Rumah Adat Bangka Belitung Serta Penjelasannya

Apabila membicarakan rumah adat Bangka Belitung, sebenarnya tidak akan jauh dari pengaruh dari provinsi yang dekat dengan wilayah ini, yaitu Sumatera Selatan. Hal tersebut dikarenakan dulunya, Bangka Belitung menjadi bagian dari Sumatera Selatan. Namun, pada awal 2000-an, Bangka Belitung mengalami pemekaran resmi yang kemudian membuatnya jadi provinsi tersendiri.

Mengenai rumah adatnya, Bangka Belitung mempunyai 3 rumah adat yaitu rumah rakit, rumah limas, dan rumah panggung. Ketiga rumah adat tersebut boleh jadi memang mempunyai kemiripan dengan rumah adat Sumatera Selatan. Namun, tentu masih memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya begitu khas. Nah, penjelasan mengenai ketiga rumah adat tersebut akan dibahas lebih lanjut sebagai berikut.

Rumah Adat Rakit

Rumah Adat Rakit
Sumber: pariwisataindonesia.id

Melihat ke sejarah Bangka Belitung yang sebelumnya menjadi satu dengan Sumatera Selatan, maka tidak heran kalau rumah adat Bangka Belitung satu ini juga sama dengan rumah adat milik Sumatera Selatan. Rumah adat rakit telah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya, bahkan dulu rumah adat ini dijadikan sebagai tempat singgah orang-orang Inggris, Belanda, Spanyol, maupun Cina yang datang ke wilayah ini.

Baca juga: Pakaian Adat Bangka Belitung

Selain itu, beberapa ada pula yang menyebut kalau rumah adat Bangka Belitung ini dijadikan sebagai gudang penyimpanan barang dagangan Belanda. Dengan begitu, bisa dikatakan kalau rumah rakit bukan sekadar sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai tempat kegiatan ekonomi berlangsung.

Nama rumah adat rakit diambil dari ciri-ciri rumah ini yang dibangun di atas rakit. Para warga yang memilih tinggal di rumah adat rakit percaya kalau sungai merupakan sumber mata pencaharian dan sumber kehidupan. Sehingga, dengan tinggal di pinggiran sungai, mereka akan mendapatkan berkah dan rezeki yang lebih banyak.

Berbicara masalah bahan atau material yang dipakai untuk membuat rumah rakit, umumnya bahan yang dipakai adalah bambu. Bambu yang dipilih juga bukan bambu biasa yaitu bambu manyan yang punya ukuran lebih besar dibandingkan bambu lainnya. Dengan ukurannya yang besar, bambu ini mempunyai daya apung yang bagus, jadi sangat cocok untuk dibuat sebagai rumah rakit.

Selain menggunakan bambu, ada pula pemilik rumah rakit yang lebih memilih menggunakan balok kayu. Jenis kayu yang dipakai berupa kayu trembesi atau kayu seru. Kayu-kayu tersebut sangat mudah ditemukan di kawasan hutan Bangka Belitung. Untuk dinding rumah, bahan yang dipakai biasanya adalah papan kayu atau cacahan bambu yang dianyam dan dijuluki dengan pepuluh.

Lalu, untuk atap akan menggunakan daun nipah kering dan rotan sebagai pengikat antara atap dan dinding. Dari segi arsitektur, rumah rakit ini masih dipengaruhi oleh budaya Melayu dan sedikit budaya Tionghoa. Meskipun rumah ini ada di atas air, namun dari segi ketahanan juga cukup lama. Sehingga, tentunya akan sangat menguntungkan untuk dipakai sebagai tempat tinggal.

Rumah Adat Limas

Rumah Adat Limas
Sumber: celticstown.com

Nama dari rumah adat Bangka Belitung ini memang sama dengan rumah adat milik Sumatera Selatan. Namun, terdapat beberapa modifikasi yang membuatnya sedikit berbeda dengan rumah limas dari Sumatera Selatan.

Penggunaan rumah adat limas konon disesuaikan dengan status sosial masyarakatnya. Hal ini dikarenakan kebanyakan yang menghuni rumah adat limas adalah keturunan kesultanan Palembang, pejabat pemerintahan di masa Hindia Belanda, maupun para saudagar kaya.

Sama dengan namanya, bentuk atap dari rumah adat Bangka Belitung ini berupa atap limas. Pengaruh kebudayaan Melayu pada rumah adat limas dapat dilihat lewat adanya gaya atap bubung panjang yang berupa penambahan sisi kanan dan kiri bagian atap.

Dalam hal material bangunan, rumah adat limas Bangka Belitung menggunakan kayu dengan jenis unggulan seperti kayu unglen atau kayu merbau. Salah satu bentuk aplikasi kayu tersebut adalah pada penggunaan dinding rumah.

Penggunaan bahan dasar kayu ini tentunya menjadi filosofi tersendiri bagi masyarakat Bangka Belitung yang mana menyimbolkan kedekatan dengan alam dan kesederhanaan. Akan tetapi, ternyata beberapa pemilik rumah limas juga ada yang menggunakan tanah liat sebagai bahan pembuatan atap.

Uniknya, di rumah adat limas ini akan ada dua tangga yang terletak di samping kanan dan kiri rumah. Tangga itu difungsikan sebagai tempat masuk dan keluar rumah. Ini menjadi ciri khas tersendiri, karena kebanyakan rumah biasanya menggunakan tangga di bagian depan rumah, bukan di bagian samping.

Keunikan lain dari rumah limas Bangka Belitung ada pada lantai rumahnya yang punya tingkat ketinggian yang berbeda-beda. Perbedaan tingkatan lantai itu dikenal dengan sebutan bengkilas.

Pada ruangan yang mempunyai ukuran lantai paling tinggi, biasanya akan dipakai untuk acara hajatan. Selain itu, lantai tertinggi juga akan dipakai untuk para tamu yang istimewa. Sedangkan, lantai dengan tingkatan yang tidak terlalu tinggi akan dipakai untuk para tamu dari kalangan biasa.

Rumah Adat Panggung

Rumah Adat Panggung
Sumber: bangkatour.com

Rumah panggung biasanya merupakan bentuk rumah adat yang mudah ditemukan di wilayah Sumatera karena adanya pengaruh dari kebudayaan Melayu. Di Bangka Belitung pun, rumah adat panggung juga bisa ditemukan. Ciri khas dari rumah adat Bangka Belitung ini dibandingkan dengan rumah panggung lainnya ada pada gaya bangunan yang memadukan gaya Melayu Awal, Melayu Bubungan Panjang, dan Melayu Bubungan Limas.

Bahan yang dipakai untuk pembangunan rumah adat panggung berupa kayu, rotan, bambu, daun kering, akar pohon, dan alang-alang. Atapnya berukuran cukup tinggi dan bangunannya sedikit miring. Jumlah jendelannya juga terhitung banyak bila dibandingkan dengan rumah panggung biasanya. Pada bagian dinding, material yang dipakai berupa pelepah pisang, tetapi tak jarang juga berupa papan kayu.

Selanjutnya, dalam hal pembagian bagian rumah, rumah adat panggung hanya dibagi ke dalam 2 ruangan besar yaitu ruangan induk dan dapur. Sebagai rumah panggung, tentu rumah adat Bangka Belitung ini akan dilengkapi dengan tiang-tiang.

Nah, jumlah tiang yang ada di bangunan ini keseluruhannya sebanyak 9 buah. Konon, jumlah tersebut mengikuti kebiasaan nenek moyang masyarakat Bangka Belitung yang lebih sering menggunakan angka 9.

Meskipun jumlah tiangnya cukup banyak, tetapi hanya ada satu tiang yang dipakai sebagai tiang utama. Tiang ini akan diletakkan di bagian tengah rumah sebagai pondasi utama. Tiang utama juga diletakkan paling pertama saat pembangunan rumah. Sedangkan, tiang-tiang lainnya disusun menyesuaikan dengan garis lintang atau bujur dari tiang utama.

Hal yang bisa dikatakan cukup unik dari rumah adat panggung ini adalah tanpa menggunakan cat atau pewarna. Dinding rumah hanya dibiarkan apa adanya. Rumah adat tradisional ini masih dapat ditemukan di era tahun 1980-an. Tetapi, sekarang ini sudah sangat jarang.

Itulah tadi beberapa jenis rumah adat Bangka Belitung yang ternyata masih ada kaitannya dengan rumah adat Sumatera Selatan. Meskipun begitu rumah adat Bangka Belitung juga punya ciri khas tersendiri.

Baca juga: 9 Alat Musik Bangka Belitung

Sayangnya, ketiga rumah adat tersebut sudah cukup jarang ditemukan. Namun, dengan mengetahui serta mengenal ciri khas dari setiap rumah adat Bangka Belitung, setidaknya bisa menjadi langkah untuk mengapresiasi budaya yang dimiliki oleh daerah tersebut.


Referensi:

id.wikipedia.org

goodnewsfromindonesia.id

Artikel Terbaru

Wasila

Wasila

Lulusan Sastra Inggris, UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini berkecimpung di dunia penerjemahan. Disela-sela kesibukan menerjemah, juga menulis artikel dengan berbagai topik terutama berhubungan dengan kebudayaan.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *