Contoh Majas Perbandingan: Pengertian dan Jenis

Apakah kamu salah satu orang yang tersentuh apabila membaca kalimat yang bagus dan menggunakan majas? Majas adalah bagian dari bahasa Indonesia yang tidak dapat dipisahkan. Penggunaan majas menambah warna pada sebuah kalimat sehingga lebih mudah dimengerti.

Berdasarkan pengggolongannya, majas terdiri dari empat jenis, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas penegasan, dan majas sindiran. Namun, dalam artikel ini kamu akan mempelajari majas perbandingan secara lebih lengkap. Simak artikel ini sampai habis, ya!

Pengertian Majas Perbandingan

Jenis dan contoh majas perbandingan
Sumber foto: Daises dari Pixabay

Majas perbandingan penting dalam Bahasa Indonesia, karena seringkali digunakan untuk berbagai kebutuhan. Secara pengertian, majas perbandingan adalah majas yang membandingkan atau menyandingkan sesuatu hal dengan hal lainnya. Nah, caranya yaitu dengan menyamakan, melebihkan, dan menggantikan kata.

Majas perbandingan dapat diartikan juga sebagai kata-kata berkias yang memunculkan perbandingan untuk membuat kesan atau pengaruh tertentu bagi yang mendengar atau membacanya.

Baca juga: Contoh Kalimat Tanya

Ciri-ciri Majas Perbandingan

Ciri-ciri majas perbandingan adalah sebagai berikut:

  • Ada hal yang menjadi perbandingan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Menggunakan kata pengandaian, contohnya ‘bak’, ‘laksana’, ‘seperti’.
  • Proses perbandingannya dengan menyamakan, melebihkan, dan menggantikan kata.

Jenis dan Contoh Majas Perbandingan

Majas perbandingan ada beberapa jenis sesuai dengan ciri dan fungsi kebahasaannya. Berdasarkan penggolongannya, ada 14 jenis majas perbandingan yang bisa kamu pelajari. Jenis-jenis majas perbandingan adalah, majas asosiasi, majas metafora, majas personifikasi, majas hiperbola, majas alegori, majas simbolik, majas metonimia, majas sinekdoke, majas simile, majas litotes, majas sinestesia, majas eufisme, majas alusio, dan majas eponim.

Majas Asosiasi

Majas asosiasi adalah gaya bahasa yang membandingkan dua objek berbeda, namun disamakan dengan menambahkan konjungsi, yaitu bagaikan, bak, laksana, dan ibarat. Contoh dari majas asosiasi antara lain:

  • Hati orang itu memang keras ibarat bongkahan batu.
  • Senyum gadis itu sangat menawan laksana bunga yang ranum.
  • Binar matamu bagai mentari yang menerangi pagiku.
  • Otaknya sangat encer bak santan kelapa.
  • Semangat Bung Tomo membara bagai api yang menyala-nyala.
  • Kepintaranmu seperti Albert Einstein.
  • Tubuhmu bagaikan pohon pinus yang sulit ditebang.
  • Ibu dan anak itu bagaikan pinang yang dibelah dua.
  • Kulit tubuhmu lembut seperti kapas putih.
  • Bibirmu merah merona bagai kelopak.

Majas Metafora

Majas metafora adalah kiasan yang diungkapkan secara singkat, padat, dan tersusun rapi. Ciri-ciri dari majas ini cukup mudah untuk dikenali, yaitu menggunakan kata kiasan pendek. Selain itu, majas ini juga tidak menggunakan konjungsi dan biasanya hanya terdiri dari frasa. Contoh dari majas metafora adalah sebagai berikut:

  • Parasmu sejernih embun pagi.
  • Dewi malam telah keluar dari balik awan.
  • Raja siang sangat cerah pada hari ini.
  • Ibu itu memeluk hangat buah hatinya.
  • Si jago merah sudah melahap ruko dua lantai itu.
  • Tikus berdasi hanya menghabiskan uang rakyat dan merugikan negara.
  • Kau harus bisa berlapang dada untuk menjalani hidup.
  • Anak sulung kerap menjadi tulang punggung keluarga.
  • Anak-anak merupakan tunas bangsa yang akan menjadi agen perubahan untuk negeri.
  • Perpustakaan merupakan gudang ilmu.

Majas Personifikasi

Majas personifikasi adalah salah satu jenis majas yang membandingkan benda mati yang memiliki sifat atau sikap manusia. Ciri-ciri dari majas personifikasi adalah menggunakan biasanya menggunakan kata kerja dan kata sifat, karena membandingkan benda mati seperti layaknya manusia. Contoh dari majas personifikasi adalah sebagai berikut:

  • Angin sepoi-sepoi mengelus rambut kepalaku.
  • Bulan purnama tersenyum manis kepadaku.
  • Kasur menarik paksa tubuhku agar tidak beranjak.
  • Buah rambutan sudah berayun-ayun tertiup angin.
  • Burung menyanyi di pagi hari.
  • Bunga mawar yang cantik itu seperti memintaku untuk memetiknya.
  • Hujan terus menangis membasahi bumi.
  • Kata-kata itu sangat menusuk hatiku.
  • Tiket liburan sudah melambai ke arahku.
  • Tugas-tugas ini membunuhku.

Majas Hiperbola

Pernah mendengar seseorang berbicara secara berlebihan, bahkan terkesan tidak masuk akal? Hal tersebut adalah salah satu pengertian dari majas hiperbola. Majas Hiperbola adalah salah satu jenis majas perbandingan yang membandingkan suatu hal dengan cara melebih-lebihkan konteks. Majas ini bertujuan untuk memberikan kesan yang lebih mendalam kepada pembaca atau pendengar. Contoh dari majas hiperbola adalah:

  • Suara penyanyi itu sangat menggemparkan dunia.
  • Biasanya, kalau perjalanan pulang seperti secepat kilat.
  • Dalamnya cintaku akan menenggelamkanmu ke samudra terkelam.
  • Otak murid itu cemerlang berlian.
  • Kecantikan Pevita Pearce dapat mengalihkan duniamu.
  • Patah hati yang kurasakan sangat meluluhlantakan hidupku.
  • Karena harbolnas dompetku terkuras habis dan berdebu.
  • Drakor The Panthouse membuat penontonnya meradang kepanasan.
  • Cuaca hari ini sangat panas seperti di neraka.
  • Tangisan gadis yang mau menikah itu membanjiri pemakaman lantaran calon suaminya meninggal dunia.

Majas Alegori

Jika majas metafora menggunakan kiasan yang singkat dan jelas, maka majas alegori sedikit berbeda. Majas alegori adalah majas yang membandingkan atau menyatukan suatu kejadian dengan kejadian lainnya secara utuh. Ciri majas alegori biasanya menggunakan kata-kata ‘bagaikan’, ‘sama halnya, ‘seperti’, dsb. Selain itu, majas ini pun memiliki kalimat yang cukup panjang. Contoh dari majas alegori adalah:

  • Mencari politikus yang jujur kini bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.
  • Lidah manusia bagaikan sebuah pedang yang sangat tajam, maka haruslah kita bijak dalam berbicara.
  • Semua kenikmatan di dunia ini bagaikan fatamorgana yang sifatnya sangat fana.
  • Sifat iri dan dengki dapat menghilangkan kebaikan pada seseorang, sama halnya seperti api yang membakar kayu bakar.
  • Berbohong ibarat mengisap rokok secara terus menerus, kita kesulitan untuk berhenti karena candu dan hanya akan meruska diri sendiri
  • Pertemuan denganmu seperti sebuah bianglala besar, aku menaikinya lagi dan lagi.
  • Berbuat baik seperti investasi kebaikan untuk diri sendiri. Karena pasti akan dibalas juga oleh orang lain.
  • Agama bagaikan kompas dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh badai dan gelombang.
  • Meraih mimpi seperti berenang dalam arus yang sangat deras. Harus kuat dan mampu untuk sampai ketepian dan mencapai tujuan.
  • Pengalaman menjadi kunci terbaik untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Majas Simbolik

Seperti namanya yaitu ‘simbolik’ yang berarti melambangkan, majas simbolik juga berguna untuk melambangkan sesuatu. Sehingga, dapat dikatakan bahwa majas simbolik adalah ungkapan bahasa yang membandingkan dan juga melambangkan antara manusia dengan sikap atau sifat benda.

Ciri-ciri dari majas simbolik terlihat dari adanya penggunaan kata hewan dan benda yang dibandingkan dengan manusia. Contoh dari majas simbolik yaitu:

  • Koruptor itu akan dibawa ke meja hijau (maksudnya= pengadilan).
  • Dia seperti bunglon (maksudnya= sering berubah pendirian).
  • Dosenku sangat pintar seperti kamus berjalan (maksudnya= menguasai banyak kata).
  • Berhentilah selalu mencari kambing hitam untuk setiap masalah! (maksudnya= orang yang disalahkan).
  • Lelaki yang baik dan berbudi tentunya tidak akan menjadi buaya darat (maksudnya=penggoda wanita).
  • Selepas kantor aku tertunduk lemas di depan rumah melihat bendera kuning terpasang dan orang-orang sangat ramai (maksudnya= penanda ada orang yang meninggal).
  • Karena sudah menganggur lama, Rita dianggap seperti benalu oleh keluarganya (maksudnya= orang yang merugikan).
  • Mata bulatnya yang seperti bola pingpong membuat kebanyakan orang meliriknya (maksudnya= bulat dan kecil).
  • Saat malam hari apalagi saat mati listrik, Rani seperti kucing yang dibawakan lidi (Maksudnya= ketakutan).
  • Banyak orang yang menyebut wajahku dan ibuku seperti pinang dibelah dua (maksudnya= mirip).

Majas Metonimia

Majas Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri, label, atau nama produk dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut. Ciri-ciri yang bisa kamu kenali dari majas ini adalah adanya penggunakan merek, nama produk atau label untuk menggantikan benda. Contoh dari majas metonimia adalah:

  • Tanpa memberitahu ayahnya, Rano menyelipkan Gudang Garam di saku celananya (rokok bermerek Gudang Garam).
  • Untuk menikmati suasana pagi agar menjadi hari yang baik, Ayah selalu minum Good Day (kopi bermerek Good Day).
  • Liburan ke luar negeri kali ini aku menaiki Garuda (pesawat bermerek Garuda).
  • Karena tiba-tiba menstruasi, Rani pergi ke kantin membeli Softex (pembalut bermerek Softex).
  • Harga BBM yang naik membuat warga mengantri di Pertamina (pompa bensin bermerek Pertamina).
  • Setelah makan Hana meminum satu botol Aqua (air mineral bermerek Aqua).
  • Setiap pagi, Wina menggunakan Citra agar kulitnya lembut dan bercahaya (body lotion bermerek Citra).
  • Nyamuk di rumah kami mati karena disemprotkan Baygon (obat anti nyamuk bermerek Baygon).
  • Pengendara sepeda itu mati karena ditabrak Kijang (mobil bermerek Kijang).

Majas Sinekdoke

Majas sinekdoke adalah majas yang menyebutkan setengah bagian untuk seluruh bagian, atau justru kebalikannya, yaitu menyebut seluruh bagian untuk mengatakan setengah bagian dari konteks. Rumit ya? Tidak serumit keliatannya, kok. Majas ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut:

1. Majas Sinekdoke Par Pro Toto

Jenis majas sinekdoke ini adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian unsur benda untuk menjelaskan keseluruhan benda. Ciri majas ini biasanya menggunakan anggota tubuh untuk menyatakan individu. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut:

  • Batang hidungnya sudah tidak terlihat sejak siang tadi (maksudnya kata ‘batang hidung’ merujuk pada orang/individu secara keseluruhan).
  • Pembagian sembako di bank hari ini mendapatkan Rp300.000 per kepala (maksudnya kata ‘per kepala’ merujuk pada orang/individu secara keseluruhan).
  • Saat aku berdiri di atas panggung untuk pertama kali, semua mata tertuju padaku (maksudnya kata ‘mata’ merujuk pada orang/individu secara keseluruhan).
  • Harga daging bebek di pasar menjadi naik Rp40.000 per ekor (maksudnya kata ‘ekor’ merujuk pada bebek secara keseluruhan).
  • Saat aku berbicara, tidak ada satu telinga pun yang mendengarkanku dengan seksama (maksudnya kata ‘mata’ merujuk pada orang/individu secara keseluruhan).
  • Hidangan Chef Arnold sangat memanjakan mulut saat aku mencobanya (maksudnya kata ‘mulut’ merujuk pada orang/individu secara keseluruhan).
  • Karena masalah keluarga, Kak Riana sudah empat tahun tak menginjakan kaki di rumah (maksudnya kata ‘kaki’ merujuk pada orang/individu secara keseluruhan).
  • Biaya rokok setiap merek naik 40% per batang dimulai dari tahun depan (maksudnya kata ‘batang’ merujuk pada rokok secara keseluruhan).
  • Di saat aku terjatuh tidak ada satu pun tangan yang menjulur untuk menolongku (maksudnya kata ‘tangan’ merujuk pada orang/individu secara keseluruhan).
  • Tak akan ku menantinya kembali, karena sepucuk surat yang kukirim pun telah lima tahun tak dibalas (maksudnya kata ‘sepucuk’ adalah seluruh kertas surat beserta amplopnya).

2. Majas Sinekdoke Totem Pro Parte

Kebalikan dari majas sebelumnya, majas sinekdoke totem pro parte adalah majas yang menyebutkan keseluruhan untuk sebagian. Majas ini sering digunakan untuk menggenaralisasi agar tidak hanya satu atau dua pihak saja yang dibahas. Misalnya pada kalimat ‘rakyat Indonesia tidak menyetujui UU Cipta Kerja’, kata ‘rakyat Indonesia’ tersebut lebih khusus kepada orang yang ikut berdemo, bukan rakyat secara keseluruhan. Contoh lainnya adalah sebagai berikut:

  • Pertandingan bulu tangkis tersebut dimenangkan oleh RT 03.
  • Tsunami meluluhlantakan Aceh di tahun 2004.
  • Indonesia akan berjuang sekuat tenaga dalam pertandingan sepak bola ini.
  • Polisi berhasil meringkus penjahat yang mencuri perhiasan di toko mas.
  • Sebagai hari pendidikan, menteri memberikan semangat dan selamat kepada guru di Indonesia.
  • Karena pandemi karyawan di berbagai perusahaan banyak yang di PHK.
  • Film Reza Hardian yang terbaru sudah tayang di bioskop.
  • Peluncuran Iphone 12 pro sudah tersedia di gerai handphone.
  • China memenangkan Asian Games pada tahun 2018.
  • Warga Bogor sering menonton bola di Pakan Sari.

Majas Simile

Majas simile adalah gaya bahasa yang menyandingkan suatu kegiatan dengan suatu ungkapan. Ciri dari majas ini adalah memakai kata penghubung ‘layaknya, ‘ibarat’, ‘bagai’, ‘bak’, dan ‘umpamanya’. Majas ini sedikit mirip dengan asosiasi tetapi terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu majas asosiasi membandingkan secara implisit sedangkan majas simile membandingkan secara eksplisit atau lugas. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Walaupun pacaran, Rio dan Tiyas ibarat air dan minyak, tidak dapat dipersatukan.
  • Adik dan kakak itu bak kucing dan anjing yang selalu bertengkar.
  • Lelaki itu sangat baik ibarat malaikat yang turun dari bumi.
  • Es kelapa ini sangat segar bak hujan yang membasahi ladang pasir.
  • Anak berusia 8 tahun itu menangis di jalan bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
  • Kehadiranmu umpama senandung lagu yang gembira, sangat menyenangkan hatiku.
  • Tatapan matanya sangat meneduhkan seperti berlindung di pohon beringin.
  • Wajahnya sangat menawan bagaikan bidadari yang turun dari kayangan.
  • Perutku sangat mual ibarat dikocok dan digoyangkan dengan keras.
  • Ia sangat kebingungan bagaikan berjalan di labirin.
  • Kata-kata yang diucapkannya sangat bagus bak puisi dengan diksi yang indah.

Majas Litotes

Majas litotes merupakan majas yang menurunkan kualitas sesuatu untuk merendah diri. Ciri dari majas ini adalah ada fakta yang dikecil-kecilkan. Contoh dari majas litotes adalah:

  • Datanglah ke gubuk kami untuk sekedar minum teh.
  • Handphone ku memang hanya Motorola, tapi masih bisa dipakai untuk memotret, kok.
  • Apabila kamu berkenan, boleh saya antar dengan motor jelek ini?
  • Walaupun kamu tak menginginkannya, tolong terima kado tak berharga ini.
  • Nikmatilah wifi rumahku yang lambat ini, ya.
  • Kunjungi lah ibu mu yang sudah tua bangka ini.
  • Maaf ya aku hanya bisa menyajikan minuman sederhana ini.
  • Apalah dayaku yang hanya memiliki muka pas-pasan.
  • Tak apa aku juga mendapatkan nilai yang jelek, kok.
  • Sudikah kamu menerima tawaran makan malam bersamaku yang sangat sederhana?

Majas Sinestesia

Majas sinestesia merupakan majas yang berupa ungkapan rasa dari suatu indera dan diungkapkan dengan indera lainnya. Ciri dari majas ini adalah adanya penggunaan indera dalam kalimat. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Suara penyanyi Raisa sangat merdu.
  • Jonathan Christie mencetak sejarah manis di bulu tangkis Indonesia.
  • Ibu memilih setiap mangga dan memilih mangga yang berbau manis.
  • Harumnya masakan Ibu membuat ayah tersentuh.
  • Juri itu memberikan komentar yang pedas kepada salah satu kontestan.
  • Kehidupan yang pahit harus tetap dilewati dengan mental yang kuat.
  • Berbicara kasar dengan orang tua adalah salah satu ciri dari anak yang durhaka.
  • Aku sangat merindukan suaramu yang tertawa dengan renyah.
  • Tangisan bayi tetangga sangat memecah kesunyian di kompleks perumahan kami.
  • Ia tersenyum lembur membuatku mabuk kepayang.

Majas Eufisme

Majas eufisme adalah gaya bahasa yang mengganti kata-kata kurang baik dengan kata yang lebih halus. Majas ini berguna untuk memperhalus sebuah ucapan dan diharapkan agar orang yang mendengarnya tidak tersinggung. Contohnya adalah:

  • Kakek yang tunanetra itu sedang menyebrang ditemani cucunya.
  • Aku tidak mengerti ketika ada orang tunawicara yang berusaha mengobrol denganku.
  • Karena keseringan minum, Ranti sudah buang air kecil lebih dari lima kali.
  • Dia baru mengetahui bahwa Ojan menjadi tunarungu sudah satu bulan.
  • Riana izin ke belakang saat pelajaran Bu Ratna berlangsung.
  • Sepanjang lampu merah, banyak sekali tunawisma yang meminta-minta di pinggir jalan.
  • Sudah belasan tahun ibuku menjadi asisten rumah tangga di rumah gedong itu.
  • Karena pandemi, sudah banyak UMKM dan perusahaan yang gulung tikar.
  • Aku sangat kasihan melihat bapakku yang di PHK dari kantornya.
  • Karena harus merelakan suaminya yang selingkuh, ia menjadi hilang akal.

Majas Alusio

Majas alusio adalah majas yang menggunakan gaya bahasa dan memakai kata-kata di masa lalu untuk menjelaskan suatu peristiwa atau kejadian. Ciri-ciri dari majas ini biasanya menggunakan kata-kata berupa tokoh, legenda, cerita, ataupun kejadian di masa lalu. Contoh dari penggunaan majas alusio adalah:

  • Ketika aku mendengar pengalamanmu, aku seperti teringat kisah Bawang Merah dan Bawang Putih.
  • Tolonglah kalian jangan bertengkar lagi, seperti Perang Dunia II antara Jepang dan Amerika.
  • Selalu ingatlah orang tuamu, jangan sampai kau seperti Malin Kundang kepada ibunya.
  • Demo mahasiswa ini sudah seperti demo di tahun 1998.
  • Para wanita mudah Indonesia telah berhasil menjadi Kartini dalam ajang Putri Indonesia.
  • Kita perlu memberantas PKI, jangan sampai kejadian G30S/PKI sampai terulang lagi.
  • Kehidupan percintaan kalian yang tak direstui seperti Romeo dan Juliet.
  • Jangan seperti Jaka Tarub yang berbohong dan mencuri untuk mendapatkan sesuatu.
  • Maraknya produk Korea seperti teringat masa penjajahan di negeri.
  • Setiap Hari Pahlawan, Surabaya selalu bergelora seperti 10 November saat perang Surabaya.

Baca juga: Contoh Majas Asosiasi

Majas Eponim

Majas eponim merupakan majas yang menggunakan nama sesuatu untuk dipinjam sifatnya sesuai dengan konteks yang dibicarakan. Ciri dari majas ini sangat mudah, yaitu adanya nama tokoh atau karakter yang terkenal. Penggunaan majas eponim ialah sebagai berikut:

  • Indonesia membutuhkan seseorang seperti Gadjah Mada yang pemberani.
  • Aku ingin seperti Aisyah yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad.
  • Ketika di sekolah, mereka berlima sudah seperti Power Ranger yang memberantas murid-murid nakal.
  • Rakyat sangat menunggu kedatangan Robin Hood untuk memberantas ketidakadilan di negeri ini.
  • Hari ini kau seperti Cinderella yang anggun dan cantik dengan sepatu kaca.
  • Puisi yang kau buat sangat menyentuh seperti puisi-puisi Eyang Sapardi.
  • Hari ini aku membutuhkan Ibu Peri untuk menyelesaikan masalahku.
  • Karena kepiawaiannya dalam berpidato, Tono dijuluki sebagai Soekarno.
  • Menjadi Albert Einstein di masa kini tidaklah sulit, asal mau belajar dan terus belajar.
  • Bakat aktingnya memang sudah setingkat Reza Rahardian, pantas saja Arya menjadi pemeran utama pria.

Baca juga: Contoh Majas Personifikasi

Itulah pengertian, ciri-ciri, jenis, dan contoh majas perbandingan yang bisa kamu pelajari. Bagaimana? Sudah bisa membandingkan setiap jenisnya? Semoga artikel ini dapat membantumu ya. Tetap semangat belajar bahasa Indonesia!


Referensi:

Agustinalia, Irma. 2018. Majas, Idiom, dan Peribahasa Indonesia. Sukoharjo: CV Graha Printama Selaras.

Gunawan, Hadi. 2019. Majas dan Peribahasa. Yogyakarta: Cosmic Media Nusantara.

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Saya merupakan mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *