10 Contoh Cerita Inspiratif: Pengertian dan Strukturnya

Apa yang kamu bayangkan jika mendengar kata ‘inspiratif’? Apakah yang terlintas dalam benakmu ialah motivator-motivator hebat atau orang yang bijaksana? Jika iya, tentunya, motivator tersebut pun perlu sebuah cara untuk menarasikan pengalamannya kepada masyarakat, salah satunya ialah melalui cerita inspiratif.

Cerita inspiratif merupakan salah satu bentuk dari teks narasi, yang mana fungsinya ialah untuk menghibur dan mendidik. Namun, apakah kamu sudah benar-benar memahami apa pengertian, struktur, dan contohnya? Simak artikel ini sampai habis, ya.

Pengertian Cerita Inspiratif 

Pengertian cerita inspiratif
Sumber foto: Kranich17 dari Pixabay

Cerita inspiratif ialah salah satu bentuk teks narasi yang memberikan kebaikan kepada orang yang membacanya. Ceritanya berisi cerita yang baik dapat menggunggah perasaan, memberi kesan yang mendalam bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi mampu membuat seseorang berjanji pada dirinya untuk menjadi seperti yang dibacanya.

Baca juga: 10 Cerpen Persahabatan

Struktur Cerita Inspiratif

Struktur adalah patokan atau pola yang digunakan dalam sebuah teks. Berikut ini ialah struktur cerita inspiratif yang pelru kamu ketahui.

Orientasi

Orientasi merupakan struktur pertama dalam cerita inspiratif yang berisi tentang pengantar cerita. Pada tahap ini, kamu akan melihat paragraf awal yang berisi pengenalan cerita, baik dimulai dari latar atau pun tokoh yang terdapat dalam cerita tersebut.

Perumitan Peristiwa

Pada tahap ini berisi tentang kisah tokoh dan peristiwa mulai menuju ke puncak cerita atau konflik.

Komplikasi

Komplikasi bisa disebut juga puncak atau inti cerita atau juga konflik. Pada tahap ini diceritakan secara rinci kisah inspirasi tersebut.

Resolusi

Pada tahap ini biasanya berisi tentang peristiwa-peristiwa yang menyadarkan tokoh tentang kebaikan.

Koda

Koda merupakan akhir struktur dari cerita inspiratif. Pada tahap ini berisi kesimpulan dan pesan moral yang bisa diambil dari cerita tersebut.

Contoh Cerita Inspiratif

Kentang, Telur, dan Biji Kopi

Kentang, telur, biji kopi
Sumber foto: Julio Pablo Vázquez dari Pixabay

Suatu masa, terdapat anak lelaki yang sering mengeluh kepada Ayahnya yang seorang petani. Dia lelah harus berjuang pergi ke sekolah puluhan kilo meter dengan jalan kaki. Lalu, Sang Ayah mengajaknya ke dapur, menyalakan kompor, lalu mendidihkan air dan memasukan kentang, telur, dan biji kopi secara bergantian.

Setelah selesai memasak ketiga benda tersebut, Sang Ayah memasukannya ke tiga mangkuk yang berbeda.

“Nak, apa yang kamu lihat di depanmu?” tanyanya

“Kentang, telur, san kopi, Yah”

“Lihat tekturnya lebih seksama. Apakah ada yang berubah?”

“Kentang berubah menjadi lembut, telur berubah jadi keras, dan biji kopi berubah jadi kopi. Apa maksudnya, Yah?”

Ayah pun tersenyum dan menjelaskan bahwa kentang, telur, dan kopi menghadapi tantangan yang sama, yaitu air mendidih. Namun, masing-masing bereaksi dengan berbeda. Kentang yang keras berubah menjadi lemah dan lembut, telur yang rapuh dan mudah pecah berubah menjadi keras, dan biji kopi justru mengubah air menjadi sesuatu yang baru. “Yang mana kamu?” tanya Sang Ayah kepada putranya. “Saat tantangan dan kesulitan mengetuk pintumu, bagaimana tanggapanmu? Apakah kamu kentang, telur, atau biji kopi?”

Anak lelaki itu pun terdiam mendengar penjelasan dari ayahnya. Ia mulai mengerti bahwa hal-hal yang terjadi menimpa kita, kita sendiri lah yang menentukan akan menjadi apa. Bisa menjadi lebih lemah, lebih kuat, atau menjadi sesuatu yang baru.

Struktur dalam cerita inspirasi tersebut ialah:

  • Orientasi: ‘Suatu masa, terdapat anak lelaki….”
  • Perumitan Masalah: “Dia lelah harus berjuang pergi ke sekolah…”
  • Komplikasi:” Setelah selesai memasak ketiga benda tersebut, Sang Ayah memasukannya ke tiga mangkuk yang berbeda.”
  • Resolusi: “Ayah pun tersenyum dan menjelaskan bahwa kentang, telur, dan kopi menghadapi tantangan yang sama, yaitu air mendidih…”
  • Koda: “Anak lelaki itu pun terdiam mendengar penjelasan dari ayahnya…”

Botol

Riana menangis tersedu-sedu ketika pulang dari sekolah. Ia memasuki rumah dengan muka merah, tanpa mengucapkan salam, dan berjalan tergesa menaiki tangga tanpa memedulikan Mama yang bertanya. Biasanya, ia selalu pulang sekolah dengan gembira, namun tidak pada hari ini. Mama bertanya-tanya, hal apa yang membuat putrinya merasa marah dan kecewa seperti itu.

Selang beberapa menit, Mama memasuki kamar Riana. Tangisan Riana sudah mulai mereda. Ia kini menjadi lebih tenang. Bersama dengan dibawakannya jus manga, Mama mulai mencoba mendekati Riana.

“Yuk minum ini dulu, Na” awalnya Riana enggan, tetapi akhirnya ia meminum jus mangga kesukaannya.

“Kamu kenapa, sayang?”

“Aku dibilang jelek sama Rangga, rambutku keriting, Ma, kayak Papa. Terus aku diledekin sama anak laki-laki satu kelas pas pulang sekolah” masih terlihat jelas kekesalan paada mata Riana.

“Na, kamu tahu gak bahwa sebenarnya manusia  sama seperti botol kosong itu?” tanya Mama ramah sambil memperlihatkan botol kosong yang berada di meja belajar Riana. Riana pun menggeleng.

“Begini, kalau botol ini di isi dengan air mineral harganya bisa Rp5.000, lalau botol ini diisi jus harganya bisa Rp10.000,  kalau botol ini diisi dengan isi parfum terkenal, harganya bisa jutaan rupiah, dan jika diisi air got justru botol ini tidak ada harganya sama sekali. Walaupun berbeda harga, bukankah fisiknya tetap botol bukan?”

“Iya, Ma, tetap botol. Lalu?” Riana menghapus sisa-sisa air matanya dan menyimak penjelasan Mama.

“Begitulah manusia di mata Tuhan, hanyalah seperti botol kosong. Yang membedakan ialah isi dari botol tersebut. Tuhan tidak melihat fisik atau rupa dari manusia, tetapi ialah ketulusan jiwa, kebaikan, dan kebijakan yang ia tempuh selama di dunia. Jadi, biarkan saja Rangga atau yang lainnya meledekmu. Terpenting, tunjukan kemampuanmu dan tidak perlu merasa rendah diri, okay, cantik?”

Riana mengangguk dan langsung memeluk mamanya. Masa SMP memang cukup rumit untuk mulai mencari jati diri. Namun kini, Riana mengerti bahwa setiap manusia tentunya akan selalu sama, yang berbeda ialah kebaikan yang ada dalam hatinya.

Struktur dalam cerita inspirasi tersebut ialah:

  • Orientasi: “Riana menangis tersedu-sedu ketika pulang dari sekolah…”
  • Perumitan masalah: “Selang beberapa menit, Mama memasuki kamar Riana….”
  • Komplikasi: “Aku dibilang jelek sama Rangga, rambutku keriting, Ma….”
  • Resolusi: “Begitulah manusia di mata Tuhan, hanyalah seperti botol kosong…”
  • Koda: “Riana mengangguk dan langsung memeluk mamanya….”

Baca juga: Contoh Cerita Fiksi

Tania

Tania
Sumber foto: Pexels dari Pixabay

Biolaku seolah tidak mau bersahabat denganku hari ini. Padahal konser musikal sekolah sebentar lagi. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tampil memukau pada konser nanti. Aku berada di kursi depan dan menjadi sorotan. Sesuai dengan mimpiku sejak pertama kali belajar biola. Namun, sepertinya aku mengalami kesialan, benang dawainya putus ketika aku dan timku sedang berlatih.

Terpaksa aku pun perlu keluar dari panggung sementara. Mendengus kesal dan pergi ke kantin. Saat aku berjalan menuju kantin, tiba-tiba,

“Doorr!” Suara Tania mengagetkanku “Kenapa kesel gitu si La, yaampun!” Aku pun menjelaskan mengapa aku bisa kesal hari ini. Ia mendengarkan dengan seksama, sambil menunggu bakso, seperti biasa ia pun mulai bertanya-tanya yang selalu membuatku bingung.

“La, ketika kita mau pergi naik pesawat dan memilih tiketnya itu kendali kita atau bukan?”

“Ya, kendali kita lah, milih naik pesawat apa dan pukul berapa” jawabku singkat

“Kalau pesawat yang kita pilih terlambat, apa itu juga kendali kita?” Tanya nya lagi

“Yaaa, bukan, sih.

“Nah, sama kayak kejadian kamu dan biola hari ini. Sesuatu di luar kendalimu, mau bagaimana pun juga tidak akan bisa kamu ubah. Kamu kan sudah mengendalikan kemampuan biolamu, sedangkan hal yang terjadi di luar kemampuan kamu yaitu biola rusak, itu bukan berasal dari diri kamu. Jadi, biarin aja, gak perlu ngeluh, okay?”

“Habis ngeluh itu enak sih” aku terkekeh. Tania menjitak kepalaku pelan. Aku pun semakin tertawa.

Aku menyadari, ceramah dia bukan hanya sekadar ceramah seperti Aa Gym atau Mama Dedeh. Ia menyarankan dan menjadi inspirasi saat aku menghadapi keadaan-keadaan yang sulit dengan gaya pembicaraannya yang bersahabat. Satu hal pelajaran yang kudapat dari hari ini, fokuslah terhadap apa yang ada di kendali kita. Dan tidak perlu berlarut dengan hal-hal yang di luar kendali.

Struktur dalam cerita inspirasi di atas ialah:

  • Orientasi: “Biolaku seolah tidak mau bersahabat denganku hari ini…..”
  • Perumitan Masalah: “Terpaksa aku pun perlu keluar dari panggung sementara…”
  • Komplikasi: ” La, ketika kita mau pergi naik pesawat dan memilih tiketnya itu kendali kita atau bukan?…”
  • Resolusi: “Nah, sama kayak kejadian kamu dan biola hari ini. Sesuatu di luar kendalimu…”
  • Koda: “Aku menyadari, ceramah dia bukan hanya sekadar ceramah seperti Aa Gym atau Mama Dedeh…”

Penulis dan Pelukis

Kata-kata yang kutulis mulai mengalami kebuntuan. Aku mandek menuliskan ide cerita pada kertas yang akan kukirimkan kepada penerbit melalui pos surat untuk besok. Sejenak aku meninggalkan meja kerjaku dan memutuskan untuk bersepeda keliling komplek.

Pada saat di perjalanan, aku melihat seorang pelukis laki-laki yang digerumuni oleh banyak orang. Orang-orang melihat kepiawaiannya menggoreskan cat pada kanvas dengan menggunakan kaki. Ya, kaki! Pantas saja mengundang banyak perhatian orang, batinku. Ia melukis tentang rectoverso bayangan seorang perempuan. Setelah selesai, ia pun mulai berpresentasi terhadap apa yang sudah ia lukis.

Ia mendekati seorang gadis dan bertanya “Apa kah kamu melihat gambar ini dengan jelas?” tanyanya ketika ia menunjukan lukisannya yang berjarak lima senti di hadapan wajah gadis tersebut. Lalu gadis itu menggeleng.

Pelukis itu pun mundur beberapa langkah dan bertanya kembali “Apa kah kamu sudah bisa melihat gambar apa ini?”

“Ya, gambar gadis berambut panjang di bawah pohon” ujar gadis itu.

“Begitulah ketika cara kamu ingin melihat mimpi. Kamu melihat mimpi terlalu dekat jadinya malah buta dan tidak melihat jelas. Cobalah sebentar untuk mengarahkan padangan ke tempat lain dan memberikan jarak kepada mimpimu, maka kamu akan tetap bisa fokus.” Pelukis itu mengakhiri presentasi karyanya lalu diberi tepuk tangan yang riuh. Tak lupa juga beberapa orang menaruh uang di kotak silver yang ada di depannya.

Melihat pertunjukan tadi, aku kembali mengingat mimpi dan ambisiku menjadi penulis. Mungkin, saat ini, aku melihat mimpi terlalu dekat sehingga aku kesulitan menulis dan kehilangan arah. Aku segera kembali ke rumah dan akan kuubah ambisiku bukan hanya sekedar ambisi yang menyesatkan, tetapi juga mengarahkan.

Struktur dalam cerita inspirasi di atas ialah:

  • Orientasi: “Kata-kata yang kutulis mulai mengalami kebuntuan…”
  • Perumitan Masalah: “Pada saat di perjalanan, aku melihat seorang pelukis laki-laki yang digerumuni oleh banyak orang…”
  • Komplikasi: “Ia mendekati seorang gadis dan bertanya ‘Apa kah kamu melihat gambar ini dengan jelas?’…”
  • Resolusi: “Begitulah ketika cara kamu ingin melihat mimpi. Kamu melihat mimpi terlalu dekat jadinya malah buta dan tidak melihat jelas…..”
  • Koda: “Melihat pertunjukan tadi, aku kembali mengingat mimpi dan ambisiku menjadi penulis…”

Gajian Pertama

Sumber: unsplash.com

Hana sangat senang hari itu karena ia bisa merasakan gaji pertamanya dari perusahaan multinasional yang sudah ia idam-idamkan sejak kuliah. Ia mengajak sahabatnya Wina untuk ikut bersamanya makan malam di restoran mewah. Sebelum memasuki restoran, Hana pun memasuki ATM Centre terlebih dahulu di depan restoran.

Setelah keluar dari ATM, tiba-tiba ada seorang adik pengemis yang meminta uang kepadanya. Tanpa pikir panjang, Hana pun segera mengeluarkan Rp5.000 untuk diberikan kepada adik penegemis itu. Betapa kaget Hana ketika adik pengemis itu memegang tangan Hana dan menciumnya sambil mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih banyak, Kak. Semoga rejekinya lancar selalu. Ini ialah uang pertama saya yang saya dapat dengan jumlah yang besar. Terima kasih, Kak…” Hana tersentuh, ia pun mulai mengajak berbincang adik pengemis tersebut.

“Iya sama-sama, semoga bisa membantumu, ya”

“Saya bersyukur, Kak dapat segini, lumayan untuk membantu membeli obat untuk Ibu”

“Ya ampun, semoga Ibunya juga cepet sembuh, ya”

Adik pengemis itu pun mengangguk lalu pamit dan melangkah pergi. Wina pun sudah datang menghampirinya. Mereka pun melangkah memasuki restoran. Sementara dalam diam, Hana terharu, padahal ia hanya memberikan uang selembar Rp5.000 kepada adik tersebut. Tapi rasa syukur adik tersebut sangatlah besar, bahkan ia mendoakan Hana pula.

Hana mengingat masih ada gaji beberapa juta di ATM nya yang ia dapati dari kerja keras. Sudah saatnya ia bersyukur dengan amat sangat terhadap apa yang telah ia peroleh. Hana berjanji, ketika bertemu adik pengemis itu lagi, Ia akan mengajaknya makan malam atau sekedar berbincang tentang kehidupan.

Struktur dalam cerita inspirasi di atas ialah:

  • Orientasi: “Hana sangat senang hari itu karena ia bisa merasakan gaji pertamanya…”
  • Perumusan masalah: “Setelah keluar dari ATM, tiba-tiba ada seorang adik pengemis yang meminta uang…”
  • Komplikasi: “Terima kasih banyak, Kak. Semoga rejekinya lancar selalu….”
  • Resolusi: “Adik pengemis itu pun mengangguk lalu pamit dan melangkah pergi…”
  • Koda: “Hana mengingat masih ada gaji beberapa juta di ATM nya yang ia dapati dari kerja keras…”

Sebelah

Suatu masa, ada dua kakak beradik yang rumahnya bersebelahan. Walaupun bersebelahan, seringkali mereka bertengkar hanya karena hal sepele. Pekerjaan dua kakak beradik itu ialah sama-sama petani. Si kakak yang bertubuh besar menjadi seorang petani kentang. Sedangkan si adek yang memiliki janggut menjadi petani beras.

Pada malam yang sedang berbintang, si Kakak mendapatkan panen kentang yang berlebih. Tanpa memberitahu si Adek, diam-diam ia menaruh sekarung kentang ke rumah si Adek. Ia meredam emosinya, namun tetap mengingat adeknya yang mungkin butuh kentang. Keesokan paginya, si Adek bingung. Siapakah yang menaruh sekarung kentang di muka rumahnya?

Sampai si Adek berkesimpulan bahwa yang menaruh sekarung kentang itu ialah kakaknya. Malam itu juga, ia diam-diam menaruh dua karung beras ke depan rumah kakaknya. Keesokan paginya pun Sang Kakak terheran, mengapa ada dua karung beras di rumahnya? Malamnya, Sang Kakak pun menaruh dua karung kentang di rumah Adeknya.

Begitulah terus berhari-hari, mereka saling memberikan hasil panennya secara diam-diam tanpa berbicara. Sampai suatu ketika, mereka papasan saat sedang menuju ladang. Mereka tersenyum dan saling merangkul.

Seperti itulah kehidupan kakak beradik yang kita alami di dunia. Walaupun bertengkar, sudah seharusnya tetap memiliki kasih sayang antar sesama. Karena, hanya keluarga lah yang akan saling membantu apa pun yang terjadi.

Struktur dalam cerita inspirasi tersebut ialah:

  • Orientasi: “Suatu masa, ada dua kakak beradik yang rumahnya bersebalahan..”
  • Perumusan masalah: “Pada malam yang sedang berbintang, si Kakak mendapatkan panen kentang yang berlebih…”
  • Komplikasi: “Sampai si Adek berkesimpulan bahwa yang menaruh sekarung kentang itu ialah kakaknya….”
  • Resolusi: “Begitulah terus berhari-hari, mereka saling memberikan hasil panennya..”
  • Koda: “Seperti itulah kehidupan kakak beradik yang kita alami di dunia…”

Pak Kurdi si Tukang Sayur

Pak Kurdi si Tukang Sayur
Sumber foto: Photo Mix dari Pixabay

Di sebuah desa, terdapat pasar lokal yang menjual berbagai macam kebutuhan hidup. Ada yang menjual sayuran, daging, makanan ringan, dan lain sebagainya. Di pasar tersebut ada pedagang sayuran yang sangat tersohor. Pak Kurdi namanya. Pak Kurdi ialah seorang yang ramah kepada pedagang lain dan juga pembeli. Itulah alasannya ia menjadi tersohor di pasar tersebut.

Di hari Minggu, pasar sedang ramai-ramainya. Pedagang sibuk meladeni pembeli karena saking banyaknya. Hanya saja, berbeda dengan kios Pak Kurdi. Hanya segelintir orang yang mengunjungi kiosnya. Dibanding kios sayur yang ada, justru kios Pak Kurdi lah yang paling sepi. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang melihat sayur-sayurannya.

“Terong dan kangkung berapa, Pak”

“Terong sekilo Rp10.000 dan Kangkung seikat Rp5.000, Bu” jawab Pak Kurdi tetap ramah

“Tumben banget yak, Pak, kiosnya sepi.”

“Namanya juga dagang, Bu.” Pak Kurdi hanya menanggapi seadanya

“Tapi, warung sebelah sedang ramai-ramainya, Pak. Apa Bapak gak curiga?” Ibu yang berdandan ala pejabat itu seolah mengompori Pak Kurdi. Pak Kurdi hanya tersenyum, lalu menjawab.

“Kecurigaan hanya membuat hati kita panas, Bu. Segalanya sudah diatur. Ada bagian saya, ada bagian pedagang lain. Yang harus kita lakukan hanya bersyukur dan merasa cukup, Bu.”

Si Ibu pun ternganga, lalu menjawab kembali, “Bapak memang sangat bijak. Terima kasih, Pak. Ini uangnya” Si Ibu memberikan uang Rp100.000. Pak Kurdi sempat menolaknya dan memberikan kembalian. Namun, si Ibu itu menghilang di tengah kerumunan.

Pak Kurdi memberikan saran kepada kita untuk selalu sabar dan berbaik sangka kepada orang yang lain. Dengan selalu berbuat baik dan membersihkan hati dari kedengkian di setiap segala keadaan, maka keberuntungan justru akan memperlihatkan jalan kepada kita.

Struktur cerita inspirasi di atas ialah:

  • Orientasi: “Di sebuah desa, terdapat pasar lokal yang menjual berbagai macam kebutuhan hidup…”
  • Perumusan masalah: “Di hari Minggu, pasar sedang ramai-ramainya. Pedagang sibuk meladeni pembeli karena saking banyaknya…”
  • Komplikasi: “Tumben banget yak, Pak, kiosnya sepi…..”
  • Resolusi: “Kecurigaan hanya membuat hati kita panas, Bu…”
  • Koda: “Pak Kurdi memberikan saran kepada kita untuk selalu sabar dan berbaik sangka kepada orang yang lain…..”

Bu Diana dan Rumus Ikhlas

Guru Bimbingan Konseling di sekolahku pernah berpesan waktu dahulu. Saat itu, jam kosong, dan kelasku sangat gaduh. Sampai Wana  berselesih dengan Tiyas gara-gara nilai matematikanya kecil dibandingkan dengan Tiyas, padahal Wana sudah memberikan hadiah kepada guru tersebut.

Tiba-tiba Bu Diana, guru BK yang selalu menggunakan kerudung panjang sampai perutnya itu memasuki kelas. Ia  memasuki kelas dan sontak membuat anak-anak duduk di bangkunya masing-masing. Ia menanyai kejadian antara Wana dan Tiyas. Lantas menulis sesuatu di papan tulis.

“Beri: Harap = Hasil”

“Coba Kania, ketika kamu mengharapkan nilai Matematika mu bagus lalu memberi hadiah kepada Pak Sonya, maka kamu akan mendapatkan berapa?” Aku sontak kaget, karena Bu Diana menanya padaku

“1:1= 1, Bu”

“Kalau kamu memberi hadiah kepada Pak Sonya, tetapi juga kamu mengharapkan nilai Matematika yang bagus dan bisa bersekolah mendapatkan beasiswa, rumusnya bakal seperti apa?”

“1:2=0,5, Bu”

“Kalau kamu memberi hadiah kepada Pak Sonya, lalu tidak mengharapkan apapun, maka hasilnya akan berapa?”

“1:0= tak terhingga, Bu”

“Nah begitulah rumus ikhlas anak-anak. Ketika kamu tidak mengharapkan apapun dari apa yang kamu beri, maka kamu akan mendapatkan manfaat atau rejeki yang tak terhingga. Sangat berbanding terbalik jika kamu mengharapkan banyak imbalan dari apa yang sudah kamu beri. Jadi, mengerti juga ya Wan? Tanya hatimu, apakah benar-benar ikhlas memberikan hadiah kepada Pak Sonya?”Saat itu, kulihat Wana hanya menunduk malu.

Aku mendapatkan pelajaran yang berarti yang kubawa sampai hari ini. Di tempat ini, ketika aku menjadi manager di perusahaan multinasional, hanya karena aku ikhlas dan kuat pada saat menghadapi berbagai tes wawancara yang pernah kulalui, tanpa pernah mengharapkan lebih kepada kebaikan-kebaikan yang pernah kulakukan.

Struktur pada cerita inspirasi tersebut ialah:

  • Orientasi: “Guru Bimbingan Konseling di sekolahku pernah berpesan waktu dahulu…”
  • Perumusan masalah: “Tiba-tiba Bu Diana, guru BK yang selalu menggunakan kerudung panjang sampai perutnya itu memasuki kelas…”
  • Komplikasi: “Beri: Harap = Hasil…”
  • Resolusi: “Nah begitulah rumus ikhlas anak-anak…”
  • Koda: “Aku mendapatkan pelajaran yang berarti yang kubawa sampai hari ini…”

Baca juga: 10 Contoh Cerpen Horor

Kambing dan Sapi

Kambing dan Sapi
Sumber foto: Pexels dari Pixabay

Kakek berusia 70 tahun itu sudah siap-siap dengan kedatangan cucu-cucunya dari luar kota. Ia duduk di teras depan sambil meminum teh hangat di sore hari. Selang menit berjalan, mobil anaknya pun memasuki halaman. Dan terlihat kedua cucunya, si kembar Aje dan Afi menghambur kepadanya kegirangan.

“Kakek ayok dongeng dong, Kakek” Si Kakek memeluk cucuknya gemas. Sementara kedua orang tuanya salam dan langsung masuk ke ruang tamu.

“Baikla. Kakek akan mengisahkan tentang binatang di peternakan kakek, yaitu Kambing dan Sapi” Anak lelaki kembar itu pun antusias mendengarkan.

Si Kakek mengisahkan bahwa di perternakan terdapat sekumpulan kambing dan sapi hanya saja kandangnya terpisah, namun tetap berhadap-hadapan. Sekumpulan kambing merasa senang jika Kakek memberikan banyak rumput, begitu pula dengan para sapi.

Hanya saja, sapi tersebut terkadang merasa tidak terima, seharusnya Kakek memberikan lebih banyak rumput kepada Sapi. Karena sapi memberikan lebih banyak susu dibandingkan dengan kambing. Otomatis, sapi Kakek sering merengek. Kakek pun mencoba untuk memberikan lebih banyak rumput kepada sapi, tetapi selanjutnya kambinglah yang menjadi iri. Saat itu, kakek berhenti memberikan rumput kepada keduanya. Kambing dan sapi pun berhari-hari hanya diberikan sisa makanan.

“Maksudnya apa ya, Kek? Terus si sapi dan kambingnya sekarang masih hidup gak, atau mati?” tanya Afi

“Maksudnya adalah ketika kita bertaruh hidup kepada Tuhan, tidak perlu iri hati dengan pemberian atau rejeki Tuhan yang diberikan kepada orang lain. Semua ada porsinya dan disesuaikan dengan kebutuhan kita masing-masing.”

Afi dan Aje mengangguk-angguk paham. Di usia mereka yang menginjak 12 tahun, mereka sudah tidak iri lagi apabila Afi dibelikan ice cream rasa coklat sedangkan Aje diberikan rasa strawberry. Karena, mereka yakin dan selalu menerima yang diberikan kepada mereka ialah yang terbaik.

Struktur dalam cerita inspirasi tersebut ialah:

  • Orientasi: “Kakek berusia 70 tahun itu sudah siap-siap dengan kedatangan cucu-cucunya dari luar kota…”
  • Perumusan masalah: “‘Kakek ayok dongeng dong, Kakek’..”
  • Komplikasi: “Si Kakek mengisahkan bahwa di perternakan terdapat sekumpulan kambing dan sapi..”
  • Resolusi: “Maksudnya adalah ketika kita bertaruh hidup kepada Tuhan…”
  • Koda: “Afi dan Aje mengangguk-angguk paham…”

Arah Mata Angin

Pengembara dengan pakaian lusuh itu sedang beristirahat  di sebuah pohon rindang. Ia sudah mengembara lebih dari dua tahun. Ia sudah memasuki Wilayah Selatan, Hutan Utara, Tanah Tenggara, dan Bukit Timur. Namun, pada suatu sore itu, ia beristirahat di pondok kecil di wilayah Sungai Barat.

Saat ia sedang mengambil air di sungai dan memasukannya ke kendi miliknya, tiba-tiba seorang nenek pun mengambil air di sungai tersebut. Refleks, si Pengembara pun membantu mengangkat air Nenek tersebut dan membawanya ke rumah saung di dekat sungai. Si Pengembara ditawari ubi ungu rebus yang masih hangat. Sambil berkenalan dan berbincang, Nenek tersebut bertanya kepada si Pengembara.

“Nak, mengapa kamu mengembara, dari mana asal mu?”

“Jika ditanya seperti itu, saya berasal dari Wilayah Barat Laut, Nek. Entah mengapa, saya merasa itu bukan tempat asal saya. Sejak dua tahun lalu entah mengapa saya mencari rumah.”

“Nak, rumah itu berasal dari dalam diri. Hati kamu. Di mana kamu tinggal itulah rumahmu. Tak perlu mencari terlalu jauh, kamu hanya perlu melihat yang sudah dekat”

Si Pengembara itu tertegun. Pencariannya selama ini memang terkesan sia-sia. Tak pernah ia temukan tempat yang nyaman untuk dijadikan rumah. Namun, kali ini entah mengapa, Ia merasa arah mata angin menunjukan rumahnya, yaitu tempat ini.

Struktur dalam cerita inspirasi tersebut ialah:

  • Orientasi: “Pengembara dengan pakaian lusuh itu sedang beristirahat …”
  • Perumusan masalah: “Saat ia sedang mengambil air di sungai…”
  • Komplikasi: ” ‘Nak, mengapa kamu mengembara, dari mana asal mu?’…”
  • Resolusi: “‘Nak, rumah itu berasal dari dalam diri’…”
  • Koda: “Si Pengembara itu tertegun. Pencariannya selama ini memang terkesan sia-sia…”

Baca juga: 10 Contoh Cerpen Pendidikan

Begitulah seluk beluk tentang cerita inspiratif yang bisa kamu pelajari. Dengan memahami struktur dan contohnya, tentu kamu sudah bisa membuat cerita inspiratif karanganmu sendiri, bukan? Selamat belajar.


Referensi:

Kosasih dan Endang Kurniawan. 2018. Jenis-jenis Teks (Fungsi, Struktur, dan Kaidah Kebahasaan). Bandung: Penerbit Yrama Widya.

Trianto, Agus dkk. 2018. Bahasa Indonesia Kelas IX. Jakarta: Pusak Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *