Home Umum 10 Contoh Cerpen Horor, Berani?

10 Contoh Cerpen Horor, Berani?

Horor merupakan sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat. Adegan horor tersebut bisa dikemas dalam berbagai wahana, lho. Baik dalam bentuk film, novel, maupun cerpen. Cerpen horor biasanya terdiri dari cerita dan adegan yang mencekam serta membuat takut para pembacanya.

Apakah kamu salah satu orang yang senang membaca cerpen horor? Jika iya, maka kamu perlu membaca artikel ini sampai habis, ya.

Labirin Pertama

Labirin Pertama
Sumber foto: PublicDomainPictures dari Pixabay

Peta yang aku temukan di atas loteng rumah mengarahkanku pada semak rumput setinggi dua meter, sebuah labirin berukuran besar yang sebelumnya tak pernah kutemui. Seakan labirin muncul ketika peta ini kutemui untuk pertama kalinya. Pelataran labirin ini dipenuhi oleh dedaunan kering, menutupi seluruh tanah yang kupijak, tingginya hampir sebatas mata kaki.

Hampir tidak ada angin yang berembus di sini, terlampau sunyi sampai takut untuk berpijak dan menimbulkan suara berisik dari daun kering. Tempat ini pun bisa dibilang cukup sempit, sampai bahuku bersentuhan dengan dua sisi tembok labirin.

Hampir empat puluh menit aku berjalan di sini, sialnya aku tak menemukan tanda-tanda jalan keluar dari tempat ini. Langkahku mulai kelelahan, dan rasanya semakin pengap. Baru ingin mengistirahatkan tubuhku, aku mendengar sebuah suara ganjil dari ujung labirin, kontras sekali dari suasana sunyi sebelumnya. Ada suara cekikikan yang semakin keras, sukses membuat bulu kudukku berdiri. Sampai suara itu terasa merambat dan terdengar tepat di samping telingaku, tubuhku membeku.

Berusaha bangun dan berbalik menjauhi sumber suara, dengan paksa aku menyeret kedua kakiku yang masih kaku saking terkejutnya. Kini, suara itu semakin mengaung liar, ditambah langkah-langkah kaki tak karuan yang terdengar di setiap jengkal tubuhku yang menjauh.

“Arrrkkk” suara itu seolah menghantuiku.

Sampai akhirnya aku tak sanggup lagi untuk membawa diriku, menghentikan setiap pergerakan dengan dedaunan yang menenggelamkan sekujur tubuhku dengan perlahan. Suara itu terdengar semakin gila, sampai mataku yang semakin berat melihat sosok yang begitu tinggi dan lebar, melihatnya membuatku semakin menggigil seakan ia akan melahap diriku hidup-hidup, wajahnya yang terlihat jauh di atas sana menampilkan seringai lebar, dan akhirnya darah berjatuhan dari atas langit.

Baca juga: 10 Cerpen Remaja

Pamali

“Perempuan jangan duduk di depan pintu!”

“Jangan pulang malam-malam!”

“Jangan mandi magrib!”

“Jangan menyapu halaman malam!”

Begitulah berbagai macam pamali atau larangan yang dilontarkan ibu kepadaku. Apakah kau mempercayainya?

Sebetulnya aku tak percaya. Namun, saat makhluk aneh itu selalu mengikuti setelah pulang kerja. Mungkin aku mempercayainya.

Makhluk itu entah perempuan atau lelaki. Badannya kekar seperti lelaki, tapi rambutnya panjang seperti perempuan. Bajunya compang-camping penuh darah. Pertama kali aku bertemu dengannya ia membuatku kaget dengan kemunculannya di tengah jalan menghalangi laju motorku. Lalu ia terus mengikutiku bahkan sampai rumah.

Seminggu pertama, aku demam tinggi. Ibu sampai khawatir dengan apa yang terjadi. Ia memberikanku obat dokter pun tak mempan. Sampai akhirnya, ibu membawakan orang pintar ke rumah.

“Ada yang mengikuti anak ibu saat Si Neng pulang kerja. Saat ini masih di sini” ujar bapak-bapak tersebut.

Segera Ibu meminta bapak tersebut mengusirnya. Bapak itu pun membaca sesuatu, lalu seolah berpikir. Kurasakan tubuhku meregang di ambang sadar dan tidak sadar. Perlahan muncul satu bayangan, makhluk tersebut, ia berbicara kepadaku pelan.

“Aku merindukan adikku. Ia sepertimu.” Bayangan itu pun menghilang setelah ia mengucapkan kalimat tersebut. Badanku melemas dan tak sadarkan diri.

Darah yang Tersisa

Darah yang Tersisa
Sumber foto: Ewa Urban dari Pixabay

Aku membalik dua potong roti tawar yang satu sisinya telah menjadi cokelat keemasan, kembali mengoles mentega dan menunggu sisi lainnya siap. Sambil menunggu, dengan telaten aku mencampur dua gelas jus dengan takaran yang tepat, setidaknya sampai kadar nutrisinya sesuai.

Aroma menggoda dari roti isi telur dan daging panggang telah siap di atas meja makan, kami berhadapan dan memulainya dengan merapalkan doa.

“Terima kasih untuk sarapan hari ini, kau luar biasa sayang.”

Aku mengulum senyum dengan malu, telah satu minggu kami tinggal satu atap dan pujiannya terasa semakin manis setiap harinya.

Jemarinya dengan terampil mengiris potongan roti isi agar sesuai dengan suapan untuk mulutnya, bibirnya berwarna merah merona kontras sekali dengan kulitnya yang telah putih pucat.

Ketika potongan berikutnya, ia terlihat agak kesulitan untuk memotongnya. Sepertinya, daging di sebelah kiri belum masak dengan sempurna.

“Sini kubantu untuk memotongnya.” Ia mengulas senyum tipisnya, senang sekali di pagi hari sudah diberi senyuman favoritku.

Aku berlalu di belakang tubuhnya, memotong dengan tipis lapisan roti isi tersebut. Dadaku berdegup semakin cepat ketika lengan kami bersentuhan. Wajahku juga berubah semerah apel.

“Eh, maaf aku memotongnya terlalu jauh.” Saus kemerahan mengalir cukup banyak saat kuangkat pisau makan tersebut, meninggalkan jemarinya untuk isian tambahan untuk roti lapisnya. Kulihat wajahnya, yang pucat pasi. Ia tak menyangka dengan apa yang ia lihat, lalu pingsan karena ketakutan.

Bernyanyi Bersama

Kabarnya saat malam semakin tinggi, ketika sunyi telah menyelimuti seluruh makhluk hidup di bumi. Itu adalah waktu yang tepat bagi mereka yang tak ingin wujudnya tampak untuk keluar, mereka akan mulai dengan kegiatan normalnya seperti kami di siang hari.

Mulai dari sosok tinggi besar yang menghalangi rambu-rambu lalu lintas atau wanita berseragam putih yang lalu lalang bak di atas karpet merah. Aku tak begitu peduli dengan mitos tersebut, namun cerita itu sepertinya telah begitu lekat dengan kehidupan masyarakat di sini.

Walaupun begitu, tentu saja selintingan cerita yang kudengar setiap hari sukses membuatku gemetar jika harus pulang kerja tengah malam seperti ini.

Berusaha menetralkan pikiran, aku memasang pemutar musik mendengar lagu dengan irama yang cepat dan berisik. Langkahku terus tertuju ke depan menapak lurus mengikuti lampu-lampu jalanan yang dipasang berjauhan, kanan kiri jalan dipenuhi oleh ilalang setinggi tubuhku.

Angin halus muncul dari arah belakang, terasa kontras di tengah kesunyian malam ini. Tubuhku sedikit meremang, namun berusaha kualihkan dengan melanjutkan bait berikutnya dari lagu yang tengah kudengar.

Sampai ketika usahaku mengikuti untaian lirik lagu tersebut berhenti, ketika suara yang kudengar hanya gumaman sumbang suaraku dan suara lain yang begitu berat dari pengeras suara.

Tepat di bagian kiri, aku menoleh ke arahnya melihat wajah dengan separuh luka bakar dan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya, ditambah bibirnya yang menyungging begitu lebar sampai rasanya suara berat itu terus mengiang di kepalaku.

Baca juga: 10 Contoh Cerpen Cinta

Perempuan yang Datang dari Kegelapan

Perempuan yang Datang dari kegelapan
Sumber foto: Selver Učanbarlić dari Pixabay

Beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganjal dan membuatku tak tenang barang sehari
pun. Saat sekeranjang buah apel yang ditaruh di halaman rumah minggu lalu. Awalnya
kupikir bukan itu penyebabnya, namun mimpi itu selalu datang setiap potongan apel tersebut kumakan. Mimpi sama yang membuatku meneteskan air mata ketika bangun di pagi hari.

Tentang jeritan misterius yang datang dari balai kota, suaranya redup begitu memilukan.
Suara permintaan tolong yang hadir di setiap malam saat bulan penuh berada tepat di atas
langit. Semakin banyak kumakan apel itu, potongan-potongan puzzle itu terasa semakin
lengkap, dan membuatku yakin untuk menemukan jawaban dari mimpi-mimpi ini.

Tepat tengah malam, atap dan jalanan yang sepi disinari oleh sinar rembulan. Aku
mengendap, memastikan diriku tetap tak terlihat. Ada satu peraturan untuk penduduk di sini agar tak keluar di malam hari, tak ada alasan yang dapat kutemui tapi tak ada satu pun warga yang melanggarnya.

Aku berdiri di hadapan balai kota, sebelumnya aku tak pernah sadar jika gedung putih yang berdiri megah ini akan terlihat semencekam ini, pepohonan yang merunduk di sisi kanan dan kiri bergerak dengan perlahan. Lalu, tiang-tiang yang menyangga gedung terlihat seputih tulang. Patung yang biasanya dijadikan tempat bermain anak-anak terlihat begitu menyeramkan bahkan untuk orang dewasa. Aku meneguk ludah meyakinkan diriku untuk tetap berlalu.

Suara tangis yang sama mulai mengaung dengan samar, aku meniti setiap jalanan dengan
berat. Kakiku gemetar ketika suara itu terdengar semakin nyata. Terdapat sebuah gubuk tepat di belakang gedung balai kota, tak terlihat begitu rahasia namun ini pertama kalinya bagiku tahu kalau balai kota memiliki gubuk seperti ini. Tangis tersebut mengalun dari gubuk di hadapanku, aku membuka pintu tersebut dengan keringat yang telah membanjiri pelipis.

“Kau tahu terlalu banyak, tinggallah selamanya di sini.” ujar perempuan dengan tubuh penuh luka itu.

Ingat Saya

Sepertinya ini hari kelima aku tinggal jauh dari keluarga, di sebuah kamar kos seukuran dua kali dua meter, cukup untuk memosisikan tubuhku telentang. Aku tahu dapat melanjutkan studiku di kampus elit ini adalah impianku sejak lama, alih-alih senang sepertinya kepalaku sudah eror akibat hampir tak dapat tertidur sejak pertama kali aku membuka kunci pintu kamar ini.

Aku memunggungi sosok pria di belakangku, setelah seharian pura-pura tak melihatnya, ia hanya duduk memojok sambil menekuk wajahnya. Sebetulnya tak tega, tapi tolong ingatkan aku kalau dia adalah makhluk halus. Hampir pukul delapan malam dan aku masih betah dengan posisiku sejak siang tadi, sampai suara perutku terdengar sangat nyaring, sampai rasanya tetangga kamarku akan mendengarnya. Ketukan pelan terasa di belakang punggungku, jemarinya kecil dan agak dingin.

“Ma-maaf kalau aku mengganggumu, tapi jika kau lapar aku tak akan mengganggumu, aku akan pura-pura tak lihat,” ucapnya setengah berbisik.

Kondisi perutku memang tak bisa diajak kompromi lagi, ini akan berakhir tragis jika aku tak makan sekarang juga. Akhirnya aku bergegas mengambil jaket dan dompet untuk membeli makanan di warung depan.

Sekembalinya di kamar, aku membuka dua bungkus nasi lengkap dengan sayur dan ikan balado favoritku, aku sempat terkejut, kenapa juga aku membeli dua bungkus.

“Kamu tidak bisa makan ya?” lengkap sekali, sepertinya kelaparan membuatku lebih bodoh. Pria itu hanya mengangguk pelan. “Sebetulnya aku juga ingin makan, lauknya terlihat begitu menggoda sampai rasanya aku bisa merasakannya di mulutku.”

Setelah mengisi perutku, ditambah teh segar yang meluncur lancar di kerongkongan aku akhirnya dapat berpikir lebih lancar. “Kenapa mataku dapat melihatmu?”

“Entah.” Kenapa ia jadi irit sekali berbicara.

“Tapi, aku merasa sudah mengenalmu sejak lama,” lanjutnya. “Rasanya sejak pertama bertemu denganmu, membuatmu ingin mengucapkan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Tolong ingat aku.”

Suaranya menusuk indra pendengaranku, diikuti bunyi dengung dan cahaya yang berlarian mengitariku. “Ka-kau Fazka?”

Ia tersenyum pasi. Walau seperti cerpen horor kisahku ini, tapi entah mengapa aku tak merasa ketakutan bertemu dengan Fazka, mantan kekasihku yang meninggal karena penyakit ginjalnya. Lalu ia menghilang begitu saja, entah ke mana.

Lihat Lebih Dekat

Lihat Lebih Dekat
Sumbe foto: Peter H dari Pixabay

Gerbang telah dibuka dengan lebar, menandakan sore yang telah tiba. Waktunya kembali, dan bersembunyi dari bayang-bayang yang muncul di kegelapan. Kekuatan yang ia miliki lebih besar dari rasa takut, dan kemampuanku sekarang belum cukup untuk membunuhnya.

Namun, gerbang di hadapanku tak dapat kulalui, ada batas transparan yang kasat mata. Terlihat beberapa pasang mata yang mengintip dari balik jendela, matanya yang berwarna merah kentara sekali di antara gelap yang mulai menyala. Kepakan sayap hitam juga terbang menjauh ke arah barat, tak sedikit ada angin yang berlalu membuat suasana sunyi berubah semakin mencekam.

Lenganku yang gemetar memegang erat pelatuk, siap meluncurkan peluru jika ia datang. Apakah aku dijadikan tumbal warga desa, malam itu aku tahu jika enam orang yang sebelumnya pergi bukanlah menghilang seperti kabar yang diberikan, sepertinya nasibku juga akan berakhir sama dengan mereka, nyaris tak ada kesempatan untuk manusia bertahan hidup di luar gerbang. Kini gelap telah melahap habis sisa cahaya, mataku membola berusaha mencari setitik cahaya di mana pun ia berada.

Aku mendekat pada tembok gerbang saat terlihat cahaya serupa kilat berkedip begitu cepat dari arah jam tiga. Tak ada sedikit pun suara, namun cahaya itu berhasil mencuri perhatianku. Dengan langkah ragu aku menuju titik cahaya tersebut. Makin dekat, sampai kilat yang tadinya berwarna putih memencar menjadi begitu banyak warna dan terlihat semakin nyata. Aku semakin merinding seperti membaca cerpen horor.

Tubuhku berjalan begitu ringan seakan eksistensi gravitasi telah hilang dalam beberapa saat. Tanganku menjulur ke depan, menggenggam pistol semakin erat, dan ketika cahaya itu sampai di hadapanku, dengan lantang aku menekan pelatuk. Bunyi ledakan terdengar begitu nyaring, sinar itu berubah menjadi dunia yang sangat luas dipenuhi gelas-gelas anggur dan buah-buahan yang melimpah.

Setelah itu, terlihat enam sosok tubuh yang digantung terbalik mengerling ke arahku. Sayang, ketika senyuman itu bertemu pandanganku, aku tak ingat sedikit pun apa yang terjadi setelahnya.

Baca juga: 10 Cerpen Persahabatan

Sendiri

Dinding ini berubah menjadi lembap, dengan noda kehijauan yang telah menyelimuti sekelilingnya. Aku menutup pintu itu, menahannya begitu keras diiringi raungan yang datang dari luar. Terdengar suara gesekan kasar secara perlahan mendekat menuju pintu.

Suara tersebut diikuti dengan erangan dari tubuh yang diseret paksa setelah berhasil jatuh di tangan kecokelatan yang dipenuhi oleh sisik dan kulit yang kasar. Mataku mengintip, berharap langkah-langkah tersebut tak berhenti di hadapannya, napasnya yang masih tersengal berusaha untuk meredam sekecil apa pun suara yang keluar.

Sambil merapalkan mantra pelindung, aku menutup mataku menguatkan secercah energi positif guna menangkal makhluk buas di luar sana. Mulutnya yang dipenuhi taring tak dapat ditutup dengan sempurna, mengeluarkan asap kelabu yang kelaparan.

Aku bertahan sampai sejauh ini, meninggalkan temanku yang bersimbah darah di luar sana. Tidak ada lagi sisa-sisa teriakan dan erangan yang tersisa. Mengikuti nyawa-nyawa yang terkurung setelahnya. Bibirku terangkat dengan senyum tipis, lega karena pertarungan ini akhirnya berakhir dan dia menjadi satu-satunya pemenang di sini, meninggalkan orang-orang bodoh di luar sana sebagai tameng dirinya.

Makhluk buas itu juga sepertinya nyaris mati karena keserakahannya, matanya yang sebelumnya berwarna hitam dengan kilat kemerahan kini berubah sepenuhnya menjadi putih dan akhirnya melalui pintu tersebut. Aku mengeluarkan kitab biru yang menjadi kunci dari dunia ini, akhirnya aku dapat menjadi entitas terkuat yang pernah ada, tak ada lagi ruang dan waktu yang tersisa. Seluruhnya berada di bawah kuasaku.

“Kau.. tidak.. sendiri.”

Debu

Debu
Sumber foto: Liselotte Brunner dari Pixabay

Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan.

Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta.

Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan,

“Halo teman-teman, maaf ya telat”

“Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda

“Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku.

Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut.

Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan.

Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik.

Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar.

Qorin

“Kemarin gue lihat lo di ruang kelas sendirian, Lan, ngapain lu, yang lain udah pada bubar?” Tanya Rangga usai solat magrib dan hendak kembali ke ruang BEM.

“Emang iya? Bukannya lo tegur” Lana tidak mengingatnya, apakah memang iya aku sendirian di kelas? Ah, mungkin saat aku mengerjakan laporan. Gumamnya dalam hati.

“Lo sibuk gitu” Percakapan Lana dengan Rian berakhir sampai di situ, karena Rian mendadak perlu menemui seseorang.

Setelah sampai di ruang BEM, Lana menemui teman-temannya yang lain. Ada Jaka, Riana, dan Wana. Mereka sedang menyusun proposal acara yang mau diadakan tiga bulan lagi. Mendadak percakapan mereka berganti topik.

“Lan, dua hari yang lalu lo  dandanan gak seperti biasanya deh. Pake gamis serba putih gitu, terus gue panggil gak nyaut.” Ujar Jaka.

“Bener, Ran. Padahal biasanya lo kalo ke kampus kan stylish banget tuh. Kita yang tadinya mau solat magrib, sedikit telat gara-gara manggil lo doang” tambah Riana

“Hah?” Lana terkejut “Gue gak ke kampus dua hari yang lalu.”

“Lah terus itu siapa dong? Sumpah muka, badan, mirip lo banget” Jaka bertanya keheranan

“Ih jadi takut gue. Lo gak bercanda, kan?” Riana menimpali percakapan.

“Ya enggaklah, Ri. Ngapain juga.”

Mereka saling pandang memandang dan keheranan. Terlebih lagi Lana yang berusaha mencerna terhadap apa yang telah terjadi. Sementara itu, tanpa mereka ketahui, sosok yang mirip Lana memandangi mereka dari luar jendela. Meneyeringai dan tertawa pelan, tak ada yang mengetahuinya, kecuali Lana yang menengok ke arah jendela.

Baca juga: 10 Contoh Cerpen Pendidikan

Begitulah 10 cerpen horor yang bisa membuatmu merinding. Semoga dapat membantumu.

Zia
Zia
Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Gerak Lurus

Gaya merupakan penyebab perubahan pada benda. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan gerak benda, termasuk kelajuannya dan arah kelajuan atau perubahan kecepatan. Namun dalam fisika...

20 Website Jurnal Internasional dan Cara Mencarinya

Membuat suatu tulisan ilmiah, terutama skripsi, tentu memerlukan banyak artikel dari jurnal sebagai tinjauan pustaka. Beberapa dosen pembimbing juga menyarankan untuk mencari jurnal internasional...

Cara Menggunakan Mendeley

Membuat sitasi dan daftar pustaka sering terasa membingungkan dan melelahkan. Apalagi ada banyak sistem yang tersedia untuk mengutip suatu tulisan, misalnya yang menggunakan metode...

Turunan Fungsi Aljabar

Turunan fungsi merupakan salah satu materi yang penting untuk dipelajari. Turunan fungsi ini merupakan syarat untuk belajar materi integral. Selain sebagai materi syarat turunan...

Perang Banjar: Penyebab Serta Akhir Perang

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pulau, dari sabang sampai merauke. Salah satunya yaitu Kalimantan Selatan. Daerah ini terkenal dengan produk pengolahan daerahnya seperti...