Home Materi Kuliah Komunikasi Mengenal Teori Komunikasi Antarpribadi

Mengenal Teori Komunikasi Antarpribadi

Sebagai makhluk sosial, rasanya tidak mungkin jika kita tidak berhubungan dengan orang lain. Manusia memiliki naluri untuk selalu hidup dengan orang lain (gregariousness), untuk hidup dan mati bersama kelompok (Nasidan, 2015). Dalam kelangsungan hidup kita dengan orang lain, kita perlu melakukan komunikasi. Komunikasi yang dilakukan dengan orang lain dapat mencakup segala jenis komunikasi, salah satunya ialah komunikasi antarpribadi.

Komunikasi antarpribadi sendiri dapat diartikan sebagai komunikasi yang dilakukan secara langsung seperti ketika kita berkomunikasi dengan sahabat, rekan kerja, keluarga, dan lain sebagainya. Komunikasi ini memiliki cakupan paling kecil karena hanya melibatkan dua orang. Dalam komunikasi antarpribadi, dua orang yakni komunikator (orang yang memberikan pesan) dan komunikan (orang yang menerima pesan) saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.

Ciri-Ciri Komunikasi Antarpribadi

ciri-ciri komunikasi antarpribadi
Sumber: Mircea Iancu from Pixabay

Ketika kamu berbicara dengan dengan pasanganmu secara langsung, kamu bisa mengira-ngira apakah dia antusias denganmu atau tidak dari jawaban verbal seperti ucapan hingga jawaban nonverbal seperti mimik wajah, suara hingga gerak tubuh. Respon tersebut pun keluar secara spontan tanpa dibuat-buat. Itulah salah satu ciri-ciri komunikasi antarpribadi yakni mengalir secara spontan baik verbal maupun nonverbal.

Untuk megetahui bagaimana respon yang diberikan oleh pasanganmu, kamu perlu berada dekat dengannya. Tanpa berkomunikasi secara dekat, kamu tidak akan bisa menangkap bagaimana reaksinya saat berbicara denganmu. Oleh karena itu, ciri-ciri lain dari komunikasi antarpribadi ialah dilakukan secara langsung.

Di samping itu semua, komunikasi antarpribadi juga bergantung pada seberapa suka kita pada orang tersebut atau biasa disebut dengan atraksi interpersonal. Atraksi interpersonal dalam komunikasi akan memberi pengaruh pada penilaian pesan yang disampaikan (Pieter, 2017). Tak heran, biasanya kita akan lebih mudah mempercayai orang-orang yang kita anggap dekat, dibandingkan omongan orang-orang yang tidak dekat dengan kita.

Mengenal Faktor-Faktor Atraksi Interpersonal

Ada dua faktor yang mempengaruhi atraksi interpersonal dalam komunikasi yakni faktor personal dan situasional (Pieter, 2017).

Faktor Personal

Kesamaan Karakteristik Pribadi

Kesamaan karakteristik pribadi mencakup kesamaan sifat, sikap, keyakinan, ideologi, ras, agama, suku bangsa, hukum, aturan, pekerjaan, dan sebagainya. Seringkali kita merasa antusias dan “nyambung” jika berbicara dengan orang yang memiliki minat sama. Perasaan antusias itulah yang mempengaruhi atraksi interpersonal kita.

Tekanan Emosional

Kamu pernah mendapatkan respon yang menyebalkan tanpa sebab oleh teman, pasangan atau keluarga? Bisa jadi lawan bicara yang sedang berkomunikasi denganmu sedang mengalami tekanan emosional sehingga responnya menjadi tidak baik. Oleh sebab itu, tekanan emosional dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi atraksi interpersonal dalam komunikasi.

Harga Diri

Tubbs dan Moss (Rakhmat, 2007) berpendapat bahwa orang-orang dengan harga diri rendah cenderung lebih mudah mencintai orang lain. Orang-orang yang merasa tidak memiliki harga diri (kualitas diri) dalam dunia pergaulan biasanya akan cenderung memiliki respon yang lebih baik dan mau berkomunikasi dengan siapapun. Oleh sebab itu, kelangsungan komunikais antarpribadi dapat dipengaruhi oleh harga diri seseorang.

Isolasi Sosial

Atraksi interpersonal juga dipengaruhi pada isolasi sosial. Jika seseorang telah lama terisolasi, mereka akan memberikan respon positif dalam komunikasi karena meningkatnya perasaan bahagia dalam dirinya ketika bertemu orang baru.

Faktor Situasional

Ketertarikan Fisik

Suka atau tidak, terkadang dalam berkomunikasi, orang akan dipengaruhi dengan ketertarikan fisik. Orang-orang yang dinilai lebih cantik dan tampan oleh masyarakat biasanya akan diperlakukan lebih baik, sopan dan antusias.

Ganjaran

Apakah kamu pernah merasa berhutan budi pada seseorang dan secara tidak langsung memperlakukan orang tersebut lebih sopan dan spesial? Ganjaran berupa bantuan atau dorongan secara tidak langsung mempengaruhi atraksi interpersonal dalam komunikasi yang kita lakukan.

Kompetensi Diri

Pada umumnya, kita lebih mudah percaya pada orang dengan kompetensi lebih baik dibandingkan orang yang biasa-biasa saja. Orang-orang dengan kemampuan lebih baik biasanya akan memiliki daya tarik tinggi (Aronson dalam Rakhmat: 2007). Sehingga tak heran jika kamu lebih memilih berdiskusi mengenai suatu hal dengan pakarnya dibandingkan dengan teman sebaya.

Familiarity

Tak kenal maka tak sayang. Itulah peribahasa yang menggambarkan atraksi interpersonal. Jika kamu kenal dan familiar dengan seseorang, maka kamu cenderung memilih berinteraksi dengan orang tersebut. Kamu juga akan memilih untuk lebih percaya dengannya dibandingkan dengan orang yang tidak terlalu kenal.

Kedekatan

Di tahun-tahun pertama kuliah, biasanya kamu akan bermain dengan orang-orang yang duduk di sekitarmu. Inilah yang dimaksud dengan kedekatan. Karena posisi dan jarak yang dekat, kamu berkomunikasi dengan mereka lebih baik dibandingkan dengan orang lain di kelas yang duduk berjauhan. Tak jarang, teman sebangku atau sebelah akan menjadi sahabat selama kuliah karena terus bersama dan berinteraksi.

Teori Komunikasi Antarpribadi

teori komunikasi antarpribadi
Sumber: Gerd Altmann from Pixabay

Mempelajari teori komunikasi antarpribadi dapat memberikanmu penjelasan lebih dalam mengenai fenomena komunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengadopsi kategorisasi teori dari Littlejohn, dkk (2017) dalam edisi kesebalas bukunya, Theories of Human Communication, kali ini kamu akan mempelajari teori komunikasi antarpribadi berdasarkan elemen model komunikasi yakni komunikator dan pesan yang disampaikan.

Teori Komunikasi Antarpribadi dalam Konteks Komunikator

Bagaimanapun juga, dalam melakukan komunikasi dengan orang lain, kita sebagai komunikator memiliki peran kunci yang menentukan bagaimana komunikasi itu berlangsung.

Bagaimana kita mempercayai pesan dari lawan bicara, faktor apa yang kita pilih sebagai pertimbangan, keputusan kita untuk mempercayainya atau tidak merupakan salah satu peran kunci yang kita miliki sebagai komunikator.

Baca juga: Teori Komunikasi Kesehatan

Berbicara mengenai teori komunikasi antarpribadi dalam konteks komunikator, ada beberapa teori yang perlu kamu dalami seperti Cognitive Dissonance Theory, Uncertainty Redaction Theory, Interaction Adaptation Theory, Expectancy Violations Theory, Theory of Communications Competence dan Symbolic Interaction.

Cognitive Dissonance Theory

Dicetuskan oleh Leon Festinger (1951), Cognitive Dissonance Theory (Teori Disonansi Kognitif) merupakan salah satu teori terpenting dalam perkembangan psikologi sosial yang berkontribusi pada bidang komunikasi (Littlejohn, dkk., 2017).

Teori ini sendiri menekankan pada gagasan bahwa komunikator memiliki beberapa elemen kognitif dalam dirinya seperti sikap (attitudes), persepsi (perceptions), pengetahuan (knowledge) dan kepercayaan (beliefs) yang salah terkait satu sama lain dan menyebabkan terjadinya suatu perilaku (behavior) (Littlejohn, dkk., 2017).

Perilaku terjadi karena adanya salah satu elemen kognitif yang bertentangan dan menimbulkan suatu ketidaknyaman atau pergolakan batin. Sederhananya, kamu merasa jika apa yang kamu lakukan dengan prinsip hidupmu berbeda, maka kamu memikirkan perilaku apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan ketidaknyamanan itu.

Pernah kah kamu secara sadar mengikuti akun kesehatan atau gaya hidup semata-mata hanya untuk memotivasimu? Menurut penelitian yang dilakukan oleh Knobloch-Westerwick, Johnsohn dan Westerwick (2013), netizen menikmati berbagai konten kesehatan semata-mata hanya untuk memotivasi mereka agar segera merubah pola hidupnya menjadi lebih baik. Motivasi tersebut muncul karena adanya suatu ketidaknyamanan atau kecemasan akan kesehatan.

Secara lebih spesifik, dalam komunikasi antarpribadi, ada peran lawan bicara dalam menentukan perilakumu. Misal, kamu merasa bahwa kebiasaan menghabiskan uang dengan boros cukup mengganggu pikiranmu. Kamu menceritakan hal tersebut lalu kamu mendapatkan saran dan dukungan dari temanmu. Semakin banyak dukungan yang kamu peroleh, akan semakin besar juga keinginanmu untuk merubah kebiasaan boros menjadi lebih hemat.

Uncertainty Reduction Theory

Teori Uncertainty Reduction Theory (Teori Pengurangan Ketidakpastian) digagas oleh Charles Berger, dkk dengan berkeyakinan bahwa setiap orang yang mulai berkomunikasi dengan orang baru akan berusaha untuk mencari tahu lebih dalam mengenai orang tersebut untuk mengurangi keraguan kita terhadap orang tersebut (Littlejohn, dkk., 2017).

Pertama kali kamu berkenalan dengan teman kuliahmu, pasti kamu akan merasa canggung dan mencari topik apa yang dapat dibicarakan dan mencari kesamaannya denganmu. Hal tersebut semata-mata dilakukan untuk menghilangkan ketidakpastian yang kamu rasakan mengenai sikap dan perilakunya.

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Ketika kamu mendapatkan partner kelompok baru, pasti kamu akan melakukan passive strategy dengan memperhatikan tindak-tanduknya, melakukan active strategy dengan bertanya kepada orang lain yang kenal dengannya dan interactive strategy dengan melakukan komunikasi langsung dengannya.

Interaction Adaptation Theory

Interaction Adaptation Theory (Teori Adaptasi Interaksi) merupakan teori komunikasi yang digagas oleh Judee Burgoon, dkk. Pada dasarnya teori ini menekankan bahwa perilakua setiap orang saling mempegaruhi dalam suatu interaksi. Terus, apa bedanya dengan teori lainnya?

Sebagai contoh, kamu diharuskan untuk melakukan wawancara dengan veteran perang terpandang yang sudah cukup umur untuk mendapatkan informasi mengenai sejarah perang di daerahmu. Sebelum memulai interaksi dengannya, kamu pasti akan membayangkan bagaimana wawancara di mulai untuk mempersiapkan diri. Di situlah posisi interaksimu (Interaction Position) dimulai.

Posisi interaksi ini ditentukan oleh 3 faktor yakni requirements (persyaratan), expectations (ekspetasi) dan desires (keinginan) (Littlejohn, dkk., 2017). Karena kamu akan melakukan wawancara dengan veteran perang yang kemungkinan berusia uzur, kamu perlu berbicara dengan suara lebih besar. Inilah yang disebut requirements, yang biasanya merujuk pada faktor biologis.

Usia veteran perang yang sudah sepuh dan senior mengharuskanmu berbicara dengan tata karma serta etika kesopanan yang baik agar tidak membuatnya gusar. Hal ini dapat disebut expectations, di mana kamu akan menerapkan tata karma dan norma kesopanan yang baik ketika berkomunikasi dengan orang lain agar tidak diacuhkan, sebab kamu belum mengenalnya cukup dalam.

Requirement dan expectations yang kamu terapkan merupakan upaya untuk mencapai apa yang kamu inginkan yakni mendapatkan informasi seputar sejarah perang di daerahmu. Inilah yang disebut desires.

Jika semua hal tersebut telah berhadil dijalankan, kamu dan narasumbermu (veteran perang) dapat mencapai mutual influence (pengaruh satu sama lain). Mutual influence dapat bersifat baik dan buruk. Jika baik, lawan bicaramu akan menimpali pertanyaanmu dengan antusias, atau ketika ia melontarkan candaan kamu langsung meresponnya dengan tawa.

Apa jadinya jika mutual influence berakhir buruk? Biasanya salah satu dari kalian akan mengekspresikan ketidaksukaan yang terjadi baik secara verbal maupun nonverbal. Ketidaksukaan ini merupakan salah satu akibat dari adanya perilaku yang tidak sesuai harapan/ekspetasi (Expectancy Violations).

Expectancy Violations Theory

Bagaimana rasanya jika lawan bicaramu senang menggunakan umpatan dan kamu membencinya? Pasti kamu akan menampakkan gestur tidak suka seperti mimik wajah yang berubah atau bola mata yang melebar. Melanjutkan teori sebelumnya, Expectancy Violations Theory (Teori Pelanggaran Harapan) secara khusus membahas mengenai respon nonverbal jika suatu pelanggaran harapan (Expectancy Violations) terjadi (Littlejohn, dkk., 2017).

Namun, tidak semua harapan tersebut berkonotasi buruk. Sebagai contoh, di masa-masa awal pendekatan dengan pasanganmu, pasti kalian masih menjaga jarak dan malu-malu. Awalnya kamu menyangka ia tidak menyukaimu, sehingga kamu menebak bahwa ia tidak akan menunjukkan gestur tubuh yang mendekatimu. Namun, dalam perjumpaan selanjutnya, pasanganmu mulai duduk mendekat, memegang tanganmu dan menyatakan cinta.

Anggapan bahwa pasanganmu tidak akan menunjukkan gestur tubuh yang mendekatimu merupakan harapan/ekspetasi yang muncul karena menurutmu ia tidak menyukaimu. Dengan melakukan hal sebaliknya, sebenarnya ia telah melakukan pelanggaran harapan (expectancy violations) terhadapmu. Namun, karena kamu juga menyukainya, kamu tidak menganggap hal tersebut buruk dan malah meresponnya.

Oleh sebab itu, anggapan baik atau buruknya suatu Expectancy Violations bergantung pada seberapa berarti komunikator (pengirim pesan) bagi komunikan (penerima pesan) (Burgoon, 2015 dalam Littlejohn, dkk., 2017). Jika dilakukan oleh orang yang diharapkan akan dianggap baik, jika dilakukan oleh orang yang tidak disuka maka dianggap buruk.

Theory of Communication Competence

Berbicara mengenai kompetensi dalam komunikasi antarpribadi, tak terlepas dari Theory of Communication Competence (Teori Kompetensi Komunikasi). Teori yang digagas oleh Brian Spitzberg dan William Cupach ini secara umum membahas bagaimana kompetensi seseorang berpengaruh pada proses komunikasi yang dilakukannya dengan orang lain (Littlejohn, dkk., 2017).

Misalnya, sebagai orang Indonesia kamu paham jika menggeleng itu merupakan bahasa nonverbal yang menunjukkan ketidaksetujuan. Namun, karena kamu banyak bergaul dengan orang India, kamu juga mengerti bahwa makna menggelengkan kepala bagi mereka berbeda dengan orang Indonesia. Bagi orang India, menggelengkan kepala dilakukan untuk mengiyakan atau menandakan kamu mengerti sesuatu.

Ketika kamu berbicara dengan orang Indonesia, kamu akan menggeleng untuk menunjukkan ketidaksetujuan. Sebaliknya, ketika kamu berbicara dengan orang India, kamu akan menggeleng untuk mengiyakan. Kemampuanmu (skills) dalam mengidentifikasi makna menggeleng, pengetahuan (knowledge) mengenai kapan dan bagaimana hal tersebut harus digunakan, dan juga motivasi (motivation) untuk menerapkannya merupakan wujud dari kompetensimu dalam berkomunikasi.

Symbolic Interaction

Symbolic Interaction (Interaksi Simbolik) merupakan teori dengan perspektif sosiologi yang dikembangkan oleh Gorger Herbert Mead yang berfokus pada diri (the self) dalam interaksi dengan masyarakat (society) (Littlejohn, dkk., 2017). Melalui teori ini, kamu akan diajak untuk terjun ke dalam pemaknaan diri sendiri dan lingkungan sosialmu melalui komunikasi antarpribadi yang dilakukan dan juga komunikasi intrapersonal (self-talk).

Baca juga: Mengenal Model Komunikasi

Pemaknaanmu terhadap diri sendiri dipengaruhi oleh interaksimu dengan orang lain. Dengan melakukan banyak komunikasi dengan orang lain, kamu dapat mengetahui peran dan makna dirimu. Kamu juga menemukan makna mengenai orang lain dan fenomena yang terjadi di masyarakat berkat interaksi yang dilakukan. Misalnya, kamu paham mencontek itu tidak baik karena orang-orang beranggapan demikian.

Kejadian yang kamu alami dan pembicaraan yang kamu lakukan dengan orang lain melalui komunikasi antarpribadi mempengaruhi bagaimana dirimu berpikir, bersikap dan berbicara. Untuk memutuskan hal tersebut, biasanya kamu akan melakukan komunikasi dengan dirimu sendiri (self-talk) dalam pikiran. Perlu tidak saya mencontek? Pantaskah mendapatkan nilai bagus dengan cara yang curang? Kata X kalau tertangkap basah saya akan diberi nilai 0, jadi lebih baik tidak usah.

Teori Komunikasi Antarpribadi dalam Konteks Pesan

Sesingkat apapun, sebuah komunikasi pasti membawa suatu pesan. Dalam komunikasi antarpribadi pesan memiliki peran yang besar karena pesan tidak hanya membawa informasi, tetapi juga apa yang ingin kita capai (Littlejohn, dkk., 2017). Berbicara mengenai teori komunikasi antarpribadi dalam konteks pesan, ada beberapa teori yang perlu kamu dalami seperti Speech Act Theory dan Coordinated Management Meaning.

Speech Act Theory

Speech Act Theory merupakan pengembangan teori lebih lanjut oleh John Searle yang didasari oleh filsafat bahasa biasa (ordinary language philosophy) dari Ludwig Wittgenstein dan teori tindak tutur (speech act theory) oleh J.L. Austin (Littlejohn, dkk., 2017). Sedehananya, teori ini mengkaji makna pesan dalam empat macam tindak tutur yakni utterance act (tindak ujar), propositional act (tindak preposisi), illocutionary act (tidak ilokusioner) dan perlocutionary act (tindak perlokusi) (Malmkjer, 2006).

Utterance act (tindak ujar) adalah pengucapan kalimat secara sederhana. Proportional act (tindak preposisi) merupakan tindakan mengatakan sesuatu yang akan terjadi. Illucotionary act (tindak ilokusioner) merupakan sebuah wacana yang dimuat dalam suatu ucapan (umumnya memuar suatu tujuan). Perlocutionary act (tindak perlokusi) adalah tindakan saat komunikan (penerima pesan) menunjukkan efek seperti harapan kita.

Posisikan dirimu sedang mengirim pesan teks kepada pasanganmu, “besok makan siang bareng di gancit yuk.” Jika kamu memandangnya dengan Speech Act Theory, Pesanmu merupakan sebuah kalimat biasa (utterance act), mewakilkan apa yang akan dilakukan bersamanya (proporsional act), berisi kalimat ajakan agar pasanganmu mengerti maksudnya (illocutionary act). Kamu ingin ia menerima tawaranmu untuk makan bersama. Jika ia menerima ajakanmu maka kamu telah berhasil melakukan perlocutionary act.

Coordinated Management Meaning

Coordinated Management Meaning (Manajemen Koordinasi Makna) merupakan sebuah teori yang dikembangkan oleh Barnett Pearce, Vernon Cronen, dkk., yang memberikan pendekatan menyeluruh terhadap interaksi sosial di mana sebuah makna (meaning) dan aksi (action) saling berhubungan dan dapat diatur (Littlejohn, dkk., 2017).

Menurut teori ini, makna berhubungan langsung dengan aksi yang dilakukan. Makna mempengaruhi aksi dan aksi mempengaruhi makna (Littlejohn, dkk., 2017). Misalnya, kakakmu mengatakan bahwa gambarmu jelek. Jika kamu memaknai hal tersebut sebagai ejekan, kamu mungkin akan marah dan berusaha membela diri. Itulah maksud makna dan aksi yang saling mempengaruhi.

Tetapi perlu diketahui, makna dan aksi yang saling mempengaruhi juga bergantung pada konteks (situasi, diri sendiri, hubungan dan juga budaya). Apabila kamu akan marah dan membela diri jika gambarmu dibilang jelek oleh kakakmu, kamu tidak akan marah jika yang mengatakan adalah gurumu. Sebaliknya, kamu akan menganggap itu masukan dan mulai melakukan perbaikan pada gambar tersebut.

Jika suatu interaksi yang terus dilakukan menimbulkan suatu hal tak diinginkan (unwanted repetitive pattern), kita diharuskan untuk mengatur respon dengan cara yang lebih kompleks (Littlejohn, dkk., 2017). Semisal dengan memberikan cerita berbeda (different stories) untuk menawarkan perspektif baru.

Biasanya hal tersebut banyak dijumpai pada pasangan yang bercerai, sebab masing-masing dari mereka akan menceritakan pengalaman dari sudut pandang berbeda, untuk menciptakan makna berbeda pula. Mungkin saja si istri ingin menciptakan makna bahwa suaminya salah ataupun begitu juga sebaliknya yang dilakukan si suami.

Intinya, dalam Coordinated Management Meaning, kamu dapat memilih caramu merespon sebuah pesan agar dapat dimaknai selogis dan sepantas mungkin untuk didengar oleh orang lain (Littlejohn, dkk., 2017). Respon tersebut kamu pelajari dari interaksimu dengan orang lain dan juga pengalaman masa lalu dalam kehidupanmu sehari-hari.

Baca juga: Teori Komunikasi Kelompok

Itulah beberapa jenis teori komunikasi antarpribadi yang dapat digunakan dalam menganalisa fenomena komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Kira-kira mana yang sesuai dengan pengalamanmu?


Sumber:

Knobloch-Westerwick, Silvia, Johnsohn, Benjamin K. dan Westerwick, Axel. 2013. “To Your Health: Self-Regulation of Health Behavior Through Selectie Exposure to Online Health Messages.” Journal of Communication, 63, (807), 29.

Littlejohn, Stephen W., dkk. Theories of Human Communication: Eleventh Edition. 2017. Illinois: Waveland Press, Inc.

Malmkjer, K. 2006. The Linguistics Encyclopedia. London: Routledge

Nasdian, Fredian Tonny. Sosiologi Umum. 2015 Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Pieter, Heri Zan. Dasar-Dasar Komunikasi Bagi Perawat. 2017. Jakarta: Kencana.

Rakhmat, Jalaludin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Anggita Indari
Anggita Indarihttps://anggitaindari.blogspot.com
Anggita merupakan lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Jenderal Soedirman. Selain bekerja penuh-waktu sebagai praktisi digital marketing dan analis media, sehari-hari ia juga menikmati kajian media dan budaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ketahui Secara Lengkap Etika Media Massa

Apakah kamu pernah tidak sengaja mengklik berita dengan judul “5….Nomor 3 Bikin Tercengang!” atau “Seorang Banci Ditunggangi……”? Seringkali kita lihat banyak pemberitaan, terutama di...

4 Contoh Surat Peringatan Serta Ketentuannya

Kamu tentu sering mendengar tentang surat peringatan. Apalagi di dunia kerja, surat ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kamu, walaupun sebenarnya bisa juga...

Contoh Kuesioner Kinerja Karyawan Serta Cara Membuatnya

Dalam berbagai bidang usaha, peran pekerja atau karyawan tidak bisa dianggap remeh. Ada unsur penyebab yang saling menggantungkan diri antara pengusaha dan karyawannya. Ketika...

Mengenal Tata Nama Senyawa

Tahukah kamu apa itu senyawa? Senyawa merupakan zat yang terdiri dari dua unsur atau lebih dalam suatu perbandingan yang tetap. Senyawa tidak akan pernah...

Komunikasi Internal dalam Organisasi

Jika kamu sudah membaca beberapa artikel tentang humas (hubungan masyarakat) atau PR (public relations), kamu sudah pasti tahu bahwa tugas mereka tidak hanya menjaga...