Mengenal Suku Batak Secara Lengkap

Nama Batak kerap kali dihubungkan dengan nama Toba, mengingat suku Batak memang mendiami wilayah di sekitaran Danau Toba. Namun, faktanya suku Batak bukan hanya berkaitan dengan Toba saja melainkan masih ada Batak lainnya seperti Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pak-pak Dairi, dan lainnya. Tidak mengherankan dengan banyaknya etnis suku Batak tersebut, membuat suku Batak juga masuk dalam deretan suku terbesar di Indonesia.

Nah, supaya tidak lagi penasaran dengan suku Batak ini, berikut ada beberapa penjelasan yang bisa kamu simak untuk mengenal lebih jauh seperti apa sebenarnya suku Batak sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia.

Sejarah Suku Batak

Sejarah Suku Batak
Sumber: id.wikipedia.com

Apabila menelisik mengenai sejarah suku Batak, terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai asal mula berkembangnya suku Batak di tanah Sumatra. Menurut pendapat pertama, suku Batak termasuk sebagai suku yang berbahasa Austronesia, namun tidak diketahui kapan mulanya nenek moyang pertama orang Batak datang ke tanah Sumatra.

Baca juga: 13 Suku di Sumatera

Ada satu bukti sejarah yang menunjukkan jika orang-orang yang menggunakan bahasa Austronesia telah melakukan migrasi dari Filipina ke wilayah Indonesia pada 2.500 tahun lalu atau pada zaman batu muda. Hanya saja dikarenakan tidak adanya bukti artefak zaman batu muda di wilayah masyarakat suku Batak, maka dibuat dugaan jika nenek moyang suku Batak baru melakukan migrasi ke Indonesia pada zaman logam.

Terlepas dari pendabat tersebut, masih banyak pendapat lain terkait sejarah mulanya suku Batak masuk ke wilayah Indonesia terutama Sumatra. Beberapa mengatakan jika suku Batak berasal dari Indochina, Mizoram, Formosa, bahkan ada yang mengatakan jika suku Batak adalah bagian dari 10 suku yang hilang dari Israel.

Agama dan Kepercayaan Suku Batak

Agama dan Kepercayaan Suku Batak
Sumber: cnnindonesia.com

Sebelum penyebaran agama Islam, Kristen, dan Katolik menyebar ke wilayah Batak, masyarakat suku Batak menganut kepercayaan pada yang dipercayai mempunyai kekuatan dan kekuasaan di atas langit. Kemudian, dalam kepercayaan terhadap roh, masyarakat suku Batak juga mengenal akan 3 konsep yang disebut dengan Tendi/Tondi, Sahala, dan Begu.

Tendi/Tondi merupakan roh yang mempunyai kekuatan untuk memberikan nyawa kepada para manusia. Hampir semua orang atau umat manusia mempunyai Tendi menurut masyarakat suku Batak. Jenis roh berikutnya adalah Sahala yang mana tidak bisa dimiliki oleh semua orang seperti Tendi.

Sahala berupa kekuatan yang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu seperti para raja dan pemimpin.  Kemudian, ada Begu yang mana merupakan Tondi atau roh orang yang sudah meninggal. Menurut kepercayaan masyarakat suku Batak, Begu hanya muncul di malam hari dan konon juga mempunyai tingkah laku yang sama dengan manusia.

Baca juga: 10 Pakaian Adat Sumatera Utara

Masuknya Agama Kristen, Katolik, dan Islam

Masuknya agama Kristen di tanah Batak bermula ketika misionaris asal Inggris yang bernama Richard Burton dan Nathaniel Ward melakukan perjalanan kaki dari Sibolga ke pedalaman Batak di tahun 1824. Saat tiba di wilayah pedalaman Batak, mereka mulai melakukan observasi pada masyarakat Batak tersebut.

Setelahnya, mulai banyak misionaris baptis yang bergantian datang ke wilayah Batak salah satunya Dr. Ludwig Ingwer Nommensen yang datang di tahun 1881. Beliau adalah misionari dari Jerman yang ikut menerjemahkan Kitab  Perjanjian Baru ke bahasa Batak. Kitab Perjanjian Lama kemudian juga mulai diterjemahkan dalam bahasa Batak oleh P. H. Johannsen di tahun 1891. Dari proses penerjemahan tersebut, mulai banyak masyarakat Batak yang memeluk agama Kristen.

Berbeda dengan penyebaran agama Kristen yang sudah menyebar cukup lama, penyebaran agama Katolik di Batak baru pada tahun 1934-1935. Di masa ini pula, masyarakat Batak Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, dan Simalungun sudah banyak yang memeluk agama Kristen. Bahkan, agama Kristen juga dijadikan sebagai identitas budaya dari masyarakat Batak.

Sementara itu, untuk penyebaran agama Islam di wilayah Batak, baru menyebar cukup luas ketika pedagang dari Minangkabau yang membawa dan menyebarkan agama tersebut. Padahal kenyataannya, agama Islam sebenarnya sudah pernah masuk di wilayah tersebut dengan bukti bahwa Ibn Battuta telah mengislamkan Sultan Al Malik Al Dhahir di tahun 1345.

Di abat 19, terjadi Perang Paderi yang membuat pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan proses pengislaman besar-besaran. Selain pengaruh dari masyarakat Minangkabau, penyebaran agama Islam juga didukung oleh peran Kerajaan Aceh dan masyarakat Melayu.

Adat dan Kebudayaan Batak

Adat dan Kebudayaan Suku Batak
Sumber: indonesia.go.id

Setelah mengenal mengenai sejarah masuknya masyarakat Batak ke wilayah Sumatra hingga kepercayaan dan agama yang dianut, kebudayaan dari masyarakat Batak juga tak kalah penting untuk diketahui. Buat kamu yang penasaran dengan jenis-jenis kebudayaan yang dimiliki oleh suku Batak, berikut kamu bisa menyimak selengkapnya.

Mangulosi

Kain ulos dikenal sebagai kain khas dari masyarakat Batak yang sudah cukup mendunia. Dalam budaya Batak, terdapat upacara adat khusus yang berhubungan dengan kain ulos tersebut yaitu Mangulosi.

Ritual ini adalah bentuk pemberian ulos sebagai lambang kehangatan dan berkat kepada seseorang yang menerima ulos. Biasanya, Mangulosi akan diberikan oleh orang tua kepada anaknya ketika anak tersebut baru lahir, saat anak melakukan upacara pernikahan, dan saat meninggal dunia.

Manortor dan Margondang

Kebudayaan Batak satu ini berupa tari-tarian adat yang dipentaskan dengan iringan musik Gondang. Ritual tari ini termasuk dalam ritual yang berbau mistik dan erat hubungannya dengan pemujaan terhadap dewa-dewa. Dalam pementasannya, Tortor dan Gondang memang tidak bisa dipisahkan sehingga dalam penyebutannya pun harus digabung sebagai Manortor dan Margondang.

Dalihan Natolu

Masyarakat suku Batak mengenal 3 bagian kekerabatan yang tercermin dalam Dalihan Natolu (tungku tempat memasak). Tungku memasak tersebut harus bisa berdiri dengan baik oleh karenanya ditopang oleh 3 batu dengan jarak dan tinggi yang sama. Dalam 3 batu tersebut menggambarkan 3 bagian kekerabatan yaitu Somba Marhulahula (hormat kepada keluarga istri), Elek Marboru (sikap mengayomi wanita), dan Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati dengan teman semarga).

Baca juga: 15 Alat Musik Tradisional Sumatra Utara

Umpasa

Umpasa adalah jenis budaya lisan yang menyerupai pantun. Dalam pelantunannya, Umpasa diucapkan dengan tujuan untuk menyampaikan bentuk harapan dan keinginan. Biasanya Umpasa akan dilantunkan di saat upacara adat.

Mangalahat Horbo

Satu lagi jenis upacara adat yang ada dalam masyarakat suku Batak yaitu Mangalahat Horbo yang ditujukan untuk menyucikan diri dari segala dosa. Upacar ini dilaksanakan dengan mengorbankan kerbau jantan yang diikat pada borotan atau tiang. Borotan tersebut diletakkan di bagian tengah tempat pelaksanaan upacara. Mangalahat Horbo didasarkan pada kepercayaan masyarakat suku Batak pada Mulajadi na Bolon (pencipta alam semesta).

Sekian untuk penjelasan mengenai sejarah suku Batak yang ternyata mempunyai kebudayaan yang beragam dan khas. Disamping itu, agama yang dianut oleh suku Batak pun cukup beragam, ini membuktikan jika masyarakat suku Batak juga bagian dari masyarakat yang multikultural.


Sumber:

Adat dan Budaya Suku Batak. (2021). Diakses pada 28 Juni 2021, dari visitsamosir.com.

Suku Batak. (2021). Diakses pada 28 Juni 2021, dari Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas.

Artikel Terbaru

Wasila

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *