10 Cerita Inspiratif Kehidupan Nyata

Ada banyak cerita inspiratif yang berasal dari kehidupan nyata. Dimulai dari perjuangan seorang mahasiswa, atlet yang memiliki keterbatasan fisik, sampai bagaimana keluar dari zona nyaman.  Artikel ini memuat 10 cerpen inspiratif kehidupan nyata. Baca ceritanya sampai habis dan temukan motivasi dan inspirasi hidup di setiap cerita yang ada. Selamat membaca.

Sulit VS Mudah

Sulit vs Mudah
Sumber foto: Pexels dari Pixabay

Tak ada yang tersisa kala api menjalar ke seluruh rumahnya. Bangunan yang tadinya kokoh hancur lebur tersisa puing-puing dan abu yang menggunung. Itulah hari kesialan bagi Bima. Untungnya ia masih sempat menyelamatkan laptop dan berkas-berkas penting, meski seluruh benda di rumahnya hangus dilahap api.

Baca juga: Cerpen Inspiratif Ibu

Banyak orang yang belasungkawa kepadanya, termasuk dosen-dosen di kampus. Sebagai mahasiswa yang cukup berprestasi, ia memiliki banyak kenalan dan teman-temannya pun dengan berbaik hati menolongnya. Baik dalam bentuk barang maupun uang untuk keluarganya.

Seminggu setelah kejadian itu, ia tak lagi bersedih dan merendah diri. Karena ia mendapatkan suatu kabar baik yang telah ia tunggu-tunggu. Ia membuka laptop satu-satunya yang hampir dimakan api, lalu membuka website beasiswa, dan ternyata namanya tercantum di sana untuk mendapatkan beasiswa di kampusnya.

“Alhamdulillah, Mah, aku lolos beasiswa. Semester depan sampai semester akhir gak perlu lagi bayar kuliah,” ujarnya terharu sambil mencium tangan mamanya.

“Kamu hebat, Bim. Makasih ya, di saat kesulitan, ternyata kita dapat kemudahan,”

“Iya, Ma, aku bakal makin rajin belajar di kampus dan bisa mendapatkan beasiswa S2 juga,”

Bima kini menyadari, bahwa kesulitan dan kemudahan selalu datang hampir beriringan. Karena di mana ada kesulitan pasti ada kemudahan. Karena kesungguhannya dalam belajar ia pun lulus kuliah S1 dan di tahun yang sama, ia pun langsung mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri.

Miss Bahasa Indonesia

Menjadi guru bagi siswa asing tak pernah terlintas di benakku sejak kecil, bahkan menjadi guru saja aku tidak pernah membayangkannya. Namun kini, ternyata aku mengajar bahasa Indonesia ke 15 siswa asing di sekolah internasional.

“Hallo, selamat pagi semua?”

“Pagi, Miss” sapa mereka di kelas.

“Bagaimana libur akhir pekannya?”

Awalnya tidak ada yang menjawab pertanyaanku untuk memulai pelajaran. Tetapi, ada gadis Jepang bernama Haruka yang mengangkat tangan. Matanya bulat dan rambut coklat sebahunya diikat tengah. Terlihat sangat dewasa bagi seorang anak SMA kelas satu.

“Miss, saya ingin bercerita, hmm,” dia berbicara pelan karena merasa belum lancar berbahasa Indonesia.

“Hari minggu, saya ikut Ayah ke pasar tradisional pertama kali, karena ingin melihat proyek. Saya membeli emm cermin untuk di kamar, ternyata pedagangnya memberikan saya jepitan lucu ini. Katanya, saya tambah cantik kalau pakai jepitan,” Ia pun menunjukan jepitan berwarna merah muda.

“Saya senang sekali, Miss! Orang Indonesia baik-baik sekali. Ingin tinggal di sini,”

Nada bicaranya berubah menjadi tambah bersemangat. Aku pun menambahkan.

“Indonesia memang dikenal sebagai negara teramah di dunia. Dengan mengenal bahasa Indonesia dan budayanya yang beragam, kalian akan melihat keindahan Indonesia. Kalian siap belajar hari ini?”

“Siap, Miss!” serentak mereka pun menjawabku dengan riang.

Kulanjutkan pembelajaran minggu lalu yang sempat tertunda. Menjadi guru bahasa Indonesia bagi siswa asing ternyata memberiku banyak inspirasi. Mereka tidak terpaksa belajar bahasa karena ikut orang tua yang kerja di Indonesia. Tetapi, mereka secara tulus ingin mempelajari bahasa ini tanpa ada keluh kesah.

 Dari Kursi Becak ke Kursi Dosen

Dari Kursi Becak ke Kursi Dosen
Sumber foto: Purnomo Sidi dari Pexels

Jalanan gedung wisuda pada hari itu dipenuhi oleh mobil yang hendak mengantar wisudawan. Pakaian toga menjadi ciri khas yang membedakan antara wisudawan dan pengunjung. Namun, ada satu becak yang sangat percaya diri melaju di tengah jalanan dan melewati mobil terparkir di kanan kiri. Becak tersebut mengantarkan satu gadis wisudawan cantik yang mengenakan kebaya bernuansa cokelat. Dialah Raeni dan ayahnya yang berprofesi sebagai tukang becak.

Di hari kelulusannya, Raeni sangat bersyukur karena telah meraing cumlaude dengan IPK yang sangat tinggi. Ia tak malu mengajak ayahnya yang tukang becak untuk mengantarnya, meski orang tua lain mengantar anaknya dengan mobil. Baginya, bisa wisuda bersama orang tua dan lulus dengan nilai memuaskan saja ia sudah sangat bersyukur.

Karena kepintaran dan ketulusanya itu lah, ia mendapatkan beasiswa langsung dari presiden untuk melanjutkan S2 di Inggris. Raeni yang tak ingin menunda kesempatan tersebut segera berkemas untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi, meski harus pergi ke luar negeri. Setelah lulus, ia diangkat menjadi dosen, di tempat kuliah S1 nya waktu dulu.

Selang waktu berjalan, karier dan pendidikannya semakin cemerlang. Raeni pun berhasil meraih beasiswa S3 di Inggris kembali. Ia telah membuktikan bahwa ia  mengangkat ekonomi dan derajat keluarganya. Ia pun menyampaikan pesan bagi para mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan.

“Semoga ikhtiar kita mencari ilmu selalu mendapatkan berkah dan manfaat untuk sesama.” Ujarnya di sebuah talk show motivasi. Ia juga sering menguatkan antarsesama mahasiswa. Raena tidak pernah merasa seberuntung ini sebelumnya. Ia merasa pasti ini berkat doa orangtua.

Lari

“Dasar cacat!” cemoohan yang diterimanya masa kecil itu memang sangat menyakitkan bagi Nanda. Tangan sebelah kanannya memang tak sempurna seperti anak lainnya, bahkan Nanda pernah ditolak di salah satu sekolah waktu SD.

Keterbatasan fisiknya serta cemoohan dari orang-orang, membuatnya menemukan keistimewaan terpendam. Ia menyenangi olahraga, khususnya dalam berlari. Gadis lugu tersebut berubah menjadi gadis atletis nan cantik.

Berawal dari ketidaksengajaan, ia diajak untuk bergabung menjadi atlet di daerahnya sejak usia 11 tahun.  Kala itu, ibunya meyakinkan kalau dirinya adalah sosok yang istimewa.

“Tapi, Bu, aku takut nggak berhasil dan malah malu,”

“Ibu percaya kamu punya bakat di bidang olahraga, Nan. Mudah-mudahan ini jalan rezekimu,”

Potensinya yang besar itu ternyata membuahkan hasil, setelah berlatih ia berhasil menjuarai kejuaraan di kota, ia meraih kejuaraan di kancah nasional dan internasional.

Nanda pun menjalani hidup seperti orang biasa berkat rasa percaya dirinya. Ia berkuliah, punya teman, dan mendapatkan banyak prestasi. Ia merasa, jika saja waktu itu ia malah minder dicemooh orang, mungkin ia tidak sesukses sekarang. Nanda berhasil membuktikan bahwa semua orang sempurna dan memiliki potensi terbaik di dalam dirinya.

Baca juga: 10 Cerpen Romantis yang Bikin Baper

Renjana

Renjana
Sumber foto: RODNAE Productions dari Pexels

Di saat semua keluarga menjauhinya, Uty tetap tegar dan memutuskan untuk keluar dari rumah. Musik baginya adalah belahan jiwa yang tak bisa ia tinggal, tetapi orang tuanya hanya menginginkan Uty bekerja kantoran seperti perempuan normal. Uty resah dan ingin meninggalkan semuanya meskipun ia telah bekerja di perusahaan swasta bergengsi. Lantas ia pergi ke studio tempat ia bernyanyi sejak zaman ia kuliah.

“Aku bebas!” serunya kepada Alfen, Dwi, dan Yana.

Tiga cowo itu tercengang ketika ia melihat satu koper di musik studio milik Uty. Uty yang mereka kenal tidak pernah senekat ini sebelumnya. Mereka tidak bertanya lebih jauh, karena sudah tau jawabanya; kalau Uty kabur dari rumah dan ingin serius bermusik.

Untuk merayakan kebebasan Uty, mereka mulai berlatih lebih keras. Uty sebagai Vokalis, selalu mengajak Alfen si Drummer, Dwi si Gitaris serta Yana si Basis. Lagu-lagu yang sebelumnya mereka tulis hanya disimpan di lemari, mulai mereka nyanyikan dari panggung ke panggung. Hingga sampailah mereka mendapatkan dari perusahaan rekaman yang ingin mengangkat mereka jadi band.

Kehidupan Uty dan kawan-kawan seperti berbalik 180 derajat dalam semalam.  Lagu-lagu mereka yang awalnya hanya didengar oleh segelinter orang, kini hampir menyebar di seluruh Indonesia. Yang awalnya hanya perform di panggung-panggung kecil, kini masuk stasiun televisi dan panggung konser yang lebih besar.

Uty benar-benar merasa kalau musik memang belahan jiwanya. Ia pun merasa kalau tidak mungkin kesuksesannya terjadi tanpa teman-teman yang mendukungnya, meski keluarganya menetang.

Tiyas dan Kata-Kata

Berawal iseng nulis kisah cinta remaja, Tiyas bisa merasakan bukunya di pajang di toko buku. Bukan cuma itu, ia juga merasakan gimana menghadiri seminar, bukan sebagai peserta tetapi sebagai pembicara untuk bedah buku. Ternyata, Tuhan memang selalu memberikan jalan yang tak pernah diduga-duga.

Hal itu bermula dari zaman ia SMA dan senang membaca tentang dunia romansa. Seperti remaja lainnya, ia juga mulai merasakan apa itu cinta. Ia mulai memahami, gimana rasanya berbunga-bunga karena bertemu orang yang disuka bahkan sampai bunga tersebut layu dan gugur karena patah hati yang sangat kekanak-kanakan. Di saat rasa penasaran dan cintanya sedang merumpah ruah, Tiyas tuangkan seluruh yang ia rasakan ke dalam kata-kata.

“Aku akan membuat semua yang tak bisa kulakukan di dunia ini menjadi mungkin di dunia fiksi,” tekadnya kala itu.

Lalu, ia mulai bersemangat untuk menulis. Ia menulis apa saja. Termasuk hal-hal yang tak dapatkan di dunia nyata. Karena baginya, ia bisa mendapatkan apapun yang ia mau, kalau ia adalah pengarangnya. Sementara di kehidupan nyatanya, ia hanya tokoh yang diciptakan Tuhan.

Alhasil, perjalanannya berbuah manis. Cerita-cerita yang ia tulis di platform menulis disukai banyak pembaca. Ia berhasil mengubah buku yang tadinya cuma berbentuk digital, menjadi sebuah buku dengan 400 lebih halaman dan di jual di seluruh Indonesia. Ia juga diterima di salah satu kampus terbaik dengan jurusan yang ia senangi, yaitu Sastra Indonesia.

Setelah semua yang telah ia dapatkan, ia tak pernah berhenti menyerah untuk meraih hal-hal yang belum ia dapatkan. Karena ia percaya, sejatinya hidup adalah perjuangan untuk meraih apa yang dicita-citakan.

Kamar

kamar
Sumber foto: Kat Smith dari Pexels

“Papa.. Mama.. Kangen!” ujar Feby sambil menangis di pojok kamar setiap malam.

Malam-malam kelam selalu menjadi waktu yang tak pernah ia inginkan. Ia sering mengingat orang tuanya yang telah lama meninggal. Ia juga selalu berpikir, kalau proses pendewasaan yang ia alami sekarang, mungkin akan mudah dilewati jika ada orang tuanya. Namun, ia juga sadar, kalau orang tuanya nggak bisa kembali dalam wujud yang ia harapkan.

Setelah lulus kuliah, Feby seolah merasakan kesepian yang amat dahsyat. Di saat teman-temannya foto wisuda bersama orang tua, ia hanya bisa berfoto dengan kedua kaka laki-laki dan satu adiknya. Terlebih di saat 8 bulan ia lulus, tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Entah mengapa, rasanya sangat hampa.

Feby teringat waktu ia kecil, orang tuanya selalu menyemangati jika ia mendapatkan kegagalan. Namun, kali ini ia harus mencari sumber semangat sendiri. Hanya dirinya sendiri yang bisa diharapkan.

Lalu, ia mulai berada di titik berserah diri. Entah apa yang akan terjadi, ia sudah membiarkannya, yang terpenting ia melakukan sebaik mungkin. Dengan selalu mengirim doa untuk ke dua orang tuanya, ia semakin tenang dan menunggu apapun yang terjadi di hidupnya.

Sampai suatu hari, ia mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan yang ia idam-idamkan. Tak pernah ia bayangkan, bahwa kebahagiaan ialah seperti itu. Setelah penantian panjang, ia bisa memasuki dunia yang baru. Di sepertiga malamnya, ia bersujud kembali ditemani dengan dinding kamar yang menjadi saksi bisu segala isak tangisnya.

“Papa.. Mama.. aku akan jadi orang sukses..”

Baca juga: 10 Cerpen Lucu yang Akan Menghiburmu

Jaket

Suhu di bawah 0 derajat sudah diberitakan di ramalan cuaca melalui radio. Tetapi, anak lelaki asal negerti tirai bamboo bernama Wang tetap pergi ke sekolah.  Perjalanan sekitar 4 kilo meter tersebut tetap ia tempuh dengan jalan kaki.

Berbekal jaket lusuh berwarna hijau yang sudah memudar, sepatu boot yang sedikit berlubang, Wang tak pernah mengeluh dan tetap melanjutkan perjalannya. Salju yang menggunung menjadi bukti perjalannya untuk menuntut ilmu. Sampai di persimpangan jalan ia bertemu seseorang,

“Mau kemana, Nak?” seorang kakek tiba-tiba keluar dari rumahnya dan melihat Wang yang jalan sendirian di pagi hari.

“Ke sekolah, Kek,” jawab Wang ramah.

“Nak, pakailah jaket ini,”

“Terima kasih, Kek,” Wang sangat sumringah mendapat jaket tebal tersebut.

“Kamu cuma punya jaket yang dipake ini ya?”

“Punya 3 Kek, tapi yang paling bagus cuma yang ini,” ujar Wang dengan nada yang masih semangat.

Kakek tersebut tertegun, di saat genting kedinginan seperti ini, Wang tetap menghadapinya dengan riang. Kakek pun langsung menyuruh Wang untuk melanjutkan perjalannya kembali. Wang yang sopan pun sangat berterima kasih lalu merapatkan jaket pemberian Kakek tersebut.

Tanpa Wang sadari, Kakek tersebut memfoto Wang dari belakang. Tebalnya salju dan langkah semangat Wang membuat foto tersebut sangat hidup dan penuh makna. Lalu Si Kakek pun membagikan kisah Wang ke media social miliknya. Tanpa diduga, kisah tersebut pun viral dan banyak orang yang menjadi terharu. Wang mendapatkan banyak bantuan dari orang-orang di internet. Wang sangat bersyukur telah bertemu Si Kakek yang membawanya keberuntungan.

Di mana Kita Temukan Cinta?

Di mana Kita Temukan Cinta?
Sumber foto: Pexels dari Pixabay

Tubuhnya masih segar dan bagus, meski sudah ada beberapa uban di rambutnya. Ia masih rutin menyiram tanaman di depan rumah Nenek, meski terkadang ayam tetangga mengacak-acak tanah dan ia tidak pernah marah. Begitulah kugambarkan sosok Tante Salma.

Di usia yang menginjak 40 tahun, tak sekalipun aku melihatnya membawa seorang lelaki ke rumah Nenek. Ia hanya fokus pada pekerjaannya dan mengurus Nenek yang lumpuh. Mungkin karena ia terlalu sibuk untuk dirinya sendiri dan ibunya, ia tak punya waktu untuk mencari sosok pendamping hidup. Tetapi, aku pun pernah melihatnya bangun di sepertiga malam dan berdoa dengan mata yang sembab, sambil mengucapkan doa agar tidak kesepian.

Entah kenapa, mulai saat itu aku lebih sering mengunjungi rumah Nenek dan mengajaknya berbincang. Bercerita apa saja, dimulai dari keseharianku di kampus, atau keseharian Tante Salma di kantor. Lalu aku pernah ditanya, siapa kekasihku saat ini, lalu kujawab tidak ada, dan Tante Salma tidak percaya.

“Gak punya pacar, bukan berarti nggak ada yang ngedeketin, kan? Hehee,” tanyanya bercanda.

“Ah Tante bisa aja, aku temenan ama siapa aja, kok,”

“Iya bagus Hana, jangan sampe kayak Tante gak punya kehidupan dan stuck di situ-situ aja ya,” ujarnya lembut, tetapi aku hanya mengangguk pelan. Tak mau berkomentar lebih jauh takut menyinggung hatinya.

Seminggu setelah pembicaraan itu, aku terkejut ketika rumah Nenek sangat ramai. Ternyata, Tante Salma dilamar oleh teman masa kecilnya dan akan melangsungkan akad keesokan harinya. Aku terharu melihatnya, Tante Salma dan sosok lelaki itu sangat serasi dan aku merasa Tante Salma telah mendapatkan pasangan yang tepat.

Keesokan harinya, setelah akad aku sempat bertanya ke Tante Salma,

“Tan, dimana kita menemukan cinta?

“Di waktu dan tempat yang tepat.” Jawabnya sambil wajah berseri.

Suatu Sore di Awal Cerita

Tak ada yang menarik di diri Sony. Hanya pemuda berusia 20 tahun yang masih duduk di bangku kuliah semester akhir dan tak punya kehidupan yang mengasyikan seperti kebanyakan mahasiwa seusianya. Setelah kuliah usai, tak ada kegiatan di kampus yang ia ikuti. Ia juga tidak pernah kumpul ataupun pergi jalan-jalan bersama teman-temannya. Baginya, kehidupannya ialah milik dirinya sendiri dan orang lain tak berhak ikut campur.

Namun, semua itu berubah ketika ia mulai merasa bosan dengan kehidupannya. Ia ingin bergabung dengan organisasi di kampus tapi tidak mungkin, karena tidak membuka pendaftaran anggota. Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa semua komik yang ia punya dan membuka lapak di lapangan perumahan. Biasanya di sore hari, anak-anak bermain di lapangan perumahan tersebut.

“Ini buku apa, Kak?” tiba-tiba seorang anak lelaki menghampiri Sony.

“Ini namanya buku komik. Ada gambar dan juga ada tulisannya, udah bisa baca belum?” jawab Sony

“Udah dong, seru nggak?”

“Seru! Tentang pertempuran gitu, baca deh,” Sony pun menyodorkan buku komik favoritnya itu.

“Semuanyaaa, ayok ke sini!” ajak anak lelaki itu dengan berteriak. Lantas, teman-temannya yang sedang main ayunan dan main bola juga menghampiri lapak buku Sony.

Anak-anak yang berusia 8-13 tahun itu pun banyak yang memilih buku-buku Sony. Terkadang, Sony juga lah yang membacakan cerita untuk mereka. Sony tak menyangka hal itu sangat menyenangkan baginya. Selama ini ia hanya mengurung diri di kamar dan tak berani bertemu orang, apalagi anak-anak.

Baca juga: 10 Cerpen Horor, Berani?

Senja telah datang dan Sony pun terpaksa menutup lapak bukunya. Anak-anak tersebut pun satu persatu meninggalkan lapangan. Anak-anak pun meminta supaya Sony membacakan cerita lagi keesokan harinya. Karena semangat anak-anak itulah, Sony sering membuka lapak buku setiap sore. Sampai suatu waktu, ia kepikiran untuk membuat kegiatan yang lebih dari membacakan buku, tetapi juga mengajarkan anak-anak bersama.

Ibu yang melihat perkembangan Sony pun tersenyum bangga. Sony tidak lagi mengurung diri dan kini senang bergaul. Apalagi, ia telah membuat komunitas bercerita secara lebih luas.  Banyak orang yang ingin bergabung dengan komunitasnya untuk membantu anak-anak membaca dan belajar.

Itu dia 10 cerita inspiratif kehidupan nyata. Semoga cerpen inspiratif kehidupan nyata bisa menghibur dan memotivasimu dalam menjalani hidup, yaa.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *