Batuan Beku: Pengertian, Klasifikasi dan Contohnya

Pernahkah kamu mengunjungi Candi Borobudur? Candi Borobudur merupakan bangunan dari batu yang tersusun rapi. Batu yang digunakan bukanlah batu sembarangan. Bangunan terbuat dari batu andesit. Batu andesit didapat dari daerah Gunung Merapi. Jadi, batu andesit ini termasuk batuan beku.

Selain itu, masih banyak jenis batuan beku yang dihasilkan dari pendinginan magma. Yuk, kita pelajari bersama sampai tuntas!

Definisi Batuan Beku

batuan beku
sumber: nps.gov

Batuan beku atau igneus rock berasal dari Bahasa Latin, “ignis” yang berarti api. Batuan ini berasal dari magma cair yang mengalami pendinginan. Magma cair di dalam bumi dipengaruhi oleh kekuatan gas menyebabkan magma naik ke tempat-tempat yang lebih rendah di kerak bumi seperti patahan. Magma yang keluar melalui pipa gunung api disebut lava. Namun, ada pula yang membeku jauh di dalam bumi.

Batuan beku merupakan salah satu batuan yang terbentuk dari magma yang membeku dan mengeras. Pengerasan ini dengan atau tanpa proses kristalisasi. Terjadinya bisa di bawah permukaan bumi yang dikenal sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan bumi yang dikenal sebagai batuan ekstrusif (vulkanik).

Baca juga: Materi Iklim

Tekstur Batuan Beku

Tekstur berhubungan dengan kerapatan antar mineral sebagai bagian dari batuan. Tekstur batuan ditentukan oleh  granularitas, kristalinitas, dan hubungan antar kristal.

Kristalinitas

Kritalisasi adalah kecepatan proses pengkristalan suatu batuan beku pada waktu terbentuknya batuan. Kristalinitas digunakan untuk menunjukkan banyak kristal yang terbentuk dan yang tidak berbentuk. Selain itu juga proses kristalisasi ini bisa digunakan untuk menentukan kecepatan pembekuan magma.

Akan terbentuk kristal besar jika pembekuannya lambat. Jika pembekuannya cepat, maka akan terbentuk kristal yang halus. Namun, jika pembekuan berlangsung cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.

a. Holokristalin, yaitu batuan yang tersusun atas kristal. Termasuk batuan plutonik.

b. Hipokristalin, yaitu sebagian batu terdiri atas massa gelas dan massa kristal.

c. Holohialin, yaitu batuan yang tersusun atas materi gelas saja. Tekstur banyak terbentuk sebagai obsidian,  sill, dike, atau fasies lebih kecil.

Granularitas

Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan. Berdasarkan ukuran teksturnya, batuan beku dibedakan atas:

1. Fanerik, memiliki ukuran kristal yang dapat dibedakan satu sama lain secara makroskopis.

Tabel 1. Penggolongan Ukuran Kristal Fanerik

Penggolongan Ukuran Kristal Fanerik

Ukuran Kristal

Halus (fine)< 1mm
Sedang (medium)1-5 mm
Kasar (coarse)5-30 mm
Sangat kasar (very coarse)30 mm

 

2. Afanitik, memiliki ukuran kristal untuk membedakannya diperlukan bantuan lensa. Batuan beku afanitik tersusun atas kristal, gelas, atau keduanya. Dalam analisa mikroskopis dapat dibedakan:

a. mikrokristalin, ukuran kristal ini harus dilihat menggunakan mikroskop karena memiliki ukuran 0,1-0,01 mm.

b. Kriptokristalin, kristal sulit dilihat dengan menggunakan mikroskop karena ukurannya 0,01-0,002 mm.

c. Amorf, kristal tidak bisa dibedakan walaupun menggunakan mikroskop karena ukurannya kurang dari 0,002 mm.

Bentuk Kristal

Bentuk ini sifat suatu kristal dalam batuan, bukan sifat batuan secara umum. Berikut tipe kristal:

a. Euhedral, batas mineral ini merupakan bentuk asli dari bidang kristal.

b. Subhedral, sebagian batas kristal tidak terlihat.

c. Anhedral, mineral tidak punya batas kristal asli.

Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, bentuk kristal digolongkan sebagai berikut:

a. Equidimensional, bentuk kristal tiga dimensi sama panjang.

b. Tabular, bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari dimensi lainnya.

c. Prismitik, bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua lainnya.

d. Irreguler, bentuk tidak beraturan.

Hubungan Antar Kristal

Hubungan antara kristal yang satu dengan yang lain dalam satu jenis batuan. Secara garis besar, hubungan antar kristal dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Equigranular, yaitu ukuran kristal yang membentuk batuan berukuran sama besar.

b. Inequigranular, yaitu jika ukuran kristal yang membentuk batuan tidak sama besar. Mineral yang besar disebut fenokris dan materi lembutnya sebagai matrik. Matrik atau massa dasar ini bisa berupa mineral atau gelas.

Klasifikasi Batuan Beku

Klasifikasi batuan beku secara sederhana didasarkan atas tekstur dan komposisi mineralnya yaitu:

    1. Gelas (glassy), yaitu batuan yang tidak berbutir atau tidak memiliki kristal (amorf).
    2. Afanitik (fine grained texture), yaitu batuan yang berbutir sangat halus dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop.
    3. Fanerik (coarse grained texture), yaitu batuan yang berbutir agak besar sehingga komponen mineral pembentuknya dapat dibedakan secara mata telanjang (megaskopis) tanpa bantuan alat.
    4. Porfiritik, yaitu batuan yang tekstur campuran antara butiran-butian kasar dengan butiran-butiran yang lebih halus.
    5. Fenokrist, yaitu batuan yang butiran halus di sekitar fenokrist disebut massa dasar.

Menurut Russel B Travis, struktur batuan beku dibagi menjadi beberapa golongan yaitu:

    1. Vesikuler, batuan yang mempunyai lubang-lubang sejajar karena penggelembungan gas.
    2. Scoriaceous, batuan yang memiliki lubang-lubang tidak terarah/tidak teratur.
    3. Amigdaloid, batuan yang apabila vesikula terisi oleh mineral-mineral sekunder sesudah pembekuan magma.
    4. Flow, memiliki kenampakan mineral sejajar satu sama lain.
    5. Pumiceous, memiliki lubang-lubang halus sangat banyak tubular dan teratur.

Menurut tempat pembekuan, batuan beku dapat digolongkan atas:

    1. Batuan beku plutonik: yakni batuan yang dihasilkan oleh magma yang membeku di tempat yang dalam sekali di kulit bumi.
    2. Batuan beku hipobisal: yaitu batuan yang dihasilkan dari magma membeku di bawah permukaan kulit bumi dan dangkal.
    3. Batuan beku luar (effusive): jika magma yang membeku berada dipermukaan bumi (lava).

Baca juga: Materi Lapisan Atmosfer

Batuan Beku Dalam (Plutonik)

batuan beku
Batu Granit (sumber: minerva.union.edu)

Batuan beku dalam merupakan batuan yang terbentuk berada jauh di dalam bumi pada lapisan litosfer. Biasanya berada pada kedalaman 15-50 km. Proses pendinginan sangat lambat karena dekat dengan dapur magma yang sangat panas sehingga sebagian besar batuan tersusun atas kristal-kristal.

Ketika magma menuju ke permukaan kulit bumi, proses pembekuan magma berbeda-beda. Hal ini tergantung dari keadaan sekitar seperti jenis, struktur batuan yang dilalui, dan bentuk batuan. Berdasarkan ukuran diameter batuan plutonik dibedakan menjadi dua yaitu:

Plutonik Tebular

sumber: volcano.oregonstate.edu

Batuan ini berukuran relatif kecil dan biasanya dekat dengan permukaan bumi. Contoh:

    1. Sill, yaitu batuan yang memiliki ciri konkordan/selaras dengan bataun di sekitarnya, bentuk tipis tapi luas. Terkadang tebalnya hanya beberapa desi meter. Sill biasanya berupa lembaran lebar yang menyusup di antara dua batuan sedimen.
    2. Dike, yaitu batuan yang memiliki ciri diskordan/memotong lapisan batuan di sekitarnya, tipis dan letaknya dekat atau sampai dipermukaan bumi. Menyusup diantara dua batuan dengan celah sempit tegak atau miring. Lebarnya hanya puluhan meter namun panjangnya bisa mencapai puluhan kilometer.

Plutonik Massif

Batuan beku ini berupa plutonik masih berukuran besar dan letaknya di dalam dekat dengan lapisan mantel. Contoh:

    1. Lakolit, batuan yang berdimensi lebih kecil, konkordan/selaras dengan batuan sekitarnya, dasar rata dan tetap cembung. Letaknya lebih dekat dengan permukaan bumi ± 1-3 km. Biasanya bisa ditemukan di bawah dome (kubah lava).
    2. Batolit, dijumpai di bagian dalam dan posisi diskorkodan serta ukurannya besar. Terbentang minimal 100 km2. Pada umumnya bertekstur granitis. Ditemukan di bawah rangkaian pegunungan besar.

Contoh Batuan Beku:

1. Granit

Batuan beku dalam dengan kristal berbutir kasar sampai sedang. Warna terang mengandung feldspar. Warna putih, kelabu, merah jambu atau merah. Granit dalam bumi terangkat ke permukaan tanah karena erosi dan tektonik. Granit dimanfaatkan untuk bahan pemoles lantai, bahan pengeras jalan, galangan kapal, pondasi serta pelapis dinding.

2. Granodiorit

Granodiorit termasuk batuan beku dalam, mineral berbutir kasar sampai sedang, warna terang. Batu granodiorit biasanya dimanfaatkan untuk  pengeras jalan, pondasi dan lain-lain.

3. Diorit

Diorit termasuk batuan beku dalam, mineralnya berbutir kasar sampai sedang, dan warnanya agak gelap. Diorit  banyak terdapat di alam. Biasanya dimafaatan untuk pengeras jalan, pondasi dan sebagainya.

4. Gabro

Gabro berwarna hitam, mineralnya berbutir kasar sampai sedang. Batuan gabro banyak dimanfaatkan untuk pondasi, lantai, pengeras jalan, dan pelapis dinding.

Batuan Beku Korok (Hypobisal)

sumber: minerva.union.edu

Tempat terbentuknya di kepundan gunung api, proses pendinginannya lebih cepat dibandingkan dengan batuan beku dalam sehingga kristal yang terbentuk tidak sempurna. Kristal-kristal yang tak sempurna ini bercampur dengan matriks dasar membentuk struktur porforitik. Contoh: granit porfiri, diorite porfiri, granodiorit porfiri, dan andesit profiri.

Granit porfiri disebut juga gang (batuan instrusi). Magma yang mempunyai susunan materi granit ini membeku dalam sebuah gang. Karena tekstur granit tersebut porfotitil, maka disebut dengan granit porfiri.

Batuan Beku Luar (Extrusive)

Sumber: britannica.com

Magma yang menerobos ke permukaan bumi dan membeku di sana sehingga membentuk batuan beku luar. Pembekuan yang cepat menyebabkan magma membentuk kristal-kristal sangat halus, contohnya batu andesit dan riolit. Bahkan, ada batuan beku luar yang tidak mempunyai kristal, contohnya, batu apung dan batu obsidian.

Ciri-Ciri Batuan Beku Luar:

  1. Memiliki butir kristal yang halus bahkan pondasi dan bahkan tidak membentuk kristal (amorf)
  2. Adanya lubang-lubang bekas gas.
  3. Tekstur aphanitis (kristal yang halus dan amorf).

Pengelompokkan Batuan Beku Luar

Berdasarkan struktur lava yang terbentuk, dapat dikelomokkan menjadi tiga:

    1. Lava blok (bongkah), yaitu lava yang mempunyai permukaan kasar baik ukuran kecil atau besar.
    2. Lava tali, adalah lava yang permukaannya licin berkerut seperti tali tambang.
    3. Lava berstruktur bantal, berbentuk lonjong dan permukaan licin berlubang-lubang.

Menurut Hamblin dan Howard (1971), batuan beku luar mudah ditemukan di sekitar kita. Contoh batuan beku luar adalah:

    1. Obsidian, merupakan batuan dengan gelas fulkanik yang masif, berwarna cerah dan mengkilap jika banyak mengandung magnetik. Lainnya ada yang berwarna kuning, merah, atau coklat karena komposisi magnetik dan hematit.
    2. Pumice, merupakan batuan luar yang tersusun atas materi gelas vulkanik yang berstruktur.
    3. Tuff, merupakan bagian dari gunung berapi dengan ukuran butir kurang dari seperempat inci.
    4. Vulcanic breccia, fragmen yang bentuknya runcing dengan ukuran seperempat sampai dua inci.
    5. Agglomerates, berupa bongkahan vulkanis yang runcing dan bulat berujuran kurang dari dua inci

Selanjutnya Wentworth dan Williams (1932 dalam Soetoto, 1981) membagi batuan beku luar menjadi:

    1. Volcanic breccia, berupa material vulkanik dengan ukuran lebih dari 32 mm dan bentuknya runcing.
    2. Agglomerates , berupa batuan vulkanis dengan ukurang lebih dari 32 mm dengan bentu bulat.
    3. Lapilli tuff, batuan vulkanik yang berukuran antara 4- 32 mm atau biasa disebut batu kerikil.
    4. Tuff, batuan vulkanik yang berukuran antara 0,25 – 4 mm
    5. Fine tuff, batuan vulkank yang mempunyai partikel halus, berukuran kurang dari ¼ mm.

Contoh Batuan Beku Luar

Batu kaca (Obsidian)

Batu kaca merupakan batuan yang tidak memiliki susunan dan kristal (metamorf). Batuan ini terbentuk akibat lava membeku tiba-tiba. Batu kaca berwarna coklat, kelabu, kehitaman atau putih seperti kaca. Batuan ini untuk membuat mata lembing dan mata panah saat zaman purba.

Batu apung

Batu apung terbentuk dari lava yang mengandung gas. Cairan lava membeku secara cepat sehingga keluarlah gas. Jalan keluar gas tersebut akhirnya membentuk lubang-lubang. Lubang-lubang bekas gas menyebabkan batu apung ringan. Gunung Krakatau salah satu gunung yang menghasilkan batu apung di Indonesia. Batu apung dapat digunakan untuk memperhalus kayu.

Basal

Basal merupakan batuan leleran dari batuan gabro, mineralnya berbutir halus dan berwarna hitam. Batuan basal berbentuk lembaran, biasanya bisa digunakan untuk batu tempel pada bangunan. Basal umumnya berlubang karena bekas dari keluarnya gas saat proses pembekuan. Batu basal banyak dimanfaatkan untuk pengeras jalan, pondasi, bendungan, dan bangunan lainnya.

Andesit

Andesit merupakan batuan leleran diorit, mineralnya halus, komposisi sama dengan diorit, warnanya kelabu. Gunung api di Indonesia umumnya mengeluarkan batuan andesit dalam bentuk lava maupun piroklastika.

Batuan mengandung mineral piroksin. Andesit digunakan untuk pengeras jalan, pondasi, bendungan, konkresi beton, dan yang berstruktur lembar banyak digunakan sebagai batu tempel.

Baca juga: Materi Tenaga Endogen

Demikian penjelasan tentang materi batuan beku. Terdapat berbagai jenis batuan beku di alam ini. Semoga penjelasan di atas bisa menambah pengetahuanmu ya. Salam Geografi!


Sumber:

Gatot Harmanto. (2016). Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Bandung: Penerbit Yrama Widya.

Nandi. (2010). Handout Geologi Lingkungan: Batuan, Mineral, dan Batu Bara. Bandung: UPI

Zuhdi, Muhammad. (2019). Buku Ajar Pengantar Geologi. Duta Pengantar Ilmu: Lombok

Artikel Terbaru

Avatar

Anava

Seseorang yang menyukai pengetahuan dengan moto hidup ingin bertumbuh bersama lingkungan sekitar. Dia sekarang seorang pendidik, pengajar, dan pembelajar yang sudah lebih dari 8 tahun di bidang pendidikan. Mata Pelajaran Geografi dan Biologi sedang selami saat ini.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *