Tenaga Eksogen dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan

Dinamika litosfer dipengaruhi oleh dua tenaga hebat yang saling bersinergi sehingga membentuk litosfer saat ini. Dua kekuatan besar itu dikelompokkan menjadi tenaga endogen dan tenaga eksogen. Tenaga endogen adalah kekuatan yang berasal dari dalam bumi seperti vulkanisme, tektonisme, dan gempa bumi. Semua itu sudah dibahas pada pembahasan sebelumnya.

Sedangkan tenaga eksogen merupakan kebalikan dari tenaga endogen, yaitu tenaga yang berasal dari luar dan mengubah permukaan bumi. Supaya kamu lebih paham, mari kita pelajari bersama.

Pengertian Tenaga Eksogen

tenaga eksogen
sumber: explorearizonatours.com

Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar yang sifatnya menghancurkan bentuk muka bumi. Sumber tenaga eksogen, yaitu unsur cuaca dan iklim, air, serta organisme. Unsur cuaca dan iklim (suhu, angin, dan curah hujan) akan memengaruhi proses pelapukan batuan. Adapun air akan memengaruhi proses erosi dan pengangkutan bahan material sehingga diendapkan di suatu wilayah.

Tenaga yang berasal dari luar, meliputi pelapukan, erosi, masswasting, dan mengendapan atau sedimentasi. Erosi, pelapukan dan massmovement merupakan tenaga perombak muka bumi, sedangkan sedimentasi berperan sebagai pembangun permukaan bumi.

Pelapukan (Weathering)

pelapukan
sumber: nationalgeographic.org

Pelapukan merupakan salah satu tenaga eksogen. Pelapukan adalah proses penghancuran massa batuan oleh zat penghancur. Pelapukan dibedakan atas tiga jenis, yaitu:

Pelapukan Mekanik (Desintegrasi)

Adalah proses pelapukan berupa penghancuran bongkah batuan menjadi bagian kecil-kecil tanpa mengubah kandungan unsur kimianya. Faktor-faktor yang mempengaruh pelapukan mekanik, antara lain sebagai berikut:

  1. Perbedaan suhu, hal ini berakibat pada batuan akan mengalami proses pemuaian saat panas dan pengerutan pada saat dingin. Jika proses ini berlangsung terus-menerus maka lama-lama batuan induk akan pecah menjadi bongkahan kecil.
  2. Akibat erosi di daerah pegunungan dan membekunya air di sela-sela batuan. Lama-lama air ini akan menjadi tekanan yang merusak struktur batuan.
  3. Pengaruh kegiatan makhluk hidup seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. Akar tumbuhan akan merusak struktur batuan dan hewan-hewan membawa butiran batuan dari dalam tanah ke permukaan tanah.
  4. Berubahnya air garam menjadi kristal. Jika air tanah mengandung garam, pada siang hari airnya menguap dan garam akan mengkristal.

Pelapukan Kimiawi

Proses penghancuran batuan induk yang disertai dengan perubahan susunan kimiawi batuan dari batuan asalnya. Contoh pelapukan kimiawi adalah proses pelarutan batu kapur yang terjadi di daerah karts. Terdapat empat proses pelapukan kimia, yaitu sebagai berikut:

  1. Hidrasi, yaitu proses batuan yang mengikat batuan diatas permukaan saja.
  2. Hidrolisa, yaitu proses penguraian air (H2O) atas unsur ion positif dan negatif. Jenis proses pelapukan ini terkait pembentukan tanah liat.
  3. Oksidasi, yaitu proses pengkaratan besi. Batuan yang mengalami proses oksidasi berwarna coklat karena besi mengalami pengkaratan. Proses pengkaratan ini berlangsung lama sehingga pelapukan karena proses oksidasi berlangsung lambat.
  4. Karbonasi, yaitu pelapukan batuan oleh karbondioksida (CO2). Gas ini terkandung pada air hujan ketika masih menjadi uap air. Batuan yang mudah mengalami karbonasi adalah batu gamping. Air hujan yang mengandung zat asam arang (CO2) dapat melarutkan batu kapur atau kalsium karbonat (CaCO3). Bentukan-bentukannya seperti dolina, stalaktit, stalagmit, gua, dan sungai bawah tanah.

Pelapukan Organik

Pelapukan batuan hasil pengerjaan makhluk hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Aktivitas manusia dalam penambangan dan pengolahan lahan pertanian juga dapat merusak permukaan tanah.

Baca juga: Tektonisme dan Pengaruh Bagi Kehidupan

Erosi

Erosi
sumber: kajianpustaka.com

Erosi adalah pengikisan batuan atau tanah oleh fluida bergerak berupa aliran, seperti sungai, angin, gelombang laut, atau gletser. Berdasarkan tenaga pengikisan, erosi dibedakan atas erosi air, erosi gelombang laut (abrasi atau erosi marin), erosi angin (deflasi), dan erosi gletser (erosi glasial).

Erosi Air Sungai

Air yang mengalir dengan cepat dan debit air yag besar serta mengangkut berbagai benda padat akan menimbulkan pengikisan hulu. Maka terbentuklah lembah, ngarai, dan jurang-jurang dalam. Misalnya, Lembah Anai, Grand Canyon Colorado, Ngarai Sianok, dan Jeram Victoria.

Erosi Air Laut (Abrasi)

Erosi ini diakibatkan pukulan ombak laut terhadap tebing pantai yang terus-menerus. Perusakan ini disebut dengan abrasi atau erosi marin.

Erosi Es (Gletser)

Erosi es terjadi pada tumpukan es bergerak perlahan ke bawah dan mengikis lembah-lembah di pegunungan. Arus es ini disebut gletser sehingga erosi yang disebabkan oleh tenaga es disebut exarasi. Hasil endapan disebut dengan moraine.

Erosi Angin (Korasi)

Proses ini banyak terjadi di daerah yang agak kering, misalnya di gurun pasir. Hasil-hasil perusakan yang sudah menjadi halus dan mudah sekali ditiup angin sehingga menjadi bukit pasir.

Proses erosi terdiri atas tiga bagian, yaitu dimulai dari pengelupasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation).

Erosi oleh air di daerah tropis, terbagi ke dalam beberapa tingkatan, yaitu sebagai berikut:

  1. Erosi percik (splash erotion) adalah proses mengelupasnya partikel tanah atas air hujan. Arah dan jarak terkelupasnya partikel tanah ditentukan oleh kemiringan lereng, kecepatan dan arah angin, kekasaran permukaan tanah, serta penutup lahan.
  2. Erosi lembar (sheet erotion) adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis permukaan atas tanah terkikis oleh air aliran (run off) dan air hujan.
  3. Erosi alur (rill erotion) adalah pengelupasan yang diikuti oleh pengangkutan partikel tanah pada bidang yang dilalui oleh aliran run off kemudian tertumpuk di dalam saluran-saluran air. Hal ini terjadi ketika air larian masuk ke dalam tanah yang lebih rendah, kecepatan air akan meningkat dan akhirnya terjadilah pemindahan partikel tanah dan diendapkan pada suatu tempat yang lebih rendah.
  4. Erosi parit (gully erotion) adalah proses erosi yang membentuk parit yang lebih dalam dan kelanjutan dari erosi alur. Terdapat dua jenis yaitu erosi parit terputus dan erosi parit bersambungan. Erosi parit terputus biasanya dijumpai di daerah bukit yang mengalami pergerusan partikel tanah pada bagian permukaan tanah miring.
  5. Erosi tebing sungai (streambank erotion), adalah pengikisan tanah pada tebing sungai dan erosi yang terjadi pada dasar sungai oleh aliran sungai. Proses berlangsungnya erosi tebing sungai disebabkan adanya pengikisan aliran sungai dan adanya longsoran pada sungai.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Erosi

  1. Iklim, dalam hal ini hujan. Pada hujan yang terlalu sering namun hanya dalam waktu singkat, erosi yang terjadi biasanya lebih besar daripada air hujan dengan intensitas lebih kecil.
  2. Tanah, berkaitan dengan sifat tanah yang menentukan mudah tidaknya tanah tererosi. Yaitu, tekstur, unsur organik, struktur, dan permeabilitas. Tekstur berkaitan dengan ukuran partikel tanah dan akan membentuk tipe tanah tertentu. Tiga unsur utama tekstur tanah yaitu pasir (sand), debu (silt), dan liat (clay). Unsur organik terdiri atas sisa-sisa tanaman dan hewan sebagai hasil proses penguraian. Unsur organik berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah dan bersifat meningkatkan kapasitas tampungan air tanah, permeablititas tanah, dan kesuburan tanah.
  3. Topografi, meliputi kemiringan dan panjang lereng. Air yang mengalir cepat pada lereng yang miring dan panjang.
  4. Vegetasi, berkaitan dengan melindungi permukaan tanah dari air hujan, menurunkan kecepatan dan volume air permukaan, serta menahan partikel tanah pada temptnya melalui sistem perakaran dan serasah yang dihasilkan.
  5. Penggunaan lahan, berhubungan dengan perubahan penggunaan lahan yang dapat mempercepat atau memperlambat terjadinya erosi. Misalnya, hutan yang berubah menjadi ladang akan mempercepat terjadinya proses erosi.

Masswasting

masswasting
sumber: mediaindonesia.com

Masswasting atau massmovement adalah proses pemindahan massa batuan dan tanah dalam jumlah yang sangat besar dikarenakan pengaruh tarik bumi.

Berdasarkan material dan kecepatannya, masswasting dibedakan menjadi:

  1. Slow flowage, disebut juga rayapan massa (creep). Slow flowage merupakan perpindahan massa tanah dan batuan dalam waktu yang sangat lambat. Peristiwa ini dapat diketahui dengan adanya tanda-tanda sekunder seperti mengenali pepohonan yang tumbuh membengkok atau bangunan, seperti tiang listrik yang berdiri miring.
  2. Rapid flowrage, yaitu berpindahnya massa batuan atau tanah yang cepat karena dibantu oleh aliran air tanah yang sudah jenuh.
  3. Slump, yaitu peristiwa longsoran tanah yang gerakannya terputus-putus.
  4. Landslide atau longsoran, yaitu perpindahan massa tanah atau batuan dalam bentuk blok pada waktu yang sangat cepat. Biasanya dipercepat jika terjadi aliran air dan air hujan. Landslide terdiri atas:

(1) Rock slide, yaitu peristiwa longsoran berupa blok batuan

(2) Rock fall, yaitu peristiwa runtuhnya massa blok batuan.

Sedimentasi (Pengendapan)

Pengendapan
sumber: biodiesel.co.id

Tenaga eksogen yang keempat adalah sedimentasi. Sedimentasi adalah proses pengendapan massa batuan dan tanah di suatu tempat setelah mengalami erosi kemudian diangkut oleh aliran fluida. Sedimen umumnya terjadi di genangan banjir, bagian bawah kaki bukit, di saluran air, pesisir, sungai, laut, dan waduk.

Semua batuan hasil pelapukan dan pengikisan yang diendapkan lama-lama akan menjadi batuan sedimen. Hasil proses sedimentasi di berbagai tempat akan berbeda. Berikut ciri bentang proses pengendapan berdasarkan tenaga pengangkatnya:

Pengendapan Oleh Air Sungai

pengendapan di sungai
sumber: riverwatch.eu

Batuan hasil pengendapan air disebut sedimen akuatis. Sedimentasi dapat menyebabkan pendangkalan saluran air irigasi, badan air, danau, waduk, sungai, dan terbentuknya tanah-tanah baru di pinggir sungai dan di delta sungai.

Sedimentasi memiliki dua sisi pengaruh, bisa menguntungkan dan merugikan. Menguntungkan karena dapat meningkatkan kesuburan tanah di tanah endapan baru. Akan tetapi, pada waktu bersamaan juga dapat menurunkan kualitas perairan dan pendangkalan.

Bentang alam hasil pengendapan oleh air antara lain oxbow lake, meander, tanggul dan delta.

Meander

Meander merupakan sungai yang berkelok-kelok karena adanya pengendapan. Proses kelokan ini dari hulu sungai. Bagian hulu volume air kecil an tenaga terbentuknya kecil juga. Akibatnya sungai akan menghindari penghalang dan mencari jalan yang paling mudah dilalui. Sementara, pada bagian hulu tidak terjadi sedimentasi.

Proses meander terjadi di tempi sungai, baik bagian dalam maupun tepi luar. Di bagian tengah sungai yang alirannya cepat maka akan terjadi pengikisan. Namun pada bagian tepi akan terjadi pengendapan karena aliran lambat. Jika peristiwa ini berlangsung terus-menerus akan terjadi meander.

Oxbow Lake

Meander biasanya terbentuk pada bagian hilir sebab erosi dan sedimentasi yang terus-menerus. Proses pengendapan ini lama-lama akan menyebabkan kelokan sungai terpotong dan tertutup membentuk oxbow lake atau sungai mati.

Delta

Pada aliran sungai mendekati muara seperti laut atau danau, kecepatan aliranny akan melambat. Akibatnya terjadi pengendapan sedimen air sungai. Pasir akan dienapkan, sedangkan tanah liat dan lumpur akan terbawa oleh aliran sungai. Setelah sekian lama, akan terbentuk lapisan-lapisan sedimen. Akibatnya, lapisan-lapisan sedimen membentuk dataran yang luas pada bagan sungai yang mendekati muara membentuk delta.

Contoh bentang alam ini adalah delta Sungai Bengawan Solo, Sungai Progo, Sungai Musi, Kapuas, dan Kali Brantas.

Tanggul Alam

Apabila terjadi hujan lebat, volume air akan meningkat. Akibatnya terjadi banjir dan air meluap ke tepi sungai. Pada saat air surut, material sedimentasi yang terbawa oleh air sungai akan mengendap di tepi sungai. Akibatnya, terbentuk suatu dataran di tepi sungai. Akibatnya tepi sungai lebih tinggi dibandingkan dataran banjir pada tepi sungai. Akibatnya tepi sungai yang lebih tinggi akan membentuk tanggul.

Pengendapan oleh Air Laut

pengendapan di laut
sumber: searchgate.net

Batuan hasil sedimentasi oleh air laut disebut sedimen marine. Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil pengendapan air laut, antara lain tombolo, spit, pesisir, dan penghalang pantai.

Pesisir merupakan wilayah pengendapat di sepanjang pantai. Biasanya terdiri atas material pasir. Komposisi material di pantai dan bentuk materialnya sangat bervariasi tergantung pada kondisi arah angin, cuaca, dan arus laut.

Arus pantai ini akan membawa material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material-material laut yang lebih dalam. Ketika material masuk ke dalam laut yang dalam, terjadi pengendapan material.

Setelah beberapa lama, terjadi akumulasi material yang ada di atas permukaan laut. Akumulasi material ini disebut spit. Jika arus pantai terus berlanjut maka spit akan terus tumbuh memanjang. Kadang spit terbentuk melewati teluk laut dan menjadi penghalang pantai (barrier beach). Apabila di sekitar spit terdapat pulau dan pulau tersebut menyambung ke daratan karena adanya spit, maka akan membentuk tombolo.

Pengendapan oleh Angin

tenaga eksogen
sumber: goodnewsfromindonesia.id

Sedimen hasil pengendapan angin disebut sedimen aeolis. Proses pengikisan oleh angin disebut deflasi. Angin yang mengangkut butiran pasir dan bahan-bahan lepas lainnya pada suatu waktu kecepatannya akan menurun sehingga daya angkutnya berkurang dan muatannya terendapkan. Bentukan hasil sedimentasi (pengendapan) oleh angin, yaitu gumuk pasir (sand dunes).

Dilihat dari bentuknya, gumuk pasir dibedakan menjadi dua, yaitu punggung paus (whale back) jika memanjang dan gumuk pasir barchan jika berbentuk bulan sabit. Di Indonesia bentuk gumuk pasir terdapat di Parangtritis Yogyakarta.

Aktivitas angin juga membentuk loss. Loss merupakan endapan pasir halus yang mengandung gamping warna kuning-cokelat dan tidak berlapis, seperti endapan loss dari Gurun Gobi. Diduga material loss berasal dari gurun pasir yang telah terbawa jauh sehingga mencapai ke laut.

Pengendapan oleh Gletser

tenaga eksogen
sumber: tekno.tempo.co

Gletser adalah kumpulan massa besar es berbutir atau dan yang bergerak lambat akibat gaya tarik bumi. Hasil pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah, dari berbentuk V menjadi U. Pada musim semi tiba, terjadi pengikisan es yang meluncur meuruni lembah. Jika pergerakan massa salju yang mendadak disebut lawina (avalanches).

Batuan dan tanah hasil erosi akan menuruni lereng dan mengendap di lembah. Akibatnya, lembah yang awalnya berbentuk V menjadi U

Pengaruh Tenaga Eksogen Bagi Kehidupan

Perubahan litosfer yang akan dibahas adalah kerusakan muka bumi atau degradasi. Degradasi ini bisa disebut sebagai penurunan kualitas atau perusakan lahan. Degradasi lahan utamanya dipengaruhi oleh erosi dan masswasting.

Kerusakan tanah dan batuan yang utama akibat erosi. Erosi tidak hanya menyebabkan kerusakan tanah pada tempat pengikisan namun juga kerusakan pada tempat yang diendapkan. Kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pengikisan antara lain:

  1. Penurunan produktivitas tanah
  2. Kehilangan unsur hara yang diperlukan tanaman
  3. Kualitas tanaman menurun
  4. Laju infiltrasi dan kemampuan tanah dalam menahan air berkurang
  5. Struktur tanah rusak
  6. Erosi tebing (longsor) menyebabkan lahan sempit untuk ditanami
  7. Erosi memindahkan unsur-unsur hara tanaman dan pestisida ke daerah tujuan endapan

Selain dampaknya langsung, juga dirasakan di daerah yang ada di luar tempat kejadian erosi. Seperti terjadinya pendangkalan sungai, waduk, dan badan air. Sehingga hujan deras dan badan air sudah tidak bisa menampung air maka bisa menimbulkan bahaya banjir. Degradasi tanah ini, bisa terjadi di kota maupun desa.

Baca juga: Materi Siklus Batuan

Demikian penjelasan tentang tenaga eksogen yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi. Semoga bisa menambah wawasan kamu ya.


Sumber:

Bagja Waluya. (2009). Geografi. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Gatot Harmanto. (2016). Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Bandung: Penerbit Yrama Widya.

Lili Somantri dan Nurul Huda . (2016). Buku Siswa Geografi Kelas 1.  Bandung: Grafindo

Artikel Terbaru

Avatar

Anava

Seseorang yang menyukai pengetahuan dengan moto hidup ingin bertumbuh bersama lingkungan sekitar. Dia sekarang seorang pendidik, pengajar, dan pembelajar yang sudah lebih dari 8 tahun di bidang pendidikan. Mata Pelajaran Geografi dan Biologi sedang selami saat ini.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *