Pakaian Adat Kalimantan Utara Serta Penjelasannya

Kalimantan Utara tergolong salah satu provinsi yang baru terbentuk sejak proses pemekaran dari Kalimantan Timur yang dilakukan pada awal tahun 2000-an. Meskipun terbentuknya provinsi ini terbilang baru, tetapi Kalimantan Utara menyimpan banyak hal yang perlu diketahui.

Misalnya saja dari segi banyaknya etnis yang mendiami wilayah Kalimantan Utara. Mulai dari suku Dayak, Banjar, Bulungan, Tidung, Kutai, dan beberapa suku pendatang lainnya. Mengingat Kalimantan Utara memang hasil pemekaran dari Kalimantan Timur, sehingga tidak heran kalau daerah ini juga masih didominasi oleh suku Dayak.

Bahkan, pakaian adat yang dikenal pun memiliki kesamaan dengan pakaian adat yang dimiliki oleh Kalimantan Timur. Untuk mengenal apa saja pakaian adat Kalimantan Utara tersebut, mari simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.

Pakaian Adat Sapei Sapaq

Pakaian Adat Sapei Sapaq
Sumber: wego.co.id

Pakaian adat sapei sapaq merupakan pakaian adat milik suku Dayak Kenyah. Suku ini juga mendiami wilayah Kalimantan Timur, sehingga pakaian adat ini juga dikenal di Kalimantan Timur pula. Nama pakaian adat Kalimantan Utara, sapei sapaq ini diperuntukkan bagi pria.

Pada mulanya, sapei sapaq hanya berupa kain selendang yang digulung, lalu dililitkan menjadi celana dalam. Namun, semakin lama dengan adanya perkembangan zaman, bentuk celana dalam tersebut dimodifikasi menjadi celana pendek yang disebut dengan abet kaboq.

Kemudian, untuk bagian atasannya, pakaian adat sapei sapaq berupa rompi, dan dilengkapi dengan adanya aksesoris lainnya. Aksesoris tersebut diantaranya adalah mandau atau senjata tradisional khas Dayak yang diselipkan di pinggang. Selain itu, ada aksesoris kalung yang dibuat dari bahan alami seperti biji-bijian, taring, dan tulang hewan. Ada pula aksesoris berupa perisau yang dipakai untuk tameng atau perlindungan diri.

Motif dalam pakaian adat sapei sapaq ada tiga macam yaitu burung enggang, harimau, dan fauna. Ketiga motif ini memiliki fungsinya masing-masing yaitu untuk motif burung enggang dan harimau dipakai oleh bangsawan. Sedangkan, untuk motif tumbuhan lebih diperuntukkan bagi rakyat biasa. Potret pemakaian sapei sapaq oleh masyarakat suku Dayak Kenyah bisa kamu lihat lewat gambar pakaian adat Kalimantan Utara sapei sapaq di atas.

Baca juga: 5 Alat Musik Kalimantan Utara Serta Penjelasannya

Pakaian Adat Ta’a

Pakaian Adat Ta'a
Sumber: id.pinterest.com

Jika sapei sapaq adalah nama pakaian adat Kalimantan Utara Dayak Kenyah untuk pria, pakaian adat ta’a merupakan nama pakaian adat Kalimantan Utara Dayak Kenyah untuk wanita. Dari segi bahan, pakaian adat ta’a ini berbeda dengan pakaian adat sapei sapaq yakni terbuat dari bahan beludru, berwarna hitam, dan biasanya akan dihias dengan berbagai manik-manik.

Seperti yang ada pada gambar pakaian adat Kalimantan Utara di atas, komponen dari pakaian adat ini terdiri dari atasan berupa rompi tanpa lengan dan disebut dengan sape inoq. Untuk bagian bawahannya, dikenakanlah rok dengan motif dan warna yang senada dengan atasannya.

Bagian bawahan yang berupa rok inilah dinamakan sebagai ta’a. Sebagai pelengkap, para wanita akan mengenakan penutup kepala khas Dayak. Ciri khas tersebut ada pada hiasan bulu burung enggang, burung endemik di Kalimantan.

Selain penutup kepala dari burung enggang, terdapat jenis penutup kepala lainnya yang disebut dengan da’a. Jika penutup kepala sebelumya dibuat dari bulu burung enggang, da’a dibuat dari daun pandan dan pemakaian da’a sendiri lebih sering dipakai oleh orang tua.

Tak hanya itu saja, para wanita juga biasanya mengenakan aksesoris lain seperti gelang, kalung, serta anting-anting. Hampir semua aksesoris yang dikenakan tadi dihiasi oleh manik-manik dengan aneka warna.

Uniknya, pemilihan warna dari manik-manik atau motif dari pakaian adat ta’a menggunakan warna-warna yang sedikit kontras dengan warna hitam dari kain beludru seperti biru, merah, dan hijau. Mengenai motif dari pakaian ta’a sebenarnya sama dengan motif yang ada di sapei sapaq yaitu terdiri dari tiga macam motif.

Pakaian Adat Suku Tidung

Pakaian Adat Suku Tidung
Sumber: instazu.com

Gambar pakaian adat Kalimantan Utara di atas merupakan salah satu pakaian adat suku Tidung yang begitu khas. Suku Tidung merupakan suku yang mendiami wilayah Kalimantan Utara dan sebagian tinggal di wilayah Sabah, Malaysia.

Kebanyakan orang mengenal suku Tidung sebagai suku Dayak yang sudah beragama Islam. Salah satu bentuk kebudayaan dari suku Tidung adalah pakaian adatnya yang terdiri dari beberapa macam. Nama-nama pakaian adat Kalimantan Utara suku Tidung meliputi pelimbangan dan kurung bantut untuk pakaian sehari-hari, selampoy untuk pakaian adat, talulandom untuk acara resmi, dan sina beranti untuk pengantin.

Baca juga: 12 Suku di Pulau Kalimantan

Keunikan Pakaian Adat Kalimantan Utara

Keunikan Pakaian Adat Kalimantan Utara
Sumber: kumparan.com

Bukan hanya mengenal nama pakaian adat Kalimantan Utara dan komponennya saja, keunikan dari pakaian adat Kalimantan Utara juga patut kamu ketahui. Sudah semestinya suatu pakaian adat mempunyai keunikan yang berbeda dari pakaian lainnya. Beberapa keunikan dari pakaian adat Kalimantan Utara diantaranya adalah sebagai berikut:

Menunjukkan Status Sosial Masyarakat

Daratan Kalimantan memang bukan hanya didiami oleh suku Dayak saja, namun dari sekian banyak suku yang ada di Kalimantan, suku Dayak lah yang lebih terkenal. Bahkan, suku ini telah menjadi ciri khas dari Kalimantan, tak terkecuali Kalimantan Utara.

Suku Dayak sendiri punya beberapa sub suku yang salah satunya adalah suku Dayak Kenyah. Telah dibahas sebelumnya, jika suku Dayak Kenyah punya pakaian adat khasnya yaitu sapei sapaq dan ta’a. Sebagai suatu pakaian adat, pastinya fungsi pembuatan pakaian adat sapei sapaq dan ta’a adalah untuk menutup tubuh.

Namun, dalam kebudayaan suku Dayak sendiri, penggunaan pakaian bukan hanya sekedar untuk penutup tubuh, tetapi juga sebagai lambang untuk menunjukkan status sosial masyarakatnya. Nah, tolak ukur yang menunjukkan status sosial dari pakaian adat sapei sapaq dan ta’a terletak pada motif.

Terdapat tiga jenis motif yang biasanya dipakai dalam pakaian adat tersebut yaitu burung enggang, harimau, dan tumbuh-tumbuhan. Sapei sapaq dan ta’a yang bermotifkan hewan seperti burung enggang dan harimau dikhususkan untuk dipakai oleh kalangan kelas atas. Sedangkan, sapei sapaq dan ta’a yang bermotifkan tumbuh-tumbuhan dikhususkan bagi masyarakat kalangan biasa. Dengan begitu, pemakaian pakaian adat ini haruslah disesuakan dengan siapa pemakainya.

Sebagai Wujud Kecintaan Pada Alam

Sejak dulu, suku Dayak tergolong sebagai suku yang begitu dekat dengan alam. Kedekatan masyarakat suku tersebut nampak bukan hanya pada cara hidup mereka, tetapi juga pada pakaian adat yang mereka kenakan.

Hampir semua pakaian adat dari suku Dayak menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam, begitu juga dengan suku Dayak Kenyah. Dari mulai rompi, bawahan, dan aksesoris, semua komponen tersebut menggunakan bahan alami. Pada bagian rompinya biasanya terbuat dari kulit kayu nyamu dan diberi pewarna alami.

Kemudian, untuk bagian aksesorisnya pun diambil dari biji-bijian, bulu burung, taring, dan tulang hewan. Penggunaan bahan alami ini merupakan wujud kecintaan para suku Dayak terhadap kekayaan alam dan ingin senantiasa dekat dengan alam.

Muncul di Mata Uang Indonesia yang Baru

Salah satu pakaian adat dari Kalimantan Utara yaitu milik suku Tidung muncul di mata uang terbaru Indonesia pada pecahan Rp 75.000. Munculnya pakaian adat pada mata uang Indonesia ini tentunya sebagai wujud apresiasi dan ingin mengenalkan lebih luas pakaian adat daerah Indonesia.

Sayangnya, pada awal kemunculan uang baru tersebut, banyak yang mengira kalau pakaian adat suku Tidung tadi adalah pakaian dari Cina. Oleh karenanya, sangat penting untuk mengenal pakaian adat daerah di Indonesia supaya tidak lagi keliru dalam mengenali pakaian adat Indonesia sendiri.

Baca juga: 7 Pakaian Adat Kalimantan Barat

Itulah tiga macam pakaian adat Kalimantan Utara yang dimiliki oleh suku Dayak Kenyah dan suku Tidung. Ketiga pakaian adat tersebut memang punya keunikannya masing-masing, bahkan pakaian adat suku Tidung telah muncul di mata uang Indonesia yang baru. Hal ini menjadi langkah yang baik untuk mengapresiasi adanya pakaian adat daerah di Indonesia.

Artikel Terbaru

Wasila

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *