Sejarah Perkembangan Drama di Dunia

Drama merupakan kata yang sudah tidak asing didengar dalam bidang kesenian ataupun sastra. Secara umum, pengertian drama merujuk kepada sebuah pementasan ataupun teater. Di balik kata yang sederhana itu, sebenarnya drama dapat menceritakan realita kehidupan yang terjadi secara nyata namun dikemas dengan penampilan dari para aktornya. Sampai saat ini, drama menjadi salah satu kesenian yang masih digemari oleh hampir seluruh negara di dunia.

Di balik itu semua, apakah kamu sudah mengetahui sejarah perkembangan drama sehingga masih tetap eksis hingga sekarang? Kalau Kamu ingin tahu seperti apa sebenarnya perkembangan drama melewati berbagai zaman, berikut ini ialah sejarah perkembangan drama yang terangkum dan bisa kamu pelajari.

Drama Jaman Yunani

drama bangsa yunani
Sumber foto : gapurasejarah.blogspot.com

Banyak bukti sejarah yang mengatakan bahwa bangsa Yunani merupakan masa awal peradaban manusia. Segala aktivitas manusia pun terjelaskan dimulai dari masa Yunani. Begitupun dengan drama.

Drama Yunani dapat digolongkan menjadi drama klasik. Pertunjukan drama pertama kali digelar di Yunani sekitar 2.300 tahun yang lalu. Jakob Soermardjo, seorang ahli teater menyatakan, bentuk panggung pada zaman Yunani dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut amphitheater

Baca juga: Cara Mengola Blocking

Cerita yang ditampilkan pada panggung pada umumnya berjenis tragedi yang mengisahkan tentang perjuangan manusia dalam menyembah dewa-dewanya. Biasanya jenis drama ini prolognya cukup panjang dengan durasi totalnya sekitar 1 jam. Ciri khas lainnya ialah terdapat selingan berupa paduan suara di antara plotnya.

Selain drama jenis tragedi juga terdapat jenis komedi. Itu muncul sebagai bentuk sindiran terhadap drama-drama tragedi yang sengaja dibuat supaya lucu. Inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal lahirnya drama komedi. Tokoh  yang terkenal pada zaman ini ialah Plato, Aristoteles, dan Sopholches.

Drama Jaman Romawi

drama bangsa romawi
Sumber foto : timetoast.com

Seperti drama pada Zaman Yunani, drama ini pun tergolong drama klasik. Drama Romawi merupakan hasil adaptasi dari drama Yunani. Hampir bentuk panggung maupun cerita persis seperti drama Yunani. Hal ini dikarenakan, setelah tahun 200 SM  kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma.  Namun, Drama Romawi juga menjadi penting karena mempunyai pengaruh terhadap Zaman Renaissance.

Berdasarkan catatan dari Brockett (1964), Drama Romawi pertama kali dipertunjukan di Kota Roma pada tahun 240 SM. Pertunjukan tersebut dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Cerita yang ditampilkan  tidak jauh-jauh dari aktivitas pemujaan terhadap para dewa mereka. Namun berangsur-angsur menceritakan tentang perjuangan manusia dalam mencari kekuasaan. Walaupun diadaptasi dari Yunani, dalam setiap pementasan, panggung sengaja dibuat sedemikian megah. Tokoh yang terkenal pada zaman ini yaitu Plutus, Lucius Seneca dan Terence.

Drama Abad Pertengahan

drama abad pertengahan
Sumber foto : wawasansejarah.com

Drama Abad pertengahan berada dalam kisaran tahun 1400an-1500an di Eropa. Pada zaman ini banyak pengaruh dari Gereja Katolik. Terlihat salah satunya dari nyanyian dalam pementasan drama, dinyanyikan oleh para koor Gereja atau para rahib. Drama ini diselenggarakan dalam bentuk merayakan hari-hari besar umat Kristen.

Hingga suatu waktu, pihak gereja tak mengijinkan lagi dilakukan pementasan drama di dalamnya. Panggung akhirnya berpindah ke lapangan-lapangan atau bahkan jalanan. Para aktor bermain di atas kereta lalu digiring sehingga berkeliling kota. Tentu saja dengan nuansa cerita yang lebih berbeda, biasanya tentang pengetahuan, kemiskinan atau kebijakan.

Ciri-ciri lainnya drama pada drama abad ini ialah:

  • Pertunjukan berada di atas kereta yang disebut Pentas Kereta atau Pageant
  • Dekor bersifat sederhana dan simbolis
  • Naskah bersifat anonim (tidak ada nama pengarang)
  • Menggunakan bahasa sehari-hari
  • Pementasan diselenggarakan di tempat umum dengan memungut biaya

Baca juga: Penokohan Drama

Drama Zaman Italia

drama zaman italia
Sumber foto : italianrenaissance.com

Drama pada zaman Italia berkembang pada abad ke-17. Pusat-pusat teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawanlah, pementasan digelar dengan membawa naskah-naskah yang meniru dari drama-drama klasik (Yunani dan Romawi). Para aktornya pun kebanyakan ialah pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana.

Jenis drama yang berkembang pada zaman ini ialah tragedi, komedi, dan pastoral (drama yang mengisahkan percintaan para dewa dengan para gembala di pedesaan)Tokoh yang dikenal pada Zaman Italia ialah Dante, Torwuato Tasso, dan Niccolo Machiavelli.

Untuk lebih jelasnya berikut ciri-ciri drama pada Zaman Italia:

  • Improvisasi atau tanpa naskah
  • Gayanya dapat dibandingkan dengan gaya jazz, melodi ditentukan dulu, baru kemudian pemain berimprovisasi
  • Cerita berdasarkan dongeng dan fantasi serta tidak berusaha untuk mendekati kenyataan

Aktingnya berupa pantomim, gila-gilaan, adegan, dan urutan tidak diperhatikan

Drama Masa Elizabeth I

drama masa Elizabeth
Sumber foto : elizabethanenglandlife.com

Masa ini terjadi antara tahun 1558 sampai 1603, yang meskipun cukup singkat tapi perkembangan dari seni drama cukup pesat. Saat ini juga yang melahirkan seniman drama terkenal William Shakespeare. Bukan tanpa alasan, karena Ratu Elizabeth I sangat mendukung untuk drama berkembang. Ia memprakarsai pendirian berbagai teater untuk pertunjukan drama.

Gedung pementasan yang berkembang pada zaman ini dibangun seperti lingkaran. Sehingga penonton bisa duduk hampir di seluruh sisi panggung. Jenis gedung teater ini sangat diminati oleh masyarakat, sehingga banyak dibangun kembali untuk menikmati pertunjukan drama. Gedung berjenis ini disebut Globe yang bisa menampung 3000 penonton.

Ciri khas dari karya drama pada zaman ini ialah sebagai berikut:

  • Dialognya yang cenderung panjang
  • Naskah bersifat puitis.
  • Penyusunan naskah lebih bebas, tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
  • Perilaku aktor bersifat simultan, berganda, dan rangkap
  • Jenis drama campuran yang melahirkan jenis drama tragedi komedi.

Drama Zaman Perancis

Drama zaman Prancis
Sumber foto : greenlane.com

Drama pada zaman Perancis berkembang pada abad ke-17 di daerah Spanyol dan Perancis. Di Perancis, banyak drama yang diadaptasi dari zaman Abad Pertengahan. Namun, drama-drama tentang keagamaan hanya berkembang di Spanyol Utara dan Barat karena pernah dikuasai Islam. Ketika kekuasaan Arab mundur pada tahun 1400-an dari daerah tersebut, maka drama dijadikan media untuk menyalurkan kembali agama kristiani pada masyarakat setempat. Sehingga, mereka sangat berperan dalam pengembangan drama.

Drama di luar gereja atau drama sekuler juga berkembang pesat. Pada tahun 1576 telah berdiri gedung teater di Madrid. Pelopor dari drama sekuler ialah Lope de Reuda (1510-1565). Tokoh-tokoh lainnya yang terkenal pada zaman ini ialah Pierre Corneille, Jean Racine, Moliere, Jean Babtista Poquelin, Voltaire, Denis Diderot, dan Beaumarchais.

Untuk lebih jelasnya, ciri-ciri khas pada drama zaman Perancis ialah sebagai berikut:

  • Pertunjukan drama yang dramatik, bersifat seremonial, dan ritual kemasyarakatan
  • Jenis panggung diadaptasi dari panggung pada zaman Elizabeth
  • Naskah drama cenderung menggabungkan drama-drama klasik dengan tema -tema sosial yang dikaitkan dengan budaya pikir kaum terpelajar
  • Mulai menambahkan wanita sebagai aktor

Drama Zaman Jerman

Drama Zaman Jerman
Sumber foto : Juhnews.blogspot.com

Pada awal abad ke 19 antara tahun 1800-1850 , sebuah pergerakkan teater besar yang dikenal dengan romantik mulai berlangsung di Jerman. August Wilhem Schlegel  terinspirasi dari seniman Shakespeare sehingga mengembangkan drama di wilayah Jerman. Beberapa tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Gotthold Ephraim Lessing, Wolfgang Von Goethe, Chirsthop Friedrich Von Schiller.

Ciri khas drama pada zaman Jerman ialah sebagai berikut:

  • Naskah drama ditulis dan lebih terstruktur
  • Sebagian plot cerita memiliki episodenya sendiri
  • Cerita sejarah yang dengan latar perang, pemberontakan, pembakaran istana, perang tanding, dan sebagainya
  • Setting panggung lebih rapi dan layar panggung menggunakan gambar atau ilustrasi

Drama Modern

Drama modern
Sumber foto : Uzone.id

Drama Modern merupakan cikal bakal dari drama yang bersifat realisme yang lahir di penghujung abad ke-19. Realisme adalah sebuah aliran pada drama yang menampilkan lakon kehidupan secara nyata, baik melalui dialog maupun properti yang digunakan. Namun, lambat laun drama modern bergerak ke arah eksperimental.

Pada awal abad ke 20 inilah banyak gaya baru yang terlahir dari para sutradara, artistik dan penikmat drama. Sehingga drama-drama yang ditampilkan ialah berbentuk simbolisme, surealisme, epik, bahkan absurd. Dari gaya-gaya eksperimental tersebutlah drama menambah daya tarik dari bentuk ekspresi dan keindahan.

Banyak yang memengaruhi perkembangan drama pada zaman modern. Yaitu berupa teknologi dan perang. Untuk menyimbangi dengan kehadirannya televisi, Jezy Growtzi berinisiatif untuk membuat drama dengan cara yang berbeda. Ia membagi panggung menjadi beberapa bagian dan menempatkannya di tempat yang berbeda-beda mengitari penonton dan memungkinkan pemain untuk mendekati penonton. Pada saat pertunjukan mulai berlangsung, penonton menjadi sangat aktif, karena harus mengikuti permainan yang berlangsung dari panggung yang berlainan.

Sampai saat ini, drama modern masih berkembang di dunia. Ciri-ciri khas drama modern ialah sebagai berikut:

  • Gaya drama bersifat realis dan eksperimental
  • Panggung dibuat dalam bentuk arena
  • Naskah lebih terstruktur dan dicantumkan nama penulis
  • Pertunjukan dilengkapi dengan musik, tata cahaya, dekorasi, dan efek elektronik

Drama Tradisional Indonesia

drama tradisional indonesia
Sumber foto : steemit.com

Di Indonesia sendiri, sejarah seni drama dimulai pada sebelum zaman Hindu. Hal itu dijelaskan oleh Kasim Achmad dalam bukunya yang berjudul “Mengenal Teater Tradisional di Indonesia”. Seperti bangsa Romawi dan Yunani, drama oleh masyarakat Indonesia dulu juga digunakan untuk mendukung berbagai upacara keagamaan. Jenisnya cukup beragam, seperti drama tragedi, komedi, surealis dan drama kerakyatan.

Drama tradisional di Indonesia pun berkembang bermacam-macam sesuai dengan suku dan wilayah yang ada di Indonesia. Semuanya memilki kekhasan dan ciri tersendiri.

Baca juga: Sejarah Perkembangan Drama di Indonesia

Ternyata perjalanan sejarah seni drama cukup panjang dan berasal dari berbagai macam bangsa. Masing-masing pun meskipun ada kemiripan tapi juga memiliki ciri khasnya masing-masing. Memang keragaman seni sangat mengagumkan dan tak pernah habis untuk dipelajari. Jadi untuk Kamu yang sedang belajar seni, jangan pernah bosan, karena ada banyak sekali hal untuk dipelajari!

Artikel Terbaru

Zia

Zia

Bekerja sebagai buruh tulis dalam bidang pendidikan, penulisan kreatif, dan teknologi

Komentar

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *