Rumah Adat Bangsal Kencono Yogyakarta

Kebudayaan Yogyakarta nampaknya akan selalu membuat setiap orang merasa takjub. Salah satunya adalah rumah adatnya yang dijuluki dengan bangsal kencono. Sebagai bangunan Keraton Yogyakarta, sudah tentu kalau rumah adat ini penuh dengan keunikan serta keindahan. Supaya lebih dekat mengenal rumah adat Yogyakarta satu ini, mari simak ulasan lengkapnya dari mulai ciri khas hingga bagian-bagian rumah berikut.

Rumah Adat Bangsal Kencono

Rumah Adat Bangsal Kencono
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Rumah adat bangsal kencono adalah rumah adat dengan bentuk joglo yang menjadi bangunan khas Keraton Yogyakarta. Rumah adat ini begitu besar dengan desain arsitektur yang mendapat pengaruh dari mulai Belanda, Portugis, hingga Cina. Tetapi, secara keseluruhan, pengaruh budaya Jawa masih mendominasi bangunan bangsal kencono.

Konon, rumah adat ini telah dibangun sejak tahun 1756 oleh Sultan Hamengku Buwono. Pada mula pembangunan, rumah adat bangsal kencono difungsikan sebagai tempat menyelenggarakan acara keagamaan maupun acara yang berhubungan dengan kesultanan.

Baca juga: 12 Pakaian Adat Yogyakarta

Ciri Khas Rumah Adat Bangsal Kencono

Ciri Khas Rumah Adat Bangsal Kencono
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Setiap rumah adat tentu mempunyai ciri khas yang membuatnya berbeda dari rumah adat lainnya. Rumah adat Jogja satu ini juga mempunyai ciri khas yang dapat dilihat dari berbagai sisi. Ciri khas tersebut berhubungan dengan ukuran dan desain. Setiap ciri khas tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

  1. Ukuran Rumah Adat Bangsal Kencono

Dari segi ukuran, luas rumah adat bangsal kencono bisa saja berbeda-beda. Ukuran yang berbeda itu disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, ketika difungsikan sebagai bangunan Keraton Yogyakarta, ukurannya haruslah luas dan besar karena harus mampu menampung tamu istana yang jumlahnya bisa ratusan hingga ribuan.

  1. Desain Rumah Adat Bangsal Kencono

Desain yang diusung untuk memperindah rumah adat bangsal kencono lebih didasarkan ke ornamen yang berhubungan dengan alam. Sehingga, dalam desain interior maupun eksterior rumah adat ini tak akan jauh-jauh dari hiasan berupa flora dan fauna.

Dalam rumah adat Jogja ini juga kerap ditemukan burung yang dirawat dalam sangkar. Menurut kepercayaan yang dipercayai oleh masyarakat setempat, burung dapat dijadikan sebagai pemandu untuk mengetahui keadaan alam.

Bentuk dan Material Rumah Adat Bangsal Kencono

Bentuk dan Material Rumah Adat Bangsal Kencono
Sumber: kratonjogja.id

Mengenai bentuk rumah adat bangsal kencono, bagian atap dari rumah ini menggunakan atap dengan desain joglo. Bahan yang dipakai untuk membuat atap berupa genteng dari tanah atau sirap. Atap tersebut menggunakan bubungan tinggi yang ditopang dengan empat tiang yang disebut dengan soko guru.

Tiang-tiang itu dibuat dari bahan kayu dan diberikan warna hijau atau hitam. Pada bagian bawahnya lagi, tiang-tiang rumah adat Yogyakarta ini ditopang oleh umpak batu. Penopang ini dinilai sangat ampuh dan tahan terhadap gempa.

Pada bagian dinding, bahan yang dipakai berupa kayu dengan kualitas tinggi seperti kayu jati dan nangka. Pemilihan kayu yang berkualitas tinggi itu difungsikan supaya rumah mampu bertahan lama. Lantai dari rumah adat ini tak lagi menggunakan papan kayu sebagai bahannya, melainkan berasal dari marmer dan granit.

Fungsi Rumah Adat Bangsal Kencono

Fungsi Rumah Adat Bangsal Kencono
Sumber: kratonjogja.id

Mengingat rumah adat Jogja ini lokasinya berada di kawasan Keraton Yogyakarta, maka dari segi fungsi juga tidak akan jauh-jauh dari kepentingan keraton. Fungsi pertama, rumah bangsal kencono dipakai tempat tinggal para anggota Keraton Yogyakarta, termasuk raja dan abdi keraton. Fungsi yang kedua, rumah adat Jogja bangsal kencono juga dipakai sebagai tempat pertemuan antara raja dengan tamu pentingnya.

Kemudian, fungsi berikutnya, rumah adat ini juga digunakan sebagai tempat melakukan upacara adat dan upacara keagamaan. Dari beberapa fungsi tersebut diketahui oleh rumah adat bangsal kencono punya banyak fungsi, sehingga termasuk rumah adat yang serbaguna.

Bagian Rumah Adat Bangsal Kencono

Bagian Rumah Adat Bangsal Kencono
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Sebagai rumah adat dengan bentuk yang cukup besar dan luas, rumah adat bangsal kencono mempunyai susunan bagian yang tidak sedikit. Secara garis besar, rumah adat bangsal kencono terbagi menjadi 3 bagian kawasan yaitu bagian depan, bagian inti, dan bagian belakang. Ketiga bagian tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

Bagian Depan (Gladhag Pangurakan)

Bagian depan dari rumah adat Jogja ini terletak di bagian paling depan dan terdiri dari beberapa bagian lagi yaitu:

  1. Gladhag pangurakan: Gerbang utama yang berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam istana. Posisi dari gladhag pangurakan menghadap ke alun-alun lor Keraton Yogyakarta.
  2. Alun-alun lor Keraton Yogyakarta: Sebuah lapangan luas yang mempunyai dua pohon beringin kembar. Alun-alun ini difungsikan sebagai lokasi untuk melakukan berbagai upacara adat mulai dari upacara adat sekaten, suro, dan grebek merapi. Kata “lor” di sini diartikan sebagai “utara.”
  3. Masjid Gedhe: Sesuai dengan namanya, bangunan masjid gedhe difungsikan sebagai tempat ibadah umat Islam, terutama warga Keraton Yogyakarta. Letaknya ada di sisi barat dari alun-alun lor.

Bagian Inti

Bagian kedua dari rumah adat Yogyakarta bangsal kencono disebut dengan bagian inti. Terdapat beberapa atau bagian lagi di dalam bagian inti ini, diantaranya:

  1. Bangsal pagelaran

Bagian khusus yang berfungsi sebagai tempat para punggawa Keraton Yogyakarta ketika akan menemui raja, terutama saat upacara adat dilakukan.

  1. Sitihinggil

Bagian inilah yang dipakai oleh para warga Keraton Yogyakarta untuk mengadakan upacara adat. Biasanya, sultan akan berada di tempat ini ketika upacara adat sedang berlangsung.

Sitihinggil diambil dari kata “siti” yang artinya tanah, dan “hinggil” yang artinya tinggi. Penamaan tersebut dikarenakan ruangan ini bagian tanahnya memang lebih ditinggikan dari bagian yang lain. Lokasinya ada di sebelah selatan dari alun-alun lor.

  1. Kamandhungan Ler

Bagian ini merupakan bagian dari sitihinggil yang mempunyai beberapa bagian pendukung seperti bangsal pancaniti, bangsal pancaosan, bale anti wahana. Beberapa ada juga yang menyebut kamandhungan ler sebagai plataran keben. Nama itu turut disematkan karena adanya pohon keben di sebelah bangunan ini.

  1. Bangsal srimanganti

Tempat ini mempunyai fungsi sebagai ruangan menerima tamu dan juga sebagai lokasi pementasan budaya. Bangsal ini juga dilengkapi dengan plataran srimanganti. Di sisi timur bangsal srimanganti terdapat bangsal trajumas yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang pusaka milik Keraton Yogyakarta.

Disamping itu, bangsal srimanganti juga terdiri dari beberapa bangunan lagi yaitu kantor keamanan kraton, kantor tepas dwarapura, tepas halpitapura, dan kantor keamanan kraton.

  1. Kedhaton

Area yang khusus digunakan sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan. Kedhaton terdiri dari beberapa bagian yaitu keputren sebagai tempat tinggal istri sultan, dan kesatrian yang dipakai sebagai tempat tinggal putra raja. Kedhaton menjadi pusat kawasan rumah adat Yogyakarta bangsal kencono dan menjadi rumah dengan tingkatan paling tinggi dari bagian lainnya.

  1. Kemagangan

Tempat untuk menerima abdi dalem, tempat belajar dan ujian, serta tempat untuk apel para abdi dalem saat magang.

  1. Sitihinggil kidhul

Tempat yang difungsikan untuk gladi resik upacara grebeg, tempat raja menyaksikan adu rampogan, tempat prajurit perempuan berlatih, tempat prosesi awal upacara pemakaman sultan yang akan dibawa menuju ke Imogiri.

Bagian Belakang

Bagian terakhir dari rumah adat Yogyakarrta disebut dengan bagian belakang. Di bagian ini juga dibagi ke dalam beberapa bagian lagi yaitu:

  1. Alun-alun kidul: Alun-alun yang berlokasikan di bagian selatan keraton Yogyakarta. Alun-alun ini juga kerap dijadikan sebagai pengkeran.
  2. Plengkung nirbaya: Bagian yang menjadi tempat poros utama untuk menuju ke tempat pemakaman Imogiri.

Baca juga: 7 Senjata Tradisional Yogyakarta

Pemahaman Akhir

Rumah adat Bangsal Kencono merupakan salah satu keajaiban budaya Yogyakarta yang memukau setiap orang. Bangunan ini merupakan bagian dari Keraton Yogyakarta yang memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Dibangun sejak tahun 1756 oleh Sultan Hamengku Buwono, rumah adat ini berfungsi sebagai tempat menyelenggarakan acara keagamaan dan acara yang berkaitan dengan kesultanan.

Rumah adat Bangsal Kencono memiliki ciri khas yang membedakannya dari rumah adat lainnya. Ukurannya bisa bervariasi, tergantung pada kebutuhan. Desainnya mengusung ornamen yang terinspirasi dari alam, dengan hiasan flora dan fauna yang khas. Burung-burung yang dirawat dalam sangkar juga sering ditemukan di dalamnya, karena diyakini dapat menjadi pemandu untuk mengetahui keadaan alam.

Bentuk dan material rumah adat Bangsal Kencono juga menarik perhatian. Atapnya menggunakan desain joglo dan genteng dari tanah atau sirap, ditopang oleh empat tiang yang disebut soko guru. Tiang-tiangnya terbuat dari kayu dengan warna hijau atau hitam, sementara dindingnya menggunakan kayu berkualitas tinggi seperti kayu jati dan nangka. Lantainya bukan lagi papan kayu, melainkan marmer dan granit.

Rumah adat Bangsal Kencono memiliki berbagai fungsi, termasuk sebagai tempat tinggal anggota Keraton Yogyakarta, tempat pertemuan antara raja dengan tamu penting, serta lokasi untuk upacara adat dan keagamaan. Bangsal Kencono termasuk rumah adat yang serbaguna.

Dalam struktur bangunannya, rumah adat Bangsal Kencono terbagi menjadi tiga bagian utama: bagian depan (Gladhag Pangurakan) dengan gerbang utama, alun-alun lor, dan masjid gedhe; bagian inti dengan berbagai bangsal penting seperti bangsal pagelaran, sitihinggil, kamandhungan ler, dan bangsal srimanganti; serta bagian belakang dengan alun-alun kidul dan plengkung nirbaya.

Rumah adat Bangsal Kencono merupakan bukti kejayaan dan kekayaan budaya Yogyakarta yang patut dilestarikan dan dipelajari lebih lanjut. Keindahan, sejarah, dan ciri khasnya menjadi daya tarik yang mengundang kekaguman dari setiap orang yang mengenalnya.

Itulah sedikit ulasan mengenai rumah adat Jogja yang dikenal dengan nama rumah adat bangsal kencono. Dari ciri khas hingga penjelasan mengenai setiap bagian rumah menunjukkan kalau rumah adat ini begitu besar dan penuh akan nilai-nilai adat. Saat ini, bangunan rumah adat ini pun masih bisa ditemukan di Yogyakarta tepatnya di kawasan Keraton Yogyakarta.


Referensi:

id.wikipedia.org

Artikel Terbaru

Avatar photo

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *