Skala Pengukuran Instrumen Menurut Sugiyono

Ketika melakukan penelitian, peneliti pastinya akan berhadapan dengan data yang beragam dan untuk mengolah data-data tersebut, dibutuhkan yang namanya skala pengukuran. Oleh karenanya, mengetahui jenis-jenis skala pengukuran dinilai sangat perlu karena dapat membantu peneliti dalam mengolah data tersebut.

Konsep mengenai jenis-jenis skala pengukuran sebenarnya telah dikemukakan sejak lama oleh Stanley Smith Stevens (1946), namun Sugiyono (2010), dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methods) juga turut menjelaskan mengenai apa itu skala pengukuruan instrumen hingga jenis-jenisnya.

Untuk mengetahui bagaimana penjelasan mengenai skala pengukuran dan jenis dari skala pengukuran instrumen menurut Sugiyono tersebut, kamu dapat menyimak penjelasannya berikut.

Pengertian Skala Pengukuran Instrumen Menurut Sugiyono

Pengertian Skala Pengukuran Instrumen Menurut Sugiyono
Sumber: Steve Buissinne from Pixabay

Skala pengukuran instrumen menurut Sugiyono (2010) adalah sebuah kesepakatan yang dipakai sebagai acuan dalam menentukan ukuran (panjang dan pendek) interval dalam suatu alat ukur. Hal ini ditujukan untuk membuat alat ukur tersebut bisa digunakan untuk mengolah data.

Contoh sederhananya, timbangan emas adalah sebuah instrumen yang digunakan untuk menghitung berat emas dengan skala pengukuran milligram (mg), sehingga nantinya akan menghasilkan data berupa berat emas dalam satuan mg. Dengan adanya skala pengukuran instrumen tersebut, nilai variabel dapat ditentukan dengan bentuk angka, sehingga menghasilkan hasil yang akurat.

Jenis-Jenis Skala Pengukuran Instrumen Menurut Sugiyono

Jenis-Jenis Skala Pengukuran Instrumen Menurut Sugiyono
Sumber: rawpixel.com from pixabay

Sugiyono (2010) menyebutkan jika jenis-jenis skala pengukuran instrumen dibagi menjadi 4 yaitu skala Likert, skala Guttman, semantic differential, dan rating scale.

Skala Likert

Skala Likert adalah jenis skala pengukuran instrumen yang dipakai untuk mengukur pendapat, persepsi, dan sikap dari seorang individu atau kelompok mengenai fakta dan fenomena sosial. Fakta dan fenomena sosial inilah yang ditetapkan oleh peneliti dan disebut variabel. Variabel tersebut lantas dijabarkan menjadi indikator variabel. Lalu, indikator variabel nantinya akan dijadikan patokan untuk menyusun item-item instrumen penelitian dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan.

Bentuk jawaban untuk instrumen yang menggunakan skala Likert biasanya berupa tingkatan dari sangat positif hingga sangat negatif. Contohnya dalam bentuk kata-kata sangat setuju hingga sangat tidak setuju. Dalam keperluan penelitian kuantitatif, bentuk jawaban dengan tingkatan tersebut akan diberi nilai, misalnya sangat setuju diberikan nilai 5, setuju diberikan nilai 4, dan seterusnya.

Skala Guttman

Jenis skala pengukuran instrumen kedua menurut Sugiyono (2010) adalah skala Guttman dimana jawaban dari skala ini berupa pernyataan tegas. Pernyataan tegas yang dimaksud itu seperti “benar-salah”, “iya-tidak”, dan lainnya. Dilihat dari penjelasan ini, maka skala Guttman termasuk dalam skala pengukuran yang digunakan ketika peneliti ingin mengetahui jawaban tegas responden mengenai suatu topik permasalahan.

Bentuknya dapat berupa pertanyaan pilihan ganda maupun checklist. Untuk pemberian nilainya, jawaban positif bisa diberikan skor 1, sementara jawaban negatif diberikan skor 0. Untuk analisis data dengan skala Guttman sendiri sama dengan analisis pada skala Likert.

Semantic Differential

Menurut Sugiyono (2010), semantic differential adalah skala pengukuran yang dikembangkan oleh Osgood dan difungsikan untuk mengukur sikap. Bentuk skala pengukuran ini tidak diberikan dalam pilihan ganda atau checklist, melainkan dalam bentuk satu garis dengan pilihan “sangat positif” dan “sangat negatif”. Untuk lebih memudahkanmu mengenai jenis skala ini, berikut kamu dapat menyimak contohnya.

Semantic Differential
Sumber: Penulis

Rating Scale

Berbeda dengan skala pengukuran instrumen yang telah disebutkan di atas yang menafsirkan data kualitatif menjadi kuantitatif, rating scale mencoba menafsirkan data kuantitatif menjadi kualitatif. Oleh karenanya, rating scale dianggap sebagai skala pengukuran yang fleksibel dan tidak hanya bisa digunakan untuk mengukur sikap semata, tetapi juga mengukur persepsi dari subjek penelitian mengenai berbagai fenomena.

Tidak heran bila rating scale lebih sering dipakai untuk mengukur berbagai permasalahan mulai dari status sosial, status ekonomi, kemampuan, pengetahuan, dan lainnya. Rating scale kemudian dibagi lagi menjadi 4 jenis yaitu skala nominal, ordinal, interval, dan rasio.

Skala nominal merupakan jenis pengukuran yang berguna untuk mengelompokkan variabel berdasarkan kategori atau grup tertentu. Contohnya, terdapat dua variabel yaitu laki-laki dan perempuan, maka dalam hal ini, responden akan dikelompokkan dalam 2 kategori yaitu laki-laki dan perempuan.

Selanjutnya, skala ordinal adalah jenis skala yang tidak mengelompokkan variabel, tetapi mencoba untuk mengurutkan kategori tersebut, misalnya dari kategori yang paling bagus ke kategori yang paling buruk. Sementara itu, skala interval adalah jenis skala pengukuran yang tak hanya mengurutkan variabel, namun juga memberikan informasi mengenari variabel yang berbeda-beda.

Contohnya, skala interval 1 = sangat tidak puas, 2 = tidak puas, 3 = cukup puas, dan seterusnya. Kemudian, untuk skala yang terakhir yaitu skala ratio merupakan jenis skala yang memberikan perbandingan antar variabel.

Baca juga: Mendesain Rancangan Penelitian Sosial

Nah, itulah macam-macam skala pengukuran instrumen menurut Sugiyono (2010) beserta sekilas penjelasan mengenai pengertiannya. Dari berbagai jenis skala yang sudah ada tersebut, kamu dapat menggunakannya untuk membantu dalam menganalisa data dan membantu dalam menghasilkan data yang sesuai.


Sumber:

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta.

Artikel Terbaru

Wasila

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *