Rumah Adat Sulawesi Barat Serta Penjelasannya

Berbicara mengenai rumah adat Sulawesi Barat, pastinya akan berhubungan dengan suku-suku yang mendiami wilayah Sulawesi Barat ini. Beberapa diantaranya adalah suku Mandar dan suku Kalumpang.

Rumah adat Sulawesi Barat tersebut punya ciri khasnya masing-masing yang pastinya mencerminkan keindahan budaya dari suku yang ada di wilayah ini. Langsung saja mari simak penjelasan tentang rumah adat Sulawesi Barat.

Rumah Adat Boyang

Rumah Adat Boyang
Sumber: nesabmedia.com

Rumah adat Sulawesi Utara yang pertama ini disebut dengan rumah adat boyang. Adalah suku Mandar yang menempati rumah adat ini sebagai tempat tinggal. Bentuk dari rumah adat boyang adalah rumah panggung yang ditopang dengan tiang-tiang penyangga, hampir sama dengan ciri khas rumah adat di wilayah Sulawesi.

Tiang-tiang penyangga rumah adat Sulawesi Barat ini tidak ditancapkan ke dalam tanah. Namun, hanya berdiri di atas batu dengan tujuan supaya kayu tak mudah lapuk. Setiap rumah adat boyang biasanya akan mempunyai 2 tangga, masing-masing ada di depan dan belakang rumah. Jumlah anak tangganya diharuskan berjumlah ganjil.

Keseluruhan bahan yang dipakai untuk membuat rumah adat boyang adalah bahan kayu, begitu juga di bagian dinding dan lantainya. Khusus untuk dinding rumah, dibuat dari papan kayu yang diukir dulu dengan ukiran khas Mandar.

Kemudian, untuk bagian atapnya berbentuk prisma serta memanjang dari depan hingga belakang rumah. Sebagai penutup atap, bahan yang dipakai bisa berbeda-beda, ada yang menggunakan rumbia atau sirap, namun ada juga yang menggunakan seng. Umumnya, atap rumbia dan sirap lebih banyak dipakai di masa lampau.

Untuk memudahkan pengelompokan, rumah adat ini dibagi ke dalam beberapa ruangan atau lotang dengan kegunaan yang berbeda. Ada tiga macam lotang utama yaitu samboyang, tangnga boyang, dan bui boyang. Kemudian, ada 4 lotang lagi yang dipakai sebagai lotang tambahan yaitu tapang, paceko, lego-lego, serta naon boyang. Penjelasan tentang 7 lotang tersebut akan dikupas sebagai berikut.

Baca juga: 8 Alat Musik Sulawesi Barat dan Cara Memainkannya

  1. Samboyang

Ruangan atau lotang yang pertama dari rumah ini terletak di bagian paling depan dengan fungsi yang serbaguna. Samboyang bisa dipakai untuk menerima tamu, tempat tidur para tamu yang bermalam, tempat diselenggarakannya hajatan, dan tempat menyemayamkan jenazah sebelum dikubur. Ukuran dari samboyang juga terhitung lebar dan luas.

  1. Tangnga Boyang

Berbeda dengan samboyang yang lebih banyak dipakai untuk keperluan tamu, tangnga boyang ini lebih difungsikan sebagai ruang keluarga. Kebanyakan ruangan ini dipakai untuk bercengkerama dan bersenda gurang dengan keluarga. Letakanya ada di sebelah samboyang, namun dari segi ukurannya pun lebih lebar dan luas jika dibandingkan dengan samboyang.

  1. Bui Boyang

Ruangan atau lotang berikutnya terletak di bagian paling belakang. Ruangan ini terdiri dari beberapa kamar tidur atau songi. Beberapa kamar tidur tersebut dibagi sesuai dengan penghuni jumlah penghuni rumah.

  1. Tapang

Tapang terletak di bagian loteng rumah dan digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang. Dalam kata lain ruangan ini adalah gudang. Namun, pada masa dulu, tapang digunakan sebagai tempat gadis calon pengantin.

  1. Paceko

Ruangan ini adalah dapur yang digunakan selayaknya dapur pada umumnya, yaitu untuk memasak. Di dalam paceko, biasanya juga ada ruangan lain yaitu kamar mandi (pattetemeangang).

  1. Lego-Lego

Lego-lego terletak di bagian depan rumah dan merupakan ruangan tersendiri. Bentuknya semacam gazebo yang mempunyai atap, namun tanpa dinding. Fungsinya juga tak beda jauh seperti gazebo yaitu digunakan untuk beristirahat dan bersantai.

  1. Naong Boyang

Bagian ini adalah bagian kolong rumah yang dipakai oleh masyarakat suku Mandar sebagai tempat beternak dan menyimpan alat-alat pertanian. Terkadang juga dipakai pula sebagai tempat menenun kain. Saat ini, naong boyang telah dimodifikasi dengan memberikan lantai permanen serta diberikan dinding.

Dalam hal jenisnya, rumah adat Sulawesi Barat dibagi menjadi dua jenis yaitu boyang adaq dan boyang beasa. Boyang adaq merupakan rumah adat yang ditinggali oleh masyarakat suku Mandar kalangan atas atau bangsawan. Sementara itu, boyang beasa menjadi tempat tinggal bagi masyarakat kalangan biasa.

Dikarenakan fungsinya yang berbeda tersebut, terdapat perbedaan pula dalam hal ornamen rumah. Pada rumah adat boyang adaq, terdapat ornamen yang melambangkan status sosial mereka.

Ornamen itu ada di bagian penutup bubungan (tumbaq layar) yang berjumlah 3-7 susun dan disebut dengan teppang. Apabila jumlah susunannya semakin banyak, maka bisa dipastikan kalau si empunya rumah adalah orang dengan derajat kebangsawanan yang tinggi.

Selain adanya ornamen, rumah adat boyang adaq juga dilengkapi dengan dua susun tangga. Susunan yang pertama berjumlah 3 anak tangga, sedangkan susunan kedua berjumlah 9 hingga 11 anak tangga.

Untuk memisahkan kedua susunan tangga tersebut, terdapat bagian yang disebut dengan pararang. Di lain sisi, rumah adat beasa tidak mempunyai desain semewah rumah adat boyang adaq. Hanya ada satu susun penutup bubungan serta satu susun anak tangga.

Baca juga: 13 Suku di Pulau Sulawesi

Keunikan Rumah Adat Boyang

Keunikan Rumah Adat Boyang
Sumber: tommuanemandaronline.blogspot.com

Setiap rumah adat biasanya akan mempunyai keunikan tersendiri entah itu berhubungan dengan bentuk, proses pembuatan, maupun dari segi ornamennya. Rumah adat boyang juga mempunyai keunikan dalam proses pembuatan rumah yang mana saat pembuatan rumah dilakukan dengan serangkaian proses musyawarah.

Dalam musyawarah pembangunan rumah, biasanya akan dipimpin oleh tetua adat maupun pemilik rumah yang lebih tua. Selain itu, musyawarah juga akan melibatkan pappapia boyang atau ahli pembangunan rumah.

Musyawarah akan meliputi beberapa hal diantaranya mengenai bentuk rumah yang berhubungan dengan status sosial pemilik rumah. Lalu, waktu pembangunan rumah juga tak kalah penting dan jadi salah satu fokus pembahasan.

Masyarakat suku Manda punya kepercayaan kalau waktu membangun rumah adat tidak boleh dilakukan sembarangan. Hal ini dikarenakan adanya waktu baik dan waktu buruk yang akan berimbas pada kehidupan pemilik rumah. beberapa hari yang dipercayai sebagai hari baik adalah hari senin, kamis, atau jum’at.

Sementara itu, ada juga bulan-bulan yang kurang disarankan untuk membangun rumah yaitu pada bulan muharram, safar, jumadil awal, serta dzulkaidah. Bulan-bulan tersebut meman berhubungan dengan kalender hijriyah atau kalender Islam.

Rumah Adat Banoa Sibatang

Rumah Adat Banoa Sibatang
Sumber: aminama.com

Berbeda dengan rumah adat sebelumnya yang ditinggali oleh suku Mandar, rumah adat Sulawesi Barat ini ditinggali oleh suku Kalumpang atau Galumpang. Konon, bentuk rumah adat banoa sibatang ini dipengaruhi oleh bangsa Austronesia yang pernah datang ke wilayah ini. Selain pengaruh dari bangsa tersebut, rumah adat banoa sibotang juga dipengaruhi oleh masyarakat suku Toraja.

Bentuk pengaruh dari bangsa Austronesia terlihat pada lantainya yang berpola rakit. Sedangkan, pengaruh dari Toraja terlihat pada bagian atapnya yang mirip dengan atap rumah tongkonan. Untuk pembuatan atapnya sendiri dibuat dari kayu sirap, kayu besi, nipah, bambu, rumbia, ijuk, dan ilalang.

Keseluruhan bahan yang dipakai memang didominasi oleh bahan kayu. Teknik yang dipakai dalam membangun rumah juga tak kalah tradisional yaitu dengan menggunakan teknik simpul dan ikat.

Salah satu hal yang bisa dikatakan unik dari rumah adat Sulawesi Selatan ini adalah semakin tinggi tiang penyangga rumah, maka semakin tinggi pula status sosial pemilik rumah tersebut.

Sehingga, ketinggian tiang penyangga bisa dijadikan tolak ukur status sosial masyarakat suku Kalumpang. Namun, terlepas dari status sosial yang berhubungan dengan tiang penyangga, pembuatan tiang penyangga lebih ditujukan untuk menghindari banjir.

Baca juga: Pakaian Adat Sulawesi Barat Serta Pembahasannya

Jadi, itulah dua rumah adat Sulawesi Barat yang ditempati oleh suku Mandar dan suku Kalumpang. Dengan mengenal kedua rumah adat tersebut, setidaknya bisa menjadi ajang apresiasi dan pengenalan lebih lanjut akan budaya daerah Indonesia.

Artikel Terbaru

Wasila

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *