10 Cerpen Inspiratif Islam

Membaca kisah inspiratif mungkin bisa memotivasimu, tapi membaca cerita inspiratif bertema islam, mungkin bisa memberikan hikmah kepadamu. Bukan cuma itu saja, dengan menemukan hikmah di setiap cerpen inspiratif islam, bisa memperkaya wawasanmu terhadap islam.

Maka dari itu, inilah 10 cerita inspiratif islam yang penuh hikmah. Baca sampai habis dan temukan nilai-nilai agama yang terkandung di dalam cerpen inspiratif islam. Selamat membaca.

Mukjizat Mendoakan Orang Lain

mukjizat mendoakan orang lain
Sumber foto: Mohamed hassan dari Pixabay

Pada sebuah riwayat diceritakan, pada zaman dulu, Sayyidah Fatimah bin Ali yaitu istri dari Rasullah seringkali bangun di sepertiga malam terakhir untuk solat malam. Lalu, tak sengaja anaknya Sayidina Hassan sering juga mendengar munajat doa-doa yang dilontarkan Ibundanya. Keesekokan paginya, ia bertanya,

Baca juga: Cerita Inspiratif Kehidupan Nyata

“Wahai Ibuku, sejak semalam,  saya mendengar doamu, tetapi tak satupun saya mendengar doa untuk dirimu sendiri,”

Sayyidah Fatimah bin Ali pun menjawab pertanyaan polos anaknya, “ Nak, ketahuilah, ketika kita mendoakan saudara atau tetangga kita, malaikat akan mendengarkanmu dan mendoakanmu juga. Adakah yang lebih baik dari doa malaikat yang paling dekat dengan Allah?.”

Sayyidina Hassan pun memahami perkataan ibunya. Ketika kita mendoakan saudara atau tetangga secara diam-diam, maka kita akan mendapatkan doa dari para malaikat.

Penjual Gulali yang Buta

Pindah kembali ke kota tempat masa kecil, membuat Ridho mengingat masa-masa yang telah terkubur lama. Ia pun berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahannya yang dulu. Banyak yang berubah dari tempat ini menurutnya, jalan yang semakin lebar,  kendaraan yang semakin banyak, dan rumah yang padat. Tetapi, ia menemukan satu hal yang tak berubah. Yaitu penjual gulali buta, yang dahulu seringkali Rido membeli gulali di sana.

Rido pun mendekati kios penjual gulali. Ada beberapa anak kecil lainnya yang sedang membeli. Bapak tersebut memang terlihat tua tetapi senyumnya selalu merekah, meski kedua matanya tak bisa melihat sejak lama. Kelihaiannya membuat gulali harum manis emang nggak diragukan lagi. Sejak dulu, penjual gulali tersebut seperti sudah khatam membuat gulali meski tanpa melihat.

“Harganya Rp.1.000, de” ujar bapak tersebut, lalu anak kecil tersebut pun memberikan uang kertas seribuan, lantas pergi sambil asik memakan gulali.

Sementara Ridho tercengang. Karena harga gulali tersebut masih sama seperti 10 tahun lalu ketika Ridho SD. Ridho pun berpura-pura membeli gulali, dan disambut ramah oleh penjual gulali tersebut. Di saat pembuatan gulali, mereka pun berbincang.

“Pak, dulu saya sering beli juga loh gulalinya. Saya kaget banget harga gulalinya masih sama seperti 10 tahun lalu. Apa bapak nggak takut rugi?”

Penjual gulali tersebut pun menjawab dengan lembut “Nak, saya nggak khawatir dengan rezeki, karena sudah ada Allah yang mengaturnya. Nggak mungkin ketuker. Kalau, sekarang memang saya rugi, saya yakin Allah akan mengganti dengan rezeki lain untuk saya”

Seketika Ridho pun tersentuh hatinya mendengar jawaban penjual gulali tersebut. Lalu Ridho pun memberi uang tambahan untuk bapak tersebut. Ternyata memang benar, rezeki tidak akan pernah tertukar. Seperti penjual gulali yang mendapatkan rezeki lain melalui Ridho.

Hijabmu Jalan Kenikmatanmu

hijabmu jalan kenikmatanmu
Sumber foto: Rodnae dari pexels

Perempuan berkerudung syar’i itu bernama Via. Sejak kecil dia sudah berada di keluarga yang agamis. Tak pernah sekalipun ia keluar rumah tanpa memakai hijab. Namun suatu waktu, ia merasa itu bukanlah dirinya sendiri. Diam-diam ia mengganti hijab syar’I nya dengan hijab biasa seperti yang dikenakan orang-orang seusianya. Apalagi, ketika ia berkuliah dan tinggal jauh dari rumah orang tuanya.

Via yang tinggal di kosan pun merasa bebas. Awal-awal memang ia tetap memakai jilbabnya meski tidak syar’I, tetapi seiring berjalannya waktu dan pergaulan di kota yang cukup liar, Via mencoba melepas hijabnya. Apalagi ketika ia mendapat pujian dari temannya kalau ia lebih cantik tanpa jilbab.

“Lo cantik deh Vi kalo nggak pake kerudung.” ujar salah satu temannya.

Dari situlah sesuatu yang besar terjadi. Via yang dahulunya rajin beribadah, kini mulai bolong-bolong. Ia pun mulai merasakan segala kemudahannya menjadi berkurang. Ia menjadi susah berkonsentrasi di kamus untuk belajar dan hanya untuk bersenang-senang. Via juga merasa sering sakit, karena mungkin sering main. Puncaknya ialah ketika ia pulang dari kampus dan ketika di jalan ia digoda oleh serombongan lelaki. Untungnya, ia bisa melarikan diri.

Akhirnya Via menyadari ada hal yang salah dari perilakunya. Hidupnya menjadi lebih buruk saat ia mulai melepas hijab. Memang ia merasa senang dan bebas, tetapi sesungguhnya ia merasa tersiksa. Sejak saat itulah Via kembali bertobat dan memohon ampun.

“Ampuni aku Ya Allah.. Engkaulah pemberi nikmat dan Maha Pengampun.”

Benar saja, setelah sebulan ia kembali memakai hijab syar’I ia merasa kemudahan dan kenikmatan selalu mengiri langkahnya. Ia jua merasa lebih tenang karena tidak diganggu oleh orang-orang di jalanan saat ia tidak memakai hijab.

Baca juga: Cerpen Remaja Dengan Berbagai Pesan

Dinding Rumah Sakit

‘Rumah sakit selalu mendengar doa paling tulus’ ungkapan tersebut menjadi favorit bagi Wirna.

Wirna ialah gadis bungsu dari 4 bersaudara. Setelah ketiga kakak-kakaknya menikah dan punya kehidupan pribadi, tinggalah Wirna seorang diri. Ia menjadi andalan keluarga di rumah. Apalagi saat bapak jatuh sakit dan harus bolak-balik ke rumah sakit karena komplikasi.

Setelah lulus SMA, ia fokus menjaga bapak dan ibu, dan rela untuk menunda kuliahnya dulu. Bapak yang sangat menyayangi Wirna pun mengharapkan supaya Wirna bisa berkuliah seperti kakak-kakaknya.

“Na, Bapak masih kuat dan nggak apa-apa kok, kan masih bisa dianter ibu kalau mau operasi, kamu bisa juga kuliah taun ini” ujar Bapak lemah.

“Nggak, Pak. Aku emang pengen deket sama Bapak dan Ibu” tegar Wirna yang sudah terbiasa menjadi dewasa karena keadaan.

Hari operasi akhirnya tiba. Ia sudah menemani bapak yang terbaring di kasur rumah sakit, lalu di bawa ke ruang operasi. Ia tak bisa berhenti jalan ke kanan dan kiri sambil menggigit kukunya. Mulutnya tak berhenti mengucapkan doa-doa dan menyebut nama Allah. Ibu yang duduk di ruang tunggu pun tak henti-hentinya mengucapkan tasbih, tahmid, dan takbir.

“Ya Allah selamatkanlah bapak, sehatkanlah bapak”

Sampai waktu 8 jam tersebut terasa sewindu. Dokter mendatangi Ibu dan Wirna. Betapa leganya mereka ketika mendengar bahwa operasi berjalan lancar dan saat ini Bapak berada di perawatan insentif. Beberapa jam berselang, akhirnya bapak pun kembali sadar. Wirna dan Ibu pun memeluk Bapak dengan amat sangat. Doa mereka tulus dan ternyata dikabulkan oleh Allah.

Waria dan Jati Dirinya

Waria dan Jati dirinya
Sumber foto: Greta Hoffman dari Pexels

Sepertinya, menjadi psikolog klinis memang sudah menjadi jalan hidupku. Mendengar permasalahan satu orang lalu ke orang lainnya. Sementara menjadi pendakwah melalui media social adalah sampinganku. Sampai suatu hari aku kedatangan seorang yang berdandan cantik bak perempuan, tetapi setelah ia menyapa, aku baru menyadari bahwa ia adalah seorang lelaki.

Nama waria itu ialah Andin, tetapi nama aslinya ialah Wawan. Ia datang kepadaku dengan wajah ramah namun kulihat ia menyimpan kekacauan dalam jiwanya. Hingga di konsultasi pertama, ia hanya banyak diam dan masih belum bisa diajak bicara. Sampai dari waktu ke waktu ia mulai terbuka dengan masalahnya. Kami pun tertawa dan membicarakan hal yang remeh temeh.

“Tau nggak dok, aku pergi ke psikolog karena ngeliat konten-konten dokter di media sosial. Ternyata memang benar, dokter nggak asal men-judge orang. Biasanya ketika orang melihat penampilanku seperti ini, aku selalu mendapatkan tatapan sinis. Dan itu bikin aku khawatir kalau aku nggak diterima sama orang,”

“Kamu punya keberanian buat datang ke sini pun saya sangat ngeapresiasi. Apalagi cerita tentang masa kecil kamu yang penuh trauma, kehilangan jati diri, sampai terkena panic attack. Sebagai psikolog saya akan nyaranin kamu untuk sering relax dan meditasi, pelan-pelan enjoy ya dengan diri sendiri,” ujarku pelan takut ada hal yang menyinggunya.

“Iyad Dok, tapi terkadang saya juga merasa kosong. Mungkin karena saya sudah jarang solat, bahkan saya tidak ingat kapan terakhir sholat jumat,” ia menceritakan kegelisahannya.

Dari raut wajahnya, waria itu sangat membutuhkan pertolongan. Di tengah rasa takut dan gelisahnya, ia juga berpesan kalau ia meninggal ia ingin dimakamkan sebagaimana ia pertama kali dilahirkan. Aku terenyuh, sebagai psikolog sekaligus pendakwah, rasanya saya harus bisa menempatkan diri untuk membantunya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Asiyah Istri Firaun

Fir’aun adalah raja yang sombong dan mengaku dirinya Tuhan. Semua orang diperintahkan untuk menyembahnya. Kecuali Asiyah, istri Fir’aun yang taat kepada Allah SWT.

Sebelumnya Firaun tidak mengetahui bahwa istrinya memeluk Islam. Ketika ia sedang memamerkan kekuatannya kepada sang istri dengan membunuh Masytihah seorang pelayan yang beriman, Asiyah pun tak kuasa melihat kebejatan suaminya. Ia pun akhirnya mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada Allah. Mengetahui hal tersebut, Fir’aun lantas murka dan marah, ia merasa dikhianati oleh istrinya sendiri.

Lantas, Fir’aun menguji keimanan istrinya dengan mengikat tangan dan kaki Asiyah di atas pasak besi. Ia ingin melihat, apakah Asiyah akan meninggalkan keimanannya atau justru tetap menghianatinya selamanya dengan menyerahkan nyawa. Fir’aun pun dengan kejam memerintahkan tentaranya untuk menyiksa Asiyah sampai darahnya mengucur deras di beberapa bagian tubuhnya. Ia hanya berdoa dan berdoa.

“Ya Allah, Yaa Tuhanku, bangunkanlah untukku rumah yang besar dan megah di surga-Mu. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya yang kejam, serta selamatkanlah aku dari orang-orang dzolim”

Asiyah berdoa dengan merintih di tengah siksaan yang ia alami. Akhirnya, Allah pun mengabulkan doanya. Maka Allah memperlihatkan istana yang megah di langit, lalu Asiyah pun tersenyum tenang, sedetik kemudian ia menghembuskan napas terakhirnya.

Ramadan di Tanah Masjidil Aqsa

Ramadan di Tanah Masjidil Aqsa
Sumber foto: Musa Zanoun dari Pexels

Menjadi relawan telah membawaku ke tempat yang penuh dengan makna yang mendalam. Khususnya ketika aku diberikan kesempatan untuk terbang ke Palestina.

Saat itu aku berangkat di bulan Ramadan yang rasanya penuh dengan berkah. Aku berada di posko relawan di daerah sekitar Gaza. Hari pertama aku disambut oleh orang-orang Palestina dengan sangat ramah. Kebetulan, waktu sudah menunjukan waktu berbuka. Aku menikmati hidangan seadanya dengan mulai memakan kurma dan semangka. Lantas, mengikuti yang lainnya untuk berjamaah sholat magrib.

Keesokan paginya, aku dan rombongan diajak ke kota yang beberapa bangunan sudah runtuh dengan tanah. Puing-puingnya masih tersisa bercak darah.

“Serangan udara ini menewaskan 27 orang, Ridwan” Ujar Ahmeed yang mengantarkan rombongan berkeliling, untungnya ia bisa menggunakan bahasa Indonesia.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” aku bergumam. Lantas membantu korban yang lain mengambil barang-barangnya yang tersisa. Serta memonitor takut-takut ada warga yang masih tertimpa sisa bangunan.

Waktu sudah menunjukan waktu dzuhur, dan matahari sedang terik-teriknya. Rupanya matahari di sini lebih terik di bandingkan di Indonesia. Kami pun bergegas kembali ke posko dan pergi ke masjid.

Aku melihat masih banyak orang yang berjamaah lantas berlama-lama di masjid. Entah itu bersholawat atau membaca Al-Qur’an sambil menunggu waktu ashar. Saat waktu ashar tiba, orang-orang pun semakin banyak memasuki masjid. Mereka mengaji bersama sambil menunggu waktu berbuka tiba. Aku termenung, mereka sungguh masih semangat beribadah meskipun seringkali serangan dari musuh bisa mengancam tiba-tiba. Bagiku, tidak ada ramadan yang lebih indah selain di Palestina ini.

Baca juga: 10 Cerpen Persahabatan Dengan Berbagai Pesan

 Pencuri yang Masuk Islam

Pencuri itu bernama Andre. Ia sudah merampok dan mencuri dari dua tahun yang lalu karena masalah ekonomi keluarganya. Suatu hari, ia sudah mempersiapkan perlengkapan untuk melakukan aksinya pada malam hari. Obeng, pisau, dan senjata lainnya untuk berjaga-jaga.

Berangkatlah ia dengan menggunakan sepeda motor. Ia mencari rumah-rumah yang mewah dan kosong. Hingga setelah satu jam mencari dan melihat kondisi, ia memutuskan untuk mencuri di sebuah rumah gedong bercat putih krem.

Andre memasuki rumah dari jalan belakang yang tidak terlihat CCTV, lantas menyusuri dapur dengan hati-hati. Ia pun lantas memasuki ruang tengah dan melihat kaligrafi bertuliskan Allah yang dipajang. Kaligrafi tersebut sangat indah di mata Andre, ia belum pernah melihat lukisan yang begitu bercahaya dan sebagus itu. Beberapa menit, ia mulai lupa tujuannya datang kemari.

Sampai akhirnya ia menyadari bahwa ada seseorang di dekatnya yang ternyata tuan rumah. Dengan cepat Andre menodongkan pisau agar pemilik rumah tidak macam-macam.

“Jangan panggil polisi. Saya hanya ingin membelikan susu untuk anak saya!”

“Tenang tenang, ini ambilah uang ini, saya tidak akan memanggil siapapun.” Tuan rumah tersebut memberikannya uang sekitar Rp.1.000.000.

Andre pun tertegun, ia bengong beberapa saat sambil perlahan menerima uang tersebut. Badannya mendadak lemas, lututnya tak mampu lagi menompang tubuhnya. Ia berlutut sambil menangis. Lantas ia meminta kepada tuan rumah untuk menjadi muslim. Tuan rumah tersebut pun sangat senang mendengarnya. Ia langsung mempertemukan Andre dengan ulama keesokan harinya dan melakukan syahadat di masjid terdekat.

Setelah beberapa bulan Andre memeluk islam, keuangannya membaik dan stabil. Ia pun mengembalikan uang Rp.1000.000 kepada si Tuan Rumah yang baik hati. Sungguh, hidayah selalu datang di mana saja dan kapan saja.

Musafir dan Pemilik Kebun

Musafir dan Pemilik Kebun
Sumber foto: 221715 dari Pixabay

Zaman dahulu, seorang musafir hendak pergi dari Mekkah ke Madinah. Ia melintasi sebuah perkempungan yang dekat cukup dekat dengan daerah gurun. Sampai ketika ia melewati perkebunan kurma, musafir tersebut pun mendengar suara dari atas langit, “Siramkanlah kebun kurma milik Ali”

Setelah suara itu bergema di langit, tiba-tiba ada gemuruh petir. Awan pun mulai menghitam dan beberapa detik berikutnya hujan turun di daerah tersebut. Musafir tersebut pun segera mencari tempat berlindung.

Kejadian itu membuat si Musafir kebingungan, ia terheran-heran dengan momen langka tersebut. Akhirnya sebelum melanjutkan perjalanan, ia mencari pemilik kebun tersebut di perkampungan.

Dari rumah ke rumah ia mengetuk pintu dan menanyakan siapa pemilik kebun kurma. Sampai ia mendatangi rumah terakhir dan mengetuk pintu berwarna coklat,

“Assalamualaikum, benar kau Bernama Ali?” tanya Musafir

“Waalaikumsalam, ya benar, mengapa engkau bertanya tentang namaku?”

“Wahai saudaraku, saat aku berjalan di gurun dan melewati perkebunan kurma, aku mendengar suara dari langit yang memerintahkan untuk menyirami kebunmu. Lalu hujan pun turun dengan derasnya. Saya terheran dan penasaran, kalau boleh tau, amalan apa yang engkau perbuat selama ini?”

“Hmm.. Sepertinya karena aku sering melakukan sedekah dari sepertiga hasil kebunku, lalu sepertiganya lagi aku konsumsi sehari-hari dan juga dijual, lalu sepertiganya lagi aku biarkan, karena mungkin burung-burung ataupun lebah membutuhkan kurmaku.”

Musafir tersebut pun berdecak kagum, rasa penasarannya pun terjawab. Ternyata dengan mengutamakan sedekah mampu mendatangkan mukjizat.

Qana’ah

Hiduplah kakak beradik di sebuah desa terpencil yang sudah memiliki keluarga masing-masing. Ratna dan Retno adalah nama mereka. Rumah mereka saling berdekatan, jadi ketika ada masalah di keluarga masing-masing akan mudah terdengar.

Retno sang adik, seringkali marah kepada istrinya yang tidak bisa memasak makanan enak. Sementara istrinya memang tidak bisa menghidangkan makanan mewah dan enak karena tidak diberikan uang berlebih. Dari situlah Retno sering mengeluh dan mengumpat.

Ketika Retno melihat rumah kakaknya, terlihat adem ayem seperti tidak ada masalah. Lantas Retno pun bertanya kepada Ratna.

“Kak, suamimu pun penghasilannya nggak jauh berbeda denganku. Apa kamu nggak punya masalah keuangan?”

Ratna pun memberikan adiknya secangkir teh hangat lantas menjawab dengan tenang.

Baca juga: Cerpen Kehidupan Dengan Banyak Pesan

“Aku selalu merasa cukup, qona’ah atas pemberian Allah. Ya tinggal maksimalin semampu kita aja untuk mencukupi kehidupan. Asal kita pandai bersyukur, nanti juga mujur,”

Retno terdiam. Mungkin jika ia memiliki sikap seperti itu dan memberikan pengertian kepada istrinya, rumah tangganya akan baik-baik saja. Sejak saat itulah, ia mulai berbenah diri dan mengikuti langkah kakaknya.

Itu dia 10 cerita inspiratif islam yang semoga bisa memberimu hikmah ketika membacanya, ya. Semoga cerpen inspiratif islam ini bisa menjadi jalan supaya bisa terus berbuat baik sesuai ajaran islam.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *