Rumah Adat Maluku Serta Penjelasannya

Maluku dan Maluku Utara dikenal sebagai daerah yang terdiri dari banyak pulau dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Namun, kebudayaan yang ada di Maluku dan Maluku Utara tak kalah menakjubkan untuk dikenali.

Seperti halnya rumah adatnya yang ada tiga macam dengan ciri khas masing-masing. Untuk selengkapnya mengenal ketiga rumah adat Maluku dan Maluku Utara tersebut, simak ulasannya berikut.

Rumah Adat Baileo

Rumah Adat Baileo
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Rumah adat pertama yang berasal dari Maluku dan Maluku Utara adalah rumah adat baileo. Rumah adat Maluku ini punya kedudukan yang penting di kalangan masyarakat. Hal tersebut tidak lain karena fungsinya yang digunakan sebagai tempat untuk melakukan berbagai acara adat serta penyimpanan benda-benda keramat.

Mengingat fungsinya yang tidak digunakan sebagai tempat tinggal, maka rumah adat ini juga punya bentuk yang berbeda dengan ukuran yang lebih luas dibandingkan rumah pada umumnya. Jenis dari baileo pun diketahui ada beberapa macam diantaranya adalah:

Baca juga: Senjata Tradisional Maluku

Baileo Nolloth

Baileo Nolloth adalah satu dari jenis baileo yang ada di wilayah Maluku. Rumah adat ini memiliki nama lain yaitu simaloa pellamahu yang berarti tempat upacara. Sehinga, sama seperti namanya, rumah adat baileo Nolloth lebih difungsikan sebagai tempat upacara adat.

Bentuk bangunan berupa persegi dan bermodelkan rumah panggung yang ditopang oleh tiang-tiang penyangga. Di bagian dalam rumah juga bisa ditemukan tiang yang terbuat dari kayu dengan jumlah masing-masing di sebelah barat 10 buah dan sebelah timur 10 buah.

Jumlah tersebut dibuat sebagai simbol 20 marga yang ada di wilayah Nolloth. Hampir keseluruhan bahan yang dipakai untuk membuat rumah adat Maluku ini adalah berupa kayu mulai dari dinding, tiang, hingga lantai rumah.

Baileo Ihamahu

Rumah adat baileo selanjutnya adalah baileo Ihamahu yang diberi nama Simaloa Peimahu. Sama seperti baileo Nolloth, rumah adat Maluku baileo Ihamahu juga berupa rumah panggung. Keseluruhan bahan yang dipakai untuk membuat rumah adat ini berupa kayu gufasa, jenis kayu yang mempunyai kualitas tinggi. Khusus untuk bagian atapnya disusun dengan daun sagu.

Warna merah menjadi warna yang paling identik dengan rumah adat ini serta dilengkapi dengan hiasan berwarnakan emas. Upacara adat yang kerap kali dilakukan di baileo Ihamahu ini adalah upacara kain berkat dan upacara tutup baileo.

Upacara kain berkat adalah upacara yang dilakukan sebagai bukti kalau keluarga telah menerima calon menantu perempuan mereka. Sedangkan, upacara tutup baileo dilakukan ketika mengganti atap baileo.

Baileo Haria

Tidak jauh beda dari dua baileo sebelumnya, baileo Haria juga rumah adat yang bermodelkan rumah panggung, dinding dan lantai dari kayu, serta atapnya dari daun sagu. Apabila diamati lagi, rumah adat ini punya bentuk mirip dengan perahu terbalik. Uniknya, bangunan baileo Haria tidak dilengkapi dengan motif maupun hiasan-hiasan dan tidak dilengkapi dengan dinding.

Kegiatan upacara adat yang biasanya dilakukan di rumah adat ini meliputi upacara pelantikan raja, upacara kain berkat, sumpah adat, serta tutup dan bukak sasi. Kegiatan pelantikan raja diperuntukkan ketika seorang raja baru akan dilantik.

Sumpah adat dilakukan ketika ada yang melakukan pelanggaran adat. Upacara kain berkat diperuntukkan sebagai tanda penerimaan terhadap calon mertua. Lalu, upacara buka dan tutup dilakukan sebagai pertanda berakhirnya masa sasi atau larangan mengambil hasil kebun dan hasil laut sesuai kesepakatan bersama.

Baileo Ulath

Rumah adat Maluku baileo Ulath juga mempunyai nama lain yaitu lua kuhu yang artinya tempat pertemuan. Rumah adat baileo ini punya bentuk paling beda dengan baileo lainnya karena tidak berupa rumah panggung.

Bentuknya hanya berupa rumah dengan pondasi yang lebih tinggi. Lalu, rumah adat ini juga tidak punya dinding dan berlantaikan pasir pantai. Bagian atapnya terbuat dari daun sagu dan jumlah tiang penyangga ada 32 buah yang jumlahnya melambangkan marga yang ada di Ulath.

Upacara yang masih dilakukan di rumah adat Maluku ini diantaranya adalah upacara kora-kora raja, upacara tutup baileo, dan upacara kain pengasihan. Upacara kora-kora raja dilakukan untuk menyambut raja yang baru dilantik. Lalu, upacara kain pengasihan dilakukan ketika menyambut calon menantu perempuan dari wilayah lain.

Baca juga: 9 Pakaian Adat Maluku

Rumah Adat Sasadu

Rumah Adat Sasadu
Sumber: travel.detik.com

Berikutnya, mari mengenal rumah adat sasadu yang merupakan rumah adat Maluku, tepatnya Maluku Utara. Salah satu rumah adat sasadu yang masih ada hingga saat ini ada di Kecamatan Sahu, Halmahera Barat.

Rumah ini menjadi sebuah bagian dari adat istiadat yang penting. Letak dari rumah ini tepat adat di tengah desa dan di pinggir jalan untuk memudahkan akses. Rumah adat sasadu tidak dipakai sebagai hunian tempat tinggal, melainkan dipakai sebagai pusat melakukan segala kegiatan adat.

Beberapa hal yang berhubungan dengan adat istiadat yang sering kali dilakukan di rumah adat Maluku Utara ini adalah upacara adat, pekerjaan yang melibatkan semua masyarakat, dan penyelesaian perkara yang berhubungan dengan masyarakat seperti perceraian, sengketa tanah, hingga masalah asusila.

Dalam hal upacara adat, biasanya rumah adat sasadu akan dipakai untuk upacara adat sa’ai mango’a atau pesta setelah menabur benih. Kemudian, juga dipakai untuk melakukan upacara sa’ai lamo yang merupakan syukuran selama 5 hingga 9 hari. Lamanya syukuran ini haruslah dalam hitungan ganjil seperti 5, 7, atau 9 hari. Hal ini sudah sesuai dengan aturan adat setempat.

Dikarenakan fungsinya dipakai untuk acara adat, maka arsitektur rumah adat Maluku Utara ini tentunya berbeda dari rumah pada umumnya. Dari segi ukuran pun, rumah adat sasadu punya ukuran lebih besar dibandingkan rumah penduduk sekitar.

Lebih detail lagi, bagian atap dari rumah adat Maluku Utara ini berupa atap pelana yang ditarik menjadi 4 sisi dan bentuknya menjadi segi delapan. Jadi, bisa dikatakan ada dua bentuk atap yang ada di rumah adat sasadu.

Atap bagian atasnya berupa atap pelana curam, lalu atap bawahnya lebih landai ke samping. Bentuk atap yang melandai membuat setiap orang yang masuk harus menundukkan sedikit kepalanya. Ini adalah sebagai bentuk penghormatan dan sopan santun ketika memasuki rumah adat.

Atap tersebut ditopang oleh tiang-tiang penyangga atau pilar. Bagian lantai dalam rumah adat sasadu dibuat lebih tinggi sekitar 30-45 cm untuk mencegah air masuk ke dalam, serta sebagai bentuk pembatas antara bagian luar dan dalam rumah.

Bahan yang dipakai dalam pembuatan rumah adat Maluku ini masih berupa bahan alam seperti kayu, bambu, dan dedaunan. Misalnya, untuk bahan atap digunakan daun sagu dan daun rumbia. Jumlahnya harus dihitung sesuai dengan aturan adat dan biasanya berkaitan dengan lamanya upacara panen.

Bagian kolom tiang dari rumah sasadu terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi, seperti kayu gofasa. Lalu, bambu lebih banyak dipakai untuk bahan rangka atap. Bagian lantainya pun hanya mengandalkan tanah saja, sehingga kesan tradisional begitu kental di rumah adat Maluku Utara ini. Penggunaan bahan yang tradisional ini sebenarnya juga memudahkan perawatan rumah. Semisal terjadi kerusakan dalam satu bagian, maka bisa dengan mudah diganti.

Rumah adat sasadu juga mempunyai beberapa hiasan dalam bentuk ukiran seperti pada tiang-tiang utama, tiang-tiang samping, dan balok penyangga. Hiasan di setiap bagian tersebut punya motif yang berbeda-beda yang pastinya sangat khas dengan kebudayaan masyarakat Halmahera Barat.

Baca juga: 10 Alat Musik Maluku

Rumah Adat Hibulamo

Rumah Adat Hibulamo
Sumber: mapio.net

Hibulamo merupakan sebuah rumah adat Maluku Utara yang dilmiliki oleh masyarakat yang mendiami wilayah Halmahera. Menurut sejarahnya, rumah adat ini telah adat sejak tahun 1400-an. Nama hibulamo sendiri diambil dari dua kata yakni hibua dan lamo. Hibua diartikan dengan rumah dan lamo diartikan besar.

Rumah adat hibulamo pernah direnovasi pada 2007 sebagai simbol akan perdamaian setelah terjadinya konflik SARA dari tahun 1999 hingga 2001. Setelah direnovasi, banyak perubahan yang bisa ditemukan dari bentuk rumah yang sebelumnya berupa rumah panggung. Bangunan dari rumah adat Maluku Utara ini dipenuhi dengan simbol-simbol yang berhubungan dengan persatuan.

Bentuk rumah ini mirip dengan perahu yang mana menggambarkan kehidupan masyarakat setempat yang kebanyakan tinggal di wilayah pesisir. Disamping itu, bentuk bangunannya berupa segi 8 dengan 4 pintu masuk. Jumlah pintu tersebut menyimbolkan arah mata angin. Untuk memperindah tampilan rumah adat hibulamo, rumah ini dilengkapi dengan berbagai warna yang punya simbol-simbol tertentu.

Beberapa diantaranya adalah warna merah yang menyimbolkan kegigihan perjuangan. Lalu, warna kuning menyimbolkan kekayaan, kemegahan, dan kecerdasan. Ada warna hitam yang menyimbolkan solidaritas dan warna putih yang menyimbolkan kesucian.

Baca juga: 10 Suku di Maluku

Pemahaman Akhir

Maluku dan Maluku Utara adalah daerah yang tidak hanya memiliki keindahan alam yang menakjubkan, tetapi juga memiliki kebudayaan yang kaya dan menarik untuk dipelajari. Salah satu aspek penting dari kebudayaan ini adalah rumah adat, yang merupakan wujud dari tradisi dan identitas masyarakat setempat.

Rumah adat di Maluku dan Maluku Utara memiliki beragam jenis dan ciri khas yang unik. Di Maluku, ada tiga jenis rumah adat yang menonjol, yaitu Baileo Nolloth, Baileo Ihamahu, dan Baileo Haria. Baileo Nolloth digunakan untuk upacara adat dan tempat penyimpanan benda keramat. Baileo Ihamahu memiliki warna merah yang khas dan sering digunakan untuk upacara kain berkat dan tutup baileo. Sementara Baileo Haria memiliki bentuk menyerupai perahu terbalik dan sering digunakan untuk upacara pelantikan raja dan kain pengasihan.

Di Maluku Utara, rumah adat Sasadu menjadi perwakilan kebudayaan setempat. Rumah adat ini digunakan sebagai pusat kegiatan adat dan upacara masyarakat. Sasadu memiliki atap pelana berbentuk segi delapan, dengan dua bentuk atap yang berbeda, yang berfungsi sebagai simbol penghormatan saat memasuki rumah adat. Penggunaan bahan alam seperti kayu, bambu, dan daun sagu memberikan kesan tradisional yang kuat pada rumah adat ini.

Selain itu, rumah adat Hibulamo di Halmahera juga memiliki nilai sejarah yang tinggi, telah ada sejak abad ke-15 dan mengalami renovasi sebagai simbol perdamaian setelah konflik SARA. Bentuk rumah adat ini menyerupai perahu dan dipenuhi dengan simbol-simbol persatuan, menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir yang tinggal di wilayah tersebut.

Ketiga rumah adat ini adalah bagian penting dari identitas budaya masyarakat Maluku dan Maluku Utara. Melalui rumah adat ini, generasi muda dan dunia luar dapat lebih memahami sejarah, nilai-nilai, dan tradisi yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Dengan menjaga dan melestarikan rumah adat ini, kekayaan budaya dan identitas masyarakat Maluku dan Maluku Utara dapat tetap hidup dan dilestarikan untuk generasi mendatang.

Itulah tiga macam rumah adat Maluku dan Maluku Utara yang kebanyakan didominasi untuk keperluan adat. Dari segi bentuk, setiap rumah adat tersebut punya nilai keunikan tersendiri yang membuatnya nampak begitu tradisional.


Referensi:

Hikmansyah, H. (2016). Bentuk dan Fungsi Rumah Sasadu Sebagai Pusat Kegiatan Masyarakat Sahu Kabupaten Halmahera Barat Maluku Utara. Prosiding Seminar Nasional Sustainable Architecture and Urbanism, 68-83.

Salhuteru, M. (2015). Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah. Kapata Arkeologi, 11(1), 11-20.

id.wikipedia.org/wiki/Hibualamo

Artikel Terbaru

Avatar photo

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *