Home Investasi Tingkatan Investor Menurut Robert T. Kiyosaki

Tingkatan Investor Menurut Robert T. Kiyosaki

Tentu kita sudah tidak asing dengan istilah ‘investor’. Apa yang dimaksud dengan ‘investor’? Secara umum, investor adalah setiap orang atau entitas lain (seperti perusahaan atau reksa dana) yang mengalokasikan modal atau melakukan investasi. Ini dilakukan dengan harapan menerima pengembalian keuangan di masa depan atau untuk mendapatkan keuntungan.

Investor bergantung pada instrumen keuangan yang berbeda untuk mendapatkan tingkat pengembalian tertentu. Mereka ingin mencapai tujuan keuangan penting, seperti tabungan pensiun, mendanai pendidikan anak, atau mengumpulkan kekayaan tambahan dari waktu ke waktu.

Investor dapat menanamkan modal di berbagai macam jenis investasi untuk mencapai tujuan. Investor dapat menganalisis peluang dari berbagai sudut, dan umumnya lebih suka meminimalkan risiko sambil memaksimalkan pengembalian.

Tipe-Tipe Investor Menurut Robert T. Kiyosaki

cashflow quadrant
Sumber: tokopedia.net

Setelah mengetahui apa itu investor dan apa yang dilakukannya, ternyata investor memiliki tipe yang berbeda-beda. Dalam bukunya yang berjudul “Cashflow Quadrant: Guide to Financial Freedom“,  Kiyosaki mengklasifikasikan investor ke dalam 5 tingkatan investor. Dari ke 5 tingkatan ini, kita dapat mengidentifikasi dimana posisi kita sebagai orang yang memiliki dan mengelola uang berada. 5 tingkatan investor menurut Kiyosaki adalah sebagai berikut:

Tingkatan 1: Tingkat Kecerdasan Keuangan Nol

Tipe orang yang masuk dalam tingkatan investor paling bawah ini adalah orang-orang yang tidak memiliki apapun untuk diinvestasikan. Mereka cenderung menghabiskan pendapatan yang mereka miliki sehingga tidak memiliki cukup uang lagi untuk diinvestasikan.

Bahkan tidak jarang mereka menghabiskan uang lebih dari besaran pendapatan yang mereka miliki sehingga harus berhutang. Ataupun berani membeli barang-barang konsumsi yang mengharuskan mereka untuk membayar cicilan tiap bulan. Selain itu, mereka tidak juga memiliki aset berharga apapun yang dapat dijadikan sebagai investasi.

Orang-orang yang masuk dalam golongan tingkatan 1 ini merupakan mereka yang tidak memiliki pengetahuan finansial yang baik. Tidak hanya orang-orang yang berpenghasilan rendah, masih banyak orang dengan penghasilan tinggi yang juga masuk dalam golongan ini. Berapapun penghasilan yang didapatkan, mereka tidak dapat mengendalikan pengeluaran mereka sehingga akan terus menghabiskannya.

Ketika ada masalah keuangan yang mendesak, mereka akan cenderung meminjam uang atau berhutang kepada pihak lain sebagai jalan keluar. Mereka tidak memiliki ‘waktu’ untuk mengurus investasi karena masih berkutat pada bagaimana menutup pengeluaran yang tidak ada habisnya. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan akan mengatur finansial pribadi mereka.

Tingkatan 2: Tingkat “Penabung adalah Tipe Pecundang”

Sumber: www.sgs.com

Tingkatan selanjutnya atau tingkatan 2 diisi oleh orang-orang dengan tipe yang berkebalikan tipe dari sebelumnya. Disini, orang-orang mulai menyadari bagaimana mengatur dan menyimpan uang dengan baik. Berbeda dengan sebelumnya, mereka tidak suka berutang dan tidak mau mengambil risiko finansial apa pun. Mereka cenderung menghemat sejumlah uang dan tertarik untuk menyimpannya pada aset berisiko rendah dengan pengembalian rendah seperti Deposito Tetap.

Meskipun begitu, mereka yang termasuk ke dalam golongan ini lebih suka menyimpan uang daripada menginvestasikannya. Para penabung menghabiskan waktu mereka untuk mencoba menabung uang daripada belajar cara berinvestasi. Padahal, walaupun uang terus ditabung dalam masa yang lama, meskipun jumlahnya banyak tetap dapat merugi karena terdapat risiko inflasi.

Inflasi memungkinkan keadaan harga-harga secara umum meningkat dan terjadi secara terus menerus atas berbagai faktor. Harga nasi sejumlah Rp3.000 mungkin akan menjadi Rp5.000 di waktu yang akan mendatang. Sedangkan uang yang ditabung jumlahnya tidak berkembang. Hal inilah yang membuat para penabung menjadi pecundang ketika mereka hanya terus-menerus menabung dan memarkirkan uangnya.

Tingkatan 3: Tingkatan Investor “Saya Terlalu Sibuk”

Mirip dengan tingkatan 2, tingkatan ini juga diisi oleh orang-orang yang dianggap paham bagaimana mengatur finansial dengan baik. Hanya saja, bedanya dalam tingkatan ini mereka sudah menjadi investor karena tidak hanya menabung, mereka juga sudah mulai berinvestasi. Investasi dilakukan pada instrumen berisiko, seperti saham, obligasi, reksadana, asuransi, dan dana yang diperdagangkan di bursa. Mayoritas dari mereka memiliki latas belakang yang berpendidikan tinggi dan cerdas.

Hanya saja, orang-orang yang berada pada golongan ini berinvestasi tanpa tahu apa-apa tentang uang dan tidak paham dalam hal berinvestasi. Mereka tidak memiliki keinginan untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana mengendalikan uang dan bagaimana investasi itu bekerja untuk uang. Atau dengan kata lain, mereka tidak akan repot-repot melakukan apa pun tentang uang yang mereka investasikan.

Mereka akan lebih memilih untuk membiarkannya diam di suatu tempat tanpa melakukan apa pun. Hal ini tentu berisiko karena mereka berinvestasi tanpa tahu apa-apa. Jika instrument investasi yang mereka pilih sedang down dan membuat semua uang mereka hilang, maka tentu mereka akan kehilangan segalanya. Beda halnya ketika mereka mau belajar dan mengetahuinya, mungkin dapat dilakukan tindakan pencegahan sesegera mungkin.

Tingkatan 4: Tingkat “Saya Adalah Investor Profesional”

Orang-orang yang termasuk ke dalam golongan profesional merupakan orang-orang yang memiliki pengetahuan keuangan yang solid dan terlibat dalam strategi investasi yang lebih agresif. Mereka menghasilkan pendapatan lebih banyak dari apa yang mereka belanjakan.

Mereka terus mencari informasi lebih lanjut ketika datang untuk berinvestasi. Lebih lanjut, mereka berhati-hati ketika berinvestasi, tetapi tidak bersikap sinis. Dianggap telah memiliki kebiasaan uang yang baik dan memiliki rencana investasi jangka panjang untuk mencapai tujuan keuangan mereka.

Sebagian besar jutawan di Amerika berasal dari golongan ini. Sangat sedikit orang yang menginvestasikan waktu untuk belajar dan mengelola uang mereka sendiri. Kunci kesuksesan di tingakatan 4 adalah belajar seumur hidup, guru yang hebat, pelatih hebat, dan teman yang berpikiran sama.

Mereka umumnya sangat konservatif dengan kebiasaan keuangan yang seimbang. Dengan cermat mereka menghabiskan waktu untuk belajar tentang investasi dan membuat keputusan yang bijaksana ketika melakukan investasi. Mereka memahami pentingnya meminimalkan hutang, hidup sesuai kemampuan mereka dan terus meningkatkan aset mereka.

Orang-orang dengan kemampuan ini dapat menghasilkan return hingga lebih dari 25% dari jumlah yang mereka investasikan. Mereka berfokus untuk terus mengembangkan basis aset mereka, dan memiliki saham pengendali di perusahaan.

Tingkatan 5: Tingkat “Sang Kapitalis”

investor
Sumber: asscompact.de

Menurut Kiyosaki, menjadi golongan di tingkatan 5 ini seperti berada di puncak dunia. Sangat sedikit orang yang mampu mencapai tingkatan Kapitalis yang merupakan level keunggulan dalam berinvestasi. Mereka berusaha untuk menghasilkan lebih banyak uang dengan cara memanfaatkan dan mengelola semua uang, waktu, dan bakat orang lain secara sinergis.

Biasanya, orang-orang ini merupakan mereka yang memiliki bisnis dan investasi besar. Mereka adalah penggerak ekonomi dunia dengan menciptakan lapangan kerja dan barang. Mereka biasanya merupakan konglomerat di negaranya. Dalam setiap investasi yang dilakukan, mereka bisa saja mendapatkan return sampai dengan 100% dari jumlah yang mereka investasikan.

Pada akhirnya, Robert Kiyosaki menekankan bahwa bagi siapa pun yang ingin menjadi investor di tingkat 5 atau tingkat terunggul ini, kita harus mengembangkan keterampilan di tingkatan 4 terlebih dahulu. Tingkatan 4 ini tidak pernah bisa dilewati begitu saja. Jadi, kira-kira di tingkatan mana posisimu berada?


Sumber:

Robert T. Kiyosaki. 2001. Cashflow Quadrant: Panduan Mencapai Kebebasan Keuangan. Gramedia: Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Pakaian Adat Kalimantan Utara Serta Penjelasannya

Kalimantan Utara tergolong salah satu provinsi yang baru terbentuk sejak proses pemekaran dari Kalimantan Timur yang dilakukan pada awal tahun 2000-an. Meskipun terbentuknya provinsi...

Pakaian Adat Sulawesi Barat Serta Pembahasannya

Sebuah pakaian pastinya mempunyai fungsi utama sebagai penutup tubuh. Namun, terkadang suatu pakaian juga mempunyai fungsi lainnya seperti pada pakaian adat yang punya fungsi...

Pakaian Adat Sulawesi Tengah Serta Penjelasannya

Berlokasikan di tengah Pulau Sulawesi, Sulawesi Tengah ternyata mempunyai wilayah terluas dari wilayah Sulawesi Lainnya. Luasnya wilayah yang dimiliki oleh Sulawesi Tengah ini membuat...

Contoh Bioteknologi dalam Kehidupan

Apakah kamu suka minum yoghurt? Tahukah kamu jika yoghurt itu adalah contoh produk dari bioteknologi? Lalu, apakah kamu tahu apa bioteknologi itu? Di SMP kamu...

Gerak Lurus

Gaya merupakan penyebab perubahan pada benda. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan gerak benda, termasuk kelajuannya dan arah kelajuan atau perubahan kecepatan. Namun dalam fisika...