memiliki banyak uang, padahal di dompetnya hanya tersisa Rp. 50.000.

“Mah, pengen pipis” tiba-tiba anaknya ingin pergi ke kamar mandi.

Di saat itulah Mamanya mengantar sang anak ke kamar mandi dan membiarkan anaknya masuk sendiri. Untuk membunuh waktu, ia pun mengambil ponselnya untuk melihat-lihat. Betapa kagetnya ia, ketika terdapat panggilan tak terjawab sekitar 50 kali. Ia pun langsung menelpon balik suaminya.

“Halo, ada apa?”
“Kamu kemana aja sih? Ada hal yang penting sekarang cepet ke rumah”
“Ada apa sih?”
“Aku bakal jelasin di rumah. Cepetan!” jawab suami dengan buru-buru

Karena sang istri panik dan ikut penasaran, ia pun segera meninggalkan pusat perbelanjaan. Dalam 30 menit, akhirnya ia sudah sampai rumah. Sesampai rumah, ia disambut oleh sang suami dengan senyum yang merekah. Ia membawa se-bucket bunga untuk diserahkan kepada istrinya.

“Surprise!! Happy Anniversary, sayang!”
“Ah , so sweet”
“Loh, Jelita kemana?”

Segala kemanisan itu buyar dengan mengingat anak mereka masih berada di kamar mandi pusat perbelanjaan. Mereka segera ke pusat perbelanjaan dan untungnya anak mereka masih bisa ditemukan. Segala kekonyolan dan kepanikan ini membuat mereka tertawa terbahak-bahak sambil memeluk anaknya.

Iphone

Cerpen lucu-Iphone
Sumber foto: Mediamodifier dari Pixabay

Lita adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga. Ia memiliki dua kakak laki-laki, yang saat ini sedang merantau ke Jakarta. Kini, ia pun hanya tinggal bersama Ayah dan Ibu di kampung.

Di saat siang hari, di saat Ibu sedang menyetrika di ruang tengah, Lita tiba-tiba keluar kamar dan menghampiri Ibu.

“Bu, aku boleh gak beli HP Iphone 11?”

“Berapa harganya, Lit?” Ibu bertanya sambil tetap memondar-mandirkan setrikaan di atas baju dinas Ayah.

“Emm 14 juta, Bu.”

Ibu menghentikan gerakan menyetrikanya sementara. Berusaha mencerna ucapan Lita. HP apa yang harganya sampai mencapai 14 juta, tanyanya dalam hati.

“Yaudah, coba kamu liat rak di kamar Ibu, Lit.” suruh Ibu masih berusaha untuk santai.

Lita pun mengikuti perintah Ibu dan menuruti untuk membuka rak di lemari Ibu. Lita berpikir bahwa ada uang di rak tersebut. Dan ia pun menemukan berkas-berkas, salah satunya Kartu Keluarga.

“Loh, Kartu Keluarga, Bu? Ada apa?” Lita justru kebingungan

“Iya, kamu ambil pulpen sekarang, coret nama kamu di situ. Haduu mintanya aneh-aneh aja!” Jawab ibu sambil mengomel dan melanjutkan kegiatannya kembali.

Baca juga: 10 Cerpen Cinta Dengan Berbagai Pesan

Aki dan Parjo

Suasana rumah panggung itu memang terbiasa sepi. Apalagi hanya ditinggali oleh seorang kakek berusia 70 tahun bernama Aki Warta dan seorang cucunya bernama Parjo. Orang tua Parjo sendiri sudah meninggal sejak ia duduk di bangku SD. Saat ini, ia sudah menjadi anak SMA.

Suatu sore Parjo sedang membersihkan sepeda di depan rumahnya sambil berdendang dangdut. Lalu Aki Warta keluar dan berbicara dari ambang pintu.

“Aih aihhh, Parjo bukannya cepet ngumpet!” ujar Aki Warta geleng-geleng kepala.

“Loh emangnnya kenapa Ki?” tanya Parjo tanpa menghadap ke kakeknya.

“Hari ini kamu kan bolos, sekarang udah jam bubaran pulang sekolah tau! Pasti guru-guru lewat rumah kita.” jawab Aki Warta dengan panik.

“Yang harusnya ngumpet itu Aki, dong” ujar Parjo santai.

“Loh kok malah jadi Aki yang harus ngumpet?” Aki Warta kebingungan dengan respon dari cucunya.

“Soalnya, Parjo bilang ke guru kalau alasan gak sekolah itu karena kakek Parjo meninggal kemarin” jawab Parjo polos.

Sedetik berikutnya Aki Warta sudah mengambil ember di depannya dan membanjurkan airnya ke tubuh Parjo. Untungnya, Parjo dengan cepat menghindar.

Sepasang Kekasih

Cerpen lucu-Sepasang kekasih
Sumber foto: Free-photos dari pixabay

Muda-mudi dimabuk asmara memang menawarkan banyak cerita dan cinta. Di pojokan taman, kulihat sepasang kekasih berusia remaja duduk bergenggaman tangan. Sedangkan aku di depan mereka menyaksikan segala tingkah dan percakapan yang cukup menggelikan sambil membaca beberapa novel.

“Kita sudah pacaran satu bulan, kira-kira panggilan sayangnya, apa ya?” ujar perempuan berambut sebahu itu

“Ay atau beb aja, biar ga ribet” jawab lelaki itu dengan cuek

“Terlalu mainstream, tau!”

“Yaudah dah Ayah Bunda”

“Kayak anak SD deh, alay!” si perempuan itu menggerutu

“Ah kamu! Yaudah mau apa?” lelaki itu mulai kesal dan berpikir

“Ah iya! Kalau bee aja gimana?” perempuan itu memberikan ide seperti menemukan suatu harta karun yang berharga

“Kayak lebah aja hadee” Si lelaki yang memang tidak peka mendengus dan bermain HP.

Perempuan itu pun memalingkan wajahnya sambil memanyunkan mulut. Aku seolah melihatnya dan berpikir bahwa dalam pikirnya,pasti ia sedang memikirkan mengapa ia menyukai lelaki itu. Kekasihnya yang sadar bahwa perempuannya sedang merajuk, berusaha merayunya. Setelah rayuan lelaki itu berhasil, perempuan itu pun kembali tersenyum dan berkata,

“Yaudah deh, panggilannya Ay atau Beb aja”

Aku menutup buku dan beranjak pergi dari taman itu. Melihat kekonyolan mereka yang sedang sampai puncak-puncaknya.

Makanan Sehari-hari

Jalanan telah ditutup oleh pagar manusia berseragam hitam, dengan atribut lengkap mereka menggertakan giginya mengatur mundur remaja-remaja akhir yang masih berteriak lantang.

Sambil mengejek, ia memutar-mutar pentungan panjang seakan siap turun ke medan perang. Katanya dua orang mendapat bagian untuk bermain bersama seorang lainnya, agar lebih kondusif begitu.

Aspal jalanan ikut serta bergoyang-goyang menahan gelitikan sepatu dengan jemari yang tinggi dan jarang-jarang, terlihat begitu gagah dengan sepatu bot yang menutup hampir setengah bagian kakinya.

Di tengah kemeriahan pesta tersebut terlihat dua orang yang saling menunduk membisikkan sesuatu. Dengan khusyuk berusaha meredam kebisingan agar obrolan mereka tetap berlanjut.

“Tak disangkan hari ini massa lebih ramai dari kemarin, alamat gagal pulang sore kalau gini caranya.” Begitu ucap pria tinggi dengan kulit kecokelatan yang masih memegang erat senjata pelontar dengan lubang yang cukup besar. Seperti meriam yang dahulu kerap digunakan di Eropa ketika perang melawan penjajah.

“Iya, repot sekali mengurusi masalah gini aja,” ucap temannya yang beberapa kali sibuk membetulkan helmnya yang kebesaran. Kesal karena membuat suaranya semakin redup tak terdengar. Rasanya ingin membawa pengeras suara sendiri dari rumah.

“Aku akan kembali menarik pelatuk senjata ini,” persiapkan untuk menutup hidungmu jika tak tahan.

Lalu, bunyi ledakan diikuti kepulan asap membuat para remaja dengan seragam warna-warni tersebut mundur dengan kocar-kacir. Hingga ia tak menyadari, teman disampingnya telah muntah-muntah akibat bau gas yang begitu menyengat.

“Astaga, kubilang untuk menutup hidungmu, rasanya seperti bau bangkai,” ucapku di sela hembusan dari arah dubur yang begitu berat, sepertinya lain kali aku akan mengurangi porsi makanku. Ia tak tahu bahwa gas yang ia cium aromanya adalah aromas gasku.

Kertas HVS

Cerpen lucu-Kertas HVS
Sumber foto: Bruno/Germany dari Pixabay

Belum sempat menaruh bokongku di atas kursi, bel sudah kembali terdengar. Pertanda panggilan cepat nomor satu harus segera dituruti.

“Iya ada apa pak?” ucapku sambil melipat tangan di atas paha.

“Tolong ambilkan kertas hvs dua lembar ya, San.”

“Baik pak.” Aku melenggal setelah paham dengan perintahnya. Lalu kembali dengan cepat beserta dua lembar kertas yang telah berada di tangan.

Hening, aku kembali ke ruanganku sampai bunyi bel itu terdengar lagi di antara pendengaranku.

“Hvs lagi tiga lembar ya,” ucap Pak bos yang terlihat sibuk menulis angka-angka rumit pada kertas yang kubawa tadi.

‘Rajin sekali Bos kita,’ pikirku dalam hati.

Namun, kalimat tersebut aku urungkan ketika bel kembali terdengar untuk yang ketiga, keempat sampai yang kelima ketika ia meminta enam kertas hvs.

Aku berusaha mengatur napasku agar tak memaki secara langsung di hadapannya, ingat jika masih ada anak di rumah yang perlu makan esok hari.

Baru selesai mengambil napas, kini teriakan terdengar dari arah ruangan dengan dinding kebiruan. “Santi!! Ambilkan hvs tujuh lembar ya, ditunggu.” Hal yang tadi sudah jatuh di lantai, terlihat seperti naik kembali dengan warna merah padam yang mengikutinya.

Aku membuka pintu kayu berwarna hitam tersebut dengan kencang, diikuti satu rim kertas hvs yang kutaruh dengan kasar di atas mejanya. Terlihat kulitnya yang mengkerut beserta rambut tipis Pak Bos yang bergoyang.

“Ini kertasnya, Pak, biar Bapak cepat-cepat putih kaya hvs-nya.” ujarku setengah kesal.

Baca juga: 10 Cerpen Persahabatan Dengan Berbagai Pesan

Ular Tangga

Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, aku memasuki ruanganku sambil meninggalkan tas dan dasi yang kulempar asal di sudut ruangan. Niat ingin langsung merebahkan diri, harus kuurungkan saat ketukan pintu mulai terdengar.

“Iya, sebentar.”

Ia menyeret tubuhnya dengan lemah, begitulah staff pegawai perusahaan swasta. Membanting tulang menghabiskan dua pertiga harinya untuk mendengar perintah-perintah tak mengenakan dari atasan. Begitulah hidup.

“Masih tidak ingin pulang?” Ia langsung menggeleng. Genap seminggu kamarnya yang biasa sepi harus diisi oleh orang lain, temannya sejak sekolah dasar ini tengah bersi tegang dengan keluarganya dan memutuskan untuk kabur dari rumah, sialnya dia datang ke rumahku.

Aku menghela napas melihatnya telah mengusakkan tubuhnya di atas kasur.

“Seharusnya kau memberi salam terlebih dahulu, bahkan tuan rumah masih di depan pintu,” ucapku dengan nada sedikit menyindirnya.

“Aku lelah sekali, aku sempat pulang semalam dan malah disuguhkan pemandangan tak mengenakan, seperti pasang baru saja,” ucapnya sambil menutupi wajahnya dengan bantal, aku yakin jika ia sedang menangis sekarang. Perselingkuhan katanya, padahal keluarganya terlihat harmonis sebelumnya.

Berusaha tak menghiraukan ucapannya, aku mondar-mandir sambil melakukan rutinitas malamku sebelum tidur. Melakukan perawatan kulit adalah sebuah kewajiban, aku harus menjaga kulitku agar tetap glowing.

“Kau tahu? di mana lagi wanita itu dapat menemukan pria sempurna sepertiku, aku kaya raya, punya banyak bakat, dan kurasa aku cukup tampan.”

“Sungguh brengsek sekali, keluargaku menyantap makan malamnya dengan gembira seakan aku enggak pernah ada.”

Kamarku benar-benar dipenuhi oleh suaranya, ia tak akan berhenti berbicara jika tak tahu kata tidur.

Sesekali aku merespon ucapannya dengan anggukan dan kujulurkan lidahku. Aku masih sibuk mengolesi tubuhku dengan essence dan serum setelahnya. Aku senang jika kulit kecokelaatan dengan pola garis memanjang di kulitku terlihat glowing.

“Hei! Kau dengar tidak sih ucapanku?”

“Kukira aku bakal dapat petuah istimewa saat datang ke sini, menjengkelkan.”

“Sudahlah aku pergi saja, dasar ular!!” Ia melenggang begitu saja sambil menggerakkan otot di bagian bawahnya, pergi melata menjauhi rumahku. Sebagai sesama ular, tentu saja aku menahan untuk tidak mengeluarkan racunku kepadanya karena sudah menganggu tidurku. Huh.

Jamuan Resmi

Cerpen lucu- Jamuan resmi
Sumber foto: Terri Cnudde dari Pixabay

Kami duduk setelah meja dibersihkan, ruangan privasi khusus untuk kami berdua. Katanya hari ini lebih spesial dari biasanya. Kendati Bima pernah bilang kalau setiap hari itu spesial baginya, dia bilang selama bersama denganku harinya selalu spesial.

Sejak tadi ia terus mengulum senyumnya tak kunjung bersuara. Aku yang melihatnya sedikit gemas namun kuurungkan dengan ikut tersenyum kikuk.

Ia berdehem setelah makanan telah tersaji di hadapan kami, agak heran melihat banyak sekali menu yang kutaksir harganya tak murah, belum lagi tempat ini yang terkenal sering dipakai artis untuk jamuan penting.

“Kau tahu kan, jika hari ini adalah hari spesial.” Aku hanya mengangguk, menimpali sekenanya. Karena, sungguh ini masih sangat abu-abu bagiku. Sebetulnya apa yang terjadi.

“Aku ingin bilang lebih awal padamu sebetulnya, tapi ini perlu perayaan yang spesial.”

Aku meremas meja saking gugupnya, akhirnya anak Bunda ini akan melepas status jomblonya. Kukira aku akan menikah saat usia tiga puluhan mengingat tak pernah memiliki hubungan serius sebelumnya. Entah keberanian dari mana Bima mengajakku pacaran Maret lalu.

“Kau tahu cita-citaku yang dahulu sering kubicarakan.”

Bingo!! Jika tak salah ingat ia selalu bilang jika ia ingin menikah di usia dua puluh lima tahun. Bahkan ia pernah menguliahiku selama satu jam bercerita tentang rencana pernikahannya.

“Aku diterima PNS!! Akhirnya setelah mencoba tes dua kali tahun ini aku resmi menjadi PNS,” ucapnya sambil memelukku dengan erat. Masih terkejut dengan kenyataan, aku berusaha sedikit menjauh dari pelukannya.

“Kukira kamu mau,” ucapku pelan.

“Ti, ko kamu kaya enggak seneng gitu, si.” Raut wajahnya yang gembira sedikit ia tarik.

Aku menghela napas, “Kirain kamu beliin aku dunia, taunya jatuhin ke bumi, udahlah.”aku mendengus kesal karena angan-anganku tak sesuai dengan apa yang di pikiran.

Drama di Siang Hari

Pintu gerbang kudobrak dengan kencang, menimbulkan bunyi hantaman keras antara besi dan tembok, mungkin akan meninggalkan bekas. Tapi, siapa peduli jika amarah sudah naik ke ubun-ubun.

Dengan langkah tegas aku menuju ke arah pemuda yang tengah duduk dengan temannya, mulutnya sedikit terbuka dengan raut terkejut yang sangat kentara. Habis kau.

“Hendra!!” teriakku. Ia terkejut sampai berdiri, wajahnya membeku pucat pasi.

Dengan pasti kuraih kerah baju, “Sungguh, jadi seperti ini caramu memperlakukanku.”

Tubuhnya kugoyang-goyangkan saking kesalnya.

“A-aku bisa jelaskan,” ucapnya terbata-bata.

“Jelaskan apalagi, sudah jelas buktinya ada di depan mata.” Aku mengeluarkan bukti fisik yang kutemukan tadi pagi, dengan dibungkus plastik agar tak meninggalkan sidik jari, ku acungkan bukti tersebut di hadapannya.

Ia menegak ludahnya dengan kasar, belum lagi keringatnya yang keluar sebesar biji jagung.

“Jadi seperti ini caramu menilai persahabatan kita!!” Suaraku meninggi dengan cengkraman yang semakin kuat.

“Tidak, bukan seperti itu.” Matanya mulai memerah.

“Kita berteman dari lahir, tapi kau tega mengkhianatiku.” Suaraku mulai menghilang dan tanpa sadar tangisan mulai keluar.

Taman dan lapangan di samping komplek yang tak begitu luas, membuat orang-orang yang tadinya sibuk dengan kegiatannya masing-masing terpaksa harus melihat pertengkaran kami. Aku juga tidak tahu jika masalah serius ini bisa sampai di sini.

“Vin, tolong dengarkan penjelasanku!!” Napas Hendra terengah-engah.

“Bukan aku pelakunya, semalam ada tikus di dapur, kau tahu aku bahkan terjaga semalaman untuk menangkapnya.”

Aku tertegun mendengar penjelasannya, aku sungguh bersalah ternyata bukti yang kubawa ini bukan dia pelakunya. Cokelat malang kesukaanku, ternyata bukan Hendra pelakunya. Aku lah satu-satunya yang bersalah di sini.

“Ma-maafkan aku Dra!!” Aku menangis semakin kencang, begitupun dengan Hendra. Kami berpelukan, sambil memaafkan dengan air mata yang terus berurai.

Baca juga: 10 Cerpen Horor, Berani?

Begitulah 10 cerpen lucu yang bisa menghiburmu. Semoga bisa membantumu dan bisa menjadi bahan acuanmu, ya!

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *