Pithecanthropus Mojokertensis

Sebelum kita hidup di zaman yang serba modern seperti saat ini. Dunia pernah mengalami masa sebelum zaman modern. Masa tersebut disebut dengan zaman prasejarah. Pada zaman ini masih beum ada peralatan modern seperti yang sering kamu pakai saat ini. Jadi tidak ada barang barang yang biasa manusia gunakan di masa kini. Lalu apakah pada zaman prasejarah belum ada manusia? Tentu saja tidak.

Pada zaman prasejarah, manusia telah ada. Pada zaman ini juga terdapat peralatan-peralatan yang biasa digunakan manusia, namun jenisnya berbeda. Jenis-jenis manusia yang hidup pada masa ini pun berbeda-beda. Salah satu manusia prasejarah ialah Pithecanthropus Mojokertensis. Untuk lebih memahaminya, mari simak penjelasan berikut ini, ya.

Pithecanthropus Mojokertensis

 

Manusia Pithecanthropus
Sumber: Buku Cakrawala Sejarah 1

Sebelum membahas lebih jauh mengenai Pithecanthropus Mojokertensis ini, akan dibahas terlebih dahulu mengenai apa itu zaman prasejarah. Masa ini adalah zaman ketika orang belum mengenal tulisan yang diakhiri pada abad ke-4 Masehi. Zaman prasejarah meliputi waktu mulai dari adanya manusia sampai kepada ada keterangan-keterangan tertulis kepada kita (Soekmono, 1973:21). Keberadaaan manusia prasejarah sendiri diketahui dari temuan-temuan yang dilakukan oleh para arkeolog. Bukti-bukti tersebut ditemukan dalam bentuk fosil manusia purba.

Fosil manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia sendiri adalah fosil dari pithecanthropus. Manusia purba jenis ini hidup pada plestosen awal, tengah, dan mungkin juga akhir (Soejono & Leirissa, 2010:78). Fosil-fosil nya banyak ditemukan di daerah Perning, Kedungbrubus, Trinil, Sangiran, Sambungmacan, serta Ngandong. Hidup dari manusia ini diperkirakan di sekitar lembah atau kaki gunung dekat perairan darat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daerah ini diperkirakan merupakan kawasan padang rumput dengan pohon yang jarang.

Pithecanthropus ini juga memiliki banyak jenisnya. Salah satu yang tertua adalah Pithecanthropus Mojokertensis. Temuan fosil pertamanya berasal dari formasi Pucangan, Mojokerto. Temuan lainnya ialah di daerah Sangiran. Pada awalnya temuan pithecanthropus ini disebut dengan Pithecanthropus Robustu, namun karena ditemukan di Mojokerto maka disebut dengan Pithecanthropus Mojokertensis.

Fosil manusia purba ini ditemukan di Sangiran tahun 1939 oleh Weidenreich, penemuannya pada lapisan pleistosen bawah yang ditemukan di Mojokerto antara tahun 1936–1941. Pithecanthropus Mojokertensis artinya manusia kera dari Mojokerto. Fosil awal yang ditemukan berupa tengkorak anak berumur 5 tahun (Wardaya, 2009:74).

Baca juga: Peninggalan Kerajaan Kutai

Ciri-Ciri Pithecanthropus Mojokertensis

Manusia purba jenis Pithecanthropus Mojokertensis ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan manusia purba lainnya. Berikut ciri-cirinya:

  1. Memiliki badan yang tegap
  2. Mukanya mempunyai tonjolan kening tebal dan tulang pipi yang kuat
  3. Mukanya menonjol ke depan, oleh karena itu diperlukan otot tengkuk yang kuat untuk mengimbanginya
  4. Ukuran volume otak sekitar 750-1300 cc
  5. Tinggi badan Pithecanthropus Mojokertensis ini mencapai 165 cm hingga 180 cm
  6. Memiliki badan yang tegap dan tidak terdapat dagu di rahangnya
  7. Tulang geraham dan rahangnya lebih kuat, menandakan bahwa makananya kasar
  8. Tulang tengkoraknya berbentuk lonjong
  9. Berdasarkan temuan di Kepuhklagen dan Sangiran, dapat diambil kesimpulan bahwa manusia purba ini hidup sekitar 2,5 hingga 1,5 juta tahun yang lalu

Hasil Kebudayaan

Pithecanthropus Mojokertensis ini hidup di lingkungan yang berpindah-pindah. Mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Untuk berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba ini tentunya membutuhkan alat bantu. Walaupun alat yang digunakan masih sederhana, namun penemuan alat-alat buatan manusia purba ini merupakan sebuah hasil kebudayaan yang berharga pada masa itu.

Kebanyakan alat-alat yang dibuat pada masa ini menggunakan peralatan seadanya, memanfaatkan apad yang ada dari alam. Alat-alat ini, utamanya digunakan untuk pencarian dan pengolahan bahan makanan berupa daging dan umbi-umbian (Soejono & Leirissa, 2010:93). Kebanyakan alat yang dibuat dari batu tersebut bahan pembuatannya diambil dari batuan tufa, kersikan, fosil kayu, kuarsa, endapan, dan lainnya. Berikut beberapa peninggalan Pithecanthropus Mojokertensis, sebagai berikut:

  1. Kapak Perimbas (chopper)

Replika Kapak Perimbas
Sumber: museumpendidikannasional.upi.edu

Merupakan sejenis kapak yang digenggam dan bentuknya masif atau kasar. Sisi tajam dari kapak ini memiliki bentuk cembung, namun terkadang juga lurus. Hal tersebut diperoleh dari pemangkasan pada salah satu sisi pinggiran batu. Kulit pada bagian batunya, beberapa masih menempel.

  1. Alat Serpih

Replika Alat Serpih
Sumber: museumpendidikannasional.upi.edu

Penemuan alat serpih biasanya ditemukan bersama kapak perimbas dan alat batu kasar lainnya. Bahan batuan yang sering dipergunakan adalah jenis batuan tufa, gamping kersikan, dan batuan endap. Alat-alat serpih ini biasanya berukuran kecil dan besar, antara 4-10 cm. Sesuai dengan bentuknya yang tidak terlalu besar, alat-alat ini biasanya digunakan sebagai penggaruk, gurdi, penusuk, dan pisau.

  1. Alat Tulang

Alat-alat ini biasanya dibuat menggunakan tulang dari hewan. Misalnya alat tulang yang dibuat dari tanduk menjangan, namun diruncingkan kembali sehingga lebih tajam. Perkakas dari tanduk ini biasanya digunakan sebagai pencukil atau belati.

  1. Kapak Penetak

Replika Kapak Penetak
Sumber: museumpendidikannasional.upi.edu

Alat ini dibuat dari segumpal batu yang tajamannya dibentuk liku-liku melalui penyerpihan selang-seling pada pinggiranya.

  1. Pahat genggam

Bentuk alat ini hampir mendekati bentuk persegi atau bujur sangkar dengan ukuran sedang kecil.

Cara Hidup Pithecanthropus Mojokertensis

Manusia purba jenis Pithecanthropus Mojokertensis ini hidup dengan cara berpindah-pindah tempat. Kehidupan yang berpindah-pindah ini dilakukan dengan mengikuti keberadaan sumber makanannya. Jika pada suatu tempat, mereka merasa bahwa sumber makanannya sudah semakin menipis maka mereka akan berpindah tempat. Manusia purba jenis ini menggantungkan diri pada kondisi alam.

Tempat-tempat yang menarik perhatian bagi Pithecanthropus Mojokertensis ini biasanya memiliki sumber makanan yang berlimpah dan dekat dengan sumber air. Tempat ini biasanya juga sering dilewati oleh binatang, sebagai sumber buruan. Manusia purba jenis ini hidup dengan cara mengelompok dan membekali diri untuk menghadapi lingkungannya. Biasanya mereka membatasi jumlah dalam kelompoknya untuk berhasilnya perburuan. Cara yang digunakan untuk pembatasan ini misalnya dengan memusnahkan anak-anak yang baru lahir, terutama jika itu perempuan yang dianggap menghalangi dan gerak perpindahan dalam perburuan (Soejono & Leirissa, 2010:134-135).

Kelompok berburu ini, biasanya terdiri dari keluarga kecil, di mana yang laki-laki melakukan perburuan dan perempuan mengumpulkan makanan (tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil). Para perempuan ini juga memegang peran penting dalam menyeleksi jenis tumbuhan yang dapat dimakan. Selain itu, mereka juga bertugas membimbing anak-anaknya dalam meramu makanan.

Baca juga: 11 Peninggalan Kerajaan Majapahit

Nah, bagaimana materi yang sudah dijelaskan tadi? Apakah kamu mulai memahami seperti apa manusia purba jenis Pithecanthropus Mojokertensis ini? Semoga dengan membaca ini kamu makin mengerti mengenai manusia purba jenis ini ya. Selamat belajar.


Sumber:

Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius

Wardaya. 2009. Cakrawala Sejarah: Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan,

Departemen Pendidikan Nasional

Soejono, R., P., & Leirissa, R., Z. 2008. Sejarah Nasional Indonesia 1. Jakarta: Balai Pustaka

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *