Yuk Ketahui Apa Itu Karakteristik Drama

Tahukah kamu, bahwa drama ialah sebuah kesenian yang sangat komplit? Drama memadukan semua jenis kesenian. Diantaranya ialah, seni sastra untuk naskah cerita, seni lukis untuk tata rias dan tata panggung, seni musik sebagai tata suara, seni tari untuk gerak-gerik pemain, dan juga tentunya seni peran.

Pementasan drama juga merupakan sebuah bentuk keindahan karena melibatkan banyak cabang seni. Sehingga dapat membuat penonton takjub dalam estetika yang dipertunjukkan. Tapi, tahukah kamu apa karakteristik drama? Berikut ulasannya.

Pengertian Drama

Karakteristik drama
Sumber: guthirietheatre.org

Pasti kamu sudah tidak asing dengan kata drama. Secara epistimologi, drama berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘draomai‘. Artinya ialah berbuat, bertindak,  bereaksi dan sebagainya. Dapat dikatakan, drama ialah sebuah perbuatan atau tindakan.

Pengertian drama menurut Prof Atar Semi ialah sebuah tiruan perilaku manusia yang dipentaskan di panggung. Hal tersebut diperjelas oleh Budianta bahwa drama adalah salah satu jenis karya sastra dimana penampilan diperlihatkan secara verbal melalui dialog antar tokoh.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian drama secara luas ialah semua bentuk tontonan yang ditampilkan di depan khalayak umum. Sedangkan, secara sempit adalah kisah hidup seseorang yang diproyeksikan di atas panggung.

Karakteristik Drama

Krakteristik drama
Sumber: 12mileswest.org

Karakteristik adalah sifat khas yang dimiliki sesuatu atau seseorang. Setiap kesenian memiliki karakteristiknya sendiri. Hal tersebut pun berlaku dengan drama. Berikut ini ialah karakteristik drama menurut Atar Semi (1993).

Memiliki Tiga Dimensi

Karakteristik drama yang pertama ialah memiliki tiga dimensi. Maksud dari dimensi di sini ialah bagian yang ada pada drama. Dimensi dalam drama berupa, sastra, gerakan, dan ujaran.

  • Sastra

Drama tidak bisa terlepas dari sastra. Sastra dapat dikatakan sebagai sebuah karya yang berbentuk tulisan atau pustaka. Sastra dalam drama ialah berupa naskah cerita.

Tentunya, ketika kita ingin menampilkan drama, ada hal yang harus kita telaah terlebih dahulu, yaitu naskah. Terlebih drama modern yang sangat membutuhkan sebuah naskah.  Naskah  dapat dikatakan karya sastra karena mengandung alur cerita yang dibutuhkan sebagai patokan untuk pementasan.

  • Gerakan

Gerakan dalam drama ialah dimensi yang berikutnya. Drama sangat membutuhkan gerakan bagi para aktor yang terlibat pementasan. Gerakan adalah hal yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya seperti novel ataupun cerpen.

Dengan melalui gerakan, pemain dapat menghidupkan pementasan drama tersebut. Tentunya, gerakan ialah menjadi hal yang penting dalam drama.

  • Ujaran

Dimensi yang ada dalam drama lainnya ialah ujaran. Ujaran adalah perkataan tokoh yang dilisankan di atas panggung, atau lebih dikenal sebagai dialog.

Dialog berfungsi untuk menyampaikan sifat atau karakter tokoh, memperjelas alur cerita, menciptakan konflik antar tokoh, dan tentu saja sebagai penghubung antar satu adegan dengan adegan lainnya.

Baca juga: Penokohan Dalam Drama

Mempunyai Pengaruh Emosional

Pernahkah kamu merasakan sedih, bahagia, dan geram ketika menonton drama. Bukan hanya pementasan drama di atas panggung, tapi juga drama di televisi?

Hal tersebut dikarenakan drama mempunyai pengaruh emosional yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sastra lainnya. Emosional yang ada pada aktor tersebut terasa kepada kita sebagai penonton, sehingga kita secara langsung terhanyut dengan cerita dari drama tersebut.

Menonton Drama Menghasilkan Pengalaman

Apa yang kamu rasakan ketika menonton drama pertama kali? Bagi sebagian orang, terutama yang senang dengan dunia teater, tentunya menonton drama dapat menghasilkan pengalaman yang lebih dibandingkan membaca novel atau menonton film di televisi.

Hal tersebut dikarenakan drama yang dipentaskan di atas panggung memiliki interaksi antar tubuh para aktornya yang dilihat secara langsung oleh penonton.

Memiliki Keterbatasan Konsentrasi

Drama pun memiliki keterbatasan, yaitu keterbatasan intensitas dan konsentrasi. Keterbatasan ini biasanya dialami penonton. Maksudnya ialah ketika seseorang menonton penampilan drama, tidak selalu bisa dipastikan penonton akan berkonsentrasi penuh terhadap penampilan drama tersebut.

Hal ini dikarenakan daya mampu penonton masing-masing berbeda. Baik itu daya tahan fisik maupun mental penonton selama drama berlangsung.

Memiliki Keterbatasan Pemain

Sebagai aktor atau pemain yang mementaskan drama tentu memiliki keterbatasan juga. Yaitu keterbatasan pemain secara fisik.

Maksudnya adalah pemain  diatur gerak-geriknya oleh sutradara agar sesuai naskah. Pemain tidak bisa bergerak sesuka hati, apalagi melakukan hal-hal yang tak sesuai  adegan. Memang improvisasi dapat dilakukan oleh pemain, tetapi hal tersebut dapat dilakukan hanya dalam kondisi tertentu.

Memiliki Keterbatasan Pemanfaatan Objek

Drama tentunya harus menggunakan properti. Baik itu hand props, set props, ataupun dress props. Tetapi pemanfaatan objek atau properti tersebut pun sangat dibatasi.

Berbeda dengannya ketika kita membaca sebuah novel atau cerpen yang secara tertulis memanfaatkan banyak objek. Pada drama, kamu hanya bisa menggunakan beberapa properti yang menunjang pementasan drama tersebut.

Memiliki Keterbatasan Kepentasan

Selain dari segi artistik, drama pun memiliki keterbatasan kepentasan saat di atas panggung. Maksudnya adalah beberapa adegan di atas panggung tidak dianjurkan untuk ditampilkan secara implisit (jelas). Hal tersebut dikarenakan harus disesuaikan dengan nilai dan norma pementasan.

Sebagai contoh misalnya, adegan membawa kendaran yang digambarkan dalam novel tentu tidak akan ditampilkan secara utuh ketika di atas panggung. Atau misalnya adegan perkelahian yang dapat membuat penonton shock. Selain keterbatasan properti, hal tersebut juga memiliki keterbatasan nilai kepentasan.

Memiliki Keterbatasan Inteligensi Penonton

Pernahkah kamu menonton drama tapi tidak mengerti alurnya? Pernahkah kamu menonton pementasan drama tapi tidak jelas apa yang diucapkan aktornya? Atau bahkan pernahkah kamu menonton drama tapi tidak mengetahui makna dari dialognya?

Keterbatasan lainnya ialah drama memiliki keterbatasan inteligensi penonton. Maksudnya ialah daya serap pengetahuan penonton tentang alur cerita atau tema yang ditampilkan pada drama tergantung kemampuan penonton itu sendiri. Makanya, banyak bagi sebagian orang, banyak yang tidak suka menonton pementasan drama.

Memiliki Alur dan Jumlah Episode yang Terbatas

Tidak seperti karya sastra lainnya, drama memiliki keterbatasan alur dan jumlah episode. Berbeda dengan novel yang memiliki alur panjang dan berbelit. Pada umumnya, drama yang ditampilkan di atas panggung 1-3 jam.

Hal tersebut dikarenakan keterbatasan tempat dan waktu penonton. Sehingga alur dan episode dalam drama harus dibatasi. Maka dari itu, ketika ada drama yang diadaptasi dari novel, maka sutradara dan penulis naskah harus mengalihwahanakan terlebih dahulu ke dalam bentuk naskah.

Naskah Drama adalah Dialog/Percakapan

Naskah drama adalah suatu karya sastra yang isinya adalah dialog atau percakapan. Karena dimensi dari drama sendiri ialah gerak dan ujaran. Berbeda dengan novel ataupun cerpen yang biasanya terdiri dari narasi, berbeda dengan puisi yang terdiri bait per bait.

Namun, dalam naskah drama bukan hanya itu saja. Adapula istilah kramagung yang merupakan tuntunan bagi para pemain. Pada kramagung biasanya digambarkan suasana adegan.

Baca juga: Unsur Intrinsik Drama

Pemahaman Akhir

Drama merupakan kesenian yang sangat komplit karena menggabungkan berbagai jenis kesenian. Drama memadukan seni sastra untuk naskah cerita, seni lukis untuk tata rias dan tata panggung, seni musik sebagai tata suara, seni tari untuk gerak-gerik pemain, dan tentunya seni peran.

Karakteristik drama mencakup beberapa aspek. Pertama, drama memiliki tiga dimensi, yaitu sastra, gerakan, dan ujaran. Sastra dalam drama adalah naskah cerita yang menjadi landasan pementasan. Gerakan adalah elemen penting dalam drama karena melalui gerakan, para aktor dapat menghidupkan karakter dan suasana dalam pementasan. Ujaran dalam drama adalah dialog antar tokoh yang berfungsi untuk menyampaikan karakter, alur cerita, dan menciptakan konflik.

Drama memiliki pengaruh emosional yang kuat, mampu membuat penonton merasakan berbagai emosi seperti sedih, bahagia, atau geram. Drama juga memberikan pengalaman yang unik bagi penonton karena interaksi langsung dengan para aktor di atas panggung.

Namun, drama juga memiliki keterbatasan. Keterbatasan intensitas dan konsentrasi terjadi pada penonton, yang dapat berbeda-beda dalam daya tahan fisik dan mental. Para aktor juga memiliki keterbatasan fisik dalam menampilkan gerakan yang sesuai dengan naskah dan keterbatasan dalam pemanfaatan objek atau properti di panggung. Drama juga mengikuti nilai dan norma dalam pementasan, sehingga ada keterbatasan dalam menampilkan adegan secara eksplisit. Selain itu, drama memiliki keterbatasan dalam pemahaman penonton terhadap alur cerita dan dialog.

Drama memiliki alur dan jumlah episode yang terbatas karena keterbatasan tempat dan waktu penonton. Biasanya, drama hanya berlangsung selama 1-3 jam. Naskah drama sendiri terdiri dari dialog atau percakapan antar tokoh, berbeda dengan karya sastra lainnya seperti novel atau cerpen yang memiliki narasi. Naskah drama juga dilengkapi dengan kramagung yang menggambarkan suasana adegan.

Secara keseluruhan, drama merupakan bentuk kesenian yang menggabungkan berbagai elemen seni dan memiliki karakteristik khas. Melalui drama, penonton dapat merasakan pengalaman emosional dan terlibat langsung dalam pementasan.

Itulah sepuluh karakteristik drama menurut ahli sastra, Atar Semi. Karakteristik-karakteristik tersebut ialah hal yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya.


Sumber:

Atar Semi, M. 1993. Anatomi Sastra. Bandung: Angkasa Raya

Artikel Terbaru

Avatar photo

Zia

Bekerja sebagai buruh tulis dalam bidang pendidikan, penulisan kreatif, dan teknologi

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *