Sejarah Kerajaan Pajajaran Sejak Berdiri Sampai Keruntuhan

Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah dengan banyak sejarah mengenai kerajaan didalamnya. Salah satu Kerajaan tersebut ialah Pajajaran. Pernahkah kamu mendengar mengenainya? Nah, Kerajaan Pajajaran ini memiliki sejarah yang cukup panjang loh, dimulai dari berdiri hingga munculnya konflik-konflik yang menjadi sebaba keruntuhanya. Terdengar sama dengan kisah-kisah kerajaan lainnya, yang pada akhirnya akan mengalami masa keruntuhnya. Namun, setiap kerajaan memiliki sejarah yang khas dan berbeda-beda. Untuk  mengetahui mengenai sejarah Kerajaan Pajajaran lengkap, yuk simak materi berikut ini ya.

Sejarah Kerajaan Pajajaran

Merupakan Kerajaan Sunda terakhir yang pernah dipimpin oleh raja yang terkenal di kalangan masyarakat, bahkan hingga saat ini yaitu Prabu Siliwangi. Kerajaan Pajajaran sendiri merupakan nama lain dari Kerajaan Sunda Galuh. Hal tersebut dikarenakan, pada masa itu ada kebiasaan menyebut suatu kerajaan dengan nama ibu kotanya, yang dala kerajaan ini ialah Pakuan Pajajaran. Tidak ada yang tahu pasti kapan kerajaan ini berdiri. Namun berdasarkan prasasti Sang Hyan Tapak, kerajaan ini didirikan oleh Sri Jayabhupati pada tahun 923 M.

Dalam kehidupan politik Kerajaan Pajajaran Sunda memiliki bentuk pemerintahan federal dengan membawahi kerajaan-kerajaan kecil atau biasanya disebut dengan istilah vassal. Tiap-tiap kerajaan tersebut dipimpin oleh raja kecil, beberapa diantaranya seperti Sangiang, Banten, Cirebon, Sindangkasih, Galuh, Saunggalang, Kawali, serta Pakuan. Tiga kerajaan diantaranya pernah diidentifikasi menjadi Letak kerajaan pajajaran  dengan ibu kota yaitu Galuh, Pakuan, dan Kawali. Hal tersebut dikarenakan, disebutkan bahwa Kerajaan Sunda ini memang sering berpindah pusat ibu kotanya.

Kejayaan Kerajaan Pajajaran

Disebutkan dalam sejarah kerajaan pajajaran sunda ini mencapai puncak kejayaan pada saat dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja atau yang sering disebut dengan Prabu Siliwangi pada sekitar  tahun 1482-1521. Hal tersebut sesuai dengan catatan Tom Pires yang berkunjung sekitar tahun 1513, dimana kerajaan sedang dalam masa kejayaannya dan kehidupan penduduknya makmur.

Dalam sejarah kerajaan pajajaran lengkap ini, Sri Baduga Maharaja merupakan cucu dari Prabu Wastukencana yang bertahta sebagai raja Kerajaan Galuh, dimana sebelum meninggal ia membagi kerajaan pada kedua putranya. Kerajaan Sunda di bagian barat diberikan pada Susuktunggal, sedang kerajaan Galuh bagian timur diserahkan pada Dewaniskala. Pembagian itu akhirnya disepakati dengan menjadikan sungai Citarum sebagai perbatasanya.

Peta Pajajaran
Sumber: historyofcirebon.id

Hingga pada akhir tahun 1400 M, ketika Majapahit mulai melemah akibat perang saudara, para kerabat kerajaan tersebut mengungsikan diri ke Galuh dan diterima dengan baik oleh Raja Niskala. Bahkan sang raja juga menikahi salah satu anggota kerajaan Majapahit tersebut. hal itu membuat Raja Susuktunggal marah, karena Raja Niskala dianggap melanggar kesepakatan untuk tidak berhubungan dengan Majapahit. Dimana kesepatakan tersebut bermula dari terjadinya Perang Bubat antara Majapahit dan Sunda sebelumnya.

Konflik tersebut pada akhirnya reda dengan turun tahtanya kedua raja tersebut demgan menunjuk penerusnya. Kedua Raja ini menujuk Jayadewata (Prabu Siliwangi) sebagai penggatinya. Jayadewata yang merupakan anak dari Raja Niskala juga merupakan menantu dari Raja Susuktunggal. Sehingga setelah ia ditunjuk, maka kedua kerajaan tersebut bersatu kembali.

Dalam kehidupan politik Kerajaan Pajajaran, setelah menjadi raja, ia memindahkan ibu kotanya ke Pakuan. Pemilihan lokasi ini sebagai Letak kerajaan pajajaran sunda dilihat dari kondisi geografis yang bisa dikatakan dapat dijadikan sebuah benteng alami. Pakuan terletak di antara dua sungai besar, yaitu Ciliwung dan Cisadane, yang pada bagian tengahnya mengalir sungai cipakancilan. Pakuan juga dikelilingi tebing curam pada ketuga sisinya. Sehingga hal inilah yang menjadikan alam sebagai benteng alami kerajaan Sunda Pajajaran ini.

Catatan Perjalanan Tome Pires

Lokasi yang dikeliingi benteng alam, dan pemerintahan yang baik dari raja membuat kerajaan ini mengalami masa jayanya. Hal tersebut dapat diketahui dari cacatan perjalanan dari Tomes Pires di tahun 1513, yang menyebutkan bahwa kerajaan ini diperintah dengan adil, masyaraktnya dikatakan menarik, sehat, ramah, serta jujur. Dia juga menyebutkan bahwa Letak kerajaan pajajaran dengan ibu kota yang ia sebut Dayo/Dayeuh ditempuh selama dua hari dari pelabuhan Kelapa (Jakarta). Rumah-rumah yang ia lihat di wilayah pusat kerajaan umumnya bentuknya besar dan dan indah yang dibuat dengan kayu dan palem. Istana rajanya ini disebutkan dikelilingi dengan 330 pilar yang berbentuk seperti tong anggur dengan tinggi sekitar 9 Meter, dan disetiap puncaknya terdapat hiasan ukiran.

Dalam catatanya juga disebutkan mengenai sejarah kerajaan pajajaran lengkap ini sebagai negaranya para kestria serta negara maritim. Ia menyenyebutkan bahwa para pelautnya berlayar ke berbagai penjuru negeri hingga kepulauan Maladewa. Perdagangan yang menjadi komoditas utamanya ialah beras yang diperdagangkan hingga 10 jung dengan ukuran kapal besar Cina dalam setahun, lada, dan kain tenun yang dikirim ke Malaka. Ia juga menyebutkan bahwa kerajaan ini melakukan impor, seperti tekstil halus serta kuda dari wilayah lain.

Runtuhnya Kerajaan Pajajaran

Kerajaan mulai mengalami kemunduran sejak meninggalnya Sri Baduga Maharaja, karena munculnya kekuatan baru yaitu dari Cirebon yang bercorak islam dengan bantuan dari Demak dan Banten. Sehingga mulai ada gempuran dari pihak kerajaan lain. Runtuhnya Kerajaan Pajajaran semakin mendekat, namun silsilah kerajaan pajajaran terus berlanjut dengan pergantian kekuasaan raja Surawisesa pada Ratu Sakti yang dianggap tidak memperdulikan nasib rakyatnya. Dalam naskah Carita Parahyangan, ratu ini bahkan disindir dengan kata “Aja timut de sang kawari polah sang nat” yang intinya ialah agar tidak ada yang meniru tingkah laku ratu ini.

kehidupan politik Kerajaan Pajajaran terus mengalami kemunduran, pergantian kekuasaan juga terus berlanjut, dan kondisi kerajaan sudah tidak lagi stabil. Tanah-tanah yang harusnya subur jika diurus emnjadi tandus, dan banyak rakyat yang kelaparan, korupsi dan penyelewangan wewenang pun merajalela. Hingga pada tahun 1197, Pajajaran mengalami kehancuranya dengan ditaklukan oleh Kerajaan Banten. Penaklukan ini dilakukan dibawah kepemimpinan Raja Maulana Yusuf  (1570-1580). Selama masa kepemimpinanya, ia selalu berusaha menaklukan Kerajaan Pajajaran, bahkan ia berhasil menguasai wilayah kekuasaan kerajaan kecuali Pakuan (Wahidoh, 2020:30).

Hingga pada tahun 1579, Banten berhasil untuk menaklukan Pakuan dan menjadi puncak Runtuhnya Kerajaan Pajajaran. Selain itu singgasana raja juga dibawanya oleh pasukan Kerajaan Banten. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi penerus kerajaan Pajajaran Sunda, karena tradisi politik serta menobatkan Maulana Yusuf sebagai penerus sah. Maulana Yusuf sendiri juga merupakan bagian dari silsilah kerajaan pajajaran karena memiliki hubungan darah, yang berasal dari buyut perempuanya yang merupakan putri dari Sri Baduga Maharaja. Selain itu dalam kehidupan politik Kerajaan Pajajaran juga banyak melakukan pergantian raja pada pewarisnya, sehingga ia juga menganggap bawha dirinya adalah juga pewaris tahta kerajaan.

Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Prasasti merupakan sumber dari bukti keberadaan dalam sejarah kerajaan. Melalui prasasti diketahui banyak informasi mengenai letak kerajaan yang pernah berdiri di suatu lokasi, yang dalam hal ini Letak kerajaan pajajaran bahkan silsilah kerajaan pajajaran juga, karena biasanya akan dituliskan mengenai nama raja serta keturunan-keturunanya, serta terkadang juga diselipkan peristiwa mengenai sebab runtuhnya suatu kerajaan, yang dalam hal ini menyangkut Runtuhnya Kerajaan Pajajaran.

Prasasti Cikapundung

Prasasti Cikapundung
Sumber: budaya-indonesia.org

Ditemukan oleh warga sekitar pada bulan Oktober 2010 di aliran Sungai Cikapundung. Prasasti ini berbentuk batu bertulis dengan hurus Sunda kuno yang diperkirakan dari abad ke-14 (budaya-Indonesia.org). Namun, selain tulisan, pada prassti tersebut juga ditemukan ganbar telapak kaki, wajah, serta tangan.

Pada prasasti tersebut dituliskan kata “Unggal Jagat jalmah hendap” yang jika diartikan memiliki makan bahwa semua manusia di dunia ini pasti akan mengalami sesuatu. Sedangkan gambar telapak kaki, oleh para peneliti kemudian diartikan sebagai lambang dari penguasaan suatu daerah. Selain itu juga terdapat tulisan yang berisi angka tahun, yaitu tahun 1263 Saka/1341 M.

Prasasti Batu Tulis

PrasastiBatuTulis
Sumber: disparbud.jabarprov.go.id

Ditemukan pada 28 Julis 1687 ketika ekspedisi VOC, dengan huruf Sunda Kuno. Berdasarkan Carita Parahyangan, prasasti ini dibuat pada masa Surawisesa untuk mengingat Sri Baduga Maharaja mengenai kedermawananya serta berhasil menyejahterakan rakyatnya. Selain itu, dikatakan pula bahwa prasasti ini merupakan bagian dari tradisi agama Hindu yaitu Upacara Srada, yang biasanya dilakukan tepat 12 tahun meniggalnya seseorang untuk menyempurnakan sukmanya (historyofcirebon.id). Serta dipercaya mengantarkan roh untuk bersemayam dengan tenang di alamnya. Pada prasasti ini juga ditulis mengenai riwayat hidup Sri Baduga Maharaja, yang merupakan putra dari Raja Niskala, yang menggantikanya di Pakuan Pajajaran.

Prasasti Huludayeuh

Ditemukan di tengah persawahan yang letaknya di Kampung Huludayeuh, Desa Cikahalang. Prasasti ini memiliki tinggi 75cm, dengan lebar 36 cm, dan tebalnya 20 cm serta ditulis menggunakan huruf Sunda Kuno. Untuk tahun pembuatan prasasti masih belum diketahui dengan pasti.

Prasasti ini terdiri dari 11 baris tulisan, namun saat karena dimakan usia maka banyak tulisan yang sudah tidak lagi jelas untuk dibaca. Namun, ahli fisiologi dapat mengartikan bahwa inti dari tulisan tersebut ialah mengenai kebesarana dari Sri Baduga Maharaja Ratu Haji yang ada di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata yang berisi usaha untuk memakmurkan rakyatanya.

Prasasti Ulubelu

Ditemukan di Ulubelu, Lampung. Diperkirakan sebagai peninggalan kerajaan Pajajaran pada abad ke 15 M, karena aksara yang digunakan menyerupai huruf Sunda Kuno. Sehingga muncul dugaan bahwa Sunda pernah menguasasi wilayah Lampung. Namun, ada juga yang menganggap bahwa itu adalah aksara Onerti Paku. Prasasti ini berisi mantra untuk meminta pertolongan pada para Dewa.

Prasasti Kebon Kopi II

Prasasti Kebun Kopi II
Sumber: disparbud.jabarprov.go.id

Merupakan peninggalan kerajaan pajajaran yang ditemukan di Kampung Pasir Muara, Bogor pada sekitar abad ke-19 ketika sedang dilakukan penebangan untuk perluasan lahan kopi. Ditulis dengan aksara Kawi dan bahasa Melayu Kuno. Isi dari prasasti ini ialah mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda.

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis (Padrao Sunda Kepala)

Memiliki bentuk seperti tugu dan menjulang keatas, yang ditemukan tahun 1918 M di Batavia. Isi prasastinya ialah mengenai perjanjian antara Kerajaan Sunda dengan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan. Ketika itu Portugis membawakan barang untuk Raja Samian, yang merujuk pada Sanghyang yaitu Sanghyang Surawisesa.

Prasasti peninggalan kerajaan pajajaran ini dibuat sekitar abad ke-16 ketika pelabuhan-pelabuhan strategis di Jawa Barat yang dimililik oleh Pajajaran berhasil dikuasai Demak dan Banten sehingga ditakutkan perekonomian  akan melemah. Sehingga menepuh jalan untuk melakukan kerja sma dengan Portugis.

Situs Karangkamulyan

SitusKarangkamulyan
Sumber: disparbud.jabarprov.go.id

Ditemukan di desa Karangkamulyan, Jawa Barat. Diidentifikasi sebagai peninggalan Sunda Galuh. Dipercaya masyarakat bawa situs ini mengisahkan kesaktian Ciung Wanara yang menjadi bagian dari silsilah kerajaan pajajaran berdasarkan garis keturunanya. Dimana ia merupakan keturuan dari permaisuri Naganingrum. Diceritakan bahwa Raja galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Premana meninggal dalam keadaan tidak memiliki keturunan, oleh karena itu ia menunjuk Patih Bondan Sarati. Namun pada masa pemeritahan patih tersebut justru tidak mementingkan rakyatnya.

Melaui izin dewa ternyata Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putra bernama Ciung Wanara. Melaluinyalah kemudian kerajaan dapat diambil kembali. Dalam situs ini terdapat peninggalan arkeologi seperti batu Pangcalikan, Sipatahunan, Sanghyang Bedil, Panyabungan hayam, Cikahuripan, Lambang Peribadatan, Panyandaan, Makan Sri Bagawat Pohaci, Pamangkonan, Makam Adipati Panaekan, serta Fetur Parit dan Benteng. Batu-batu dalam situs tersebut dikisahkan memilki sejaranhnya masing-masing.

Itulah beberapa materi dengan sumber-sumber penemuan bersejarah terbatas yang dapat dibahas mengenai sejarah Kerajaan Pajajaran lengkap mulai dari awal pembentukan, keruntuhan, hingga peninggalan bersejarahnya. Semoga melalui artikel ini bisa memberikan ilmu dan pengetahuan baru ya.

Jangan lupa untuk terus membaca ya. Selamat belajar.


Daftar Rujukan:

Wahidoh, S. 2020. Buku Intisari SKI (Sejarah Kebudayaan Islam). Banten: Rumah Belajar Matematika Indonesia

Faris, M. 2013. Prasasti Cikapundung. (Online), dari budaya-indonesia.org

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *