Tektonisme dan Pengaruh Bagi Kehidupan

Bentuk muka bumi bersifat dinamis dari waktu ke waktu karena bumi mengalami perkembangan dan perubahan. Perubahan muka bumi ini secara alamiah dipengaruhi oleh tenaga endogen dan eksogen. Tenaga endogen terdiri atas tiga macam yaitu: vulkanisme, tektonisme, dan gempa bumi. Sedangkan tenaga eksogen meliputi sedimentasi, erosi, dan pelapukan.

Secara umum, muka bumi tidaklah rata namun bergelombang. Ada yang tinggi/terjal dan ada yang rendah/landai. Relief merupakan tinggi rendahnya permukaan bumi. Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentuk muka bumi.

Di sini, kita akan lebih membahas tentang salah satu tenaga endogen yang mempengaruhi perkembangan permukaan bumi yaitu tektonisme.

Pengertian Tektonisme

tektonisme
sumber: earth.rice.edu

Menurut teori lempeng tektonik, litosfer bumi terpecah-pecah menjadi bagian yang disebut lempeng (Plate earth). Di bumi terdapat tujuh lempeng besar di antaranya: Lempeng Antartika, Lempeng Eurasia, Lempeng Amerika, Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia, lempeng Nazca, dan Lempeng Afrika.

Tektonisme adalah tenaga dari dalam bumi yang mengakibatkan perubahan letak (dislokasi) atau perubahan bentuk (transformasi) muka bumi. Permukaan bumi terbentuk atas lapisan batuan tipis yang disebut dengan litosfer. Kulit bumi memiliki ketebalan yang tipis dan kaku sehingga mudah pecah menjadi potongan-potongan kecil, kulit bumi yang tidak beraturan ini disebut dengan lempeng tektonik.

Baca juga: Sistem Tata Surya

Lempeng Tektonik

lempeng tektonik
sumber: antigempa.com

Lempeng tektonik ini selalu bergerak, baik secara vertikal maupun horizontal karena pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan di bawahnya (astenosfer). Lapisan astenosfer berupa cairan kental yang selalu mengalir.

Lempeng-lempeng tersebut bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Arus konveksi di astenosfer menyebabkan pergerakan lempeng-lempeng bumi. Astenosfer memiliki densitas lebih kecil dari litosfer namun bersuhu tinggi. Sedangkan litosfer memiliki densitas lebih besar dan suhunya rendah, kaku sehingga mudah patah.

Arus konveksi terjadi karena pergerakan bumi berputar dan menggerakan fluida di astenosfer. Gerakan di astenosfer mempengaruhi pergerakan litosfer di atasnya. Maka litosfer yang berupa lempeng-lempeng akan ikut bergerak.

Prinsip Pergerakan Lempeng Litosfer

  1. Lempeng litosfer ini memang saling bertumbukan (divergensi). Jadi lempeng litosfer menyusup di bawah lempeng litosfer yang lain.
  2. Lempeng litosfer saling berpapasan sehingga membentuk sesar mendatar.
  3. Lempeng litosfer saling memisah sehingga membentuk pegunungan di tengah samudra.

Jenis-Jenis Tektonisme

Berdasarkan luas daerah dan periode terjadinya, gerakan lempeng tektonik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gerak epirogenetik dan gerak orogenetik.

Gerak Epirogenetik

epirogenetik
sumber: slideshare.net

Gerak epirogenetik atau epirogenesa merupakan gerak tektonisme atau pergeseran lapisan kerak bumi yang sangat lambat dan berlangsung dalam waktu lama. Gerakan ini meliputi wilayah yang besar dan luas. Biasa dikatakan sebagai gerak pembentuk kontinen atau benua. Contoh gerak epirogenetik adalah penenggelaman Benua Gondwana menjadi Sesar Hindia.

Gerak epirogenetik ada dua yaitu:

  1. Epirogenetik positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga kelihatannya permukaan air laut naik. Contoh: Turunnya muara Sungai Hudson di Amerika yang dilihat dari kedalaman 1.700 meter, turunnya beberapa pulau di Indonesia Timur yaitu Kepulauan Maluku bagian barat daya sampai ke Pulau Banda, dan turunnya Lembah Sungai Kongo sampai 2 kilo meter di bawah permukaan laut.
  2. Epirogenetik negatif, yaitu naiknya daratan sehingga permukaan air laut turun. Contoh: Naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor, serta naiknya Dataran Tinggi Colorado di Amerika.

Baca juga: Batuan Sedimen

Gerak Orogenetik

Gerak orogenesa merupakan gerakan kulit bumi yang sangat cepat dengan wilayah yang sempit. Biasanya proses pembentukan pegunungan. Contoh: pembentukan jalur pegunungan dunia yang ada di bumi ini, seperti Sirkum Mediterania, Rocky Mountain, Pegunungan Andes, Pegunungan Himalaya, dan sebagainya.

Gerak orogenetik akan memberikan tekanan vertikal dan horizontal di kulit bumi sehingga menyebabkan pergeseran letak lapisan kulit bumi. Peristiwa ini dapat menimbulkan sesar dan lipatan.

Proses lipatan (Fold)

tektonisme
sumber: pelajaran.co.id

Diakibatkan oleh tekanan horizontal dan tekanan vertikal. Proses lipatan adalah bentuk kulit bumi berbentuk gelombang yang terjadi karena adanya tenaga endogen yang arahnya mendatar dari dua arah yang berlawanan. Sehingga, lapisan batuan mengalami proses lipatan dan membentuk puncak lembah lipatan (sinklin) dan lipatan (antiklin).

Fenomena ini dapat kamu saksikan apabila melewati jalan yang terletak di antara dua bukit. Akan terlihat sebelah kiri kanan jalan singkapan kerak bumi berupa lapisan bergelombang. Ada bagian lipatan naik dan lipatan turun. Inilah hasil dari proses lipatan.

Jika terbentuk beberapa puncak lipatan disebut antiklinorium. Jika terbentuk beberapa lembah lipatan disebut sinklinorium. Macam-macam lipatan ada lipatan miring, lipatan tegak, lipatan menggantung, lipatan rebah, lipatan isoklin, dan lipatan kelopak.

Pegunungan lipatan tua terjadi pada zaman primer contohnya adalah Pegunungan Ural. Pegunungan lipatan muda terjadi pada zaman tersier, contohnya adalah Pegunungan Mediterania dan Sirkum Pasifik.

Patahan/Sesar (Fault)

tektonisme

    sumber: geologi.co.id

Morfologi hasil tenaga tektonisme lainnya adalah patahan. Bentuk alam ini terjadi karena tenaga endogen pada kulit bumi yang tidak elastis. Sehingga bidang yang dilalui tenaga ini akan patah. Patahan terdiri atas graben dan horst. Bagian yang merosot disebut graben atau slenk sedangkan yang menonjol disebut horst.

Dilihat dari arah slip sepanjang bidang patahan maka ada tiga jenis patahan yaitu: dip slip, strike slip, dan oblique slip. Pada dip slip, bidang kemiringan dari patahan terjadi pada sudut dip patahan. Pada strike slip bidang kemiringan terletak sepanjang strike sedangkan pada oblique slip pergerakannya diagonal terhadap bidang patahan. Patahan ini kombinasi antara patahan naik atau turun dan patahan mendatar.

Berdasarkan arah geraknya yang bekerja pada lapisan batuan, morfologi patahan dikategorikan sebagai berikut:

1. Patahan akibat dua tekanan yang arahnya horizontal dan saling menjauh

Pada kasus ini, dua buah tekanan yang arahnya mendatar dan saling menjauh mengakibatkan adanya retakan besar pada lapisan batuan. Salah satu bagian batuan yang telah retak itu mengalami penurunan sehingga membentuk lembah patahan atau graben.

2. Patahan akibat tekanan vertikal arahnya

Adakalanya tenaga endogen yang bekerja pada litosfer arahnya vertikal dalam waktu yang relatif cepat. Bagian yang mengalami tekanan akan naik disertai dengan retakan batuan. Karena adanya gaya tarik bumi, salah satu massa batuan akan mengalami penurunan membentuk graben dan bagian terangkat membentuk horst.

3. Sesar naik dan sesar turun

Bidang sesar yang atap patahannya bergeser turun terhadap alas sesar disebut sesar turun. Sedangkan yang atap sesarnya terlihat seolah-olah bergerak naik disebut sesar naik. Contoh sesar naik di Indonesia adalah patahan yang terjadi di Pegunungan Bukit Barisan, dari Sumatra Utara sampai Teluk Semangko di Sumatra Selatan. Untuk daerah patahan ini dinamai dengan zona patahan Semangko.

4. Patahan akibat dua tekanan horizontal yang arahnya berlawanan

Dalam pembahasan teori tektonik lempeng telah dipelajari jika terdapat tenaga yang bekerja pada lapisan litosfer dengan arah mendatar dan saling berlawanan arahnya, akan membentuk sesar mendatar (strike slip fault).

tektonisme
sumber: phys.org

Sesar jenis ini banyak ditemukan di daerah yang mengalami perlipatan dan sesar naik. Sesar mendatar yang ukuran besar terdapat di San Andreas, Filipina, dan Taiwan. Di Indonesia, sesar mendatar dalam lapisan batu muda ada di daerah Kefamenanu, Timor.

Alur akibat pecahannya batuan pada proses retakan disebut alur patahan. Alur patahan yang besar bisa sampai ke batuan bawah tanah yang dalam dan membuat alur patahan sepanjang benua. Alur patahan yang besar diakibatkan oleh gempa bumi terkuat, biasanya ditemukan di dekat pertemuan lempeng.

Beberapa patahan besar membelah tanah dan menyebabkan tanah bergerak aktif, mendorong naik daratan atau membuat amblas tanah. Daerah sesar atau patahan ini rawan akan gempa bumi tektonik.

Setelah gempa bumi, energi akan terlepas. Kumpulan energi ini akan mempengaruhi kumpulan batuan di sekitar pusat gempa ikut bergetar dan getarannya berjalan sampai energi getaran habis.

Salah satu relief jalur patahan terkenal adalah Patahan San Andreas yang membelah Pantai Pasifik di California, Amerika Serikat sepanjang 1.200 km. Patahan ini membentuk sebagian dari batas Lempeng Amerika Utara dengan Lempeng Pasifik. Kedua lempeng ini saling bergeser berlawanan atau saling menjauh sekitar lima senti per tahun.

Banyak alur patahan yang lebih kecil di sekitar California dan masih berhubungan dengan alur Patahan San Andreas. Daerah ini salah satu wilayah gempa berkekuatan besar di dunia. Lebih dari 20.000 gempa terjadi di sini dalam setahun.

Para ilmuwan memperkirakan jika ujung retakan ini di Tanjung Mendocino, San Fransisco dan Lembah Imperial di Los Angeles. Tempat ini diperkirakan sangat bahaya jika dijadikan tempat tinggal dan pemukiman.

Pergerakan Lempeng Tektonik di Indonesia

tektonisme
sumber: tectonicplatesindonesia.weebly.com

Wilayah Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Indo-Australia. Sehingga, di Indonesia terdapat rangkaian pegunungan serta rawan terjadinya bencana kegempaan.

Lempeng Indo-Australia bergerak aktif ke utara dan mendesak Lempeng Eurasia. Begitu pula Lempeng Pasifik, lempeng ini bergerak ke arah barat mendesak Lempeng Eurasia dari timur. Dengan demikian, di sebelah selatan dan timur Indonesia adalah zona subduksi pertemuan tiga lempeng tersebut.

Tempat terjadinya tumbukan lempeng tersebut merupakan jalur kegiatan orogen (membentuk gunung) meliputi kegiatan lipatan, penebalan kerak bumi, pengerutan lapisan, dan pembentukan sesar atau patahan.

Pengaruh Tektonisme Bagi Kehidupan

gempa
sumber: kompas.com

Pergerakan lempeng bumi selalu dinamis dan menyebabkan pertumbuhan muka bumi dari waktu ke waktu. Pergerakan lempeng bumi bisa menyebabkan daratan terangkat naik ataupun tenggelam. Berikut ini penjelasan pengaruh aktivitas tektonisme bagi kehidupan:

Pembentukan Alur Pegunungan Dunia

Kenampakan alam muka bumi terdapat gunung dan lembah. Pegunungan dan lembah merupakan hasil dari lipatan muka bumi. Pegunungan Ural merupakan salah satu contoh hasil lipatan saat zaman primer. Selain itu, pertumbuhan barisan pegunungan-pegunungan muda dunia yaitu Sirkum Pasifik dan Mediterania saat zaman tersier merupakan akibat dari aktivitas tektonisme.

Kerusakan Gempa Bumi Tektonisme

Gempa bumi tektonik terjadi adanya pergerakan di dalam bumi secara tiba-tiba. Gejala ini sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan pegunungan yang diikuti dengan pembentukan sesar-sesar baru. Tumbukan lempeng bumi ataupun adanya gerakan daerah sesar aktif yang cukup besar dan terekam oleh seismograf akan menyebabkan terjadinya gempa bumi tektonik. Getaran yang besar bisa dirasakan manusia sekaligus bisa merusak infrastruktur di sekitar tempat terjadi gempa bumi.

Pusat gempa di bawah bumi disebut hiposentrum. Dari pusat hiposentrum, gelombang gempa menjalar ke segala arah. Patahan kerak bumi hiposentrumnya berbentuk garis. Permukaan kerak bumi yang berada tepat di atas hiposentrum disebut episentrum.

Di sekitar episentrum inilah terjadi kerusakan paling parah. Bila episentrum terdapat di bawah permukaan laut, bisa menyebabkan peristiwa tsunami. Seperti yang terjadi pada gempa bumi tektonik Aceh-Sumatra Utara, 26 Desember 2004. Gempa ini diakibatkan oleh tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia.

Tektonisme Menyebabkan Munculnya Pulau Baru

Tektonisme bisa juga menyebabkan timbulnya pulau baru di tengah laut akibat pengangkatan kerak bumi secara tiba-tiba.

Turunnya Ketinggian Pulau Tertentu

Beberapa bagian wilayah di dunia mengalami penurunan secara perlahan akibat gerakan lempeng bumi. Sebagai contoh adalah turunnya gugusan pulau di sekitar Maluku barat daya sehingga seolah-olah air laut naik.

Baca juga: Vulkanisme Serta Dampaknya Terhadap Kehidupan

Pemahaman Akhir

Bentuk muka bumi adalah sesuatu yang dinamis dan selalu mengalami perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini terjadi secara alamiah dan dipengaruhi oleh tenaga endogen dan eksogen. Tenaga endogen, seperti vulkanisme, tektonisme, dan gempa bumi, berperan penting dalam membentuk dan mengubah permukaan bumi.

Salah satu tenaga endogen yang signifikan adalah tektonisme, yang berhubungan dengan pergerakan lempeng tektonik. Litosfer bumi terpecah-pecah menjadi lempeng-lempeng yang bergerak dengan kecepatan yang berbeda, dipengaruhi oleh arus konveksi di astenosfer yang menyebabkan pergeseran dan pertemuan lempeng-lempeng tersebut.

Tektonisme dapat menyebabkan perubahan letak (dislokasi) atau perubahan bentuk (transformasi) muka bumi. Pergerakan lempeng tektonik menghasilkan berbagai fenomena, seperti pegunungan, sesar, dan retakan. Proses lipatan dan sesar menciptakan struktur geomorfologi yang beragam, seperti pegunungan, lembah, graben, horst, dan lainnya.

Pergerakan lempeng tektonik juga berpengaruh pada kehidupan manusia. Meskipun prosesnya berlangsung lambat, tetapi efeknya dapat sangat besar. Pembentukan pegunungan dan lembah dapat mempengaruhi pola cuaca dan iklim serta keanekaragaman hayati. Namun, efek yang lebih dramatis adalah terjadinya gempa bumi dan potensi bencana alam lainnya, seperti tsunami.

Indonesia sebagai wilayah yang berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Indo-Australia, memiliki rangkaian pegunungan dan rawan terhadap aktivitas tektonisme. Aktivitas ini berkontribusi pada pembentukan pegunungan dan juga meningkatkan risiko terjadinya gempa bumi.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai tektonisme dan dampaknya sangat penting, terutama bagi para geografi dan para peneliti di bidang ilmu bumi. Dengan memahami dinamika dan pergerakan lempeng tektonik, diharapkan kita dapat lebih siap menghadapi risiko dan bencana alam yang mungkin terjadi serta lebih memahami keunikan dan keberagaman bentuk muka bumi yang ada di sekitar kita.

Demikian penjelasan tentang salah satu tenaga endogen yaitu tektonisme. Semoga bisa menambah wawasanmu ya. Semangat belajar.


Sumber:

Bagja Waluya. (2009). Geografi. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Gatot Harmanto. (2016). Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Bandung: Penerbit Yrama Widya.

Artikel Terbaru

Avatar photo

Anava

Seseorang yang menyukai pengetahuan dengan moto hidup ingin bertumbuh bersama lingkungan sekitar. Dia sekarang seorang pendidik, pengajar, dan pembelajar yang sudah lebih dari 8 tahun di bidang pendidikan. Mata Pelajaran Geografi dan Biologi sedang selami saat ini.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *