Peristiwa Rengasdengklok: Penjelasannya Secara Lengkap

Pada 17 Agustus 1945 menjadi hari yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Tahukan kamu hari bersejarah apa itu? Yup, hari kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal tersebut Ir. Soekarno menyatakan kemerdekaan Indonesia. Semua rakyat bersuka cita akan kebebasan mereka dari pendudukan Jepang. Namun taukah kamu sebelum proses kemerdekaan sempat terjadi beda pendapat antara kaum muda dan kaum tua? Bakan sempat terjadi pengamanan Ir. Soekarno? Nah, untuk mengetahui bagaimana proses kemerdekaan, yuk simak artikel Peristiwa Rengasdenglok berikut ini.

Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa ini tidak terlepas dari semakin terdesaknya oleh sekutu serta pernyataan Perang oleh Rusia. Untuk menarik simpati rakyat Indonesia, maka Jepang membuat sebuah janji kemerdekaan pada tanggal 29 April 1945. Janji kemerdekaan tersebut dituangkan dalam sebuah Maklumat Gunseikan yang didalamnya juga dimuat mengenai pembentukan BPUPKI yaitu Badan Penyedilik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 6 Agustus 1945 bom atom yang dinamai “Little Boy” dijatuhkan di Kota Hiroshima oleh Angkatan Udara Amerika (Kemdikbud, 2018:5). Menyusul kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945 dijatuhkan bom atom “Fat Man” di Kota Hiroshima. Oleh karena itu, pada 15 Agustus 1945 Kaisar Jepang mengaku kekalahanya, ditandai dengan naskah resmi penyerahan Jepang kepada sekutu diatas kapal perang Amerika Serikat Missouri yang berlayar di Teluk Tokyo.

Baca juga: Pendudukan Jepang di Indonesia

Kekalahan Jepang teradap Sekutu

Berita mengenai kekalahan Jepang ini didengar oleh Sutan Sjahrir melalui siaran radio Amerika. Kemudian berita tersebut disampaikan kepada Soekarno dan Moh. Hatta yang barui kembali dari Dallat untuk membicarakan janji kemerdekaan oleh Jepang. Sutan Sjahrir mendesak untuk segera dilakukannya proklamasi kemerdekaan. Soekarno menolak usulan itu karena masih merasa perlu untuk membicarakan hal tersebut dengan PPKI. Namun, para pemuda tidak setuju dengan hal tersebut. Mereka berpendapat bahwa PPKI merupakan bentukan Jepang, dan tidak ingin kemerdekaan itu sebagai hadiah dari Jepang namun dilakukan oleh Bangsa Indonesia sendiri. Hal itulah yang kemudian menjadikan perbedaan pendapat oleh golongan tua dan golongan muda.

Sutan Sjahrir sebagai golongan muda mendesak untuk Soekarno dan Moh. Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu janji Jepang. Dia berpendapat bahwa janji Jepang dilakukan hanya sebagai tipu muslihat saja (Yasni, 1979). Mendapat penolakan dari golongan tua, maka para pemuda melakukan rapat di ruang Bakteriologi Pengangsaan Timur, Jakarta. Sebagai hasil rapat tersebut adalah keputusan untuk proklamasi kemerdekaa adalah urusan Bangsa Indonesia bukan Jepang. Sehingga untuk memproklamasikan kemerdekaan ridak perlu menunggu dari pihak luar.

Keputusan tesebut disampaikan oleh Wikana dan Darwis kepada Soekarno dan Moh. Hatta. Namun keputusan itu kembali ditolak oleh Soekarno karena terikat dengan tanggung jawab sebagai ketua PPKI, sehingga proklamasi itu masih harus dibicarakan dengan anggota PPKI lainya serta kekhawatiran akan masih kuatnya tentara Jepang di Indonesia. Oleh karenanya, para pemuda mengadakan kembali rapat kedua di Asrama Baperpi Jalan Cikini 71. Sebagai hasil rapat adalah perlunya Soekarno dan Moh. Hatta untuk dibawa ke luar Kota supaya terhindar dari pengaruh Jepang.

Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Sebagai hasil rapat di Cikini 71, para pemuda menjalankan rencana untuk menculik Soekarno dan Moh. Hatta dengan Shocando Singgih sebagai pemimpin pada 16 Agustus 1945. Tempat yang dirasa aman adalah diluar kota yaitu Rengasdengklok. Pemilihan wilayah tersebut juga didasari perhitungan militer, karena anggota PETA Daidan Purwakarta dan Jakarta memiliki hubungan yang erat, sehingga bisa ikut mengamankan wilayah. Selain itu, Rengasdengklok juga merupakan wilayah yang terpencil dan jauh dari jalan raya, sehingga pergerakan tentara Jepang yang datang akan lebih terpantau.

Sumber: Buku Sejarah Indonesia SMA Kelas XI

Soekarno dan Moh. Hatta ditempatkan disebuah rumah milik keturunan Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Disana mereka kembali meyakinkan Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, tapi masih belum terlalu berhasil. Namun, Singgih menangkap gelagat Soekarno bahwa ia bersedia memproklamasikan kemerdekaan jika sudah kembali ke Jakarta.

Rumah Djiau Kie Siong
Sumber: https://historia.id/politik/articles/rumah-penculikan-sukarno-hatta-di-rengasdengklok-vJ3MP

Keadaan di Jakarta sendiri mulai panik karena Soekano dan Moh. Hatta yang seharusnya datang dalam rapat PPKI tak kunjung tiba. Ahmad Soebarjo pun mencari tahu keberadaan mereka dan akhirnya ia bertemu dengan Wikana. Maka dari itulah Ahmad Soebarjo mengetahui bahwa Soekarmo-Hatta bersama para pemuda. Dan iapun akhirnya mencoba untuk berunding dengan Wikana. Hasil perundingan tersebut ialah kemerdekaan akan diadakan di Jakarta, dan merekapun berangkat menuju Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno Hatta.

Rencana Perumusan Teks Proklamasi

Setelah kembali ke Jakarta, Soekarno Hatta mencoba kembali menagih sikap Jepang akan rencana proklamasi kemerdekaan. Pihak Jepang menjelaskan bahwa Indonesia sedang dalam status Quo, sehingga tidak boleh diadakan rapat PPKI. Melihat sikap pihak Jepang, maka Soekarno Hatta menyimpulkan untuk melakukan proklamasi tanpa bantuan Jepang. Sehingga mereka segera menuju ke Rumah Laksamana Muda Meaeda dimana para nasionalis berkumpul. Pemilihan rumah Laksama Muda Maeda karena selama ini ia menujukan sikap simpati serta adanya tradisi dalam angkatan bersenjata Jepang mengenai sikap saling menghormati antara angkatan Darat dan angkatan Laut. Sehingga rumah Laksamana Maeda dianggap wilayah teritorial dimana Angkatan Darat Jepang tidak bisa menganggunya.

Rumah Perumusan Teks Proklamasi
Sumber: http://sudinpusarjakpus.jakarta.go.id/?p=7364

Pada malamnya, dilakukan perumusan teks proklamasi oleh para nasionalis. Laksamana Maeda sendiri mengundurkan diri dan memilih tidur di lantai dua rumahnya. Dalam rapat itu, Soekarno yang pertama menuliskan kata proklamasi. Sedangkan kalimat selanjutnya diberikan oleh Moh. Hatta dan Ahmad Subarjo. Setelah naskah berhasil disusun, Soekarno meminta persetujuan dan tanda tangan dari semua yang hadir sebagai wakil Bangsa Indonesia. Namun para pemuda menolak usul tersebut, karena menganggap yang hadir sebagian besar adalah berhubungan dengan Jepang. Sehingga para pemuda mengusulkan tanda tangan hanya diwakili oleh dua orang saja, yaitu Soekarno dan Moh. Hatta atas nama Bangsa Indonesia.

Naskah yang sudah selesi diberikan kepada Sayuti Melik untuk diketik ulang. Namun, dalam prosesnya terjadi beberapa perubahan dalam naskah yang telah disetujui dalam rapat.

Sayuti Melik
Sumber: Buku Sejarah Indoensia Paket C SMA/MA

Berdasarkan (Kemdikbud, 2017:91), Perubahan dalam naskah tersebut meliputi:

  1. Penggantian kata “tempoh” dengan “tempo”
  2. Pergantian penulisan waktu yang awalnya “Jakarta, 17-8-‘05” digantikan “Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun ‘05
  3. Pengantian “Wakil-Wakil Bangsa” menjadi “Atas Nama Bangsa Indonesia”

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Untuk memproklamasikan kemerdekaan, Sukarni mengusulkan pembacaan naskah dilakukan di Lapangan Ikada. Namun ditolak oleh Sukarno karena tempatnya yang terbuka sehingga besar kemungkinan akan terjadi bentrok antara rakyat dan militer Jepang. Oleh karena itu, Soekarno berpendapat untuk membaca naskah proklamasi di depan rumahnya Jln. Pegangasaan timur no. 56 pada jam 10 pagi.

Moh. Hatta juga meminta B.M. Diah untuk memperbanyak teks proklamasi dan memberitakannya ke seluruh dunia. Untuk berjaga-jaga, Latief Hendraningrat dan anak buahnya juga telah diperintahkan untuk berjaga disekitar rumah Soekarno. Walikota Jakarta, Suwiryo juga telah memberi perintah pada Wilopo untuk mempersiapkan Mikrofon. Suhud mempersiapkan bendera dan tiangnya. Bendera itu didapatkan dari Ibu Fatmawati, yang merupakan bendera pusaka dan tiangnya didapatkan dari semacam tiang bambu bekas jemuran.

Jadwal acara yang dipersiapkan dalam proklamasi tersebut adalah meliputi Pembacaan Teks Proklamasi, Pengibaran bendera merah putih, sambutan walikota Suwiryo dan Dr. Murwadi. Pengibaran bendera dilakukan oleh S. Suhud dan Latief Hendraningrat.

Baca juga: Perang Banjar: Penyebab Serta Akhir Perang

Makna Peristiwa Rengasdengklok Bagi Proklamasi Kemerdekaan

Peristiwa proklamasi kemerdekaan tidak terlepas dari desakan para pemuda, hingga terjadinya peristiwa Rengasdengklok. Tujuan utama dari peristiwa ini adalah untuk mendesak segera dilakukannya proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan Moh. Hatta. Oleh karena itu, mereka ingin menjauhkan Soekarno dan Moh. Hatta dari pengaruh Jepang. Karena pada masa itu, Soekarno masih terikat tanggung jawabnya sebagai ketua PPKI yang merupakan bentukan Jepang.

Dengan adanya peristiwa Rengasdengklok maka proklamasi dapat membuat Soekarno dan Moh. Hatta untuk memikirkan kembali mengenai konsep proklamasi yang dijanjikan oleh Jepang. Karena walau telah dibujuk, Soekarno tetap bersikukuh bahwa PPKi yang berhak untuk merencanakan proklamasi, sedangkan PPKI adalah bentukan Jepang.

Melihat perjuangan para pemuda yang gigih untuk melakukan proklamasi oleh bangsa Indonesia sendiri membuat Soekarno dan Moh. Hatta meninjau kembali sikap Jepang. Hingga akhirnya memutuskan untuk menyetujui usul para pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan dengan perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

Jika disimpulkan, maka peristiwa Rengasdengklok ini merupakan kejadian penting dalam proses menuju kemerdekaan. Peran para pemuda pun juga sangat penting. Sehingga memberi contoh bagi para pemuda saat ini untuk selalu berjuang.

Baca juga: Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Semoga materi artikel ini bisa lebih membuat kamu memahami peristiwa Rengasdengklok dan memberikan wawasan baru ya. Jangan lupa untuk terus membaca dan selamat belajar!


Daftar Rujukan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi). 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Indonesia Paket C Setara SMA/MA Kelas XI: Indonesia Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Yazni, Z. 1979. Bung Hatta Menjawab. Jakarta: Gunung Agung

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *