10 Contoh Cerita Fabel yang Akan Menginspirasimu

Pastinya kamu pernah mendengar cerita Si Kancil, bukan? Tahukah kamu bahwa cerita tersebut ialah termasuk cerita fabel? Penasarankah mengapa cerita seperti Si Kancil disebut fabel? Bagaimana contoh cerita fabel pendek? Simak dalam artikel ini sampai habis, ya!

Pengertian Fabel

Pengertian fabel
Sumber foto: Comfreak dari Pixabay

Febel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang (berisi pendidikan moral dan budi pekerti). Pengertian fabel juga dijelaskan oleh ahli bahasa. Menurut Nurgiyantoro, fabel adalah cerita binatang yang seolah tidak berbeda dengan cerita manusia. Sedangkan menurut Buku Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa fabel adalah jenis cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa fabel adalah salah satu jenis cerita fiksi yang mengisahkan tentang kehidupan binatang. Yang mana tokoh dalam fabel tersebut beperilaku dan menyerupai manusia.

Cerita fabel bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada pembaca. Sehingga, cerita ini pun tidak hanya ditunjukan kepada anak-anak, tetapi juga dapat diresapi oleh orang dewasa untuk mendapatkan sebuah amanat.

Baca juga: 10 Cerpen Lucu yang Akan Menghiburmu

20 Contoh Fabel Pendek

Apel, Semut, dan Gajah

Suatu hari, ada seekor gajah dan semut yang berebut buah apel di sebuah padang rumput. Mereka bersikeras untuk memperebutkan apel itu.

“Enak saja. Aku yang lebih berkuasa di sini. Jadi ini punyaku!” Si Gajah pun membantah.

Karena keduanya tidak mau kalah, Semut dan Gajah berseteru, sampai semut pun terjatuh. Namun, Semut akhirnya mengalah. Ia rela memberikan apel itu kepada si Gajah. Lalu ia pun pergi meninggalkan si Gajah yang sedang kegirangan mendapatkan apel.

Gajah dengan lahap memakan buah apel itu, namun pada gigitan terakhir, apel itu membuatnya sakit perut. Sedangkan, Si Semut merasa bersyukur tidak memakan apel itu dan menemukan tetesan madu di pohon lain.

Sayap di Ujung Langit

Pada hari pertama ketika ia menetas, burung merpati itu sudah tahu bahwa ia tidak akan bisa seperti burung lainnya. Tubuh mungilnya hanya diselimuti bulu halus berwarna putih, tanpa sepasang sayap!

Hari pun terus melaju. Ia hanya menunggu Ibunya datang untuk memberikannya makan karena ia tidak bisa terbang mencari makanan. Ia hanya melihat saudara-saudaranya terbang hilir mudik. Tak jarang pula, ia sering diejek oleh saudara-saudaranya.

Hingga suatu malam, ia mencurahkan isi hati kepada ibunya.

“Bu, kenapa aku terlahir tak punya sayap? Aku ingin terbang”

“Lihatlah langit ini, Nak. Langit tetap disebut langit walau tanpa bintang. Kamu akan tetap disebut burung, walau tak punya sayap, paruh dan cengkraman kakimu sangat kuat.” Suara ibunya sangat meneduhkan, membuat Si Burung menangis sambil memeluk ibunya.

Jendral Bebek Hijau

“Aku bangga dengan warna buluku, karena dengan warna hijau aku dapat menyamar di padang rumput ketika para elang mencari mangsa”

Dengan ketegasan dan percaya dirinya, ia dijadikan jendral di antara para bebek. Namun, ada saja orang yang syirik dengan keberhasilan Jendral Bebek Hijau, yaitu Bebek Coklat.

Bebek Coklat selalu berusaha mencelakai Bebek Hijau dengan beragam cara. Pernah Bebek Hijau didorong ke genangan air yang keruh, tapi untungnya warna bulu hijaunya tetap cantik dan mencolok. Sang Jendral Bebek Hijau yang mengetahui kedengkian Bebek Coklat pun memberikan keputusan untuk Bebek Coklat.

“Silakan kau hujat aku di depan mukaku, Bebek Coklat. Maka kau akan dapatkan posisiku” Ujar Jendral Bebek Hijau.

Bebek Coklat hanya terpaku di hadapan Bebek Hijau. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Kedengkianmu hanya tersarang di hati tak pernah diungkapkan. Maka, akan selamanyalah kamu berada dalam kedengkian.” Tegas Jendral Bebek Hijau”Prajurit, biarkan Bebek Coklat menjadi jendral selama seminggu ini!”

Para bebek dan prajurit lainnya kaget dengan keputusan itu. Saat Bebek Hijau mulai melangkah, Bebek Coklat pun akhirnya bersuara.

“Tidak Jendral! Aku memang tidak pantas menjadi jendral untuk para bebek. Maafkan kelancanganku pernah mencelakaimu.” Sanggah Bebek Coklat sambil berlutut di hadapan Jendral Bebek Hijau.

Cangkangku, Rumahku

Desiran ombak tepi pantai menjadi suara yang tak asing bagiku. Seringkali aku berjalan ke tepi pantai hanya untuk menyaksikan matahari tenggelam di ujung cakrawala. Kegiatan itu sudah kulakukan sejak lama. Namun, seribu kali sayang, hari ini aku hanya bisa bersembunyi di bawah pasir.

Cangkang berwarna putih gadingku pecah dan terlepas dari tubuhku. Aku terlalu malu untuk keluar dari balik pasir dan mencari cangkang lainnya. Seringkali aku meminta tolong teman-temanku, tetapi tak ada satu pun yang menolongku.

“Carilah sendiri, Nail! Kau tak punya kaki?” tanya Wuvi dengan nada tinggi

“Aku terlalu sibuk mencari makan, Nail. Mohon maaf belum bisa membantumu” ujar Kia

“Baiklah kalau begitu” Ujarku pasrah.

Memang benar, ternyata yang paling bisa menolong kita, hanyalah diri sendiri. Saat itu, aku keluar dari balik pasir. Berjalan tepi pantai dan mulai mencari-cari cangkang yang cocok untukku.

Akhirnya, aku menemukan cangkang berwarna emas yang sangat pas di badanku. Kelomang-kelomang lain mulai menatapku dengan kagum. Begitu pun ketika Wuvi dan Kia yang sebelumnya pernah menolak permintaan tolongku.

Berbagi untuk Semua

Bulan sudah menerangi lautan. Waktunya Ibu Hiu memberikan makan malam kepada tiga anak-anaknya. Yaitu ada Haka, Nori, dan Kiki.

“Anak-anak, hari ini, ibu hanya mendapatkan seekor cumi-cumi. Kalian harus membaginya sama rata ya? Ibu hendak ke kamar dulu” Anak-anak mengangguk

“Ini aku bagi yaa,” kata Haka. Dari satu ukuran cumi, haka memotong setengah cumi untuk dirinya. dan setengahnya lagi untuk kedua adiknya. “Aku yang lebih besar di sini, jadi cumi ini untukku, ya”

“Tapi kan Kak, Ibu suruh membaginya sama rata” sanggah Nori. Lalu si bungsu Kiki pun menangis karena mendapatkan ukuran cumi yang kecil. Ibu pun mendadak kembali.

“Tidak boleh seperti itu Haka, tidak boleh serakah walaupun kamu yang paling besar dibanding adik-adikmu” Haka tertunduk “Kalian harus selalu saling berbagi ya, anak-anak. Walaupun menurut kalian kurang, itu adalah rezeki yang patut kita syukuri” Lanjut Ibu dengan sangat tenang. Mereka pun memakan cumi dengan senang.

Pisang Berkulit Emas

Cahaya mentari pagi menyelinap di antara pepohonan rindang nan tinggi di hutan itu. Pada salah satu pohon, hiduplah seekor putri kera yang sangat manis. Ia selalu direbutkan oleh para jantan.

Ayahnya yang menjadi raja di wilayah tersebut seringkali kedatangan kera-kera jantan yang hendak melamar putrinya. Tapi, tak ada satu pun yang ia terima.

“Ayah aku belum mau nikah, apabila ayah terus memaksa, aku ada syaratnya!”

“Baiklah, apa syaratnya?”

“Para jantan harus mencari pisang berkulit emas” Tegas Putri Pri

“Bukankah itu hanya mitos, Nak? Mana mungkin ada yang menemukannya.”

“Itu bukanlah mitos, Ayah. Aku memercayainya.”

Karena permintaan putrinyanya itu, Sang Raja pun akhirnya menurutinya. Sayembara mencari pisang berkulit emas pun digelar selama sebulan. Namun, tak ada satu pun yang berhasil menemukannya. Banyak dari para jantan yang menyerah di tengah jalan.

“Lihatlah, Nak. Tak ada yang berhasil menemukannya. Tak ada yang berhasil akan menikahimu.”

“Ayah, jantan-jantan itu hanya berburu untuk menjadi Raja di sini, bukan untuk menjadi suamiku. Dan satu lagi, yah. Ketika aku menjadi Ratu, Ratu tidak butuh raja, ayah” Tegas Putri Pri kepada Ayahnya. Akhirnya, ayahnya pun setuju dengan ucapan putrinya.

Kemalasan Berujung Malapetaka

Peternakan babi dan sapi itu dipisahkan oleh pagar kayu oleh pemiliknya. Suatu hari, pemilik peternakaan pergi ke kota untuk mencari bahan makanan. Suasana peternakan sangat lenggang dan tenang. Tapi, tiba-tiba sebuah guncangan terjadi!

Semua sapi segera keluar karena ketakutan terjadi gempa. Tetapi sangat berbeda dengan di tempat babi. Tak ada satu pun babi yang keluar.

“Hei kalian cepat keluar, ini ada gempa” ujar salah satu sapi.

“Tenanglah, ini bukan gempa. Kami menikmatinya selagi tidur siang” ujar babi yang masih berada di atas jerami.

“Ah terserah kalian lah.” Sapi itu pun menyerah dan malah pergi ke padang rumput belakang peternakan.

Setelah si sapi pergi, para babi kembali bermalas-malasan di atas jerami. Tiba-tiba guncangan semakin kencang. Para babi pun panik karena atap peternakan ada yang rubuh. Ternyata benar apa yang diucapkan si sapi, ini ialah gempa Akhirnya, para babi pun terjebak di dalam peternakan tidak ada yang bisa membantu keluar.

Metamorfosa

fabel
Sumber foto: Galadrim dari Pixabay

“Ibu, aku tak sabar menjadi kupu-kupu yang indah , seperti ibu” Ujarku kala itu kepada ibuku.

“Sabar, Nak, menjadi indah kau akan mengalami banyak tekanan dan ketakutan. Kau harus kuat menghadapi itu semua. Bahkan ada kalanya kau tak akan bisa mencapai titik itu, tapi percayalah, kau sudah menjadi indah seutuhnya” Begitulah petuah ibuku.

Saat ini, aku memercayainya. Di saat aku hendak menuju suatu ranting pohon untuk berselimut menjadi kepompong, tiba-tiba aku tak menyadari ada burung yang menuju ke arahku.

Dengan cepat, tubuhku terangkat terbang dan berada di paruh burung itu. Ku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, tetapi sekeras apapun aku berusaha, badanku tetap tidak terlepas dari paruhnya. Malahan, dengan lidahnya, ia memasukanku ke dalam mulutnya.

Inilah akhir perjalananku, Ibu. Aku berharap, aku memang sudah indah seutuhnya.

Si Kancil dan Beruang yang Tamak

Kancil kebingungan, karena ia tersesat ke dalam hutan yang sebelumnya tak pernah ia kunjungi. Saat ia hendak menyusuri ujung hutan dan keluar, ia melihat ada seekor beruang yang berhadapan dengan dua babi yang sedang ketakutan.

“Aku lapar! kumakan kalian!” geram si beruang sambil berjalan menuju dua babi tersebut.

“Hei beruang! Kau tidak lapar!” Kancil yang pemberani itu pun muncul dari balik rerimbunan.

“Siapa kau? ikut-ikutan saja! Pergi, atau kau kumakan juga!”ancam beruang dengan geram

“Kau baru saja memakan ular, beruang! Terlihat dari tubuhmu ada bekas darah dan sisik ular. Kau harusnya merasa cukup.”

“Diam kamu, kancil! Aku perlu makan banyak, karena harus hibernasi!”

“Ayolah tuan beruang.”Kancil berbicara dengan santai dan mulai mendekati beruang dan melindungi kedua babi tersebut. “Kau pikir aku tak tahu, kau beruang madu, di hutan hujan tropis. Heii, kau tak perlu hibernasi!”

“Kurang ajar kamu kancil mengatakan kelemahanxku! Ku makan juga kau!” Di saat beruang akan menyerang kancil dan kedua babi tersebut, kedua babi sudah menyiapkan balok besar untuk dipukulkan ke beruang. Dalam satu kali pukulan, beruang pun jatuh tersungkur.

Babi dan kancil pun segera kabur dari tempat tersebut. Sebagai ucapan terima kasih, kedua babi pun mengantarkan kacil untuk keluar dari hutan.

Kuda Poni yang Berkulit Macan

Suatu hari ada seekor kuda poni yang pergi ke padang rumput. Ia menemukan kulit macan. Ia berpikir bahwa itu adalah kulit macan tersebut tak sengaja tertinggal oleh para pemburu. Ia pun mencoba kulit macan tersebut dan ternyata sangat pas di tubuhnya.

“Ah akan aku pakai kulit macan ini untuk menakuti hewan lainnya. Pasti sangat seru!” Kuda Poni itu pun berseru licik

Tak lama setelahnya, datanglah sekumpulan domba. Kuda poni itu pun mengaum dan mulai menunjukan kejahilannya. Akhirnya domba-domba itu pun lari ketakutan dan meninggalkan padang savana. Kodi poni tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.

Lalu, terlihatlah seekor kucing yang mengunjungi padang savana. Kuda Poni mulai bersiap lagi, ia mendekati kucing tersebut dan mulai mengaum. Tetapi, kucing tersebut malah tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha aku tidak takut kuda! aumanmu tidak seperti macan dan sangat seperti ringikan kuda. Selain itu kepalamu ditumbuhi banyak rambut. Kuda akan tetap menjadi kuda.”

Kuda poni itu pun malu karena ulahnya ketahuan oleh binatang lain. Ia pun menyadari, bahwa kepura-puraan pasti akan terbongkar dan kejahilan akan membuatnya malu sendiri.

Gua Kiwon

Gelapnya gua itu membuat banyak kelalawar menetap nyaman di dalamnya. Begitupun dengan aku. Tempat favoritku adalah stalagtit di ujung gua yang bisa membuatku menggantung di sana.

Suatu hari stalaktit tempatku seperti biasa menggantung jatuh dari dinding gua. Padahal stalaktit itu sangat kokoh. Aku kebingungan mencari tempatku di mana lagi. seisi gua itu telah dipenuhi oleh banyak kelalawar. Bahkan, tak ada satu pun kelalawar lainnya yang menyisikan tempat untukku.

Lalu tiba-tiba, datanglah kelalawar tua ke hadapanku.

“Pakailah tempatku, Nak. Aku sudah tidak ingin lagi di gua ini. Terlalu sesak dan kelalawarnya sangat egois” ujar lelaki tua itu berbaik hati.

Aku yang merasakan itu semua pun sangat setuju. Banyak kelalawar yang individualis dan egois. Alhasil, aku pun mengikuti bapak kelalawar itu dan meninggalkan gua itu. Aku ikut mengembara dan mencari tempat terbaik. Sesungguhnya, rumah adalah tempat kita selalu dinantikan pulang.

Tupai yang Dermawan

Di suatu siang yang terik, seekor tupai yang bernama Holly sudah bekerja mengumpulkan biji kenari.

Saat matahari sudah mulai menurun, biji kenarinya sudah terkumpul dengan banyak. Rencananya ia akan membuat jus kenari tatkala sampai ke rumah. Tenggorokannya sudah sangat kering kerontang.

Di perjalanan, ternyata banyak tupai lain yang kelaparan. Ia tidak tega dan membagikan jerih payahnya dengan cuma-cuma. Ketika sampai di rumah, biji kenarinya hanya menyisakan satu buah.

Holly hanya tersenyum dan ikhlas. Perlu dua biji kenari untuk membuat jus yang manis. Tapi, ia tetap membuat jusnya dan meminumnya tanpa keluhan. Ia tetap bersyukur dengan apa yang ia punya.

Lalu, tiba-tiba Wiqa tetangganya memberikan satu karung buah-buahan. Mereka pun berbincang sampai malam. Akhirnya Holly menyadari, bahwa kebaikan sebesar biji kenari akan dibalas dengan sebesar dunia.

Perbedaan Akan Mendekatkan

Suatu hari, seekor monyet dan seekor tupai sedang duduk di pinggir danau. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Tapi, terkadang tupai selalu risih ketika monyet sedang berbicara sambil menggaruk-garuk kepala dan tubuhnya. Begitu pun dengan monyet yang terkadang risih melihat tupai yang seringkali menggerak-gerakan ekornya dan mengendus.

Lalu tetiba, ada buaya yang menghadang mereka berdua. Otomatis, mereka pun sangat kaget. Mereka lari sekencang mungkin untuk menghindari buaya tersebut, namun buaya itu sangat berlari cepat karena melihat mangsanya yang gemuk.

“Tupai, jika ini hari terakhirku, aku ingin kamu tahu sesuatu. Aku tidak suka ketika kamu sering mengendus dan menggerakan ekor” Ujar Monyet sambil berlari.

“Ketahuilah Monyet, aku pun sama. Selama ini aku risih melihatmu sering garuk-garuk kepala.”

“Tapi aku sayang kamu, temanku!” Teriak Monyet dan Tupai berbarengan.

Mereka terus berlari dan belari. Sampai mereka tak menyadari, bahwa buaya telah menyerah menyusul mereka. Di tengah deru napas yang memburu, mereka pun berpelukan dan menerima kekurangan masing-masing.

Si Jahil dan Si Polos

Saat binatang bersekolah, para murid dibiarkan untuk bebas menyusuri isi hutan. Lalu, serigala yang bernama Rob menghampiri seekor kelinci putih yang bernama Bin. Serigala yang memang terkenal jahil itu menakut-nakuti kelinci dengan berbagai banyak macam hewan buas di hutan. Salah satunya ialah ular.

Tiba-tiba sekelompok cacing keluar dari permukaan tanah dan membuat Bin terkejut. Lantaran, ia menyangka bahwa cacing tersebut adalah ular yang diceritakan oleh Rob. Ia hanya tidak tahu bahwa cacing berukuran lebih kecil dibandingkan ular.

“AAAA Aku takut!! Tolong!!”Bin berteriak kencang sampai membuat siswa yang lain terkejut. Rob hanya tertawa terbahak-bahak.

Pak Tilo, seekor rubah mengetahui bahwa ini adalah ulah Rob. Rob disuruh minta maaf kepada Bin. Dan Rob berjanji tidak mengulanginya lagi.

Melepaskan

Pada kesunyian malam dan deru suara ombak, penyu dan kura-kura tertidur dengan pulas. Sudah satu bulan penyu sakit dan kura-kura merawat sahabat karibnya.

Sampai suatu hari, penyu tersebut benar-benar ada di titik terendah. Napasnya sudah naik turun. Kura-kura pun hilir mudik mencari bantuan. Ujar dokter, memang usia penyu sudah tua, jadi sangat mudah terserang penyakit.

Pada malamnya, penyu benar-benar tidak tertolong lagi. Jeritan kura-kura pun menggema seisi pantai. Ia tak rela sahabat puluhan tahunnya meninggalkannya. Untuk mengenangnya, kura-kura mengabulkan permohonan sahabat karibnya itu, walau permohonannya sangat berat.

“Kura-kura, aku tidak mau mati di tepi pantai seperti penyu lainnya. Buanglah jasadku ke laut.”

Kura-kura pun dengan terpaksa menyanggupinya. Walaupun sebenarnya ia tidak akan bisa lagi melihat sahabat karibnya.

Tidak Percaya

Pada rerimbunan pohon, ada seekor tupai yang kelaparan mencari makan. Lalu betapa senangnya ia melihat buah yang menggantung di ranting dan berayun seolah meminta untuk di makan. Ketika ia hendak memetik buah tersebut, tiba-tiba kakek tupai memperingatkannya.

“Jangan makan buah itu. Buah aneh itu bahkan tidak ada namanya. Jika kau tetap memakannya, maka kau akan celaka”

Si Tupai yang sudah sangat kelaparan itu tak memedulikan kakek tupai. Ia tetap melahap buah yang berbentuk bulat berwarna hijau tosca. Awalnya, ia merasakan biasa saja. Buah itu sangat manis terasa di lidah. Tetapi, lama kelamaan, lidahnya terasa terbakar.

Ia pun panik mencari danau, matanya sudah bercucuran air mata. rasa laparnya kini berubah menjadi rasa sakit. Ia berjanji, tidak lagi-lagi untuk memakan sesuatu yang aneh di hutan.

Perlombaan Pertama

fabel pendek
Sumber foto: Oldiefan dari Pixabay

Semua menatapku asing ketika aku berada di garis start. Mereka beranggapan bahwa aku tidak akan bisa memenangkan pertandingan ini. Sainganku adalah seekor kelinci dan rubah. Tetapi, aku akan tetap mencoba.

Kelinci dan rubah tersebut sangat meremehkanku. Bahkan ketika pertandingan lari ini dimulai, mereka terus mengejekku. Karena aku pasti akan kalah. Ketika mereka hanya berfokus untuk mengejekku, mereka justru terjatuh ke lubang yang merupakan jebakan permainan.

Aku yang berusaha dan berfokus mengejar ketertinggalan, akhirnya pun berhasil mencapai garis finish. Betapa bahagianya aku memenangkan perlombaan pertamaku dan sangat bangga ketika juri meneriakan namaku.

“Juara lomba lari ialah Siput!!”

Menjaga dalam Suara

Suara Ole seekor burung hantu di malam hari sangat meresahkan isi hutan. Wila, seekor monyet bahkan mengancam Ole agar tertidur saja di malam hari daripada membangunkan warga hutan lainnya.

“Kau bisa diam tidak? Malam adalah waktunya untuk kita tidur!”

“Tentu saja tidak bisa, aku tertidur di siang hari, bukan malam hari” Jawab ole santai

“Tapi kau mengganggu kita tidur”

“Suaraku memang mengganggu, tapi telah menyelamatkan kalian dari beruang hutan yang hendak menerkam kalian waktu kalian tertidur tau!”

Penjelasan Ole membuat Wila terdiam. Sejak saat itu, Wila dan seisi hutan berterima kasih kepada Ole yang telah menjaganya di malam hari.

Cicak dan Tokek

Di sebuah rumah yang sudah lama kosong, tinggalah keluarga cicak di dalamnya. Ada Bi dan Ri sebagai kakak beradik serta kedua orang tuanya. Suatu hari, datanglah seekor tokek di rumah tersebut.

“Kalian harus tunduk kepadaku, sekarang wilayah ini adalah kuasaku”

Tokek tersebut bersifat kasar dan sok berkuasa, padahal ia adalah penghuni baru di rumah tersebut. Seringkali kedua orangtua Bi dan Ri harus beradu mulut dengannya. Karena tak tega melihat itu, Bi dan Ri mempunyai rencana.

Mereka hendak memancing tokek tersebut keluar dari rumahnya dengan suara-suara hantu. Bi dan Ri menakut-nakuti tokek tersebut bahkan ia sampai kabur terpirit-pirit dari rumah tersebut. Akhirnya, keluarga tersebut pun hidup damai kembali dan meraih apa yang sudah menjadi milik mereka.

Baca juga: 10 Cerita Fantasi

Bunga dengan Madu Termanis

Menjadi anak dari ratu lebah cukup sulit bagiku. Aku harus selalu terkesan anggun. Kuakui, aku memang sedikit nakal dan tomboy. Suatu hari, aku ingin pergi ke ladang bunga di belakang istana bersama-teman-temanku. Lalu, Ibu memanggilku terlebih dahulu.

“Nak, carilah bunga dengan madu termanis” Apabila Ibu sudah berkata seperti itu, itu adalah titah.

Sambil bermain, aku pun sambil mencari madu yang disebutkan Ibunda. Kucoba satu per satu madu di tempat tersebut. Namun hasilnya nihil, bahkan aku sampai kekenyangan. Hingga sampai di rumah, aku meminta maaf. Tapi, Ibunda hanay tersenyum dan berkata.

“Kau adalah bunga itu sendiri, Nak.”

Kini aku mengerti maksudnya. Sejak saat itu, aku tak akan bersikap sembrono lagi.

Baca juga: 10 Contoh Cerita Inspiratif

Itulah pengertian dan 20 cerita fabel pendek yang bisa menghiburmu. Semoga kamu bisa mendapat amanat dari setiap cerita, ya!


Referensi:

Kosasih, E, dkk. 2016. Bahasa Indonesia SMP/MTS Kelas VII. Jakarta: Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *