Cerpen Inspiratif Ibu

Ibu adalah sumber kisah yang tak pernah habis dituliskan. Dengan kasih sayang, cinta, dan tanpa minta balasan, cerita tentang ibu selalu menarik untuk dibaca. Apakah kamu salah satu yang suka cerpen tentang ibu? Berikut ini adalah 10 cerita inspiratif tentang Ibu yang bisa membuatmu tersentuh. Selamat membaca.

“Selamat Hari Ibu!”

Selamat hari ibu
Sumber foto: rawpixel dari Freepik

Aku ingat, saat usia belasan, teman-temanku sangat sibuk membuat pernak-pernik atau hadiah saat hari ibu tiba. Tetapi, aku hanya melihat mereka membungkus kado warna warni dan menuliskan kalimat-kalimat manis untuk ibu mereka masing-masing. Sementara aku, lelaki yang sejak umur belasan sudah memiliki sifat dingin rasanya tak punya waktu untuk menbuat hal remeh seperti itu. Ya, karena aku tak punya waktu.

Sejak subuh, aku membantu ibuku di pasar untuk menjual sayuran. Pukul tujuh aku harus berangkat sekolah dan Ibu masih sempat masak dan memberiku bekal makan siang. Ya walaupun Cuma sayur kangkung dan telor aja setiap harinya. Setelah pulang sekolah, aku mengerjakan PR dan langsung membantu ibuku kembali di ladang. Ladang yang tak seberapa itu emang peninggalan almarhum ayah dan menjadi sumber pendapatan kami. Sore tiba Ibu masih mengajarkan aku dan teman-temanku mengaji. Jadi, setiap hari, aku selalu bareng Ibu.

Pernah suatu ketika aku berbicara pada Ibu, bahwa aku tidak memberikan hadiah apa-apa di Hari Ibu. Lalu, ibuku pun menjawab,

“Ibu nggak perlu hadiah apa-apa. Kamu selalu sehat dan berbakti sama Ibu aja itu juga hadiah” entah mengapa aku merasakan ucapan Ibu sangat tulus. Apalagi sambil mengelus-elus kepalaku yang waktu itu aku sedang tiduran di pangkuannya.

Barulah, setelah dewasa, aku mengerti maksudnya. Karena berasal dari sumber harapan Ibu, aku pun berhasil memberikan hadiah yang belasan tahun lalu aku tak mampu membelinya. Setelah mendapatkan gaji pertama setelah lulus kuliah, aku langsung membelikan kalung emas s bermata yang sangat cocok dipakai Ibu. Bagiku, Ibu adalah sumber inspirasi pertama yang sangat dekat denganku. Di hari ibu ini, aku akhirnya melakukan apa yang ingin kulakukan dari dulu: memasangkan kalung emas tersebut di leher Ibu sambil mengucapkan ‘Selamat hari ibu, Bu.”

Baca juga: 10 Cerpen Persahabatan Dengan Berbagai Pesan

Nafas Terakhir

Aku tidak pernah menginginkan jadi seorang ibu. Setelah kejadian masa kecil yang selalu membayangi hari-hariku sampai saat ini. Aku menangis, menangis, dan terus menangis jika mengingat luka itu. Kejadian itu bermula saat usiaku menginjak 7 tahun. Bunda yang kukenal selalu tersenyum, bahkan di saat Ayah tak pernah pulang ke rumah lagi dan meninggalkan beberapa bekas luka di tubuh Bunda.

Bunda memutuskan menjadi seorang single parents. Kini, Ayah rela meninggalkan segala yang ia punya hanya demi kegilaan sesaat bersama kekasih barunya.

Bunda yang hanya guru SMP honorer dengan gaji standar harus berjualan camilan kacang di sekolah. Terkadang juga ia titipkan ke warung-warung sekitar rumah. Sering kulihat ia menangis malam-malam di kamar sambil mencium satu-satunya kemeja Ayah yang tertinggal.

Sampai tubuhnya yang dulu berisi, kulihat ia semakin kurus. Seringkali kudengar batuknya pun tak kunjung berhenti, walaupun berkali-kali obat telah ia minum. Di tengah rasa sakitnya itu, ia selalu mengajariku belajar. Ia tak pernah letih walaupun siang dan malam ia harus mencari uang untuk kebutuhan kami berdua. Yang selalu kuingat adalah perkataannya di kala ia tidur berdua di ranjang yang sudah reot.

“Kau harus tau Raya, kita harus selalu bisa mandiri apapun yang terjadi. Uhuk uhuk” batuk tetap mengiringi ucapannya. “Semua yang Bunda lakukan untuk kamu, karena cuma kamu yang Bunda punya” lanjutnya lagi dengan lemas.

“Aku juga cuma punya Bunda”

Tak ada tanggapan lagi darinya. Tak kudengar juga hela nafasnya yang berat. Di pelukanku, Bunda sudah menjadi seonggok mayat.

Kekuatan Doa

Kekuatan Doa
Sumber foto: rawpixel dari freepik

Di balik sikapnya yang selalu riang, Tasya terkadang merasa sedih. Apalagi di saat segala hal yang ia inginkan tidak terwujud. Misalnya pada hari ini, ia ingin memenangkan cerdas cermat antarsekolah. Tetapi, poin timnya hanya berbeda lima dengan poin sekolah lain. Alhasil, timnya tidak memenangkan hadiah utama.

Ia pulang ke rumah dalam keadaan kecewa, marah, dan sedih. Campur aduk. Bahkan ia membanting pintu kamarnya dan membuat Ibu bertanya-tanya. Satu jam berlalu, Ibu pun tidak diperkenankan masuk kamar oleh Tasya.

Saat sore tiba, barulah Tasya keluar kamar dan menemui Ibu di ruang tengah. Ia langsung memeluk Ibunya sambal menceritakan apa yang terjadi.

“Udah Sya, dari sini kan kamu bisa belajar gimana nanti cara menghadapi sekolah lain kalau ada adu cerdas cermat lagi. Ibu juga gak berhenti selalu ngedoain kamu. Barangkali apa yang belum kamu dapatkan hari ini, itu adalah hal yang terbaik menurut Tuhan” suara Ibu meneduhkan dan berusaha menenangkan Tasya.

“Iya, Bu. Maafkan Tasya juga. Mungkin Tasya banyak salah juga ke Ibu”

Setelah percakapan itu, entah mengapa kehidupan Tasya jadi sangat dipermudah. Baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Bahkan saat ada lomba cerdas cermat lagi, ia bisa meraih juara pertama. Akhirnya ia tahu sumber segala kemudahan ialah dari doa Ibu dan berbuat baik kepada Ibu. Bagi Tasya, Ibu adalah Wanita inspiratif yang membuat segala hal yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.

Ibuku Pahlawan Sesama

Alea kelabakan mencari cerpen inspiratif yang harus ia tulis untuk tugas Bahasa Indonesia. Apalagi setelah ia mendengar cerita-cerita dari teman-temannya yang sangat penuh inspirasi. Sampai pukul 9 malam, ia pun tak kunjung menulis cerita, padahal tugas harus sudah dikumpulkan besok pagi.

Tiba-tiba, ia mendengar Ibu baru pulang dari jaga malam sebagai perawat. Alea menyambutnya dengan senang dan memberikan air putih hangat kepada ibunya. Ibunya sudah berusia 40 tahun, tapi rumah sakit masih terus membutuhkan tenaganya. Apalagi di saat krisis pandemi seperti ini yang membutuhkan banyak tenaga kesehatan.

Ibu pun langsung membersihkan diri. Setelah itu Alea mendekati ibunya kembali. Ia selalu senang mendengar cerita-cerita di rumah sakit tempat ibunya bekerja. Ada perawat yang selalu diberi hadiah oleh pasien, ada pasien yang selalu mogok makan tapi cuma pengen disuapi sama satu perawat, ada juga Ibu yang selalu siaga berada di ruang UGD.

“Hari ini ada cerita apa, Bu?”

“Hmm”, Ibu berusaha mengingat-ingat sambal mengeringkan rambut “Hari ini Ibu menemui pasien UGD yang hampir nggak bisa diselamatkan. Tensinya sudah redah, napasnya sudah sesak, tapi berkat pertolongan pertama ia bisa jalani perawatan”

“Wah sungguh mulia memang perawat dan dokter ya, Bu.”

“Kita selalu diajarkan ikhlas untuk membantu nyawa orang Lea. Karena manusia bukan sembarang nyawa. Di sana ada harapan, cinta, dan keluarga yang selalu menunggunya pulang.”

Alea mengangguk setuju. Lantas ia meninggalkan kamar Ibu dan beranjak kembali ke kamar. Kini ia tahu kisah inspiratif apa yang akan ia tulis untuk tugas besok.

“Aku akan menuliskan kisah ibuku, ia pahlawan dalam bidang tenaga kesehatan!”

Satu Roti

Kebanggaan Rana
Sumber foto: Vladvictoria dari Pixabay

Ibuku dahulu cuma punya satu roti setiap sore. Roti tersebut ia dapat dari majikannya karena sudah tidak bernafsu makan roti lagi. Lalu satu roti isi tersebut ia bagi tiga, untukku, Ria adikku yang beda satu tahun, dan Hara adikku yang berusia 6 tahun. Kala itu aku masih remaja dan egois menguasaiku. Aku terkadang tidak mau berbagi dengan kedua adikku. Namun, ibu selalu berkata,

“Bimo, Ibu janji nanti Ibu akan mempunyai banyak roti dan kamu tidak perlu berbagi dengan adikmu. Tapi, untuk saat ini, tolong bagi tiga dengan adik-adikmu, ya.”

Aku terpaksa mengangguk kala itu. Usiaku 12 tahun dan selalu diajarkan untuk menjadi dewasa. Aku membantu ibuku di rumah majikan  seperti memotong rumput atau mencuci pakaian. Aku melihat ibu selalu terlihat keletihan, namun ia tidak pernah mengeluh.

Sampai suatu hari, Ibu memutuskan untuk berhenti kerja. Padahal, aku tahu, gaji yang diberikan majikan sangatlah besar dan cukup untuk makan sehari-hari serta ditabung. Ibu mempunyai rencana yang baru kuketahui beberapa hari setelahnya. Ia membeli beberapa loyang, dua karung terigu, ragi, dan coklat. Ia pun membeli oven baru, karena sebelumnya oven di rumah sudah menjadi bangkai.

Ia belajar membuat roti dari majikannya. Ternyata, beberapa tahun kerja di sana, membuat Ibu memiliki keahlian dalam bidang bakery. Awalnya ia gagal berkali-gali dan tak ada yang ingin membeli rotinya. Tetapi ia terus berusaha tanpa pantang menyerah. Lalu ketekunan Ibu membuahkan hasil. Ia berhasil mendapatkan orderan yang sangat banyak. Bahkan, kini orderan kue dan rotinya terus membanjiri. Aku dan Ria sering membantunya di dapur.

Satu tahun ibu menjadi pengusaha kue dan roti, ternyata mampu meningkatkan kualitas hidup kami. Aku tak lagi belajar di meja reot yang sudah dimakan rayap, Ria bisa membeli buku kesukaannya, dan Hara bisa memakan buah apapun yang dia mau. Dan kami, tak perlu lagi memakan roti yang harus dibagi tiga. Itu semua berkat Ibu dan kesuksesannya yang besar.

 Kuping Ternyaman

Pandu sudah bosan dengan orang yang selalu berbicara dan selalu ingin didengar. Menurutnya, kehidupan dewasa menjadi semakin menyebalkan. Ia lelah harus berpura-pura mendengar boss yang memarahi setiap karyawan, termasuk dirinya. Ia Lelah mendengar pacarnya yang banyak mau dan selalu nuntut. Sampai akhirnya, ia meninggalkan itu semua.

Ia pergi ke kampung halamannya yang sudah tak ia kunjungi hampir dua tahun lamanya. Ia pun sudah jarang menelpon ibunya untuk sekadar menanyakan kabar, hanya kiriman uang sebagai kewajibannya. Di pekarangan rumah yang teduh itu, seorang Ibu terduduk lemas di kursi roda. Ia tak sanggup berdiri karena kakinya tak mampu menopang badan.  Panca langsung menghambur dan memeluk ibu dengan tangis yang pecah.

“Ibu, maafkan Pandu.” Ibu hanya memeluk Panca dengan lebih erat sambal mengusap kepala anaknya.

“Kamu kenapa, Du? Ada yang pengen kamu ceritain?”

Tangis Pandu semakin deras membasahi rok batik ibunya. Pelan-pelan ia ceritakan kegelisahan yang ia alami di kota. Baik itu tentang pekerjaan, kisah cintanya, dan kehidupannya yang tak sedamai di kampung. Ibu hanya memeluk dan terus mengelus kepala anak lanang satu-satunya itu.

Pandu merasa, di sinilah ia merasakan tempat ternyaman. Kuping ternyaman yang tak menuntut dan mengutuk apapun. Ibu selalu sabar menghadapinya, bahkan ia sendiri jarang mendengar suara ibu, walaupun hanya dari telepon.  Baginya, Ibu adalah sumber kenyamanan sekaligus menjadi inspirasi dalam menjalani hidup agar selalu tenang dan merasa cukup.

Hari itu, mereka tutup dengan lauk ikan asin serta sambel goreng. Tak lupa dengan cerita-cerita Ibu yang selalu menghibur Pandu sejak ia masih duduk di bangku SD. Pandu merasa itulah hari di mana ia hidup kembali.

Kebanggaan Rana

Kebanggaan Rana
Sumber foto: Vladvictoria dari Pixabay

“Apa cita-cita kamu Rana?” tanya seorang guru di kelas.

Gadis yang duduk di kelas 6 SD itu dengan mentap menjawab, “Menjadi seperti Mama, Bu!”

Lalu seisi kelas ramai bersorak dan bertepuk tangan. Bagaimana tidak, Rana ialah anak dari pemain bulu tangkis yang pernah mengharumkan nama bangsa. Kini mamanya bekerja sebagai pelatih untuk bulu tangkis.

“Jadi atlet maksud kamu, Rana?” tanya guru kembali

“Gak Cuma itu bu. Mama memang bikin bangga negara. Tapi ia juga menjadi kebanggaan keluarga. Ia masih bisa nyuci dan masak walaupun ada latihan. Ia masih bisa nemenin aku menghafal perkalian matematika sambil olahraga. Pokoknya dia serba bisa, Bu.”

“Nah anak-anak, seperti itulah seorang Ibu. Ia adalah sosok yang serba bisa dan sangat luar biasa. Gak cuma mamanya Rana saja yang bekerja menjadi atlet terus masih bisa ngurusin keluarga, Ibu yakin, mama kalian juga adalah sosok yang luar biasa.”

“Tapi, bu, aku juga pengen jadi atlet kayak mamanya Rana deh” ujar Olive sambil mengacungkan tangan

“Kamu bisa mulai berlatih dari sekarang, Olive. Mungkin nanti kamu bisa bertanya dan berlatih bersama Rana.”

Rana dan Olive saling memandang lalu tersenyum. Rana sangat bangga kepada Sang Mama yang hebat dalam segala hal. Ia tak sabar pulang ke rumah menikmati pudding segar yang telah Mama buat dan sorenya ia akan berlatih bulu tangkis. Sungguh ia sangat menanti itu.

Kantor Polisi di Pagi Hari

Saat suara burung gereja mengalun dan orang-orang sedang menyeduh kopi, kantor lebih sepi dari biasanya. Tiba-tiba ada seorang ibu yang datang dengan tergesa, menanyakan siapa polisi yang sedang bertugas.

Rambut sebahunya terlihat kusut, pakaian blouse warna putih bercampur dengan peluh sehingga memperlihatkan warna kecokelatan. Ia sangat panik sampai-sampai kalimatnya selalu mengantung.

“Tolong pak. Tolong anak.. saya anak saya..”

Pak Toro, yang sedang bertugas dengan sigap menghampiri ibu tersebut. Ia memberikan segelas air putih dan berusaha menenangkan si Ibu

Setelah Pak Toro berhasil membuat si Ibu tenang, ia pun menulis laporan seperti biasa. Tentu saja si ibu tetap bercerita dengan berurai air mata. Pukul 11 siang kemarin, saat jam anaknya pulang sekolah, ibu hendak menjemput anaknya. Namun, karena ia harus menyelesaikan tugas rumah, ia menjemput anaknya telat 30 menit. Saat sesampainya di sekolah, anaknya sudah tidak ada dan tidak ada jejak apapun.

Alhasil, kasus tersebut menjadi kasus anak hilang. Pak Toro menyarankan agar ibu tersebut tetap tenang dan pulang ke rumah. Sementara kasus ini akan ditangani polisi sebaik mungkin. Namun, ia tetap menyebarkan pamflet foto anaknya ke setiap sudut kota  dan menghubungi beberapa teman dekatnya untuk sama-sama mencari. Siang dan malam matanya tak pernah Lelah untuk mencari anak semata wayangnya. Padahal, tak sedikit orang yang menganggap anaknya sudah meninggal dan tak bisa ditemukan.

Lima hari berlalu, si Ibu tetap duduk di depan kantor polisi. Sampai saat si Ibu hendak pulang karena putus asa, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.

“Mama….!!” Anak lelaki berusia 8 tahun itu berlari menghampiri ibunya. Lalu disusul Pak Toro yang bernapas lega karena si anak berhasil ditemukan dari segerombolan penculik. Untungnya, penculik telah berhasil diringkus.

“Nak, Mamamu luar biasa, ia rela begadang semalaman di kantor polisi dan mencarimu kemana-mana” ujar Pak Toro sambil mengelus pelan anak tersebut.

Pak Toro tersenyum puas. Kisah antara ibu dan anak memang selalu mengharukan. Namun, ia baru melihat keyakinan seorang ibu bahwa anaknya tetap hidup dan tetap selamat.

Baca juga: 10 Contoh Cerpen Cinta Dengan Berbagai Pesan

Jalan Sabar Terpanjang

Jalan Sabar Terpanjang
Sumber foto: Gerd Altmann dari Pixabay

Aku hendak turun di terminal Rambutan saat seorang Wanita paruh baya tiba-tiba duduk di jok bis sebelahku yang kosong. Ternyata ia sejak tadi duduk tepat di belakangku, namun baru memberanikan diri bertanya.

“Permisi, Dek. Kalau daerah Kebayoran di mana ya?”

“Oh ibu nanti naik taksi atau transjakarta saja. Karena masih jauh dari terminal ini.” Iya hanya mengangguk terus tersenyum. Wajahnya sangat terlihat letih tapi ia berusaha untuk sembunyikan, memang perjalanan 12 jam ini juga membuatku Lelah padahal masih berusia 20 tahunan.

“Ibu mau ke rumah siapa kah?”

“Ke rumah anak, Dek”

“Tau alamat rumahnya, Bu? Tanyaku lagi namun ia hanya menggeleng.

Karena tak mungkin aku meninggalkannya, aku pun inisiatif untuk menelepon si anak ibu ini. Tetapi, teleponnya tak kunjung diangkat. Perut sudah berbunyi, aku baru teringat belum sarapan, sementara waktu sudah menunjukan pukul satu siang. Akhirnya aku pun mengajak si Ibu untuk mencari warteg di sekitaran terminal.

Ibu yang Bernama Bu Asih itu sudah lama pengen menemui anak sulungnya yang tinggal di Jakarta. Ia bercerita tentang kehidupan keluarga kecilnya di pedalaman Jawa Tengah sana. Sejak usia 20 tahun, anak sulungnya sudah meninggalkan rumah dan memutuskan untuk merantau. Si Ibu juga bercerita dengan antusias, kalua tiap bulan selalu dikirimkan uang yang cukup dari hasil usaha tekstil. Dulu, ia harus memeras tebu dan dijual untuk membiayai anak-anaknya. Tapi, aku meragukan kebaikan anaknya. Buktinya, anaknya itu tidak menelpon si ibu yang kebingungan di terminal saat ini.

Hampir pukul empat sore, tak a a tanda-tanda anaknya menelpon balik. Sementara aku harus segera pulang ke rumah. Saat hendak berpamitan, mobil Pajero hitam bertengker di depan kami. Kulihat pria berusia tiga puluh tahunan akhir menyapa kami dan mencium tangan si Ibu. Kulihat juga airmata ibu yang menetes di ujung matanya.

Ternyata, si anak sulung yang si Ibu bangga-banggakan ini adalah seorang entrepreneur terkenal yang pernah jadi narasumber di kampusku, Pak Doni. Pak Doni baru sempat menjemput Sang Ibu karena ada hal yang harus diurus dulu. Aku termenung, si Ibu tetap sabar. Ia bahkan tetap memeluk anaknya lama, walaupun si anak sudah membuat si Ibu menunggu. Memang, menjadi seorang ibu adalah jalan sabar terpanjang.

Bunda dan Wida

Sejak kecil, Wida selalu diajarkan sesuai apapun yang ia mau. Ketika berusia 6 tahun, Wida senang menari, maka Bunda memasukannya ke sanggar tari. Lalu memasuki SMP, Wida menyenangi dunia musik, Bunda pun mengizinkannya untuk bergabung dengan band di sekolahnya. Dari SD sampai SMA Wida juga senang dengan dunia pengetahuan alam, makanya, Bunda senang mengajarinya biologi dan memasukannya les matematika. Semua yang Wida butuhkan, Bunda selalu menyediakannya.

Namun, suatu hari, Wida seolah kehilangan jati dirinya. Di usianya yang menginjak 17 tahun, ia mengurung diri di kamar seharian. Bunda pun cemas, karena tidak seperti biasanya Wida mengurung diri, apalagi di hari ulang tahunnya.

Malamnya, ketika Bunda hendak mengantarkan makanan, pintu kamar Wida terbuka. Bunda pun menyelinap masuk, dan bertanya,

“Kamu baik-baik aja, sayang? Selamat ulang tahun, yaa”

“Makasih, Bun” jawab Wida datar sambil membelakangi Bunda

“Ayo makan dulu”

Tak ada jawaban dari Wida. Bunda yang mengira, Wida ingin punya waktu sendiri pun beranjak keluar kamar. Saat di ambang pintu, tiba-tiba Wida bersuara.

“Bunda, aku nggak lanjutin kuliah tahun ini gimana?” Bunda berbalik lalu menanyakan maksudnya. Wida ingin menjadi penulis dan hanya ingin menulis kapanpun ia mau. Awalnya Bunda nggak setuju, tapi mereka membuat kesepakatan.

“Okey, bunda izinkan nggak kuliah tahun ini. Tapi tahun-tahun berikutnya kamu harus, ya. Kamu juga harus bisa buktiin, kalau waktu kamu yang terbuang itu bisa dimaksimalin dengan menulis. Bikin buku, atau karya-karyamu masuk media misalnya.”

Wida menyepakati hal tersebut. Ia memuluk Bunda dengan sangat lama. Sebenarnya, ia sudah menyenangi dunia tulis menulis sejak lama. Namun di antara banyak hobinya, menulis adalah yang paling ia senangi. Ia bisa berimajinasi jadi apapun dan di manapun dengan menulis.

Hingga, waktu berselang, tak terasa satu tahun pun sudah lewat. Nama Wida Hamidah melekat di koran dan media online. Ia dikenal sebagai penulis cerita anak yang berbakat. Wida tak melupakan janjinya, ia juga berkuliah setelah menunda satu tahun. Bunda pun bangga kepadanya. Namun, tanpa Bunda sadari, Wida lah yang sangat bangga memiliki Bunda. Karena Bunda selalu mendukung apapun yang ia inginkan selama itu baik buat anaknya. Wida merasa, jika ia sudah dewasa, ia ingin menjadi ibu seperti Bunda.

Baca juga: 10 Cerpen Remaja Dengan Berbagai Pesan

Gimana? Udah baca semuanya? Kamu suka cerpen yang mana aja, nih? Semoga 10 cerpen ibu ini bisa bikin kamu buat selalu ingat ibu, ya.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *