Perang Banjar: Penyebab Serta Akhir Perang

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pulau, dari sabang sampai merauke. Salah satunya yaitu Kalimantan Selatan. Daerah ini terkenal dengan produk pengolahan daerahnya seperti batu mulia, intan, dan lainnya. Namun, tahukah kamu bahwa di provinsi ini juga memiliki sejarahnya tersendiri? Karena dulunya pernah ada sebuah kerajaan yang berdiri dan kerajaan tersebut bernama Kerajaan Banjar. Pada masa kerajaan ini, pernah terjadi perang yang cukup besar, yaitu Perang Banjar.

Latar Belakang Terjadinya Perang Banjar

Kerajaan Banjar berkembang di Kalimantan Selatan. Pada abad ke-19 kesultanan Banjarmasin ini meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah saat ini (Kemdikbud, 2017:131). Pusat kerajaan ada di Martapura, dengan posisi yang strategis dalam perdagangan dunia.

Selain maju akan perdagangannya, kerajaan ini juga maju berkat hasil alamnya sehingga banyak menarik minat pedagang Eropa. Sehingga mereka ingin menguasai Kerajaan Banjar. Salah satu yang begitu menginginkan Kerajaan Banjar adalah Belanda. Mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Kerajaan Banjar ini.

Setelah banyak cara dilakukan, akhirnya kerajaan melakukan perjanjian dengan Belanda pada 1817. Dalam perjanjian ini, sultan Banjar diharuskan memberikan sebagian wilayahnya kepada Belanda. Sehingga membuat Banjar semakin sempit. Pada tahun 1826, bahkan kerajaan ini dinyatakan hanya tertinggal Hulu Sungai, Martapura, dan Banjarmasin saja.

Wilayah yang semakin sempit membuat keadaan ekonomi semakin berat. Penghasilan dari kerajaan makin menipis, sehingga membuat kerajaan menarik pajak yang tinggi dari rakyatnya. Disisi lain, di dalam kerajaan pun terjadi perebutan tahta.

Perebutan tahta itu terjadi sejak meninggalnya putra mahkota Abdul Rakhman. Sebagai penggantinya terdapat 3 kandidat dari putra Sultan Adam yaitu Pangeran Hidayatullah, Pangeran Tamjidillah, dan Prabu Anom. Ketiganya memiliki pendukung masing-masing, sehingga persaingan tak terhindarkan. Salah satu yang mendapat dukungan dari Belanda ialah Pangeran Tamjidillah.

Pangeran Hidayatullah
Sumber: Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 4

Pada tahun 1857 Sultan Adam meninggal. Kemudian E.F. Graaf von Bentheim Teklenburg sebagai residen yang mewakili Belanda mengangkat Tamjidillah sebagai sultan dan Pangeran Hidayatullah sebagai mangkubumi. Berdasarkan surat wasiat sah, yang seharusnya menjadi sultan adalah Pangeran Hidayatullah. Hal tersebut menimbulkan protes, karena Pangeran Tamjidillah juga memiliki perangai yang kurang baik, seperti senang minum minuman keras. Setelah diangkat, prabu Anom dibuang ke daerah Bandung.

Banyaknya protes dari berbagai kalangan memunculkan gerakan-gerakan rakyat. Salah satu gerakan saat itu adalah gerakan yang dilakukan oleh Aling, kemudian Pangeran Antasari ikut bergabung. Pangeran Antasari merupakan saudara dari Pangeran Hidayatullah, sehingga ia juga dianggap berhak akan tahta kerajaan.

Baca juga: Mengenal Organisasi Pergerakan Nasional

Penyebab Perang Banjar

Perang Banjar dilakukan oleh sebagian rakyat Banjar karena rasa keadilan yang mereka anggap tidak didapatkan. Perang ini terjadi tidak hanya karena perebutan tahta dalam keluarga kerajaan saja. Berikut ini faktor yang menyebabkan terjadinya perang Banjar, yaitu:

  1. Faktor dari dalam Kerajaan

Dari dalam keluarga Kerajaan, terjadi perpecahan antar anggota keluarga yang melakukan perebutan tahta. Perpecahan ini diawali dari perjanjian yang dilakukan Sultan Sulaiman dengan Belanda. Akibat dari perjanjian tersebut, wilayah Banjar semakin sempit. Hal tersebut menyebabkan pemerintah kerajaan melakukan penarikan pajak yang tinggi pada rakyatnya.

Disisi lain, pemimpin kerajaan meninggal secara mendadak. Hal tersebut memicu terjadinya perebutan tahta antara ketiga pewarisnya. Salah satu pewarisnya tersebut ternyata bekerja sama dengan Belanda untuk mendapatan tahta. Sehingga saat pewaris tersebut berhasil mendapatkan tahta, Kerajaan berada dibawah kendali Belanda.

  1. Faktor dari Luar

Pendorong terjadinya perang juga diawali dengan kedatangan bangsa asing yang mengincar kekayaan alam dari Kerajaan Banjar. Sejak awal, Bangsa Eropa telah tertarik dengan sumber daya alam di kerajaan ini. Namun yang paling berpengaruh adalah saat kedatangan Bangsa Belanda. Dengan kecerdikannya, Belanda mampu untuk menguasai Kerajaan Banjar. Bahkan ikut campur dalam perebutan tahta oleh para pewaris kerajaan. Sehingga jika tahta itu berhasil dikuasasi, maka Belanda dapat ikut mengendalikan Kerajaan Banjar dari dalam pemerintahan.

Awal Peperangan

Setalah banyak protes yang terjadi, pada akhirnya salah satu kelompok yang menamakan diri Gerakan Aling mulai bertindak dengan membakar kawasan tambang batu bara Belanda. Akibatnya pemukiman orang Belanda disekitar tambang juga ikut terbakar. Hal tersebut membuat Belanda geram, namun sultan Tamjidillah justru tidak melakukan apapun. Sehingga membuat Belanda marah dan melengserkan jabatannya dan membuangnya ke daerah Bogor. Sejak itu, kerajaan resmi dibawah kuasa Belanda.

Dengan triknya, Belanda mencoba untuk membujuk Pangerahn Hidayatullah untuk bergabung namun ditolak. Disisi lain pasukan Pangeran Antasari bergerak menyerbu pos-pos Belanda di Martapura. Perlawanan Antasari juga mendapat dukungan dari para ulama dan punggawa kerajaan yang sudah muak dengan Belanda.

Terjadinya Perang

Pada 28 April 1859, Pangeran Antasari yang telah berhasil menghimpun kurang lebih 3.000 orang menyerbu pos-pos Belanda. Teman seperjuangan Pangeran Antasari juga telah melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang ditemuinya. Penyerangan tersebut dilakukan dengan pasukan Kyai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kyai Langlang. Dampak dari penyerangan ini, akhirnya benteng Belanda di Tabanio berhasil direbut.

Memasuki akhir tahun 1859, pertempuran semakin meluas dan terjadi di tiga lokasi. Ketiga lokasi tersebut adalah di sekitar Banua Lima, Martapura dan Tanah Laut, serta sepanjang Sungai Barito. Pertempuran di Banua Lima dipimpin oleh Tumenggung Jalil, di sekitar Martapura dan tanah Laut dipimpin oleh Demang Lehman, sedangkan di sepanjang Sungai Barito oleh Pangeran Antasari.

Pertempuran melawan Belanda ini tentu menguras banyak tenaga dan waktu. Para pasukan juga banyak yang berjatuhan. Hingga kemudian para pejuang pun membuat sebuah pertemuan, untuk berunding mengenai perang tersebut. Berdasarkan (Kemdikbud, 2017:136) pertemuan tersebut menghasilkan beberapa keputusan, yaitu:

  1. Perlawanan akan dipusatkan di Daerah Amuntai.
  2. Membuat dan memperkuat pertahanan pasukan di Daerah Tanah Laut, Martapura, Rantau dan Kandangan.
  1. Pageran Antasari akan memperkuat pertahanan di Dusun Atas.
  2. Mengusahakan tambahan persenjataan.

Melemahnya Perang

Pertempuran terus dilakukan oleh para pejuang, hingga kemudian Pangeran Antasari berhasil dibunuh Hulu Teweh. Terbunuhnya Pangeran Antasari membuat pejuang semakin melawan pada Belanda. Selama masih hidup, Pangeran Antasari memang banyak berpengaruh dalam pertempuran. Karena banyak pertempuran yang berhasil dibawah pimpinan Pangeran Antasari, pada akhirnya ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi agama. Ia diangkat dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (Ideham, 2003:216).

Pangeran Antasari
Sumber: Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 4

Pertempuran terus berlanjut hingga kemudian Belanda menemukan kelemahan dari pasukan tersebut. Mereka menganalisis bahwa kekuatan pasukan terletak di pimpinannya. Oleh karena itu, Belanda mencoba untuk menangkap para pemimpin. Sehingga para pasukan kehilangan sosok pemimpinya dan perlawanan pun semakin menghilang.

Baca juga: Perjalanan Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Jadi itu adalah penjelasan mengenai perang banjar, mulai dari asal-usulnya hingga berjalanya perang. Apakah dengan membaca ini kamu sudah mulai memahami bagaimana itu perang banjar? Semoga artikel ini bisa membantu kamu untuk menambah pengetahuan ya. Jangan lupa tetap semangat belajar!


Sumber:

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Sejarah Indonesia: Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Semester I.

Ideham, S. 2003. Sejarah Banjar. Kalimantan Selatan: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kalimantan Selatan.

Artikel Terbaru

Leni

Leni

Nama saya Leni Sagita, lulusan S1 Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Saya tertarik menulis dalam bidang pendidikan, khusunya bidang Sejarah, untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Semoga artikel yang saya buat nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya adik-adik yang sedang menimba ilmu supaya lebih bersemangat dalam belajar.

Tulis Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *