Mengenal Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik merupakan salah satu konsep pendidikan abad 21 yang mengarahkan siswa untuk membangun metode ilmiah selama pembelajaran berlangsung. Melalui implementasi pendekatan ini diharapkan siswa menemukan dan membangun konsep sendiri. Pada kurikulum 2013 sendiri pendekatan saintifik ini dikenal dengan nama pendekatan 5 M.

Pada implementasi pendekatan 5 M ini sempat menjadi perbincangan karena dinilai membuat kaku pembelajaran dengan tahapannya yang harus beruntun. Namun demikian, implementasi 5 M dalam pembelajaran ini pada akhirnya tidak harus mengikuti urutan pendekatan 5 M secara kaku, mulai dari Mengamati, Menanya, Mengumpulkan data, Mengasosiasi dan Mengomunikasikan.

Lalu apa dan seperti apa pendekatan saintifik itu? Mari simak penjelasannya!

Pengertian Pendekatan Saintifik

pendekatan saintifik
Sumber: Steve Riot dari Pixabay

Secara sederhana pendekatan saintifik bisa diartikan sebagai langkah-langkah yang dilakukan seorang ilmuwan dalam menemukan teori baru atau menyelesaikan suatu persoalan yang mereka temukan. Pada pengertian yang lebih rinci, banyak pendapat ahli mengatakan tentang ini. Bahkan pendekatan saintifik pun tercantum dalam Permendikbud.

Mari kita pahami pengertian pendekatan saintifik yang ada dalam permendikbud dan menurut ahli!

Pendekatan saintifik menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang menggunakan kaidah-kaidah keilmuan yang memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi, menanya, eksperimen, mengolah informasi atau data, kemudian mengomunikasikan.

Pendapat lain dari Hosnan menyatakan bahwa pendekatan saintifik adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang supaya peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum, atau prinsip melalui kegiatan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan/merumuskan hipotesis, mengumpulkan data melalui berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengomunikasikan.

Berdasar pada pendapat para ahli tersebut, ada beberapa poin penting dari pendekatan saintifik ini yang harus diketahui. Poin itu adalah 1) pembelajaran dengan pendekatan saintifik diarahkan agar siswa lebih aktif, 2) Siswa diberi kesempatan dalam menemukan dan membangun konsep secara mandiri dengan bantuan guru sebagai fasilitator.

Selanjutnya poin lain yaitu, 3) siswa dilatihkan mengembangkan kemampuan berpikir, bukan sekedar menerima pengetahuan saja, 4) siswa diberi peluang untuk meningkatkan keterampilan komunikasi, dan 5) ada tahapan-tahapan aktivitas pembelajaran yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Selanjutnya, sebelum membahas tahapan dari implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran di kelas, mari kita ketahui dulu tujuan dari pendekatan saintifik ini.

Baca juga: Yuk Mengenal Pendidikan Karakter

Tujuan Pendekatan Saintifik

student-centered-classroom
sumber: https://knowledgeworks.org

Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh guru. Untuk penjelasan tujuannya sendiri, pada artikel ini diambil 6 tujuan pendekatan saintifik, yaitu:

Tujuan pertama, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk belajar. Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk belajar. Melalui tahapan aktivitas yang dirancang secara sistematis dan berpusat pada siswa diharapkan suasana dan lingkungan belajar menjadi lebih aktif, produktif dan kondusif.

Tujuan kedua, Meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik bertujuan meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, seperti berpikir kritis, analitis, sintesis dan menciptakan ide-ide orisinal yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Tujuan ketiga, Meningkatkan kemampuan berpikir sistematis. Pendekatan saintifik dengan ciri khas tahapan pembelajaran yang runut dan sistematis dapat meningkatkan kemampuan berpikir sistematis pada diri siswa, baik kemampuan dalam menyelesaikan masalah secara sistematis maupun dalam memahami masalah secara rinci dan tepat.

Tujuan keempat, Meningkatkan pemahaman konsep. Pendekatan saintifik yang mengarahkan para aktivitas siswa untuk menemukan dan mengembangkan konsep secara mandiri diharapkan membuat siswa memahami konsep lebih bermakna. Konsep yang diperoleh siswa tidak hanya sekedar bentuk hafalan, melainkan pemahaman mendalam yang dapat diterapkan pada kondisi nyata, beda dan baru.

Tujuan kelima, Meningkatkan motivasi belajar. Aktivitas yang berpusat pada siswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar karena selama pembelajaran akan banyak aktivitas yang lebih aktif dan inovatif sehingga siswa tidak akan merasa bosan dengan pembelajaran satu arah dari guru.

Tujuan keenam, Meningkatkan keterampilan komunikasi. Pendekatan saintifik diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang menstimulus siswa lebih aktif dalam hal berkomunikasi melalui penyampaian ide, diskusi pemecahan masalah, diskusi pengolahan data, sampai pada mengomunikasikan hasil pembelajaran baik secara lisan maupun tertulis.

Tujuan dari pendekatan saintifik tersebut akan terwujud jika guru memahami setiap langkah dalam implementasinya dalam setting pembelajaran di kelas. Selain memahami langkah-langkahnya, guru pun dituntut memahami luaran dan esensi dari aktvitas pada setiap langkah pendekatan saintifik.

Baca juga: Model Pembelajaran Discovery Learning

Langkah Pendekatan Saintifik

Langkah pendekatan saintifik sebenarnya sudah tercantum secara rinci dalam Permendikbud No. 103 tahun 2014. Peremen ini bisa jadi acuan sekaligus dasar hukum bagi guru ketika melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Penjelasan mengenai pendekatan saintifik dalam 5 pengalaman belajar adalah sebagai berikut:

langkah-langkah pendekatan saintifik
sumber: www.ishaqmadeamin.com

Mengamati (Observing)

Mengamati merupakan mengamati dengan indra seperti membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya. Kegiatan mengamati ini bisa dilakukan dengan atau tanpa alat.

Pengamatan dengan alat misalnya menggunakan mikroskop, alat pengamatan bulan, dan alat lainnya.  Sementara itu yang tanpa alat bisa dilakukan dengan observasi langsung, mendengarkan penjelasan dari ahli, menonton tayangan video atau gambar, dan mendengarkan informasi dari radio atau sumber informasi lainnya.

Bentuk hasil belajar dari proses mengamati ini adalah perhatian peserta didik pada waktu mengamati suatu objek/membaca suatu tulisan/mendengar suatu penjelasan. Selain itu bisa dilihat juga dari catatan yang dibuat tentang yang diamati, serta ketepatan waktu yang digunakan untuk mengamati.

Menanya (Questioning)

Kegiatan menanya terdiri dari kegiatan peserta didik dalam membuat dan mengajukan pertanyaan, kegiatan tanya jawab selama pembelajaran. Selain itu, kegiatan menanya juga berkaitan dengan kegiatan berdiskusi tentang informasi yang belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi dari informasi yang belum jelas.

Untuk menstimulus kegiatan menanya ini, guru harus memiliki berbagai cara atau media yang bisa membuat peserta didik tertarik dengan objek yang diamati sehingga akan muncul banyak pertanyaan yang diajukan.

Hasil belajar dari proses menanya yang bisa diamati oleh guru dari peserta didik di antaranya jenis, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik. Jenis pertanyaan yang diajukan peserta didik bisa berupa pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik. Untuk memberi penilaian terhadap pertanyaan yang diajukan peserta didik, guru harus memiliki kemampuan dalam menganalisis jenis dan kualitas pertanyaan yang diajukan peserta didik.

Mengumpulkan Informasi/Mencoba (Experimenting)

Kegiatan mengumpulkan informasi yang terdiri dari kegiatan peserta didik dalam mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi, mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca sumber selain buku teks, mengumpulkan data dari narasumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/mengembangkan.

Bentuk hasil belajar yang dapat dilihat oleh guru dari peserta didik pada proses ini di antaranya jumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan oleh peserta didik, kelengkapan informasi yang diperoleh peserta didik, validitas informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.

Menalar/Mengasosiasi (Assosiating)

Kegiatan yang dilakukan peserta didik pada menalar/mengasosiasi di antaranya yaitu mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan. Kegiatan pada tahap ini, guru harus mengarahkan dan membimbing para peserta didik dalam berdiskusi mengenai topik yang sedang dibahas.

Hasil belajar pada kegiatan menalar/mengasosiasi yang dapat dinilai oleh guru dari peserta didik, di antaranya mengembangkan interpretasi, argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan informasi dari dua fakta/konsep. Selain itu, guru juga dapat mengamati kemampuan peserta didik dalam melakukan interpretasi argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua fakta/konsep/teori.

Pada tingkat lanjut, guru harus mampu menilai kemampuan peserta didik dalam mensintesis argumentasi serta kesimpulan mengenai keterkaitan antar berbagai jenis fakta, konsep, teori, atau pendapat.

Hasil belajar lainnya, peserta didik dapat mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi, dan kesimpulan yang menunjukkan hubungan fakta/konsep/teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan, mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi dan kesimpulan dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari berbagai jenis sumber.

Mengomunikasikan (Communicating)

Kegiatan pada tahap mengomunikasikan di antaranya peserta didik dapat menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik. Pada tingkat lanjut, peserta didik dapat menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan melalui kegiatan presentasi di hadapan guru dan peserta didik lain.

Hasil belajar dari kegiatan mengomunikasikan yang dapat dilihat oleh guru dari peserta didik adalah kemampuan peserta didik dalam menyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan lain-lain. Bentuk fisik yang dapat dinilai oleh guru di antaranya laporan tertulis, artikel ilmiah, atau video yang diupload pada media sosial.

Semua tahapan pada pendekatan saintifik ini harus dihadirkan secara utuh dalam pembelajaran yang dilaksanakan, namun seperti apa yang disampaikan di awal bahwa urutan dari semua tahapan tidak harus kaku mengikuti urutan 5 M secara terkungkung.

Pada implementasinya bisa saja ada pengulangan langkah atau penukaran langkah yang dirasa harus di awalkan atau di akhirkan. Semuanya bergantung pada kesiapan guru dalam merencanakan pembelajaran, karakteristik materi yang akan diajarkan, dan karakteristik dan kesiapan siswa yang mempelajari materi.

Berdasarkan hal tersebut, maka kunci dari keberhasilan implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran di kelas adalah perencanaan pembelajaran yang dirancang oleh guru dan kesiapan serta partisipasi siswa dalam pembelajaran.

Baca juga: Metode Pembelajaran

Jika perencanaan dan partisipasi ini berhasil dilaksanakan dengan baik, maka diharapkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik bisa memberikan dampak positif pada siswa. Dampaknya memang tidak bisa semuanya langsung dapat dirasakan siswa saat itu juga, namun jika terus diasah dan dikembangkan bisa jadi apa yang diperoleh dalam pembelajaran bisa menjadi bekal bagi mereka untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Pemahaman Akhir

Pendekatan saintifik merupakan salah satu konsep pendidikan abad 21 yang mengarahkan siswa untuk membangun metode ilmiah selama pembelajaran berlangsung. Melalui pendekatan ini, siswa didorong untuk menemukan dan membangun konsep secara mandiri dengan bantuan guru sebagai fasilitator. Terdapat enam tujuan utama dari pendekatan saintifik: menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa, meningkatkan kemampuan berpikir sistematis, meningkatkan pemahaman konsep, meningkatkan motivasi belajar, dan meningkatkan keterampilan komunikasi.

Pendekatan saintifik menggambarkan serangkaian langkah pembelajaran yang runut dan sistematis, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Meskipun ada tahapan ini, implementasi pendekatan saintifik tidak harus mengikuti urutan 5M secara kaku, dan guru memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan langkah-langkah tersebut dengan karakteristik materi dan siswa.

Kunci keberhasilan implementasi pendekatan saintifik terletak pada perencanaan pembelajaran yang baik oleh guru serta partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Jika dijalankan dengan baik, pendekatan saintifik dapat memberikan dampak positif pada siswa, seperti meningkatkan keterampilan berpikir, kemampuan komunikasi, dan pemahaman konsep, yang akan menjadi bekal berharga bagi mereka dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Artikel Terbaru

Avatar photo

Abelatif

Seorang pendidik, pengajar sekaligus pembelajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *