Jenis Tangga Nada Beserta Contohnya

Ketika belajar tentang musik kita akan sering mendengar istilah tangga nada. Dalam mempelajari musik dan tangga nada maka kita pasti akan sering mendengar istilah seperti mayor, minor, kromatis dan banyak lagi yang lainnya karena terdapat beberapa jenis tangga nada yang dipakai dalam menciptakan musik. Bila kita sedang belajar musik dan ingin mengetahui lebih dalam maka sangat penting bagi kita untuk mengenal lebih jauh mengenai jenis tangga nada.

Pengertian Tangga Nada

Tangga nada adalah sebuah rangkaian nada yang disusun dengan jarak tertentu. Bila diibaratkan sebuah tangga pada kehidupan nyata maka tangga nada memiliki fungsi yang serupa dengan tangga pada kehidupan sehari-hari. Bila kita perhatikan sebuah tangga memiliki fungsi untuk naik atau turun. Begitu juga nada. Ada saatnya nada itu naik atau makin tinggi, ada saatnya juga ketika nada itu turun atau semakin rendah.

Jarak itu biasa disebut dengan interval nada, yang menjadi jeda antara satu nada dengan lainnya. Interval ini ibarat jarak antar anak tangga pada kehidupan sehari-hari. Ada tangga yang jarak antar anak tangganya dekat, ada pula yang jaraknya jauh. Secara umum tangga nada dibagi jadi tiga jenis, yaitu pentatonis, diatonis dan kromatis. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang tiga jenis tangga nada itu di bawah ini.

Tangga Nada Pentatonis

tangga nada pentatonis
Sumber foto : damaruta.com

Penta artinya lima, dipakai untuk istilah jenis tangga nada ini karena disini yang dipakai hanya 5 nada pokok. Jenis ini dibagi menjadi dua yaitu tangga nada dan tangga nada slendro. Jenis ini kebanyakan dipakai untuk genre musik rock n’ roll, beberapa aliran variasi lagu pop dan blues, lagu anak-anak, serta lagu tradisional. Tangga nada ini juga sering kita temui dalam musik tradisional Jawa seperti musik gamelan.

Lebih mudahnya dalam memahami perbedaan Slendro dan Pelog adalah Slendro terdiri dari tangga nada pentatonik menggunakan nada 1 2 3 4 5 6 1 (memberikan kesan gembira dan lincah). Sedangkan  pelog terdiri dari tangga nada pentatonik menggunakan nada 1 2 3 4 5 6 7 (memberikan kesan tenang dan luhur). Contoh lagu yang menggunakan tangga nada pentatonis adalah:

  • Kincir-kincir
  • Jali-jali
  • Lenggang kangkung
  • Suwe ora jamu
  • Cublak-cublak suweng

Baca juga: Cara Membaca Not Balok dan Not Angka

Tangga Nada Diatonis

Jika pentatonis ada 5 nada, untuk jenis diatonis ada 7 nada dengan 2 macam interval. Tangga nada diatonis ini lebih sering kita dengar atau mainkan di musik kontemporer atau kekinian.

Tangga nada ini sering kita jumpai juga disaat kita belajar sebuah alat musik seperti gitar. Karena dasar bermain gitar seringkali mengunakan tangga nada ini. Tangga nada diatonis ini menggunakan  interval 1 atau pakai interval setengah. Dalam jenis ini pun terbagi lagi jadi 2 tangga nada, yaitu mayor dan minor. Di bawah ini penjelasannya:

Tangga Nada Minor

tangga nada diatonis minor
Sumber foto : walpaperhd99.blogspot.com

Untuk jenis minor, dibagi lagi jadi tiga jenis yaitu tangga nada minor asli, harmonis dan melodis. Jenis minor asli cuma punya nada pokok, jadi tak ada tanda kromatis. Sedangkan untuk jenis harmonis, setiap nadanya dinaikkan setengah, tapi ketika naik/turun nadanya tetap sama. Kalau jenis melodis, nada yang dinaikkan hanya yang ke-6 dan ke-7 ketika naik, dan turun setengah juga ketika turun. Tangga nada minor ini bila dimainkan akan menimbulkan nuansa dalam, khidmat, sedih atau “gelap”. Contoh lagu dengan tangga nada minor diantara adalah:

  1. Lagu Wajib: Mengheningkan Cipta (Truno Prawit), Tanah Airku (Ibu Soed), Bagimu Negeri (R. Kusbini), Ibu Pertiwi (Ismail Marzuki), Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki), Gugur Bunga
  2. Lagu Anak-anak: Ambilkan Bulan (AT Mahmud), Bintang Kejora (AT Mahmud), Kasih Ibu (SM. Muchtar), Kelinciku (Daljono), Kucingku (Pak Kasur)
  3. Lagu Daerah: Bubuy Bulan (Jabar), Kole-Kole (Maluku), Sing Sing So (Maluku), Sarinande (Maluku), Ole Sioh (Maluku), Bubuy Bulan (Jawa Barat)

Tangga Nada Mayor

tangga nada diatonis mayor
Sumber foto : mikirbae.com

Jenis tangga nada ini kebanyakan dipakai untuk lagu-lagu yang suasananya ceria. Sering kita temui dalam lagu-lagu populer saat ini. Susunan nadanya berjarak 1 – 1- ½ – 1 – 1 – 1  – ½. Beda dengan tangga nada minor yang susunan interval nadanya adalah 1 – ½ – 1 – 1 – ½ – 1 – 1. Terlihat ya perbedaannya?

Perbedaan kedua tangga nada itu akan terdengar jelas saat dibunyikan dengan alat musik. Ketika mendengar tangga nada mayor nuansanya akan terasa benar-benar ceria, sebaliknya jika mendengar tangga nada minor yang manapun jenisnya maka suasana jadi cenderung sedih atau melow. Tapi tangga nada minor juga bisa dipakai untuk lagu yang ceria dengan menaikkan temponya.

Itulah menariknya sebuah komposisi musik. Aturan baku memang ada tetapi dalam menciptakan sebuah lagu, penggunaan nada tidaklah kaku. Bisa menyesuaikan dengan keinginan pencipta lagu atau pencipta komposisi.  Contoh Lagu yang bertangga nada Mayor diantaranya adalah:

  1. Lagu Wajib : Bangun Pemudi Pemuda (A. Simanjuntak), Berkibarlah Benderaku (Ibu Soed), Dari Sabang Sampai Merauke (R Soerardjo), Hari Merdeka (Husein Mutahar), Gebyar Gebyar (Gombloh), Maju Tak Gentar, Indonesia Raya, Hari merdeka, Halo-halo Bandung, Indonesia Jaya, Garuda Pancasila, dan Mars Pelajar.
  2. Lagu Anak-anak: Naik Delman (Ibu Sud), Balonku (AT Mahmud), Heli (anjing kecil) (Nomo Kuswoyo), Lihat Kebunku (Ibu Sud), Abang Tukang Bakso (Mamo Agil).
  3. Lagu Daerah: Gundul Pacul (Jawa Tengah),Kampung Nan Jauh DI Mato (Sumbar), Ampar-Ampar Pisang (Kalsel), Manuk Dadali (Jabar),Tokecang (Jabar)

Tangga Nada Kromatis

tangga nada kromatis
Sumber foto : vigiku.blogspot.com

Inilah jenis tangga nada yang terakhir, terdiri dari 12 nada dengan interval setengah nada antar tiap notnya. Sebenarnya tangga nada ini adalah turunan dari tangga nada diatonik mayor. Dimana pada bagian nada yang nilainya 1 di diatonik mayor, dipecah jadi ½ dan ½ pada tangga nada kromatis. Jenis tangga nada ini lumayan banyak dipakai untuk jenis lagu rohani, jazz, blues, pop dan beberapa rock. Contoh lagu dengan tangga nada Kromatis: Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki) dan Bungong Jeumpa (Aceh)

Dari penjelasan di atas kita sudah mempelajari perbedaan jenis tangga nada. Mungkin ada yang masih kesulitan memahami. Tenang saja karena dalam bermusik kita semua berproses. Sedikit tips untuk yang masih kesulitan, baiknya dalam belajar musik kita iringi dengan mempraktekkan teori. Karena dengan mempraktekkan teori semua ilmu atau bahan belajar akan lebih mudah dipahami.

Intinya adalah learning by doing. Mirip seperti saat kita berolahraga, dalam bermusik kita menggunakan muscle memory atau ingatan pada otot dan hearing yang baik. Semua ini bisa dicapai dengan latihan dan praktek secara langsung. Intinya dalam mempelajari musik adalah repetisi sesering mungkin. Sering diulang, sering dipraktekkan maka akan lebih mudah menyerap.

Tidak harus berjam-jam, tetapi cukup dengan cara mengulang sesering mungkin dengan waktu 15-30 menit setiap hari maka proses bermusik kita akan lebih cepat kemajuannya. Dijamin makin sering kita praktek maka akan lebih mudah bagi kita untuk memahami sebuah alat musik.

Tangga Nada Modal

How-to-remember-modes-1
Sumber : flypaper.soundfly.com

Tangga nada modal atau bisa juga disebut sebagai skala modal. Sebelum lebih jauh membahas mengenai Tangga nada modal, kamu sebaiknya mengetahui nama dan jenis Tangga nada modal.

Tangga nada modal terdiri dari Ionian, Dorian, Phrygian, Lydian, Mixolydian, Aeolian, dan Locrian. Kamu harus hapal urutannya ya. Jadi yang pertama adalah Ionian, sampai skala terakhir adalah Locrian. Sebagian skala modal berupa mode mayor sebagian lagi berupa mode minor dan masing-masing menghasilkan nuansa musik yang berbeda-beda.

Untuk lebih mudahnya seperti ini: Tangga nada modal adalah penamaan sesuai urutan berdasarkan nada ke berapa skala itu dimulai. Sekarang kamu coba cek tangga nada yang dimulai dari C=Do. Sehingga akan seperti ini bentuk tangga nadanya: C-D-E-F-G-A-B-C. Dapat kamu lihat bahwa nada pertama dari tangga nada C adalah “C”, nada kedua adalah “D”, nada ketiga adalah “E” dan seterusnya.

Sehingga kita akan mendapatkan bahwa nada C adalah Ionian, nada D adalah Dorian, E adalah Phrygian, F adalah Lydian, G adalah Mixolydian, A adalah Aeolian dan B adalah Locrian.

Sekali lagi perhatikan urutannya ya mulai dari Ionian, Dorian, Phrygian, Lydian, Mixolydian, Aeolian, dan Locrian. Dengan begitu kamu akan bisa menalar bila kalian akan memainkan skala modal dari G Mixolydian artinya tangga nada dasar yang sedang kalian mainkan adalah tangga nada C.

Untuk lebih jelasnya kamu bisa lihat tabel di bawah ini:

tangga nada modal
Sumber : Dokumentasi Penulis

Di saat kamu memainkan tangga nada C, kamu bisa memainkan Tangga nada berdasarkan tabel ini. Misalnya saat bermain di tangga nada C lalu kamu memainkan melodi dari A (minor), maka skala nada A yang kamu mainkan adalah skala Aeolian. Bila kamu memainkan melodi di nada D, maka kamu memainkan skala D Dorian.

Kita ambil contoh misalnya kita memainkan sebuah lagu dengan nada yang dipakai seperti ini: Dm…| G7…| Cmaj7 . Maka nada Dm menggunakan skala dorian, G7 menggunakan skala myxolidian, dan Cmaj7 menggunakan skala ionian. Biasanya skala ini sering ditemui pada musik jazz.

Penggunaan skala ini sering dipakai oleh musisi jazz ketika akan memainkan sebuah komposisi. Jadi misalnya ketika music director atau pimpinan band mengatakan mainkan dari “G Myxolidian” maka seluruh pemain bermain di skala modal itu tanpa meninggalkan root-nya di tangga nada C

Sekarang coba kita ambil contoh lain ya. Misalnya sekarang kamu memainkan tangga nada yang dimulai dari Do=G maka kamu akan mendapatkan tangga nada seperti ini: G – A – B – C – D – E – F# – G’. Nah dengan rumus yang sama maka bila kamu memainkan melodi menggunakan skala modal yang dimulai dari G maka skala yang dipakai adalah G Ionian, A Dorian, B Phrygian, C Lydian, D Myxolidian, E Aeolian, dan F# Locrian.

Rumusannya masih sama seperti yang tertera pada tabel di atas. Jadi bila kamu memainkan E Aeolian artinya kamu memainkan skala modal E di dalam tangga nada G.

Tangga Nada Penuh

c-whole-tone
Sumber: www.jamieholroydguitar.com

Tangga nada Penuh atau bisa juga disebut sebagai skala Penuh. Tangga nada penuh adalah skala nada dimana jarak antar nadanya berjarak satu not penuh. Jadi di dalam Tangga nada penuh ini jarak antar not berjarak 1 seluruhnya tidak ada yang berjarak setengah.

Untuk lebih mudah kamu bisa bandingkan dengan Tangga nada mayor ya. Jarak nada dalam skala mayor memiliki interval nada seperti berikut:  1 , 1 , ½, 1 , 1 , 1, ½. Bila diaplikasikan ke tangga nada C adalah C-D-E-F-G-A-B-C.

Sedangkan pada Tangga nada penuh kamu akan menemukan interval nada berjarak satu not penuh antar not seperti berikut: not asal atau root, 2nd, 3rd, #4, #5, b7. Bila diaplikasikan ke tangga nada Do=C maka bentuknya adalah C, D, E, F#, G#, Bb .

Skala penuh perlu kamu pelajari agar kamu lebih luas pengetahuan tentang not dan akan lebih jauh untuk kamu bereksplorasi nada. Semakin banyak amunisi yang kamu miliki akan semakin baik bukan?

Baca juga: 6 Jenis Suara Manusia yang Harus Diketahui

Sekarang coba kamu eksplorasi lebih jauh ya. Misalnya kamu ingin memainkan tangga nada Do=D dan menggunakan Tangga nada penuh maka Tangga nadanya akan seperti ini:  D, E, F#, G#, A# dan C. Prinsipnya masih sama dengan Do=C diatas. Perhatikan jarak antar nadanya adalah satu not penuh.

2-whole-tone-scales-600x130
Sumber: www.jamieholroydguitar.com

Pemahaman

Dalam mempelajari musik, penting bagi kita untuk memahami berbagai jenis tangga nada. Tangga nada adalah rangkaian nada yang disusun dengan jarak tertentu, dan interval nada menjadi jeda antara satu nada dengan lainnya. Terdapat beberapa jenis tangga nada yang umum digunakan dalam menciptakan musik, antara lain pentatonis, diatonis, kromatis, dan modal.

Tangga nada pentatonis terdiri dari lima nada pokok dan digunakan dalam genre musik seperti rock n’ roll, pop, blues, lagu anak-anak, dan musik tradisional. Ada dua jenis tangga pentatonis yaitu slendro dan pelog, dengan perbedaan dalam jumlah nadanya dan memberikan kesan yang berbeda.

Tangga nada diatonis terdiri dari tujuh nada dengan interval 1 atau setengah. Tangga nada ini sering digunakan dalam musik kontemporer dan sering diajarkan dalam belajar alat musik seperti gitar. Diatonis dibagi lagi menjadi tangga nada mayor dan minor. Tangga nada mayor memiliki susunan interval 1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½, sementara tangga nada minor memiliki variasi yang lebih kompleks.

Tangga nada kromatis terdiri dari 12 nada dengan interval setengah nada antara tiap not. Tangga nada ini sering digunakan dalam musik rohani, jazz, blues, pop, dan rock. Contoh lagu yang menggunakan tangga nada kromatis adalah “Indonesia Pusaka” dan “Bungong Jeumpa”.

Selain itu, terdapat juga tangga nada modal atau skala modal, yang terdiri dari tujuh skala modal dengan nama Ionian, Dorian, Phrygian, Lydian, Mixolydian, Aeolian, dan Locrian. Setiap skala modal menghasilkan nuansa musik yang berbeda-beda.

Dalam mempelajari musik, penting untuk menggabungkan teori dengan praktik. Dengan berlatih secara teratur dan mengulang tangga nada, kita dapat lebih mudah memahami dan menguasai alat musik. Repetisi dan praktek yang sering akan membantu meningkatkan kemampuan musik kita.

Dalam menciptakan komposisi musik, aturan baku tentang penggunaan tangga nada tetap ada, tetapi dalam praktiknya, penggunaan nada bisa disesuaikan dengan keinginan pencipta lagu atau komposer.


Sumber:

Mark DeVoto. Whole-tone Scale. https://www.britannica.com/art/whole-tone-scale

2019. Music Theory Modes. https://en.wikibooks.org/wiki/Music_Theory/Modes

Peter Vogl. 2017. The Guitarist Scale Book: Over 400 Guitar Scale & Modes. https://www.slideshare.net/

Sem Cornelyoes Bangun. 2017. Buku Guru Seni Budaya SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI

Artikel Terbaru

Avatar photo

Ario

Musisi profesional sejak 2005 sebagai drummer session. Sampai saat ini aktif menyediakan entertainment service untuk acara wedding, gathering, juga bermain reguler di rumah makan dan tempat wisata. Berpengalaman menjadi kepala sekolah ELfa Music School Depok tahun 2011 - 2014. Aktif mengajar alat musik drum private offline dan online. Dapat membaca not balok dan mengerti teori musik yang dapat diaplikasikan dengan praktis di lapangan.

Komentar

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *