Sejarah Candi Penataran Secara Lengkap

Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah juga kaya dengan peninggalan bersejarah, baik dari masa hindu-buddha, islam, bahkan peninggalan kolonial juga masih bisa dilihat hingga masa kini. Dari peninggalan-peninggalan bersejarah  tersebut, yang banyak dikenal dan dijadikan objek wisata salah satunya berupa candi. Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai Candi Penataran.

Pernahkah kamu mendengar mengenai Candi Penataran ini? Untuk lebih mengenal mengenai Candi Penataran yuk ikuti materi berikut ini ya.

Letak Candi Penataran

Kompleks Candi ini letaknya terdapat di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa timur. Lokasinya sekitar 11 km dari Blitar, dan jika dilihat dari Surabaya jauhnya kira-kira 178 Km (Lestari, 2007:43).

Letak Candi Penataran juga berada di barat daya lereng Gunung Kelud, yang merupakan Gunung berapi aktif. Berdasarkan asal-usul Candi penataran ini memiliki luas wilayahnya sekitar 12.946 M. Oleh karena itulah candi ini disebut sebagai kompleks, yang terdiri dari 3 halaman.

Letak candi penataran ini berada pada ketinggian sekitar 450 mdpl. Candi ini berada diatas bukit, sehingga memiliki pemandangan yang indah disekitarnya.

Baca juga: 9 Peninggalan Kerajaan Singasari

Sejarah Candi Penataran

Candi Penataran Blitar merupakan candi yang dibangun diatas tanah yang berpotensi sakral sejak masa Kadiri. Hal itu diketahui dari ditemukannya prasasti di wilayah kompleks candi dari masa Kadiri yaitu Prasasti Palah tahun 1197 Saka yang berisi mengenai hadiah sima pada seorang bernama Mpu Iswara Mapanji atas puja yang dilakukan setiap hari kepada Bhatara ri Palah.

Dilihat dari asal-usul Candi Penataran, usianya ini dapat dilihat dari adanya angka tahun pendirian yang biasanya dicantumkan pada bangunan-bangunan pada zaman Majapahit ini. Melihat dari sejarah Candi Penataran, pembangunan Candi Penataran Blitar ini dimulai dari Raja kedua Majapahit yaitu Raja Jayanagara, kemudian dilanjutkan oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi, rajasawarddhana dyah Hayam Wuruk, dan Ratu Suhita.

Hal tersebut diketahui dari dua buah Dwarapala (biasanya diletakan di pintu gerbang) masuk Kompleks Candi yang memiliki angka tahun 1242 saka/1320 M, angka tahun 1239 Saka/1369 M, dan Dwarapala Candi Induk kesemuanya memiliki angka tahun 1239 Saka/1347 M, dan lain-lain. Sehingga dari angka tahun yang ditemukan, kesemuanya dikaitkan dengan 4 raja Majapahit yang menjabat pada tahun itu, yaitu:

  1. Raja Jayanagara (1309-1328)
  2. Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1350)
  3. Raja Hayam Wuruk (1350-1389)
  4. Ratu Suhita (1400-1477).

Asal-Usul Candi Penataran

Penemuan Candi Penataran Blitar sendiri berdasarkan Buku The History of Java karya Sir Stamford Rafles, disebutkan seorang bernama Horsfield yang pernah mengunjungi Kompleks Penataran. Disusul kemudian seorang bernama Rigg yang membuat karya “Tour from Soerabaia” yang dimuat di Journa India Archipelago mengenai struktur bangunannya, hingga kemudian banyak kabar mulai beredar mengenai Candi Penataran, dan kisah mengenai sejarah Candi Penataran meluas di masyarakat.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa bangunan sejarah Candi Penataran ini dibagi menjadi 3 halaman dan terdapat 2 buah kolam suci.

Halaman Pertama Candi

Untuk memasuki kawasan ini bisa melalui pintu gerbang Candi Bentar dengan sepasang Dwarapala sebagai penjaga gerbang. Halaman ini merupakan halaman yang paling luas. Pada halaman ini terdapat dua pendapa teras, yang pertama disebut dengan “bale Agung”, yang membujur dari utara-selatan dengan panjang 37 M x 18,84 M dan tinggi 1,44 M dengan hiasan 10 ekor naga yang yang ada dibagian bawah teras. Pendopo teras kedua ukuranya lebih kecil dari “Bale Agung”, dengan hiasan 8 ekor naga. Pada dindingnya terdapat relief Candi Penataran seperti Bubuksah- Gagangaking, Sri Tanjung, dan Sang Satyawan. Dalam setiap kisah tersebut nantinya memiliki peran dalam memberikan fungsi Candi Penataran dalam memberikan contoh dan nasihat dalam kehidupan nyata manusia.

Pada halaman pertama ini juga terdapat Candi Angka Tahun, yang memuat tahun 1291 saka/1369 M yang terletak di pintu masuk candi. Bentuk dari candi ini langsing dengan ukuran 4,5 M x 5,82 M dengan kaki candi yang pendek. Atapnya meninggi dengan hiasan kubus. Dalam ruang candi terdapat arca Ganesha duduk.

Pada kanan dan kiri candi terdapat arca samabhanga, yang laki-laki berpakaian raya, dengan 4 tangan memegang kapak dan tasbih, dengan dua tangan didepan dada. Archa wanita terdapat di sebelah kiri candi dengan 4 tangan, 2 didepan dada dan 2 memegang aksalama dan tanaman mirip padi.

Halaman Kedua Candi

Merupakan halaman yang paling kecil, dengan adanya bangunan yang disebut dengan Candi Naga dan sisa pintu gerbang untuk menuju halaman pertama dengan sepasang Dwarapala. Pada halaman ini juga terdapat teras dari bata dan batu.

Candi Naga ini dibelit oleh naga. Pada kaki arca terdapat kisah Tantri. Dalam ruangan candi sendiri tidak terdapat arca.

Candi Naga
Sumber: https://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_panataran_27

Halaman III Candi

Pada halaman ini dapat dilalui melalui gerbang yang dijaga sepasang Dwarapala. Halaman ini cukup luas. Pada halaman ini terdapat Candi Induk. Letak Candi Penataran ini berada di pelataran paling belakang yang dianggap paling suci. Bangunan induk ini terdiri dari tiga teras dengan tinggi semuanya 7,19 M.

Candi Induk
Sumber: https://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_panataran_27

Pada teras pertama memiliki bentuk empat persegi dan pada bagian tengah keempat sisnya terdapat bagian yang menjorok keluar. Untuk naik teras pertama ini melaui dua buah tangga kanan dan kiri bangunan dengan arca Dwarapalanya yang memiliki angka tahun 1269 saka/1347 M. Pada dinding teras ini terdapat dipenuhi relief cerita.

Teras kedua memiliki ukuran yang lebih kecil. Pada dinding teras pertama dan kedua ini dipenuhi relief cerita Ramayana dan Khrisnayana yang diselingi hiasan motif medalion.

Teras Ketiga memiliki bentuk bujur sangkar, dengan dindingnya berhiaskan naga bersayap dengan kepala mendongak kedepan serta singa bersayap yang kaki belakangnya posisinya berjongkok (candi.perpusnas.go.id). Selain untuk mengisi dinding kosong, pahatan juga berfungsi sebagai pilar bangunan.

Baca juga: 15 Peninggalan Kerajaan Kediri

Fungsi Candi Penataran

Berdasarkan naskah Bujangga Manik, pada masa itu Rabut Palah banyak dikunjungi oleh banyak orang yang melakukan puja dan belajar agama, sehingga fungsi Candi Penataran pada masa itu adalah untuk puja dan pusat belajar agama. Namun, berdasarkan asal-usul Candi Penataran Blitar ini juga merupakan candi kerajaan yang dibangun dari masa pemerintahan Raja Jayanagara sampai Ratu Suhita.

Dalam kitab Nagarakrtagama, dikisahkan bahwa raja Hayam Wuruk sering melakukan kunjungan ke Candi Palah ini untuk melakukan puja pada Hyang Acalapati yang sering dikenal dengan Raja Gunung/Girindra. Pemujaan tersebut dimaksutkan untuk menghindari bahaya dan mala petaka yang mungkin akan didapat dari Gunung Kelud.

Relief Candi Penataran

Bangunan sejarah Candi Penataran Blitar pada bagian terasnya terdapat rangkaian cerita yang pembacaannya dimulai dari bagian tenggara yaitu Sang Satyawan, dilanjutkan Bubuksah-Gagangaking, dan terakhir ialah Sri Tanjung. Dari kisah tersebut nantinya akan memunculkan fungsi Candi Penataran dalam memberi nasihat kehidupan melalui relief tersebut.

Relief Sang Satyawan

Relief Candi Penataran ini menggambarkan seseorang yang duduk berundak dengan kepalanya yang tertunduk. Didepanya berdiri wanita yang lebih tua. Dalam kisah ini, relief fauna dipahat mengambarkan sebuah perjalanan menggunakan tandu dengan iringan pembantu dan dayang serta adanya hewan anjing sebagai pengikut, dan dalam kehidupan masyarakatnya menggambarkan hewan kambing sebagai piaraan (Setiawan, 2016:264).

Relief Bubuksah-Gagangaking

Menggambarkan pertapa gemuk dengan penutup aurat serta hiasan kepala jatamakuta dan disebelahnya duduk pertapa lainnya yang sedang duduk diatas sebuah batur. Relief fauna pada kisah ini digambarkan dalam bentuk harimau, yang pada kisah ini Gagang-Aking bersedia menyerahkan dirinya untuk dimakan harimau.

Relief Sri Tanjung

Menggambarkan kisah dari Sidapaksa dan Sri Tanjung yang merupakan sepasang suami istri. Dalam kisahnya, Sidapaksa mendapatkan tugas untuk pergi ke kahyangan oleh Raja Sulakrama. Namun disisi lain, saat Sidapaksa pergi dia menggoda Sri Tanjung namun ditolak. Sehingga kemudian Raja Sulakrama memfitnah bahwa Sri Tanjung telah menggodanya dan membuatn Sidapaksa murka dan membunuh istrinya. Ketika akan menghembuskan nafas terakhirnya, Sri Tanjung bersumpah bahwa jika darahnya harum maka ia tidak bersalah dan sebaliknya. Hingga akhirnya darah Sri Tanjung ternyata berbau harum. Sehingga Sidapaksa meminta bantuan Dewi Durga untuk kembali menghidupkan Sri Tanjung.

Relief fauna dalam kisah ini digambarkan melalui Sri Tanjung yang mengendarai ikan, yang menggambarkan arwah Sri Tanjung yang sedang menuju alam baka (arkenas.kemdikbud.go.id).

Di akhir cerita, pada relief Candi Penataran ini digambarkan Sri Tanjung dan Sidapaksa dalam posisi berpelukan. Sehingga dapat disimpulkan bawa akhir kisah ini berakhir bahagia.

Selain di wilayah teras, pada Induk Candi juga penuh dengan relief cerita, seperti kisah Ramayana dan Kresnayana.

Relief Ramayana

Relief Ramayana
Sumber: https://cagarbudayajatim.com/index.php/2020/09/14/cerita-ramayana-dan-dewi-sinta/

Pembacaan relief Candi Penataran Ramayana ini dimula dari sebelah kiri candi. Relief ini mengisahkan mengenai Hanoman Duta dan Hanoman Obong. Kisahnya dimulai dari pengutusan hanuman ke Alengka dan diakhiri dengan gugurnya Kumbakharna. Dalam relief ini, tiap panel dibatasi oleh relief Medalion dengan ukiran binatan dan tumbuhan.

Relief ini didasarkan pada kakawin Ramayana, dimana Hanuman diutus untuk mencari Shinta namun berhasil tertangkap oleh panah Indrajit anak Rahwana. Setelah tertangkap, atas perintah Rahwana, ekor Hanuman dibakar namun berhasil melepaskan diri. Hanuma melarikan diri dengan ekor yang terbakar dan melompat diatas rumah-rumah penduduk yang menyebabkan kebakaran.

Relief Hanuman
Sumber: Buku Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2

Relief Kresnayana

Relief ini terdapat pada candi induk lantai pertama yang dimulai dari penyerangan raksasa Kalyawana, kemudian dilanjutkan dengan kisah Krisna yang menculik rukmini dan diakhiri dengan Krisna dan rukmini yang berada pada sebuah taman.

Baca juga: Contoh Sejarah Sebagai Peristiwa

Berdasarkan materi yang sudah diuraikan, dapat diketahui dari letak Candi Penataran dan asal-usul Candi Penataran Blitar ini merupakan candi terbesar di Jawa Timur dengan luasanya yanng mencapai 12.946 M. Selain itu kompleks candi ini juga terdapat beberapa bangunan lainnya. Selain sebagai kawasan bersejarah, fungsi Candi Penataran juga memberi nasihat pada setiap kisah yang digambarkan dalam relief candi.

Nah, semoga dari uraian materi kali ini bisa membantu kamu untuk lebih mengetahui mengenai Candi ini ya. Jangan lupa untuk tetap belajar dan banyak membaca.


Daftar Rujukan:

Lestari, G. 2007. Mengenal Lebih Dekat Candi Nusantara. Jakarta: Pacu Minat Baca

Setiawan, I., K. 2016. Hubungan Konseptual antara Candi-candi di Jawa Timur dengan Pura di Bali. Jurnal Kajian Bali 06 (01), Dari ojs.unud.ac.id

ARKENAS. Kisah Romansa dari Jawa Kuno Pesan Teruntuk Kisah Asamara generasi Muda Masa Kini (Relief Sri Tanjung). 2020. (Online)

arkenas.kemdikbud.go.id

candi.perpusnas.go.id

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *