10 Cerpen Inspiratif tentang Botol

Cerpen atau cerita pendek adalah jenis karya sastra yang besifat imajinatif dengan berbagai tema. Salah satu tema yang bisa diangkat adalah cerpen inspiratif tentang botol. Penggunaan botol dan manusia dalam cerpen-cerpen ini bisa dikatakan sebagai analogi ataupun perumpamaan untuk menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya.

Penasaran seperti apa cerpen inspiratif tentang botol? Berikut adalah 10 cerpen inspiratif tentang botol yang bisa kamu baca dan semoga bisa menghiburmu. Selamat membaca!

Botol yang Tidak Ingin Menjadi Botol

Botol yang Taidak Ingin Menjadi Botol
Sumber foto: Suzy Hazelwood dari Pexels

“Aku tak minta dilahirkan sebagai botol!” teriakanku menggelegar di ruangan penyimpan air mineral.

Baca juga: Contoh Cerpen Pendidikan

Teman-temanku yang lain mulai mencegahku agar tidak keluar dari ruangan ini. Sesungguhnya aku pun tak ingin berada di sini untuk mengisi air yang memberatkan tubuhku. Aku hanya ingin bebas dan hidup santai.

“Tapi, kau harus menerima takdirmu!” ujar ketua botol yang suaranya lebih lantang daripada suaraku.

Tubuhku mendadak membeku. Ketua botol berdiri di tengah-tengah kami, lalu mulai menceramahiku dan botol-botol lain yang ikut memberontak diam-diam.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain merima. Contohnya, batu tak pernah mengeluh menjadi batu. Ia tetap kokoh dan membantu manusia walaupun dalam diam. Kita adalah botol yang sangat berguna. Kita menampung air supaya bisa diminum oleh manusia. Bukankah itu sebuah anugrah?”

“Aku tak sudi dimanfaatkan manusia! Manusia terlalu egois dan ketika kita sudah tak dipakai, mereka membuang kita ke tempat sampah!” emosiku melonjak kembali. Kali ini banyak botol-botol lainnya yang setuju dengan pendapatku.

“Karena itulah kita berada di sini. Tugas kita memang sebatas itu. Semua benda di dunia ini punya tugas dan kapasitasnya masing-masing. Kau tidak bisa menjadi manusia atau mengharapkan menjadi benda lain, karena mereka pun punya tugas yang berbeda-beda.”

Aku termenung. Penjelasan ketua botol itu pun meredam emosiku.  Aku pun kembali ke barisan seperti yang sudah ditata sebelumnya oleh petugas air mineral. Perlahan aku mencoba menerima posisiku, karena pilihan terbaik hanyalah menerima.

Nilai Sebuah Botol

Yoan pulang dengan semangat lantaran mendapatkan beberapa barang bagus yang bisa ia jual. Setelah memulung di dekat perumahan orang kaya, ia menemukan beberapa botol kaca berbagai bentuk. Dimulai dari bentuk segitiga, oval, bahkan botol kaca panjang berukuran 50 sentimeter.

Sebelum menjual penemuannya, ia pulang ke rumahnya terlebih dahulu dan menemui Sang Ayah. Ayahnya Yoan mengidap TBC sejak satu tahun lalu. Saat ini ayahnya sudah tidak lagi pergi bekerja dan alhasil tinggalah Yoan yang ikut menanggung beban keluarga. Ibunya pun hanya pembantu dengan gaji yang tidak seberapa.

“Yah, aku menemukan botol-botol ini. Bagus banget yah?” tanya Yoan memulai percakapan.

“Iya pasti kamu menemukannya di perumahan orang kaya itu ya?”Ayah mencoba menebak

“Bener banget, Yah. Tapi orang-orang yang tinggal di perumahan itu hidupnya enak banget ya Yah.”

“Anakku, ini ada empat botol kan di depan kita. Bentuknya beda-beda tapi namanya tetap botol. Betul?”

“Betul, Yah. Terus?”

“Ini botol bekas madu, mungkin harganya 200.000. Ini botol bekas sirup, mungkin harganya 50.000. Yang warna coklat itu botol vas bunga harganya bisa 30.000. Dan yang ini botol bekas minyak wangi harganya bisa 500.000,” Ayah mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan kembali.

“Manusia juga seperti itu, Nak. Kita sama, tetapi berbeda isi dan bentuknya. Hal itulah yang membedakan harga kita di mata Sang Pencipta. Isi yang bagus bukan dilihat dari harta, tetapi dari hati dan takwa”

Yoan mengangguk dan memahami maksud perkataan ayahnya. Kini, ia tidak merasa rendah diri lagi. Lantas ia segera menjual botol-botol kaca tersebut dan mendapatkan upah. Untungnya, hari ini ia mendapatkan upah yang cukup besar. Ia pun membelikan semur daging untuk keluarganya. Yoan, Ibu, dan Ayah pun makan bersama. Tak lupa menunaikan ibadah setelah makan malam.

Jawaban Duka Rein

Jawaban duka Rein
Sumber foto: Antonios Ntoumas dari Pixabay

Suasana pantai seperti ini lah yang didambakan Rein. Belum ada para pedagang yang menawarkan ikan kering atau pun kios oleh-oleh masih tutup. Rein sengaja mengunjungi pantai pukul setengah 6 pagi. Karena di waktu itulah ia bisa menikmati deburan ombak dan nuansa pantai tanpa ada satu orang pun.

Saat kakinya berjalan di atas pasir, Rein merasa seperti melayang. Ia tak tahu kemana melangkah, ia hanya menyusuri garis pantai ini. Keheningan di pantai pun seperti kekosongan dalam dirinya. Setelah gagal menamatkan kuliah dan pacar yang meninggalkannya, lubang kekosongan itu semakin nyata.

“Awwww,” serunya kesakitan. Ia sedang asik berjalan sampai tidak menyadari bahwa kakinya tersandung sesuatu. Ternyata botol bening kaca yang sangat cantik.

Botol bening tersebut tampak berkilauan dan akhirnya Rein pun mengambilnya. Pada pandangan pertama, Rein pun jatuh cinta pada botol tersebut. Di dalamnya, terdapat selembar kertas. Sempat ragu untuk membuka tutup botolnya, namun akhirnya karena Rein penasaran, ia pun memberanikan diri.

Kertas berwarna kecoklatan itu diikat dengan seutas tali. Dan ketika Rein membukanya terdapat tulisan ‘Buanglah gelisahmu, di botol ini’

Dimulai saat itulah Rein berani mengatakan kegelisahannya ke botol tersebut. Ia berbincang ke botol tersebut setiap harinya di pantai. Botol itu memang tidak menjawabnya, namun Rein merasa botol sudah menjadi sahabat yang erat bagi dirinya. Rein yang tadinya jika ada masalah hanya diam seribu Bahasa, kini mulai bercerita. Baginya, botol adalah jawaban ketika tidak ada satu orang pun yang dapat menolongnya.

Botol Plastik Terakhir

Lautan di bumi dipenuhi botol plastik yang tak bisa diurai. Aku adalah salah satunya. Sudah puluhan tahun aku terombang-ambing di laut, dan kini aku berada di Samudra Pasifik Bersama rekan-rekanku yang lain.

Baca juga: Cerpen Inspiratif Ibu

Aku beruntung karena aku tidak sendiri di Samudra yang luas ini. Aku juga merasa bersyukur kepada manusia yang sering menggunakan botol plastik sepertiku dan rekan-rekanku. Namun, suatu Ketika, krisis hidup aku alami Ketika aku dan rekan-rekanku berbincang.

“Kau sudah berapa tahun terbuang?” tanya botol bertutup merah kepadaku.

“Hampir 60 tahun, kamu?” jawabku santai.

“Wahhh aku harus menghormatimu, senior! Aku baru  25 tahun”

“Bisa saja kamu,” jawabku sambal terkekeh.

“Tapi, apakah kau tidak bosan hidup 60 tahun di sini? Aku saja ingin kembali berubah wujud menjadi bulir-bulir kembali. Entah sampai kapan begini”

Keluhan botol bertutup merah itu pun mengusik kesadaranku. Pada awalnya aku senang-senang saja banyak teman di laut ini. Tetapi, setelah kulihat kembali perasaan senangku tidak ada gunanya. Teman-temanku sesama botol plastik tak sedikit yang ditelan paus atau ikan-ikan, sehingga makhluk tersebut kesakitan. Bahkan tak jarang juga yang mati karena menelan teman-temanku.

Aku tidak ingin hidup begini terus. Aku harap tidak ada botol-botol plastik lainnya yang ada di laut ini. Aku harap manusia bisa berhenti menggunakan botol plastik yang mencemari laut ini. Aku harap akulah botol plastik terakhir yang ada di muka bumi ini.

Kesombongan Botol Kecap

Kesombongan botol kecap
Sumber foto: Pexels dari Pixabay

Dapur rumah Tiwi adalah dapur termewah dan terlengkap. Ibunya Tiwi bekerja sebagai koki dan sangat senang memasak. Aku menjadi salah satu bagian dari dapur nya Tiwi.

Kulitku gelap namun pengkilap. Ujung tutup botolku berwarna kuning keemasan. Ibunya Tiwi sering menggunakanku dibandingkan botol saos atau botol cuka. Hal itu dikarenakan Tiwi sangat menyukai kecap. Bahkan Tiwi pernah memakan kerupuk sambil memakai kecap.

“Akulah yang paling berkuasa di sini. Soalnya aku yang paling banyak dibutuhkan.”

“Loh, aku juga kok. Ayahnya Tiwi nggak bisa makan kalau nggak pake saos.” ujar botol saos tidak mau kalah.

“Tapi, ayahnya Tiwi Cuma datang ketika hari libur saja.” Ujar ku kembali. Lalu botol saos pun cemberut dan membelakangiku.

“Lihat saja botol kecap! Kau pasti akan mendapatkan akibat dari kesombonganmu itu!”

Aku tidak memedulikan omongan botol saos kala itu. Tetapi, selang waktu berjalan, isi kecapku mulai habis. Biasanya ibunya Tiwi membeli isi ulang kecap dan menaruhnya ke badanku. Tetapi, aku sangat kaget sekali ketika menemui botol kecap lainnya berada di sampingku.

Botol kecap tersebut lebih bersih dan bagus dibandingku yang sudah memiliki bercak kecap di leherku. Saat memasak pun ibunya Tiwi hanya memakai botol kecap baru itu.

Sampai suatu hari, akhirnya tubuhku diangkat oleh ibunya Tiwi. Aku kira akan digunakan untuk memasak, tetapi ternyata, aku dimasukan ke dalam tong sampah. Hatiku sangat sakit, mungkin inilah karma yang diucapkan oleh botol saos karena kesombonganku.

Tak Ada yang Tak Berguna

Aria mondar mandir di hadapan Ibu yang sedang duduk di ruang keluarga. Ia tampak mencari-cari sesuatu namun entah apa. Sampai akhirnya, Ibu pun bertanya kepadanya.

“Kamu cari apa sih, Aria? tanya Ibu sedikit agak kesal karena Aria menghalangi TV.

“Barang bekas, Bu. Buat dijadiin tugas kesenian,” jawab Aria sambil melihat-lihat barang bekas di lemari yang sekiranya bisa dijadikan tugas.

“Hoalah coba kamu liat di dapur, ada box kayu. Di dalemnya banyak barang-barang bekas tuh,”

Aria pun segera menuju dapur. Ia membuka box kayu yang cukup besar itu. Tetapi, ia hanya menemukan botol-botol bekas sirup dan beberapa kaleng makanan. Aria pun menghampiri ibunya kembali dan mengadu tentang apa yang ia temui.

“Bu, Cuma ada botol ini sama kaleng doang? Mau dijadiin apaan coba? Kayaknya nggak bergunaa banget deh,” protes Aria karena Ia pun sebenernya kebingungan harus membuat apa.

“Sesuatu yang keliatannya berguna, bisa diubah jadi berguna , Aria,” jawab Ibu pelan, lalu ia mengambil botol sirup dari tangan Aria.

“Hmm contohnya botol bekas sirup ini. Kamu bisa gunakan buat jadi vas bunga. Kamu tinggal menghiasnya dengan tali atau payet. Atau bahkan kamu bisa melukis botol ini”

Saran dari Ibu membuat Aria mendapatkan ide. Akhirnya ia tahu harus membuat apa untuk tugas keseniannya. Saat itu juga, Aria pergi ke toko alat tulis dan pernak-pernik. Membeli beberapa tali, pita, dan payet untuk menghias botol bekas tersebut.

Akhirnya botol bekas tersebut pun berubah penampilan menjadi sangat cantik. Aria menghiasinya dengan nuansa warna biru dan krem yang memanjakan mata. Tak lupa juga ia membeli bunga mainan untuk dimasukan ke dalam botol bekas tersebut yang kini sudah menjadi vas bunga.

Botol dan Anting-Anting

Aku terbangun dan menyadari bahwa tubuhku sudah berpisah, bahkan tercerai berai. Kini aku menggantung menjadi anting-anting yang dijual untuk di sebuah toko kreasi kaca. Entah kenapa aku berada di sini. Seingatku, aku adalah botol wine yang berwarna biru gelap. Tuan memajangku di lemari anggur miliknya. Namun kini, aku hanya menjadi serpihan kaca dan menjadi anting.

Dahulu, aku dibuat untuk menampung 1 liter wine yang lezat. Lalu, Tuan menemukanku di sebuah super market dan membawaku ke rumahnya. Itulah hari yang berbahagia, karena akhirnya aku dipilih oleh seseorang dan tidak lagi berada di rak supermarket.

Satu minggu aku berada di rumah Tuan. Sampai akhirnya tutup botolku dibuka oleh Tuan dan ia meminumku bersama Nyonya di ruang tamu. Mereka berbincang tentang peliknya usaha mereka yang sedang diselimuti hutang. Obrolan mereka membuatku tersadar, bahwa menjadi manusia begitu rumit dan perlu memikirkan hal-hal seperti itu.

Dari satu gelas lalu gelas kedua, lanjut gelas ketiga, bahkan sampai 10 gelas mereka meneguk wine dari botolku. Mereka tak sanggup lagi berbincang dan menghabiskan sisa malam dengan tidur di sofa. Kini, aku sah menjadi satu botol yang kosong tanpa isi.

Keesokan harinya aku terbangun di tempat sampah. Tidak ada lagi ruangan lega nan harum milik Tuan. Lantas seorang pemulung mengambilku dan menjualnya ke pengrajin kaca. Aku dikumpulkan dengan botol-botol lainnya. Aku sudah menduga inilah akhir hayatku. Namun ternyata aku masih hidup.

Pertama, aku dipecahkan menjadi dua bagian. Lalu pengrajin tersebut melelehkanku tubuhku. Suhu panas menggorogti tubuhku agar aku dapat dibentuk sesuai dengan keinginannya. Sampai akhirnya aku dibentuk menjadi seperti tetesan air dan menjadi anting seperti sekarang.

Entah aku harus bersyukur ataupun tidak. Aku merasa tubuhku tidak lagi utuh karena sudah dilelehkan dan kini menjadi bentuk lain. Setiap harinya aku hanya melihat-lihat pengrajin tersebut melelehkan botol-botol kaca lainnya dan menjadikan botol tersebut berbagai bentuk. Ada yang menjadi hiasan, liontin, kalung, bahkan anting sepertiku.

Aku menghembuskan napas sedih. Terkadang aku rindu berada di lemari di rumah Tuan. Sampai suatu hari sepasang suami istri mengunjungi toko pengrajin kaca tersebut. Mereka awalnya hanya melihat-lihat dan menemukanku. Ternyata mereka adalah Tuan dan Nyonya!

“Mas saya mau yang ini, yaa. Tolong dibungkus.”

“Baik bu, sebentar yaa. Terima kasih banyak.”

Tak disangka-sangka, Nyonya menyukaiku dalam bentuk anting dan akhirnya ia pun membeliku. Inilah hari bahagiaku yang kedua. Aku pun kembali ke rumah Tuan dan Nyonya.

Hubungan Botol

“Dia bikin sakit hati lagi, Tia…” Rengekan Hana menjadi pembuka pada percakapan mereka berdua.

Hana tiba-tiba datang menghampiri Tia yang sedang asyik menonton drama korea di kos nya. Ia pun langsung menyambut sahabat dari kecilnya itu dan bertanya apa yang sedang terjadi.

“Alvin, Tia.. Dia selingkuh dengan teman sekantornya,” ujar Hana pelan sambil air matanya membanjiri pipinya.

Tia menghembuskan napas. Sesungguhnya ini bukanlah pertama kali Hana menangisi Alvin karena masalah yang sama. Sesungguhnya juga, ia sudah bosan melihat Hana yang terus menerus disakiti Alvin. Ia pun memeluk Hana dan mengusap-usap punggungnya.

“Padahal Ti, dulu itu sebelum kita komitmen dia baik banget dan nggak pernah genit ke cewe lain. Tapi sekarang..” tangisan Hana semakin kencang. Tia menawarkan tisu dan kembali memeluk sahabatnya.

Di dalam pelukan itu Tia sambil memikirkan cara yang tepat untuk berbicara dengan Hana agar Hana sadar bahwa manusia itu berubah-ubah. Lalu, ia melihat botol kaca dan ia merasa bahwa itu bisa menjadi obrolan yang menarik.

“Han, coba deh kamu liat botol itu.” Tia menunjuk botol yang berada di dekat lemari.

“Botol itu memang bisa menampung air dan sebagainya. Tetapi, botol tersebut juga bisa menyakiti diri kita kalau pecah. Pecahan botolnya bisa membuat kita berdarah. Manusia juga seperti itu Han. Mudah sekali berubah-ubah. Dari yang tadinya menyayangi menjadi menyakiti.”

“Terus Ti?”

“Alvin emang sudah berubah Han dan dia serupa pecahan botol tersebut yang selalu menyakiti diri kamu. Udah bukan saatnya kamu pegang terus karena akan menyakiti diri sendiri. Coba lepas yaa, kamu bisa, aku bantu kok.” Tia menjelaskan dengan tenang.

Hana mengangguk pelan. Mudah-mudahan kali ini ia benar-benar sadar. Dan benar saja keesokannya ia memutuskan hubungan dengan pacarnya itu, memblokir semua medianya dengan Alvin, dan sering bertemu Tia hanya untuk bermain di kosan atau jalan-jalan. Tia pun bernapas lega, akhirnya sahabatnya bisa pelan-pelan melupakan mantannya.

Dilema Botol Berlubang

Suatu hari hiduplah seorang tukang kebun yang mempunyai dua botol. Botol pertama tidak memiliki cacat sedikit pun, sedangkan botol kedua memiliki lubang di bagian bawahnya. Setiap hari, tukang kebun tersebut selalu mengambil air di sungai menggunakan kedua botol. Tetapi, botol yang memiliki lubang selalu tak bisa menampung air sampai rumah tukang kebun karena airnya habis saat di perjalanan.

Botol pertama pun meledek botol kedua.

“Ah payah banget kamu, bawa air tapi sampai rumah sudah habis. Gara-gara punya lubang sih.”

“Iya memang lubang di tubuhku membuatku sangat jelek.” Botol kedua pun mulai merasa rendah diri.

Setelah kejadian itu, botol kedua menghampiri tukang kebun untuk membuangnya saja lantaran ia tak berguna. Tukang kebun pun tersenyum tenang dan memberikan penjelasan kepada botol kedua.

“Kamu sadar nggak, jalanan yang sering kita lewati jadi tumbuh bunga dan tampak asri sekarang?”

“Hmm iyaa, memangnya kenapa? Apa kaitannya dengan saya?”

“Tentu aja ada, hal itu karena kamu. Air yang sudah kamu tumpahkan itu telah menumbuhkan bunga-bunga di jalan tersebut.” Tukang kebun tersenyum dan berusaha menenangkan botol kedua.

“Jadi nggak perlu sedih ya. Kamu berguna banget,” ujar tukang kebun.

Botol kedua pun ikut tersenyum. Kini ia paham, walaupun kita punya kelemahan, jangan terlalu bersedih. Karena di balik kelemahan itu terdapat kelebihan yang pastinya bermanfaat untuk sekitar.

Botolku, Rumahku

Bagiku botol ini bukan cuma botol, tapi juga rumah. Tempat aku berenang bebas dan meliuk ke sana kemari. Aku bersyukur ditemukan Bang Amin, pembudidaya ikan cupang yang andal. Aku lahir dari rahim seekor ibu cupang dan ayah cupang berjenis petarung. Alhasil, selain ekorku indah, gerakanku pun tidak lamban. Aku juga sering kali diadu bersama cupang lainnya. Dan botol tempatku tinggal adalah saksinya.

Baca juga: Contoh Cerpen Tentang Kehidupan

Suatu hari, aku bertarung dengan ikan cupang dari botol yang berbeda. Pertarungan itu cukup sengit, karena merebutkan botolku yang nyaman ini. Jika aku menang, maka aku berhak mendapatkan makanan berlimpah dari Bang Amin. Sedangkan, kalau aku kalah, maka botolku ini akan diberikan kepada lawanku tersebut.

“Kau akan kalah, cupang manja!” ujar dia yang meledekku.

“Lihat saja nanti!”

Aku yang pertama menyerang tubuhnya. Satu kali serangan saja dia mulai merasa kesakitan. Lantas ia pun menyerang dan aku cukup bisa menghindar. Kulihat Bang Amin dan para anak-anak yang melihat sangat menikmati pertarungan kami.

Saat aku hendak menyerang kembali, entah kenapa cupang lawanku berhasil menghindar. Bahkan ia bertubi-tubi menyerangku tanpa ampun. Kudengar Bang Amin dan para anak-anak semakin bersorak.

Aku barusaha balik menyerang, namun entah mengapa tenagaku seolah terkuras habis. Aku sempoyongan melawan cupang tersebut dan cupang tersebut selalu menghindariku. Lalu di detik-detik terakhir, ia mengibaskan ekornya ke tubuhku dan membuatku terdorong ke ujung. Kurasakan tubuhku ngilu dan kaku. Beberapa detik taka da perlawanan lagi dariku dan ternyata Bang Amin menobatkan ia menjadi juara.

Betapa sesak hatiku Ketika botol kacaku ditempati cupang tersebut. Kini aku pindah ke botol yang lebih sempit. Namun, karena hatiku selalu ada di botol tersebut, aku merasa tak nyaman dan kini selalu sakit-sakitan. Entah mengapa tubuhku semakin melemah setiap hari, sampai akhirnya tak pernah lagi aku berenang seceria dulu dan mati meninggalkan kenanganku di botol tersebut. Begitulah besarnya arti rumah untuk botolku.

Itulah 10 cerpen inspiratif tentang botol. Cerpen mana yang menjadi favoritmu? Semoga bisa membantumu dalam belajar dan memberikan inspirasi.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Suka apapun tentang dunia tulis menulis dan buku. Menamatkan kuliah di Sastra Indonesia UNJ dan kini menjadi content writer.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *