Mengenal Supervisi Pendidikan

Halo lagi readers tambahpinter! Sesuai dengan judul artikelnya, maka artikel kali ini akan membahasa mengenai supervisi pendidikan – dari mulai pengertian, fungsi, jenis kegiatan, ciri-ciri, jenisnya, dll.

Mungkin dari beberapa readers ada yang merasa asing dengan istilah supervisi? Atau mungkin diantara readers juga sudah sering dan malah memahami pengertian dari kata supervisi?

Namun, sebenarnya apasih supervisi pendidikan? Apakah para guru dan kepala sekolah? Jawaban readers kurang tepat jika menjawab demikian. Karena, para guru dan kepala sekolah adalah pelaksana dari supervisi pendidikan, sehingga mereka disebut dengan supervisor.

Untuk memahami lebih lanjut, yuk kita baca artikelnya!

Pengertian Supervisi Secara Umum dan Supervisi Pendidikan

Pengertian Supervisi
Sumber : Gerd Altmann dari Pixabay

Supervisi adalah proses penerapan pekerjaan yang sudah dilakukan, menilai hingga mengoreksi pekerjaan tersebut dengan tujuan agar pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan rencana (Manullang, 2005).

Menurut Priansa (2014) supervisi adalah usaha dalam membuat pelayanan guru terhadap peserta didik dapat berkembang menjadi lebih profesional.

Lebih lanjut, Purwanto (2010) supervisi adalah bantuan dari pimpinan sekolah untuk mengembangkan kepemimpinan para guru serta personel sekolah lainnya untuk mencapai tujuan dalam pendidikan.

Berdasarkan pengertian supervisi dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa supervisi adalah suatu usaha atau bantuan dari pimpinan sekolah untuk para guru serta personal sekolah lainnya dalam mengembangkan profesionalitas melayani peserta didik melalui proses penerapan pekerjaan, penilaian, dan mengoreksi pekerjaan tersebut.

Sementara itu, supervisi pendidikan adalah pembinaan yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pendidikan (Ametembun, 2007).

Ciri-ciri Supervisi

Pada umumnya, supervisi bersifat ilmiah dengan ciri-ciri sebagai berikut (Sahertian, 2008):

  1. Sistematis, supervisi dilakukan dengan perencanaan, teratur, dan juga terus-menerus.
  2. Objektif, supervisi dilakukan sesuai dengan hasil data yang didapatkan dari observasi.
  3. Menggunakan instrumen untuk mendapatkan umpan balik berupa informasi yang mendukung langkah-langkah perbaikan di masa mendatang.

Macam-macam Supervisi

Menurut Suhardan (2010) terdapat tiga macam supervisi yang ditinjau berdasarkan objeknya, sebagai berikut:

  1. Supervisi administrasi, yaitu supervisi yang berfokus terhadap pengamatan supervisor mengenai aspek-aspek administrasi untuk mendukung proses pembelajaran.
  2. Supervisi akademik, yaitu supervisi yang berfokus terhadap masalah-masalah dalam bidang akademik, terkait erat dengan lingkungan belajar untuk mendukung proses pembelajaran.
  3. Supervisi lembaga, yaitu supervisi lembaga yang berfokus pada pengamatan supervisor terhadap aspek-aspek yang ada di pusat madrasah. Terkait hal tersebut, tujuan dari adanya supervisi lembaga adalah meningkatkan kinerja maupun nama baik dari lembaga madrasah.

Tujuan Supervisi Pendidikan

Menurut Ametembun (2007), tujuan utama dari supervisi pendidikan adalah mengembangkan situasi belajar-mengajar yang lebih baik. Dalam mencapai tujuan tersebut terdapat 8 tujuan yang harus dicapai terlebih dahulu, yaitu:

  1. Memperbesar kapasitas kesanggupan dari kepala sekolah serta guru-guru untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif.
  2. Melakukan pembinaan terhadap kepala sekolah dan para guru agar lebih memahami tujuan pendidikan serta peranan sekolah dalam mencapai tujuan tersebut.
  3. Melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran kepala sekolah, para guru, serta warga sekolah agar bersikap lebih demokratis, kooperatif, dan saling tolong-menolong.
  4. Membantu kepala sekolah dan juga para guru dalam melakukan diagnosis aktivitas dan kesulitan belajar-mengajar yang dialami serta membuat perencanaan untuk memperbaiki hal tersebut.
  5. Membantu para pimpinan sekolah dalam mempopulerkan sekolah ke dalam jaringan masyarakat untuk menunjang pengembangan program-program pendidikan.
  6. Meningkatkan motif pencapaian para guru untuk dapat mencapai peningkatan mutu keahlian secara maksimal.
  7. Membantu mengevaluasi aktivitas kepala sekolah dan para guru yang bertujuan untuk mengembangkan aktivitas peserta didik.
  8. Mengembangkan adanya rasa kolegalitas antar para guru.

Fungsi Supervisi Pendidikan

Fungsi Supervisi Pendidikan
Sumber : Sasin Tipchai dari Pixabay

Fungsi utama dari supervisi pendidikan adalah untuk meningkatkan efektivitas kondisi belajar dan mengajar. Berkaitan dengan hal tersebut, Sahertian (2008) menjabarkan adanya 8 poin fungsi supervisi pendidikan, yaitu:

  1. Melakukan analisis terhadap kondisi belajar dan mengajar.
  2. Secara kontinu memberikan fasilitas dan juga penilaian.
  3. Menambah pengalaman guru-guru.
  4. Melakukan koordinasi terhadap usaha-usaha sekolah.
  5. Menstimulasi kreatifitas untuk mengembangkan usaha-usaha sekolah.
  6. Memberikan keterampilan dan pengetahuan untuk setiap karyawan di sekolah.
  7. Memperluas wawasan dan mengintegrasikan wawasan tersebut untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta kemampuan guru dalam mengajar peserta didik.
  8. Membuat kepemimpinan disekolah semakin lengkap.

Jenis Kegiatan Supervisi Pendidikan

Berdasarkan fungsi supervisi pendidikan diatas, maka supervisor dalam supervisi pendidikan memiliki jenis kegiatan yang berbeda tergantung dengan peranannya yang dibagi ke dalam 4 kelompok, yaitu (Sahertian, 2008):

  1. Berperan sebagai koordinator, maka memiliki kegiatan: melakukan koordinasi untuk kegiatan belajar dan mengajar serta koordinasi tugas-tugas para staff maupun guru yang berbeda-beda.
  2. Berperan sebagai konsultan, maka memiliki kegiatan: memberikan bantuan, berupa konsultasi terhadap guru-guru, baik secara individu atau kelompok terhadap masalah yang sedang dialami.
  3. Berperan sebagai pemimpin kelompok, maka memiliki kegiatan: memimpin staff-staff maupun guru-guru dalam mengembangkan potensi untuk pengembangan kurikulum, kebutuhan profesional, maupun materi pembelajaran.
  4. Berperan sebagai evaluator, maka memiliki kegiatan: membantu para guru dalam melakukan penilaian terhadap hasil maupun proses belajar dan mengajar.

Ciri-Ciri Supervisi Pendidikan

Menurut Sahertian (2008), terdapat 4 model yang berkembang dalam supervisi pendidikan dengan ciri-cirinya masing-masing, yaitu:

Model Ilmiah

Supervisi model ilmiah memiliki ciri-ciri: dilakukan berdasarkan data-data objektif yang sudah terkumpul, menggunakan perencanaan, prosedur, dan teknik yang sebelunya sudah ditentukan.

Misalnya, data hasil pengamatan dari proses belajar dan mengajar yang terjadi dikelas, kinerja para guru, prestasi belajar dari peserta didik, dll.

Model Tradisional / Konvensional

Supervisi model tradisional atau konvensional dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat dalam kekuasaan otoriter maupun feodalistik. Ciri-ciri dari model ini adalah memata-matai serta mencari kesalahan bawahan (disebut dengan snoopervision).

Efek negatif yang ditimbulkan oleh model ini adalah perilaku yang acuh tidak acuh untuk mencari solusi serta inovasi dalam mengembangkan pendidikan.

Model Artistik

Supervisi model artistik adalah kegiatan untuk menggerakan orang lain, karena supervisi model ini sangat berkaitan erat dengan bekerja untuk orang lain atau dengan kata lain pekerjaan yang melibatkan orang lain dalam prosesnya.

Untuk itu, ciri dari model artistik adalah adanya kiat-kiat serta seni yang dapat mengubah kebiasaan lama seseorang menjadi kebiasaan baru untuk mendukung kemajuan dalam bekerja.

Model Klinis

Supervisi model klinis digunakan untuk meningkatkan kualitas dari proses belajar melalui siklus yang sistematis, rutin, serta terencana dengan melakukan pengamatan, analisis, serta evaluasi.

Supervisi model klinis memiliki ciri-ciri sebagai berikut: memiliki inisiatif terhadap apa yang disupervisi – dimana hal ini timbulnya dari guru, adanya hubungan kemitraan yang baik antara supervisor dan supervisi, serta dilakukan dengan penuh keakraban dan manusiawi.

Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan

Menurut Sahertian (2008) terhadap prinsip-prinsip supervisi pendidikan agar pelaksanaan supervisi pendidikan dapat berjalan dengan baik, yaitu:

Prinsip Ilmiah Mempunyai Tiga Ciri

    1. Setiap kegiatan supervisi dilakukan dengan sistematis dan terencana.
    2. Kegiatan supervisi dilakukan sesuai dengan data objektif yang didapatkan dari proses belajar dan mengajar.
    3. Menggunakan alat perekam data (misalnya: angket, percakapan pribadi, hingga observasi, dll) dalam mendapatkan data.

Prinsip Kerjasama

Pada prinsip ini adanya usaha dengan cara melakukan kerjasama atau dalam istilah supervisi disebut dengan “sharing idea”, mendukung serta menstimulasi para guru agar bertumbuh bersama-sama.

Prinsip Demokratis

Adanya pelayanan serta bantuan terhadap para guru karena rasa kemanusiaan dan kehangatan, sehingga tidak ada istilah atasan dan bawahan – karena pada dasarnya prinsip ini akan membuat para guru merasa aman dalam mengembangkan berbagai tugas yang dijalani.

Prinsip Konstruktif serta Kreatif

Dalam prinsip ini, setiap guru akan termotivasi untuk mengembangkan potensi mereka, jika supervisi pendidikan dapat menciptakan kondisi kerja yang menyenangkan, dengan kata lain tidak menggunakan cara-cara yang menakutkan.

Jadi, bagaimana readers tambahpinter? Sudah memahami apa itu supervisi pendidikan dong tentunya setelah membaca aritkel ini. Dari beberapa poin diatas mengenai supervisi pendidikan, readers tambahpinter poin mana yang menjadi bahasan favorite?


Sumber

Ametembun, N. A. (2007). Supervisi pendidikan disusun secara berprogram. Bandung : Suri.

Manullang, M. (2005). Dasar-dasar manajemen. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Priansa, D. J. (2014). Manajemen supervisi & kepemimpinan kepala sekolah. Bandung : Alfabeta.

Purwanto, N. (2010). Administrasi dan supervisi pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sahertian, P. A. (2008). Konsep dasar & teknik supervisi pendidikan : dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. Jakarta : Rineka Cipta.

Suhardan, D. (2010). Supervisi profesional. Bandung : Alfabeta.

Artikel Terbaru

Priskila

Priskila

Priskila Theadora merupakan sarjana psikologi lulusan Universitas Gunadarma. Memiliki prinsip bahwa setiap orang mempunyai alasannya masing-masing untuk menghasilkan sebuah keputusan atau berperilaku. Hobi menulis yang ditekuninya dari sejak kecil ternyata membuat Priskila semakin komunikatif dalam menulis beberapa hal yang sudah dipelajari pada waktu kuliah dan berlanjut hingga sekarang.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *